HEARTBEAT

HEARTBEAT
13. Berubah?


__ADS_3

"Gila!"


Axele mengumpat, dia langsung menampar pahanya sambil meremas handphonenya. Geral dan Leo yang melihat tingkah Axele lantas saling berpandangan, mereka penasaran dengan apa yang membuat Axele terlihat kesal.


"Lo kenapa?" tanya Geral sambil membuka kulit kuaci, mereka bertiga sedang santai menikmati waktu bolos mereka di belakang sekolah sebelum kembali lagi masuk kelas.


"Ini nih, cewek sakit jiwa." Axele berdecak kesal, membuat Leo menaikkan sebelah alisnya heran.


"Cewek sakit jiwa? siapa?" tanya Leo heran, cowok itu bersandar pada dinding sambil melonggarkan dasinya karena kegerahan.


"Una namanya, katanya dia suka sama gw."


Mendengar jawaban Axele lantas membuat kedua temannya tertawa terpingkal-pingkal, mereka tidak menyangka bahwa ada cewek yang menyukai Axele. Geral dan Leo bahkan berpikir, siapapun cewek itu pasti dia sama gila-nya dengan Axele.


"Anjrit, gw nggak nyangka ternyata ada juga cewek yang suka sama lo." ucap Geral terkekeh.


"Oh tentu, gw kan ganteng jadi wajar. Nggak kayak lu, muka kek tai ayam."


"******!" umpat Geral sambil melempari cowok itu dengan kulit kuaci.


Leo yang melihat tingkah kedua temannya hanya ikut tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Terus lo terima?" tanya Leo, Axele menoleh sambil mengacak rambutnya frustasi.


"Ya kali gw terima, cewek sakit jiwa kayak dia buat gw ilfeel aja."


"Berarti lo tolak dong? lo nolaknya gimana? terus respon dia gimana setelah lo tolak?"


Axele menghela napasnya saat Geral menghujaninya dengan pertanyaan, cowok itu lantas memperlihatkan percakapannya dengan Una di handphone.


"Coba baca, gw yakin setelah ini kalian bakal bangga sama gw." ucap Axele, ia tersenyum sambil memberikan handphonenya pada Geral.


Geral langsung merebut handphone Axele dari tangannya, ia dan Leo mulai membaca isi pesan Una dan Axele di personal chat.


Cewek sakit jiwa!


AXELE!!!! Kamu tau nggak?


^^^Axele Ganteng^^^


^^^Nggak^^^


Cewek sakit jiwa!


Yaudah aku kasih tau


ya?😘😘😘😘😘😘


^^^Axele Ganteng^^^


^^^Ya^^^


Cewek sakit jiwa!


SEBENARNYA AKUTUH


SUKA SAMA AXELE!!!!


πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


^^^Axele Ganteng^^^


^^^Oh^^^


Cewek sakit jiwa!


PASTI AXELE KAGET KAN**???


KAN????


^^^Axele Ganteng^^^


^^^Banget^^^


Cewek sakit jiwa!


AYOK KITA PACARAN!


^^^Axele Ganteng^^^


^^^Nggak^^^


Cewek sakit jiwa!


lho? Kenapa???


^^^Axele Ganteng^^^


^^^Udah punya pacar^^^


Cewek sakit jiwa!


AAPAA?!!! Mana orangnya?


minta fotonya!


^^^Axele Ganteng^^^


^^^Oke^^^


Cewek sakit jiwa!


Pasti lebih cantik aku


dari dia.


^^^Axele Ganteng^^^


...



...


^^^Duh cantiknya pacarku😘😘^^^


Cewek sakit jiwa!


GUAAA GAAAA RELAAAA


GILAAAAAAAA! DASAR


AXELE! GW BERSUMPAH BAKAL


JADIIN LO MILIK GUA!


Leo dan Geral terdiam, mereka bahkan tak berkedip sama sekali sehabis membaca semua isi chat itu.


Axele terkekeh, merebut handphonenya dari tangan Geral. Axele lantas bertanya sambil menaik turunkan alisnya.


"Gimana? Cantik kan pacar gw?"


Leo berdecak kesal sambil menoyor jidat Axele, "itumah foto lo sendiri bego!" umpat Leo kesal.


"Lo pakai wig siapa anjir? kok cantik?" tanya Geral, ia menatap Axele lekat.

__ADS_1


Sontak Axele malah menoyor jidat Geral karena geli, "napa? lo naksir gw yak?" tanya Axele tersenyum.


Geral lantas memasang ekspresi jijik, "NAJONG!"


"Baguslah tuh cewek percaya, gw yakin dia nggak bakal kejar-kejar gw lagi sampai keliling sekolahan." Axele berucap lega sambil mengelus-elus dadanya, ia bersyukur bahwa gadis itu otaknya tertinggal di perut emaknya.


"Gininih kalau otak ada di dengkul." gerutu Geral, ia tidak habis pikir dengan temannya yang satu itu.


"Gimana? pintar 'kan gw?" tanya Axele, ia menatap Geral dan Leo secara bergantian dengan senyum sumringah.


"SAKIT JIWA MALAHAN!"


...πŸ•...


"Weekend ini, lo dan gw, kita jalan-jalan."


"Nggak makasih, gw nggak mau!"


"Yaudah, kalau gw tau cowok itu bolos lagi, mungkin nggak lama lagi dia bakal di skors."


Revelyn mendengus, mengingat ucapan Vito saat di lapangan tadi membuatnya kesal. Gadis itu melipat tangannya di atas meja, lalu membenamkan wajahnya.


Gadis itu merasa sepi harus berada di kelas tanpa kedua sahabatnya, padahal suasana kelas lumayan ramai namun gadis itu selalu merasa kesepian.


Tiba-tiba Revelyn mengernyit heran saat mendengar suara dering ponsel berbunyi, ia mendongak sambil menatap tas Miselia disampingnya. Ia dan Miselia memang sebangku.


Karena penasaran, lantas Revelyn merogoh isi tas Miselia. Gadis itu lalu mengambil handphone Miselia untuk mengetahui nama yang tertera di layar, namun Revelyn malah meneguk salivanya. Gadis itu terdiam kala dia menatap nama sang penelpon yang tak lain ialah, Regan.


Angkat?


Tangan Revelyn gemetar, gadis itu lalu menempelkan benda pipih tersebut di telinganya.


"Halo Mis, besok pagi aku mau ngajak kamu ke taman."


"Mau nggak? Taman kota, besok. Mumpung besok minggu."


Revelyn mematung, sudah lama sejak umurnya lima tahun. Dan baru sekarang, ia bisa mendengar lagi suara Regan.


"Halo?kenapa diam? jawab, sayang."


Gadis itu meneguk salivanya, dia lalu mengangguk sambil berdehem.


Sesudah itu Revelyn langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak.


"Besok, ya."


Revelyn mulai berekspresi serius, gadis itu memasukkan kembali handphone tersebut ke dalam tas pemiliknya.


Bahkan Leo yang baru saja datang dan terdiam di ambang pintu merasa heran saat melihat Revelyn, gadis itu terdiam di tempat sambil meremas roknya.


"Revel---"


Leo ingin memanggil, namun Revelyn sudah berlari keluar kelas. Melewatinya begitu saja, Leo lantas ikut berlari mengejar Revelyn.


Gadis itu berlari menuju lapangan, membuat semua siswa maupun siswi menatapnya heran.


"Velyn!" Leo memanggil, namun Revelyn tidak menyahut. Gadis itu masih terus berlari tanpa menghiraukan sekitarnya.


"Ini kesempatan gw, ini kesempatan gw." Revelyn bergumam, sesekali ia berdecak kesal saat terngiang suara Regan di pikirannya.


Akhirnya Revelyn sampai di lapangan utama, dia lalu celingak-celinguk mencari seseorang.


Ah itu dia!


Gadis itu berlari menyeberangi lapangan, membuat kegiatan sebagian siswa yang bermain basket terhenti. Mereka menatap Revelyn melongo saat gadis itu berjalan di tengah lapangan untuk menghampiri Vito yang sedang duduk santai di bawah pohon, bahkan Leo yang berada tak jauh dari Revelyn berada mulai mengerutkan dahinya.


"Vito!"


Vito menaikkan sebelah alisnya heran, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Revelyn.


Revelyn menarik napasnya, ia lalu mulai menatap Vito serius.


"Gw terima besok, kita berdua jalan-jalan."


"Serius?"


"Tapi ada satu syarat, biarin gw bebas milih tempat yang mau gw kunjungi besok berdua sama lo." Revelyn memberikan syarat itu pada Vito, gadis itu kira Vito akan menolak namun ternyata sebaliknya.


"Oke, gw terima syarat itu. Kemanapun lo mau gw bakal turutin, asal itu sama lo." Vito berujar pelan, ia tersenyum menatap Revelyn.


Gadis itu mengangguk, ia lantas mengulurkan tangannya ke arah Vito. Cowok itu awalnya diam sambil menatap tangan yang terulur di hadapannya, detik selanjutnya ia mengangguk sambil balas berjabat tangan dengan Revelyn.


"Oke deal!"


Jabatan tangan itu di saksikan oleh semua siswa dan siswi di lapangan, mereka cukup heran dengan kedua insan itu.


Jika sebagian siswa dan siswi heran, lain halnya dengan Leo. Rahang cowok itu mengeras, kedua tangannya terkepal.


Besok hari minggu, lo lupa kah Velyn?


Leo menatap tajam kedua insan yang masih berbincang-bincang itu, Leo tidak suka pemandangan itu.


Cowok itu memilih beranjak pergi dari lapangan, meninggalkan Revelyn yang bahkan seperti tidak menyadari kehadirannya sedikitpun.


Besok kan lo udah janji mau temenin gw ke makam mama.


...πŸ•...


Sesuai perjanjian, pagi itu Revelyn sudah berpakaian rapi. Gadis itu berlari kecil menuruni anak tangga, dan mendapati Leo serta Agitha di meja makan.


"Leo?"


Leo mendongak, menatap Revelyn yang berdiri di dekat tangga. Cowok itu kemudian memberikan senyum miringnya sambil memainkan sendok di tangannya.


"Makan dulu, nak." tawar Agitha, namun Revelyn malah menggeleng.


"Nggak usah mbak, Velyn makan di luar aja. Teman Velyn udah nunggu tuh."


Entah kenapa jawaban Revelyn malah membuat Leo sebal, cowok itu lantas mendengus kesal.


"Yaudah, hati-hati yak."


Revelyn mengangguk, ia sudah bersiap beranjak pergi. Namun ucapan Leo malah menghentikan langkahnya.


"Velyn, lo punya janji sama gw."


Revelyn terdiam di tempat, ia lantas berbalik dan menatap Leo yang sudah berada di hadapannya.


"So-sorry, hari ini gw punya rencana."


"Rencana apa? jalan-jalan? itu yang lo maksud?"


"Bukan Leo, gw nggak bisa bilang sekarang."


"Kenapa?"


Revelyn berdecak kesal, "na-nanti lo juga tau!" jawab Revelyn, gadis itu enggan menceritakan yang sebenarnya.


Leo mengigit bibir dalamnya, ia mengangguk mengerti. Lebih tepatnya mencoba untuk mengerti.


"Gw pergi sendiri aja." gumam Leo, gadis itu lalu mengangguk.


"Titip salam sama mama lo yak, sorry gw nggak bisa nemenin lo." ucap Revelyn sebelum akhirnya gadis itu mulai beranjak pergi meninggalkan Leo yang terdiam di tempat, cowok itu hanya menatap datar punggung Revelyn yang mulai menghilang dari pandangannya.


...πŸ•...

__ADS_1


"Kenapa diam?"


Regan bertanya pada gadis di sampingnya, namun gadis itu hanya menggeleng lemah.


Akhir-akhir ini Miselia memikirkan Revelyn, ia masih ingat bagaimana dengan mudahnya gadis itu menipu semua orang maupun dirinya hanya dengan senyuman.


"Hei, jujur aja. " ucap Regan tersenyum, cowok itu lantas mengusap puncak kepala Miselia.


"Nggak papa." ungkap Miselia, gadis itu menatap Regan sambil melempar senyuman.


Regan hanya mengangguk, cowok itu lalu meraih tangan kanan Miselia lalu mengecupnya singkat.


"Don't worry, Miselia."


Miselia tersenyum, ia merasa senang dan tenang saat Regan mengatakan itu.


Cowok itu juga membalas senyumnya, ia menarik Miselia secara lembut. Membawa gadis itu untuk duduk di bangku taman.


"Capek nggak hm?"


"Iya."


"Mau di gendong?" tawar Regan, Miselia malah terkekeh sambil mencubit lengan Regan.


"Nggak makasih, malu-maluin aja." gerutu Miselia, dan Regan hanya tertawa sambil menyentil kening gadis itu.


"Regan?! sakit tau!"


"Sakit yak?" tanya Regan meledek.


Lagi-lagi Miselia di buat kesal dengan tingkah Regan, gadis itu kemudian memasang ekspresi cemberut sambil menoleh ke lain arah.


Namun betapa terkejutnya Miselia, tubuh gadis itu sontak mematung. Membuat Regan heran, lalu mengikuti arah Miselia memandang.


Regan sama kagetnya dengan Miselia, tubuh cowok itu mendadak gemetar.


"Suasana macam apa ini? dia siapa?" Vito membatin, ia masih terheran-heran kala Revelyn menarik dirinya untuk menghampiri kedua orang yang berada di hadapannya sekarang.


Revelyn berkedip dua kali, ia lalu mencoba tersenyum sambil menatap Miselia dan Regan bergantian.


"Kalian tau nggak?" tanya Revelyn, membuat mereka bertiga menatap gadis itu heran. "Apa hal yang paling bodoh di dunia ini?" sambungnya.


"Yaitu saat menunggu orang yang kita sayang untuk pulang, namun saat dia kembali, orang itu malah seperti melupakan kita." ucap Revelyn melanjutkan kalimat demi kalimat, dan entah kenapa setiap yang terlontar dari mulut adiknya seakan menohok Regan.


Revelyn tersenyum kecut, gadis itu menatap Regan lekat. "hai kak Regan, ini Velyn. Do you remember me? Ini adik kamu." ucap Revelyn, gadis itu menatap Regan lekat.


Vito yang mendengar kaget bukan main, ia kira Revelyn punya hubungan spesial dengan cowok itu. Tapi ternyata hubungan yang di maksud adalah hubuangan sebagai adik-kakak.


"Ve-Velyn, Kak---"


"Biarkan Velyn yang bicara, Kak Regan cukup diam dan dengarkan." Revelyn menyela, matanya lalu menatap datar ke arah Miselia. "termasuk, lo."


"Velyn, gw bisa jelasin, gw---"


"Gw bilang diam, 'kan?" Revelyn masih menjaga nada bicaranya, dia hanya tak mau Miselia menganggu dirinya.


Miselia meneguk salivanya, gadis itu mengangguk lemas.


"Velyn cuma mau penjelasan dari kak Regan. Kenapa? kenapa kak Regan nggak bilang bahwa kakak udah kembali?"


"Kenapa kak Regan nggak nemuin Velyn duluan? kenapa kak Regan malah nemuin Miselia duluan?"


"Bukannya kak Regan janji sama Velyn? kak Regan bakal temuin Velyn kembali tapi apa?"


"Sebenarnya kak Regan kembali untuk siapa?! untuk Miselia atau Velyn?!" Revelyn menaikkan nada bicaranya beberapa oktaf, bahkan napas gadis itu tersenggal-senggal.


Mata Revelyn memanas, gadis itu mencengkram rok-nya. Membuat Regan maupun Vito mulai iba melihatnya.


"Kak Regan kenapa diam! katakan sesuatu!"


Regan masih diam, namun dia begitu merasakan bagaimana sang adik terluka gara-garanya.


"I know." akhirnya Regan membuka suara, membuat Revelyn mendongak menatapnya.


"Sorry, gara-gara Kak Regan kamu jadi sendirian selama ini. Gara-gara kak Regan kamu nggak bisa merasakan kasih sayang mama sama papa, dan gara-gara kak Regan---"


"Velyn rela menunggu." Revelyn menyela lagi, membuat Regan menatap adiknya lekat kemudian tertunduk menyesal.


"Kamu boleh marah sama kak Regan."


Gadis itu menggeleng lemah, "Velyn nggak bisa marah, Velyn cuma kecewa." ucap Revelyn menatap Regan dan Miselia bergantian.


Detik selanjutnya gadis itu beranjak pergi meninggalkan Regan, Revelyn hanya tidak mau menangis di hadapan kakaknya itu.


"Velyn!" Vito berteriak memanggil, ia ingin menyusul namun Regan malah mencegatnya.


"Please, biarin dia sendiri dulu."


...πŸ•...


Mata Revelyn semakin memanas, gadis itu semakin berlari menjauh dari taman. Ia bahkan langsung menyeberang jalan begitu saja tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, alhasil membuat Revelyn hampir tertabrak.


Titt!


Revelyn terlonjak kaget, dia langsung menoleh saat mobil itu berhenti mendadak dan hampir menabraknya. Lantaa Revelyn menghela napasnya lega, detik selanjutnya ia mendongak saat terdengar langkah kaki mulai berjalan menghampirinya.


"Velyn."


Mata Revelyn langsung mengeluarkan bulir-bulir air mata, ia menatap Leo lekat begitupun sebaliknya.


"Leo."


Air mata gadis itu mulai membentuk seperti air terjun, karena hanya di depan Leo, gadis itu bisa menangis sepuasnya.


"Hei, lo kenapa?" Leo menangkup kedua pipi Revelyn, ia tersenyum hangat dan bertanya secara lembut agar gadis itu menjawab pertanyaannya.


"Leo!"


Revelyn memegangi kedua tangan Leo yang menangkup pipinya, gadis itu lalu langsung berhambur ke dalam pelukan Leo.


Ia menangis histeris, meluapkan segala isi perasaannya. Tangisan ini sudah mati-matian ia tahan saat di hadapan Regan tadi, Revelyn terlalu gengsi menangis di hadapan siapapun kecuali Leo.


Hanya di depan Leo, sifat cengeng gadis itu terlihat.


"Regan, dia nggak mau jawab pertanyaan gw."


"Dia, dia sebenarnya kembali buat siapa?"


"Buat gw atau Miselia?"


Revelyn masih menangis dalam pelukan Leo, gadis itu menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Hingga akhirnya Leo mengangguk paham, cowok itu lantas mengusap-usap punggung Revelyn untuk menenangkannya.


"Gw benci kak Regan, gw benci Miselia, gw benci semuanya!"


Gadis itu mulai sesenggukkan, ia bahkan semakin mencengkram kuat belakang baju Leo.


"Gw benci semuanya, mereka cuma bisa berjanji tanpa menepati, mereka cuma bisa berbohong, dan pada akhirnya mereka akan pergi meninggalkan gw."


"Gw udah muak! gw nggak percaya sama siapapun lagi, gw nggak bisa percaya sama siapapun lagi!"


"Leo jawab gw?! lo nggak seperti mereka kan? lo nggak bakal ninggalin gw kan? Jawab gw! jawab gw Leo!"


Revelyn terus mendesaknya, cowok itu hanya mengangguk sambil terus mengusap rambut Revelyn.


"Gw Leo, bukan mereka. Gw janji, gw bakal selalu ada di samping lo, sampai kapanpun. Gw nggak bakal ninggalin lo, gw janji."

__ADS_1


...πŸ•πŸ•πŸ•...


__ADS_2