
Revelyn baru saja membuka pintu rumah untuk berangkat ke sekolah, namun gadis itu tersentak saat mendapati Wina, Nenek Leo yang sudah berdiri di hadapannya.
"Nenek?" gumam Revelyn, dia masih kaget dengan kehadiran wanita berumur 70 tahun ketas itu.
Wina tersenyum sendu, sambil menarik tangan Revelyn, dia membawa gadis itu berjalan menuju rumahnya.
"Nenek minta tolong, Velyn."
Revelyn mengernyit heran, "minta tolong apa?"
"Kemarin, Leo pulang larut malam dalam keadaan basah kuyup. Terus pas Nenek mau bangunin dia buat sekolah, anak itu nggak nyahut sama sekali. Leo bahkan nggak mau buka pintu kamarnya, Nenek khawatir dia demam gara-gara kehujanan kemarin malam." cerita Wina, membuat Revelyn meneguk salivanya, dia menatap Wina lekat.
"Nek, Velyn boleh tanya sesuatu nggak?"
Wina mengangguk, "iya."
Revelyn terdiam, dia jadi bimbang ingin bertanya atau tidak. Pasalnya, yang dia tanyakan ini tentang keluarga Leo. Dan Revelyn merasa dia hanya orang lain yang seharusnya tak boleh ikut mencampuri urusan keluarga Leo.
"Sikap Leo jadi berubah akhir-akhir ini, apa mungkin karena papa Leo yang menikah lagi tanpa seijin Leo?" tanya Revelyn berhati-hati.
Mendengar pertanyaan Revelyn membuat Wina terdiam, wanita itu memilin ujung bajunya sambil menghela napas.
"Sebenarnya bukan hanya karena papanya menikah lagi, tapi juga karena---"
Akhirnya Wina membuka suara, dia mulai bercerita alasan mengapa sikap Leo akhir-akhir ini mulai berubah.
"Leo."
Wina memanggilย saat melihat Leo berjalan melewati ruang tamu, cowok itu menoleh, mengernyit heran saat mendapati Wina, Papanya dan seorang wanita, duduk di sofa ruang tamu.
"Apa?" tanya Leo, dia menatap Wina lekat saat neneknya itu berjalan menghampirinya.
Dengan ekspresi ragu Wina menatap Leo, lalu menoleh kebelakang, menatap Andhara yang sudah berdiri di belakangnya bersama seorang wanita. Wanita itu bernama Ayka Tamara.
"Dia siapa?" tanya Leo, dia menatap Ayka datar.
Mereka bertiga saling berpandangan, tatapan mereka seakan mengisyaratkan bahwa 'sebaiknya langsung bilang saja.'
Andhara mulai menatap anaknya lekat, dia berjalan menghampiri Leo lalu menyentuh pundak anaknya itu.
"Leo, ini Ayka Tamara. Dia, Mama baru kamu."
Mendengar ucapan Andhara membuat Leo terdiam sesaat, detik selanjutnya Leo berdecak kesal sambil menepis tangan Andhara dari pundaknya.
"Jangan bercanda!" ucap Leo, dia memberikan sorot mata tajam pada Papanya.
Andhara menghela napasnya, dia sudah menduga jika anaknya itu tidak akan menerima keputusannya.
"Papa nggak bercanda, karena Papa dan dia sudah menikah."
Deg
Terasa seperti tertusuk belati, dada Leo mendadak sakit. Dia mulai terbayang-bayang wajah sang Mama yang masih belum bisa menghilang dari pikirannya, bahkan pikirannya mendorongnya kembali pada memori masa lalu yang berusaha ia kubur dalam-dalam.
"Ka-kapan kalian menikah?" tanya Leo, nada suaranya terdengar bergetar. Cowok itu menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Seminggu yang lalu."
"Kenapa baru bilang?"
"Maaf."
"Kenapa menentukan pilihan tanpa bicara dulu sama Leo? apa karena Papa udah nggak anggap Leo sebagai anak lagi?"
"Leo, bukan beg---"
"Cu-cukup! Leo nggak mau dengar penjelasan apapun lagi." potong Leo cepat, dia masih tidak mau menatap Papa dan juga Mama barunya.
Andhara dan Ayka saling berpandangan, ekspresi mereka berdua nampak sedih. Sedangkan Wina, dia hanya diam karena menurutnya ini urusan antara Ayah dan juga Anak.
"Saya akan berusaha menjadi Mama yang baik buat kamu, seperti Mama kamu dulu."
Akhirnya Ayka membuka suara, membuat Leo langsung menatapnya dengan tatapan meremehkan. Leo bahkan menertawai keadaan, cowok itu lalu berdecak kesal.
"Saya bahkan nggak mengenal anda, gimana bisa menjadi Mama yang baik buat saya?" jawab Leo, ia tersenyum miring.
"Dan lagi, berhenti bertingkah seolah anda mengenal Mama saya. Karena anda tidak mengerti sama sekali tentang Mama, jadi diam saja!" bentak Leo, darahnya sudah mendidih.
Leo memutuskan untuk beranjak pergi, dia sudah tidak mau meladeni kedua orang itu lagi.
Namun ucapan Andhara berhasil membuat langkah Leo terhenti, perkataan Papanya itu berhasil membuat tubuh Leo mematung seketika.
"Papa mau menebus kesalahan Papa di masa lalu, untuk menjadi seorang Ayah yang selalu ada waktu untuk anaknya. Karena itu, ikutlah dengan kami ke New York."
Leo tidak membalikkan tubuhnya menghadap kedua orang tuanya, cowok itu hanya mengepalkan tangannya.
Leo berpikir, bagaimana bisa Papanya menyuruhnya untuk ikut? itu artinya sama saja dia akan meninggalkan semuanya, sekolah, teman-teman, dan juga satu hal yang berharga bagi dirinya. Revelyn.
__ADS_1
"Ikut kami, Papa janji kita akan membangun keluarga lagi. Keluarga yang bahagia, bersama Mama baru dan juga kehidupan yang baru, Leo." ucap Andhara, dia sangat berharap putra tunggalnya mau menerima ajakannya.
Leo menghela napasnya, dia menunduk lalu membalikkan badannya.
"Papa mau Leo ikut? meninggalkan semuanya yang ada di sini? bahkan meninggalkan satu hal yang sangat berharga bagi Leo?"
Andhara terdiam, dia menunduk sambil menghela napasnya.
"Papa harap kamu siap meninggalkan semuanya."
Mendengar ucapan Papanya membuat Leo tersenyum miring, cowok itu kembali ingin beranjak pergi. Namun lagi-lagi Papanya mencegat langkahnya.
"Bukankah ini yang kamu inginkan, Leo?! kamu ingin keluarga kita utuh lagi 'kan? kamu ingin keluarga yang bahagia lagi 'kan? sekarang Papa sudah memberikan semua yang kamu impikan, tapi kenapa kamu masih menolak?!"
Spontan Leo langsung menoleh, rahangnya mengeras serta kepalan tangannya semakin kuat.
"Memang itu yang Leo impikan selama ini. Sebuah keluarga bahagia, dimana hanya ada Papa, Leo, dan juga Mama. Tapi bukan wanita itu!" bentak Leo, dia menunjuk Ayka yang tertunduk sedih.
"Jadi jangan mimpi Leo bakal ikut kalian!"
...๐...
Revelyn menghembuskan napasnya perlahan, ia sudah berdiri di depan pintu kamar Leo.
Awalnya Revelyn ragu, apalagi saat suaranya mulai bergetar ketika memanggil nama cowok itu.
Mendengar semua hal yang diceritakan Wina membuat Revelyn sedih, karena jika Leo benar-benar akan pergi. Maka dia pasti akan sendirian lagi, Revelyn tidak mau hal itu terjadi.
"Leo, buka pintunya. Ini gw, Revelyn."
"Gw mau ketemu sama lo, dan mau minta maaf soal kejadian kemarin malam."
"Please, buka pintunya. Gw khawatir sama lo di dalam."
"Leo."
Hening, tidak ada jawaban dari dalam sana. Membuat Revelyn hampir pasrah, namun beberapa saat setelah itu kenop pintu terputar dari dalam.
Akhirnya Leo membuka pintu kamarnya, cowok itu menatap datar ke arah Revelyn.
Tanpa di suruh Revelyn langsung melenggang masuk, gadis itu menutup pintu kamar Leo. Sedangkan Leo, dia sudah duduk di pinggir ranjang sambil menunduk, menatap keramik lantai kamarnya.
Revelyn menghembuskan napasnya, dia berjalan menghampiri Leo lalu mengambil duduk di sebelah cowok itu.
"Gw minta maaf." ucap Revelyn, dia meremas jari jemarinya sambil menunduk.
"Iya."
"Oh."
Gadis itu mengangguk, dia lalu membalik tubuhnya menghadap ke arah Leo.
"Tatap gw." titah Revelyn, Leo awalnya diam namun akhirnya cowok itu menurut dan menoleh ke arahnya.
Leo menatap Revelyn dengan sorot mata teduhnya, entah mengapa Revelyn merasakan ada hal yang berbeda dari Leo.
"Lo masih marah sama gw?" tanya Revelyn, dia menatap Leo lekat.
Namun cowok itu hanya diam, dan matanya masih terus menatap Revelyn lekat.
Perlahan Leo mendekatkan wajahnya ke wajah Revelyn, cowok itu memejamkan matanya perlahan. Leo mendekatkan bibirnya ke bibir Revelyn hingga jaraknya sangatlah dekat, bahkan Revelyn bisa merasakan jelas hembusan napas Leo.
Namun saat bibir mereka hampir bersentuhan, Revelyn segera mundur untuk menjauh. Gadis itu meneguk salivanya, dia mendadak gelagapan sambil bangkit dari duduknya.
"L-lo sakit!" ucap Revelyn, gadis itu bahkan mencoba tertawa meski terkesan terpaksa.
Leo menghela napasnya, dia menunduk sambil mengangguk.
"Iya." gumam Leo, ekspresinya mendadak murung.
"Me-mending lo istirahat aja, g-gw mau pulang." pamit Revelyn, dia beranjak pergi.
Namun Leo malah mencegatnya, cowok itu menahan tangan Revelyn dan menggenggamnya cukup erat.
Revelyn tidak membalikkan badannya, dan hanya menunggu Leo membuka suaranya.
"Gw sayang sama lo."
"Gw nggak bakal tinggalin lo."
"Karena itu lo---"
"Le-Leo, gw harus buru-buru pulang." potong Revelyn cepat, bahkan Leo belum menyelesaikan kalimatnya.
Revelyn mendadak gugup, dia langsung melepaskan pegangan Leo dari tangannya. Gadis itu langsung berlari keluar dari kamar .
Argh!
__ADS_1
Gadis itu berdecak saat keluar dari rumah Leo, ia terbayang-bayang saat bibirnya dan bibir Leo hampir bersentuhan tadi.
Cowok itu benar-benar nekat ingin menciumnya, namun Revelyn berusaha berpikir positif. Dia harus memaklumi, mungkin karena cowok itu demam makanya tindakannya mulai aneh.
"Revelyn."
Eh?
Revelyn menoleh saat sudah keluar dari pagar rumah Leo, dia sedikit kaget dengan kehadiran Vito yang tiba-tiba.
"Vito? lo ngapain di sini?"
"Lo kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Lo nggak sekolah, kenapa?"
Gadis itu langsung panik, dia bahkan masih memakai seragam sekolahnya, mungkin karena efek mendengarkan cerita tentang masalah Leo sehingga dia lupa untuk berangkat ke sekolah.
"So-sorry gw lupa." ucap Revelyn menunduk.
Vito mengernyit heran, "ada ya, yang nggak berangkat ke sekolah dan alasannya karena, lupa?" ucap Vito, cowok itu tersenyum miring sambil geleng-geleng.
"Namanya juga manusia, jadi wajar pernah lupa!" decak Revelyn kesal.
Vito terkekeh pelan, dia merasa gemas dengan tingkah Revelyn saat kesal.
"Yaudah deh, sekarang lo ikut gw."
Revelyn mengernyit heran, "kemana?"
"Udah ikut aja." jawab Vito, dia menarik tangan Revelyn untuk membawa gadis itu pergi.
Namun saat ingin beranjak pergi, seseorang malah mencegat tangan kiri Revelyn.
Alhasil membuat Revelyn tersentak kaget, dia dan Vito kompak menoleh ke belakang.
"Leo?" gumam Revelyn, dia menatap Leo dengan ekspresi bertanya-tanya.
"Lepasin." perintah Leo dingin.
Namun Vito malah tersenyum miring, dia menatap Leo dengan ekspresi menantang.
"Lo yang lepasin, bodoh." jawab Vito, cowok itu bahkan menarik tangan Revelyn hingga tubuh Revelyn juga ikut mendekat ke arah Vito.
"Dia punya gw!" ucap Leo, dia juga melakukan hal yang sama hingga tubuh Revelyn juga ikut mendekat ke arahnya.
Revelyn berdecak kesal, dia tidak suka di perebutkan seperti mainan.
"Lepasin! gw bukan mainan!" kesal Revelyn, dia melepaskan tangannya sendiri dari Leo dan juga Vito.
Kedua cowok itu mendadak diam, mereka saling membuang muka. Sedangkan Revelyn mulai menatap Leo kesal.
"Gw kan udah bilang, lo sakit Leo!"
"Gw sama Vito mau pergi dulu, jadi lo sebaiknya istirahat aja di kamar." tambah Revelyn, dia menatap Leo sebentar sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya menuju Vito.
Mendengar Revelyn memilihnya membuat Vito tersenyum puas, dia melipat tangannya di depan dada sambil menatap Leo dengan tatapan meremehkan.
"Ayo Vito, kita pergi."
Vito mengangguk, keduanya ingin beranjak pergi.
Namun Leo mencegat tangan Revelyn lagi, menarik tubuh Revelyn agar berbalik menghadapnya.
"Jangan tinggalin gw, Velyn."
...๐๐๐...
Revelyn berdecak, sesekali dia menggigit bibir dalamnya. Sedari tadi dia terus berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
"Gw sayang sama lo."
"Gw nggak bakal tinggalin lo."
"Karena itu lo---"
"Jangan tinggalin gw, Velyn."
Revelyn menghela napasnya. Entah kenapa ia malah terus kepikiran ucapan Leo, dan juga perbuatan Leo yang hampir ingin menciumnya. Karena Leo tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur, lalu menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Revelyn mengulum bibirnya, sambil memejamkan matanya.
Namun saat dia memejamkan mata, yang terlihat dalam kegelapan hanya wajah satu orang.
__ADS_1
"Leo."
...๐๐๐...