
"Velyn nggak ikut yak? kenapa?" tanya Una kecewa, ia menoleh ke samping dan menatap sahabatnya dengan ekspresi cemberut.
"Menurut lo?" tanya Miselia balik, gadis itu masih fokus memainkan handphonenya sambil jalan.
Sekarang adalah hari minggu, dan mereka berdua sedang berjalan di sepanjang trotoar dan berencana untuk mengunjungi sebuah toko yang menjual berbagai macam aksesoris wanita.
"Pasti karena Leo, tuh cowok kan setiap hari minggu selalu ngajak Revelyn jalan-jalan. Dan kita sebagai temannya Velyn, bahkan dilarang untuk ngajaknya jalan-jalannya. Dia pernah bilang sama gw bahwa, hari minggu adalah hari wajib bagi dia untuk ngajak Revelyn jalan-jalan, dan jangan ada yang mengganggu waktu jalan-jalan mereka kalau nggak mau sengsara hidupnya!" Una mengoceh, meniru gaya bicara Leo. Sedangkan Miselia masih tetap fokus dengan handphonenya, jari-jari lentik gadis itu masih mengetik lincah di keyboard handphonenya.
"Nyebelin banget kan tuh cowok? untung aja ganteng, kalau nggak udah gw tendang sampai pluto!" tambah Una dengan ocehan yang sedari tadi terus mengalir dari mulutnya.
"Hm iya."
Begitulah Miselia, kadang gadis itu akan mengabaikan sekitarnya jika sedang asyik memainkan handphonenya.
Merasa terabaikan sepanjang perjalanan menuju toko, lantas membuat Una mendengus kesal.
"Lo dari tadi main handphone mulu! emangnya balas chat siapa sih?!" tanya Una kepo, gadis itu ingin mengintip layar handphone Miselia namun gadis itu sudah terlebih dahulu menjauhkan handphonenya dari Una.
"Eits! lo mau ngapain?"
"Mau liat bentar!"
"Nggak boleh! handphone gw terlalu mahal buat di pegang-pegang orang."
"Najis!"
Miselia tertawa, merasa lucu melihat Una. Sedangkan Una, gadis itu mendengus kesal sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kecopetan tuh handphone tau rasa!" ucap Una cemberut.
"Nggak bak--- EH! HANDPHONE GW!"
Una tersentak kaget saat seorang pencopet langsung merebut handphone dari tangan Miselia, sontak gadis itu berteriak meneriaki pencopet tersebut.
"HANDPHONE GW! COPET! COPET!"
Miselia berteriak histeris, namun orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka hanya terdiam sambil memandangi.
"Handphone gw, Na!"
Una tersentak, menatap Miselia tak percaya. "Misel, omongan gw tadi jadi doa yak." ucap gadis itu masih dengan ekspresi tercengangnya.
Miselia menepuk jidat, menarik tangan Una untuk ikut berlari mengejar pencopet itu.
"Udah, sekarang bantu gw kejar tuh copet!"
Segera mereka berdua berlari di sepanjang trotoar, meneriaki sang pencopet namun yang lebih mirisnya warga yang melihat tidak ada yang sama sekali berniat untuk membantu.
Tidak seperti di film-film yang selalu ada pahlawan saat terjadi kesusahan, oh sadarlah, Miselia hampir tenggelam dalam dunia imajinasinya.
"Argh! handphone gw!"
...🍕...
"KENYANG!"
Buk!
"Nggak usah teriak-teriak, bego!"
Axele mengusap-usap kepalanya yang sakit karena dijitak oleh Geral, cowok itu kesal karena saat keluar dari Cafe, Axele malah berteriak mengatakan bahwa ia sudah kenyang.
Malu-maluin aja, pikir Geral.
"Kemana lagi nih?" tanya Axele heran, ia bahkan masih mengelus-elus perutnya yang kembung.
"Kemana lagi? Ya pulang lah."
"Yah, gw kira mau ke tempat yang lain dulu."
"Emangnya mau kem-"
**Bruk**
"Oi!"
__ADS_1
Geral berteriak kesal saat tubuhnya tak sengaja di senggol seseorang, orang itu bukannya meminta maaf malah semakin mempercepat larinya. Membuat Geral menatap tajam kepergiaan orang itu yang sedikit, mencurigakan.
"HANDPHONE GW ANJIR!!!"
Miselia berteriak, mengambil salah satu batu yang berserakan di sepanjang trotoar. Gadis itu frustasi lalu melemparkan batu tersebut ke arah depan yang sontak malah mengenai ....
Bruk
"Anying, kepala gw!"
"Eh njir, lo kenapa?" Axele kaget bukan main, sedangkan Geral mulai mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit.
Cowok itu celingak-celinguk, mencoba mencari siapa pelaku yang sudah melempar batu hingga mengenai belakang kepalanya.
"Oh my god." Miselia bergumam, meneguk salivanya kasar.
"I-itu, Axele sama Geral njir!" Una menatap tak percaya, pasalnya batu itu malah mengenai kepala Geral.
Geral masih mencari pelaku yang sudah membuatnya kesakitan, tak butuh waktu lama untuk mencari karena sang pelaku yang berada tak jauh di belakang mereka.
Bingo! Dua gadis dari SMA Sanjaya, Geral mengenalinya. Kedua gadis itu adalah, teman Revelyn!
"Oi anjir!"
"U-Una, dalam hitungan ketiga kita lari, oke?"
"Hah? Oke. Hitung yak." Una mengangguk mantap.
"Satu--- LARI!"
Belum selesai memulai hitungan sampai tiga, Miselia sudah berlari meninggalkan dirinya. Una lantas berteriak memanggil nama gadis itu, kemudian menatap Geral dan Axele yang berlari kearahnya sebentar sebelum akhirnya segera berlari mengejar Miselia yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
"Oi! Jangan lari!"
"Oi! Oi! Tayo!"
"Bego lo!" umpat Geral kesal ketika Axele sudah menyamai kecepatan lari mereka.
Miselia dan Una terus berlari, apalagi Miselia, gadis itu nampak panik. Sedangkan Una ....
"Biasanya yang selalu ngejar Axele itu, gw! sekarang gantian, Axele yang malah ngejar-ngejar gw."
Gadis itu masih memekik kegirangan, membuat Miselia mengumpat kesal.
"Kampret! ini bukan kejar-kejaran untuk dapetin cinta lo! ini kejar-kejaran yang kalau gw ketangkap sama tuh cowok, tamat sudah riwayat gw! lo maupun gw, tinggal batu nisan aja entar."
Una meneguk salivanya, wajahnya memucat mendengar ucapan Miselia barusan.
"GW NGGAK MAU MATI MUDA!"
Teriakan Una melengking, rasanya hampir membuat telinga-telinga yang mendengar suaranya menjadi sakit. Miselia terkekeh pelan di sela larinya, ia merasa puas mengerjai Una hingga gadis itu ketakutan.
"OI, LO BERDUA! BERHENTI NGGAK!"
Suara Geral terasa semakin dekat dengan mereka, membuat Miselia dan Una semakin panik. Gadis itu langsung berbelok menuju gang sempit, yang ternyata buntu.
"Sial! ini buntu!"
"Kayak hati gw!" timpal Una, sempat aja tuh anak ngedrama hingga membuat Miselia menatapnya kesal.
Seringaian puas terlukis jelas di wajah Axele dan Geral, kedua cowok itu akhirnya berhenti berlari. Mereka berdua sudah mengepung kedua gadis itu, mereka tidak bisa apa-apa sekarang.
"Kalian berdua larinya cepat banget, gw yang baru aja selesai makan pengen muntah rasanya! semua isi perut gw rasanya terombang-ambing karena lari ngejar kalian aja!" Axele mengomel, membuat Miselia dan Una saling berpandangan dan mengangkat bahu mereka sebagai pertanda bahwa mereka tidak mengerti dengan apa yang Axele maksud.
Geral menghela napasnya, kembali memfokuskan tatapannya menuju Miselia.
"Lo yang lempar batu tadi kan?!" to the point, Miselia mati kutu saat Geral sudah menyambarnya dengan pertanyaan itu.
"Bu-bukan!"
Pembohong! Geral menoleh kearah Axele, memberi kode dengan menunjuk kedua gadis itu menggunakan dagunya.
Mengerti dengan kode Geral, Axele mengangguk. Mereka berdua lantas menatap kedua gadis itu, sambil berjalan menghampirinya.
Miselia meneguk salivanya saat Geral mulai berjalan menghampirinya, sedangkan Una, gadis itu dengan mata berbinar-binar menanti kedatangan Axele untuk menghampirinya.
__ADS_1
"Ikut gw!" titah Geral, ia mencengkram tangan Miselia namun gadis itu malah membrontak.
"Gw nggak mau! gw nggak salah kok! gw cuma mau ngejar pencopet yang nyuri handphone berharga gw!" jelas Miselia, namun Geral tak kunjung melepaskan cengkramannya.
"Jangan alasan."
"Itu bukan alasan kampret! itu kenyataan! lagipula salah lo sendiri, siapa suruh ada di sana saat gw lagi ngelempar batu!" Miselia masih terus membela dirinya sendiri, bukannya minta maaf gadis itu malah semakin menyalahkan Geral.
Sementara itu, Axele juga mencengkram lengan Una. Memerintahkan agar gadis itu juga ikut dengannya, Axele kira gadis itu akan ketakutan padanya lalu menangis.
Namun ternyata di luar ekspektasi.
"Lo juga ikut gw!"
"Una mau kok ikut Axele kemana aja, bahkan ke hati Axele ataupun ke planet pluto." Una meninggikan suara cerianya, membuat Axele ternganga.
"Hah?"
Mata gadis itu berbinar-binar, menatap tangan Axele yang tengah mengenggam tangan kanannya. Rasanya seperti mimpi, Una di buat semakin terbang karena cowok itu masih belum kunjung melepaskan pegangannya.
"OH MY! TANGAN GW DI PEGANG SAMA AXELE!AXELE, AKU PADAMU!"
Axele semakin ternganga seperti orang bego, ia bahkan tidak menyangka ada gadis seperti Una yang agak lain ini. Bukannya merasa bersalah ataupun takut saat melakukan kesalahan, gadis itu malah berteriak seperti orang kesetanan.
"Berisik njir!" tegur Geral, ia dan Miselia menatap Una dan Axele lekat.
Axele mengangguk setuju, "tau nih! berisik banget lo kampret! teriak lagi, gw cubit lo!" ancam Axele, ia mencubit lengan gadis itu.
Bukannya kesakitan ataupun diam saat di ancam, mata Una semakin berbinar. Ia menatap tangan Axele yang masih mencubit dirinya.
"Aduh--- cubit gw sepuasnya Axele! GW IKHLAS LAHIR DAN BATIN!"
...🍕...
SMA Sanjaya.
"Huaaaaa, handphone gw ... handphone gw."
Tak henti-hentinya Miselia terus merengek, menyebut-nyebut handphonenya sambil menangis meski air mata bahkan tidak sedikitpun keluar dari pelupuk matanya.
Revelyn dan Una hanya bisa geleng-geleng kepala, apalagi saat Miselia menyeka hidungnya dengan tisu lalu membuangnya ke tempat sampah secara berulang-ulang kali, padahal tidak ada ingusnya sama sekali.
"Alay banget sih anjir!"
Revelyn sudah tidak tahan, ia lantas menoyor jidat Miselia hingga membuat gadis itu semakin merengek lebih kencang.
"Handphone gw! handphone gw berharga, di dalam adanya seseorang yang sedang nunggu kabar dari gw!"
"Siapa? pacar lo?"
Miselia mengangguk, "iya!"
"Lo punya pacar?! siapa namanya? kok kita baru tau!" Revelyn bertanya heboh, apalagi mereka bertiga tengah duduk di bangku selasar yang ada di depan kelas.
"Kan gw baru bagi tau tadi! namanya Reg-"
Eh?
Miselia spontan menutup mulutnya dengan tisu, gadis itu diam dengan tubuh yang mematung.
"Lo kenapa?" tanya Revelyn, ia menatap heran Miselia yang duduk di sampingnya.
Miselia meneguk salivanya, lalu nyengir begitu saja seperti orang gila. Gadis itu menoleh ke arah Revelyn, memberikan cengiran khasnya.
"Ng-nggak papa kok, tiba-tiba aja perut gw bunyi. Kayaknya cacing-cacing udah minta makan nih." jawab Miselia, ia bangkit dari duduknya sambil melempar tisu ke tong sampah yang berada di samping bangku panjang yang sedang mereka duduki.
"Ke kantin? gw ikut dong!" Una bangkit dari duduknya, di susul Revelyn yang masih menatap heran ke arah Miselia.
"Nama pacar lo tadi siapa? Reg? Reg apaan?"
Una dan Miselia menatap Revelyn, gadis itu nampak penasaran. Sedangkan Miselia mulai menggaruk-garuk tengkuk kepalanya, gadis itu nampak gusar.
"Registrasi kali." timpal Una yang alhasil membuat kedua temannya tertawa, gadis itu bahkan mendapat cubitan dari Miselia.
"Hahahanjir sa ae lu kampret!"
__ADS_1
...🍕...