HEARTBEAT

HEARTBEAT
22. Pacaran?


__ADS_3

Lapangan basket kini diisi oleh siswa maupun siswi kelas XII IPA-1 dan juga kelas XII IPS-5 yang sedang melaksanakan mata pelajaran penjaskes.


Kelas Revelyn dan kelas Leo, mereka memang melaksanakan mata pelajaran penjaskes di hari yang sama dan juga di jam pelajaran yang sama.


Dan untungnya Pak Bayu, selaku guru olahraga itu sedang ada rapat dengan guru-guru yang lain. Beruntung Pak Bayu mengijinkan kedua kelas itu untuk olahraga sendiri, tentunya kesempatan itu tak mereka sia-siakan untuk bersantai di lapangan.


Memang sebagian siswa maupun siswi ada yang bermain basket, contohnya seperti Revelyn, Una, dan juga beberapa teman mereka yang lain.


Sedangkan Miselia, Alana, dan yang lain hanya bersantai sambil duduk di tepi lapangan.


Alana sibuk mengecat kuku-kuku jarinya, sedangkan Miselia, gadis itu sibuk video call dengan Regan, kekasihnya.


"Lihat deh si Velyn, kenapa nggak lo samperin?" tanya Geral, dia dan Leo juga Axele sedang duduk di bawah ring basket.


Leo menggeleng, matanya masih tak lepas dari Revelyn yang bermain basket di seberang mereka.


"Leo, gw mau nanya." ucap Axele, Leo menoleh dan menatapnya heran.


"Apaan?"


"Lo suka sama, Velyn 'kan?" tanya Axele, dia dan Geral menatap Leo yang duduk di tengah-tengah mereka.


Leo tersenyum sambil geleng-geleng, "nggak---" jawab Leo, detik selanjutnya ia tertunduk murung.


"---nggak salah lagi, kayaknya gw emang suka sama dia. Karena rasa sayang gw sama dia, lebih dari sebatas sahabat." gumam Leo, kedua sahabatnya mengangguk paham.


"Ungkapkan perasaan lo, gw yakin pasti Velyn bakal nerima." saran Axele, Geral mengangguk setuju.


"Setelah itu apa?" tanya Leo, cowok itu mendongak, kembali menatap Revelyn yang bersenang-senang dengan teman-temannya.


"Ya, kalian berdua pacaran lah." jawab Geral, namun Leo malah tersenyum sinis.


"Gw mau memiliki Velyn lebih dari sekedar pacaran, karena gw nggak mau kalau suatu saat nanti ada kata perpisahan." jelas Leo, kedua temannya saling berpandangan.


"YAUDAH NIKAHIN AJA DIA, BEGO!" gas Axele dan Geral gemas.


Leo terkekeh menatap kedua sahabatnya dengan cengo.


"Boleh juga tuh." jawab Leo.


Tak lama setelah itu mereka bertiga heran saat dari seberang sana terdengar suara teriakan para siswa maupun siswi, membuat Leo, Geral, dan juga Axele lekas berdiri.


Mereka bertiga melihat Vito yang sedang berjalan menghampiri Revelyn sambil membawa setangkai bunga mawar yang dia sembunyikan di belakang punggungnya, alhasil membuat semua orang di lapangan berteriak histeris.


Leo, Geral, dan juga Axele langsung berlari menghampiri kerumunan.


Sedangkan Alana dan juga Miselia, mereka berdua masih duduk di tepi lapangan.


"Oh my god." gumam Miselia menganga, dia bangkit dari duduknya sambil memperhatikan Revelyn dan juga Vito yang di kelilingi siswa maupun siswi yang ingin menonton mereka.


Alana, gadis itu masih belum menyadari keramaian di lapangan. Gadis itu masih sibuk mengganti warna cat kuku jarinya dengan warna yang baru.


"CIEEEE! ada yang bawa bunga nih~"


"Prikitiew, bentar lagi ada yang jadian nih."


"Gw kira si ketua osis itu nggak suka cewek, Alhamdulillah ternyata masih normal."


"Velyn? dia bawa bunga buat velyn?"


"Leo mana Leo?"


"Leo nggak marah kah?"


Revelyn terdiam, dia masih berdiri di tengah lapangan dan di hadapan Vito, sambil memegang bola basket di tangannya.


Gadis itu menatap Vito cengo, sedangkan Vito tersenyum sambil menyembunyikan setangkai bunga di belakang punggungnya.


"Kenapa, Vito?"


"Velyn, gw, gw mau ngomong sesuatu." jawab Vito, dia mendadak gugup.


Revelyn mengangguk, "ngomong aja."


Vito tersenyum, sedangkan siswa dan siswi yang menonton mulai terdiam hingga menciptakan suasana hening di lapangan.


"Kok hening, kayak kuburan?" tanya Alana, dia menoleh ke arah Miselia yang berdiri di sampingnya, Miselia masih menatap ke arah lapangan.


"Lo nggak lihat, hah?" tanya Miselia balik tanpa menatap Alana.


Alana menaikkan sebelah alisnya, gadis itu mulai meluruskan pandangannya menuju lapangan.


"Vito?!" gumam Alana, dia heran kenapa Vito dan Revelyn berdiri di sana.


Bunga? Vito, jangan bilang kalau lo ....


"Gw suka sama lo, Velyn."


Alana spontan berdiri, dia langsung membuang kutex nya ke tanah hingga benda kecil itu pecah. Alana mengepalkan tangannya, dia menggertakkan giginya saat Vito mengatakan kalimat itu. Padahal Alana ingin sekali jika Vito mengatakan kalimat itu hanya untuknya.


"Gw suka sama lo, Velyn."


Leo mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Leo ingin menghampiri Vito untuk menonjok wajah cowok itu.


"Brengsek!"


Namun dengan gerakan cepat, Geral dan Axele mencegat cowok itu.


"Tenang dulu, Leo!" ucap Geral, dia mencegat lengan cowok itu.


"Kita lihat dulu, tuh cewek nerima apa nggak." saran Axele.

__ADS_1


Leo terdiam, cowok itu menunduk. Dia sangat berharap Velyn menolak perasaan Vito. Karena jika Velyn dekat dengan Vito saja dia sudah tidak suka, apalagi jika mereka berdua berpacaran? Leo tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menonjok wajah Vito dengan kepalan tangannya sendiri.


Semua orang di lapangan menunggu jawaban Revelyn, termasuk Vito, cowok itu sudah gugup sampai-sampai dia berkeringat dingin.


"Oke."


Eh?


Vito mendongak, dia menatap Revelyn tidak percaya.


"L-lo serius?" tanya Vito memastikan.


"Iya."


Gadis itu mengangguk sambil tersenyum, membuat Vito juga tersenyum lebar hingga matanya menyipit seperti garis.


Semua yang ada di lapangan berteriak, mereka ikut senang ketika Vito mulai menyodorkan bunga itu pada Revelyn.


Perlahan Revelyn menerima bunga itu, dia akui dia memang menyukai Vito saat cowok itu pertama kali mengajarinya bermain basket. Dan Revelyn menjadi yakin bahwa perasaan itu memang benar-benar ada saat dia dan Vito, mulai dekat.


Namun kenapa? kenapa Revelyn merasa ada yang mengganjal di hatinya? disisi lain ia merasa senang, tapi kenapa disisi lain ia merasa sedih?


Gadis itu berpikir, apa yang dia lakukan kali ini apakah benar? jika iya, kenapa dia merasa bahwa yang dia lakukan kali ini salah?


"Gw seneng, lo nerima gw dan ngijinin gw buat menempati hati lo." ucap Vito mendekati Revelyn, gadis itu mendongak lalu tersenyum.


Akhirnya kerumunan mulai bubar meninggalkan lapangan, tidak semua, karena masih ada yang bertahan.


Mata Revelyn menangkap sosok Leo berada, cowok itu berada tak jauh di belakang Vito.


Revelyn menatap Leo sambil tersenyum, namun senyum itu sirna seketika saat Leo hanya berekspresi datar sambil menatapnya kesal.


Leo menepis tangan kedua temannya dari pundaknya, cowok itu menatap Revelyn dengan rahang yang mengeras sambil beranjak pergi meninggalkan lapangan. Disusul Geral dan juga Axele.


Revelyn terdiam, dia menatap kepergiaan Leo dengan tatapan kosong.


Gw salah lagi, ya?


...🍕...


"Tell me something, ini bukan mimpi 'kan?!" pekik Una heboh, dia memojokkan Revelyn di pilar besar yang ada di koridor kelas sepuluh.


"Lo beneran pacaran sama, Vito?!" tambah Miselia lagi, mereka berdua menatap Revelyn yang bersandar pada pilar.


Gadis itu terdiam sambil masih memegang setangkai bunga mawar di tangannya, dia menatap kedua sahabatnya datar.


"Kalian lihat sendiri, 'kan?" jawab Revelyn, tatapan gadis itu nampak hampa.


Miselia mendengus, sedangkan Una menjambak rambutnya karena frustasi.


"LO GILA, VELYN!" ucap Una, gadis itu kesal.  "lo egois, Velyn!" tambah Una, dia kesal karena Revelyn merima perasaan Vito.


Bukan karena Una cemburu, tapi karena Una dan Miselia tahu, apa yang di lakukan sahabatnya kali ini salah.


Mendengar penjelasan Miselia membuat Revelyn menghela napasnya, gadis itu mulai teringat saat Leo menatapnya di lapangan saat itu. Tatapan Leo seolah menggambarkan bahwa dia kecewa dan juga marah kepada dirinya.


"Oke gw egois, untuk itu gw bakal ngomong sama Leo." ucap Revelyn yakin, dia ingin beranjak pergi.


Namun saat langkah pertama, sebuah suara menghentikan langkah Revelyn.


"Lo mau ngomong apa sama dia?"


Revelyn, Miselia, dan Una spontan menoleh. Mereka heran saat mendapati Alana berjalan menghampiri Revelyn, gadis itu berjalan sambil melipat tangannya di depan dada.


Alana tersenyum sinis, ekspresi sarkastisnya mulai terlihat.


"Mau ngomong bahwa lo salah, terus minta maaf?"


Perkataan Alana membuat Revelyn menatap gadis itu dengan kedua alis yang bertautan.


"Gw benar, 'kan?" tanya Alana, sambil menatap kuku-kuku jarinya yang sudah berwarna gold.


"Jangan sok tau."


"Oh ya?" Alana terkekeh, "sekarang gw mau tanya sama lo ...." ucap Alana, dia menatap Revelyn sinis.


"Gw tanya, kenapa lo nerima Vito? padahal lo pasti tau, gw juga suka sama Vito."


"Tapi Vito nggak suka sama lo!" jawab Revelyn kesal.


Alana tersenyum miring, "ini dia, sisi egois lo akhirnya terlihat. Lo cewek yang benar-benar nggak bisa menghargai ataupun memahami perasaan Leo maupun gw."


Miselia dan Una terdiam, perkataan Alana memang ada benarnya juga.


Namun sepertinya Revelyn menepis akan hal itu, dia kesal saat Alana bilang bahwa dia egois karena tidak bisa memahami perasaan Leo.


Perlahan Alana mendekatkan wajahnya di telinga Revelyn, gadis itu tersenyum miring sambil berkata.


"Kalau lo bisa rebut Vito dari gw, gw juga bisa lakukan hal yang sama seperti yang lo lakukan."


...🍕...


"Gw suka sama lo, Velyn."


"Oke."


"Lo serius?"


"Iya."


"Brengsek!"

__ADS_1


Leo menumpat sambil memukul bahkan menendang pagar pembatas rooftop yang ada di hadapannya.


Darah Leo seakan mendidih jika dia mengingat hal itu lagi, rasanya Leo ingin sekali memukul siapa saja yang ada di hadapannya sekarang.


Leo marah, sangat marah karena gadis itu menerima perasaan Vito.


Leo cemburu, dia memang cemburu karena dia menyukai dan menyayangi Revelyn melebihi sebatas sahabat.


Leo juga punya sisi egoisnya, dia hanya ingin gadis itu menjadi miliknya. Tapi apa? sekarang gadis itu bukan miliknya lagi, bahkan untuk kembali ke masa-masa saat mereka berdua bahagia, rasanya susah.


"Leo!"


Cowok itu menoleh, kaget dengan kedatangan Revelyn. Napas gadis itu tersenggal-senggal, Revelyn mulai berjalan menghampiri Leo.


Namun Leo malah semakin bertambah kesal saat melihat Revelyn masih memegang bunga mawar pemberian dari Vito di tangannya.


"Gw mau ngomong." kata Revelyn serius.


Leo mengangguk, dia berekspresi datar sambil mengalihkan pandangannya.


"Tatap gw." titah Revelyn, cowok itu menurut sambil menghela napasnya.


Saat Revelyn ingin menyampaikan maksudnya, Leo malah menyela.


"Selamat."


Revelyn menatap Leo heran, "a-apa?"


"Atas jadian lo sama, Vito." jawab Leo, cowok itu tersenyum hingga lesung pipinya terlihat.


"Lo bahagia, 'kan?" tambah Leo lagi, hingga semakin membuat Revelyn meremas roknya.


Leo tersenyum miring, "lo diam, gw anggap iya."


Revelyn memejamkan matanya sebentar, Leo semakin melontarkan kalimat demi kalimat yang menohok Revelyn.


"Revelyn yang gw kenal, ternyata egois dan juga naif, ya? "


"Leo!"


Leo diam saat gadis itu meneriakinya, cowok itu menatap Revelyn datar.


"Sorry." ucap Leo, ekspresinya masih datar.


"Gw tau gw egois dan naif. Dan gw kesini cuma mau bilang bahwa ...."


"Gw mau kita seperti dulu lagi, gw mau kita sama-sama lagi, bukannya lo udah janji, lo bakal buat gw bahagia lagi, 'kan?" Revelyn menatap Leo lekat, kedua matanya mulai berkaca-kaca.


Namun Leo hanya menatapnya dengan mimik datar, "bukannya lo juga janji, bahwa lo bakal buat gw bahagia sampai gw lupa caranya bersedih lagi, 'kan?"


Ucapan Leo menohok Revelyn, gadis itu mulai teringat janjinya sewaktu kecil.


"Kamu jadi temanku? memangnya kamu bisa membuatku lupa semua masalahku?"


"Bisa kalau kamu selalu ada di sampingku."


"Baiklah, aku janji akan selalu ada di sampingmu. Aku akan membuatmu bahagia, dan kamu juga harus membuatku bahagia."


"Baiklah, janji."


"Gw berusaha buat selalu ada di samping lo, Velyn. Gw juga berusaha buat lo bahagia, tapi kali ini lo lupa sama janji lo. Katanya lo mau buat gw bahagia, mana? lo malah menciptakan luka!" Leo meninggikan suaranya beberapa oktaf, membuat cairan bening mulai keluar dari pelupuk mata Revelyn.


"Gw juga berusaha ...." lirih Revelyn, Leo langsung tersenyum sinis.


"Usaha lo bilang? mana?! dengan lo dekat-dekat sama Vito emangnya buat gw bahagia? itu malah buat gw terluka! harusnya kita mulai memperbaiki ikatan, bukan malah semakin memperburuk ikatan!"


"Lo mau gw di samping lo untuk bahagiain lo? gw udah lakuin itu dari dulu bahkan sampai saat ini, tapi untuk sekarang ...."


"Gw rasa udah cukup, Velyn. Gw udah nggak bisa bahagiain lo lagi karena lo---" Leo menjeda kalimatnya, ia menatap Revelyn yang sudah terisak.


"Lo bukan milik gw lagi, lo udah milik orang lain." lanjut Leo, dia ingin beranjak pergi namun Revelyn malah menarik seragam belakangnya.


"Leo?!" panggil Revelyn, suara gadis itu berubah serak membuat Leo mengumpat dalam hati karena telah membuat gadis itu menangis.


"Velyn, gw mau nanya sama lo." Leo membalik tubuhnya menghadap Revelyn, dia menyentuh kedua pundak gadis itu.


Perlahan Revelyn mendongak, dia menatap Leo sesenggukkan.


"Turuti hati lo, bukan ego lo." ucap Leo sebelum menanyakan sesuatu.


"Lo pilih gw atau Vito?"


Pertanyaan Leo bak petir di siang hari, Revelyn merasa lidahnya mendadak kelu bahkan tubuhnya mulai mematung.


Di antara Leo dan juga Vito, mana yang harus dia pilih?


"Gw ...." lirih Revelyn tertunduk, "nggak bisa milih." jawabnya.


Leo mengangguk paham, dia lalu mengusap puncak kepala gadis itu.


"It's okay, dan juga, gw masih sahabat lo. Kalau lo perlu seseorang buat jadi tempat lo melampiaskan semuanya, gw siap dan gw akan selalu ada buat lo."


"Dan maaf, kalau lo menginginkan kita seperti dulu lagi, sorry. Gw nggak bisa."


Setelah mengatakan itu Leo beranjak pergi dari rooftop, meninggalkan Revelyn yang mulai menangis histeris.


Gadis itu kembali teringat perkataan Leo tadi, itu artinya dia dan Leo, tidak bisa seperti dulu lagi?


Tangis Revelyn semakin menjadi, dia sudah gagal menepati janji. Bahkan untuk menjadi seorang sahabat, rasanya sudah tidak bisa dianggap lagi.


Gadis itu melempar bunga mawar di tangannya, dia lalu terduduk di lantai sambil menutup matanya dengan punggung tangan kanannya.

__ADS_1


Gadis itu menangis, melampiaskan semua isi hatinya.


...🍕🍕🍕...


__ADS_2