
"Yoon... Hari ini musim dingin lagi kamu kedinginan ga?"
"Kamu lapar? Maaf tadi aku lupa bawain makanan buat kamu dan malah langsung kesini, Kamu marah ya?"
"Jimin cerewet sekali kau tau? Untung dia saudaramu jika bukan aku pasti sudah mengusirnya karna selalu menggangguku"
"Yoon, aku lapar... Kamu gamau masakin makanan buat aku?"
"Ah aku lupa, kamukan pemalas sekarang aja masih tidur, kamu masih nyaman ya tidur terus?"
"Bangun dong... Main piano lagi sama aku"
Suhu dingin mulai menusuk tulang meski sudah didalam ruangan dengan suhu lebih hangat, Pandangan prihatin berbagai orang diabaikan begitu saja, bahkan meski saat ini bibirnya sudah memucat dan wajahnya sudah seputih kapas Jihan tetap berdiri dihadapan abu Yoongi dan membicarakan banyak hal.
Seolah-olah Yoongi ada dihadapannya dan hanya sedang tertidur pulas.
Meski hanya ada abu dari sisa mayatnya yang telah dikremasi didalam guci.
Jihan seolah sudah buta dan masih membayangkan saat-saat Yoongi masih hidup dan sedang istirahat diruang perawatan dirumah sakit.
Seperti dulu saat Yoongi tidak merespon apapun.
Jihan benar-benar sudah gila.
Ah... Ya, Jihan memang sudah gila.
"Yoongi, aku pulang dulu ya aku gamau diseret Jimin lagi buat masuk tempat terkutuk itu karna masih disini, Kenapa dia gasuka banget sih aku ngunjungin kamu? Dia iri ya? Hahaha"
Jihan terkekeh kecil matanya menatap kosong penyimpanan abu milik Yoongi yang disekelilingnya terdapat berbagai Foto Yoongi dan dirinya.
"Aku pulang Yoon, Sampai besok"
Jihan pergi keluar area penyimpanan abu, setelah sebelumnya memberikan usapan penuh kasih sayang pada kaca pembatas yang menghalanginya dengan guci abu Yoongi.
Banyak pasang mata yang menatapnya dengan berbagai macam pandangan tapi dihiraukan olehnya.
Bahkan meski bisikan bisikan mereka cukup keras didengar olehnya Jihan tetap tidak perduli dan malah berjalan lurus.
Hingga keluar area Pemakaman.
__ADS_1
Jihan berjalan tak tentu arah, tak ada sinar kehidupan dimatanya hanya tatapan dingin penuh kekosongan disana.
Seolah ada lubang hitam sendiri yang siap menenggelamkan mu pada dasar jurang hanya dengan bertatapan mata dengannya.
Seputus asa itu.
Ia berjalan semakin jauh tak tentu arah.
Berjalan lurus hingga tak sadar ia berada didekat pembatas jembatan yang dibawahnya terdapat air laut yang sedikit membeku akibat musim dingin.
'Ah, aku ingat jembatan ini, bukannya ini Jembatan Banpo? Dulu aku sering kesini bersama Yoongi'
Jihan mendekat pada pembatas jembatan, matanya menelusuri seluruh dinding disekitar mencari untaian kalimat yang pernah ditulisnya dulu dengan Yoongi.
"Ketemu!"
Matanya berbinar saat menatap tulisan itu disana, Bibir pucatnya memberikan seulas senyum tulus dengan tangan yang mengelus-elus sisi dinding yang terdapat untaian kata.
Matanya mulai berkaca-kaca.
____________________________________
&
Min Ji Han
Don’t put the sadness on your face because you never know that there is someone who feels happy by your smile***.
_______________________________
Ia ingat saat itu.
Saat itu Jihan pergi dari rumah karna orang tuanya bertengkar lagi sepanjang malam.
Ya, Jihan anak dari keluarga Broken home sama seperti Yoongi.
Saat itu ia menangis disini, sendirian, karna sudah malam mobil yang berlalu lalang hanya sedikit, entah bagaimana tiba-tiba Yoongi datang dan duduk disampingnya.
Memberikan permen dan mengatakan hal-hal sebagai penyemangat.
__ADS_1
"Jangan dengarkan orang tuamu, mereka bodoh karna lebih mementingkan urusan mereka dan menelantarkan harta berharganya sendirian"
Ya, meski ucapan-ucapan Yoongi sungguh tajam tapi itu bisa sedikit meringankannya.
Lalu sesudahnya Yoongi mengajaknya melihat Bintang dan menulis nama mereka diatas dinding pembatas dan menambahkan kata-kata dibawahnya.
Lucu memang, Seorang Min Yoongi yang berhati dingin melakukan hal seperti menghibur seorang gadis.
Seolah menyuruhnya untuk tak bersedih lagi dan harus terus tersenyum.
Bahkan Jihan masih ingat ucapannya saat itu.
"Jangan menangis, Jika kamu sedih lagi panggil aja namaku tiga kali maka aku akan ada disana untuk menghiburmu lagi"
Jihan tertawa lepas, Ucapan kekanak-kanakan Yoongi masih tersimpan jelas diotaknya, meski begitu Yoongi tak hanya mengatakannya karna setelahnya entah bagaimana Yoongi selalu tau saat ia sedih dan ada disampingnya bahkan sebelum ia menyebutkan namanya.
"Apa kau akan datang jika aku menyebut namamu Yoon?"
Jihan bergumam seperti bisikan dan desiran angin membalas ucapannya.
"Min Yoongi..."
"Min Yoongi..."
"Min Yoongi..."
Untaian kata terucap dari bibirnya, Seiring liquid bening bersautan menyusuri pipi tirus dan pucat milik Jihan.
Jihan menangis tanpa suara dan hanya menatap air dibawah jembatan yang merefleksikan bayangan menyedihkan seorang gadis.
Matanya mulai bermasalah.
Dan saat pandangannya mulai memburam akibat air mata.
Jihan melihat bayangan Yoongi yang melambai diatas air, seolah memanggilnya mendekat.
Jihan beranjak menaiki dinding pembatas jembatan, berdiri dan menatap bayangan diatas air yang sedikit beriak akibat tetesan air matanya.
Pandangannya Kosong dan tanpa aba-aba Jihan mengambil satu langkah bersiap terjun kebawah.
__ADS_1
"JIHAN!"