
Revelyn berdecak kesal, menatap sebal cowok di sampingnya sambil bertolak sebelah pinggang.
"Gara-gara lo, kita jadi telat 'kan." Revelyn mengomel pada Leo, sedangkan cowok itu hanya mengangkat bahunya santai.
"Kenapa gw yang di salahin?"
"Lo 'kan telat bangun!"
"Yaudah maaf."
Revelyn mendengus, menatap miris gerbang sekolahnya yang sudah terkunci. Gadis itu menggigit bibirnya, berusaha berpikir keras bagaimana caranya agar ia dan Leo bisa masuk. Leo yang melihat ekspresi gadis itu mulai tersenyum, lucu sekali melihat Revelyn yang nampak kebingungan.
"Yaudah deh, ayok ikut gw."
"Kemana?" tanya Revelyn cengo.
"Udah ikut aja, lo mau sekolah 'kan?"
Gadis itu mengangguk ragu, membuat Leo juga mengangguk lalu meraih tangan kanan Revelyn sambil menariknya secara lembut.
Leo masih memegang tangan Revelyn, membawa gadis itu menuju tembok belakang sekolah. Tembok yang biasanya selalu di gunakan murid-murid untuk menyelinap masuk ke dalam sekolah ketika terlambat, ataupun sekedar ingin membolos sekolah.
"Mau manjat nggak?" tawar Leo, ia menaikkan sebelah alisnya.
Memang ada tangga yang sengaja di siapkan murid-murid untuk memanjat tembok tersebut, namun tetap saja, Revelyn paling tidak suka hal yang membuatnya repot.
"Mau sih, tapi nggak ada pilihan lain selain manjat gitu?"
"Ada kok, lo pulang aja terus tidur."
Jawaban Leo sontak membuat Revelyn menabok lengan cowok itu, membuat Leo terkekeh pelan.
"Mau manjat apa nggak? kalau nggak, yaudah pulang sana."
"Ish Leo! iya gw mau, naik tangga itu 'kan?"
"Hm."
Revelyn mengangguk, kakinya sudah mulai menaiki satu anak tangga. Namun tiba-tiba saja berhenti yang lantas membuat Leo mengernyit heran.
"Kenapa?" tanya Leo heran, gadis itu lalu menatapnya datar.
"Mending lo duluan aja, entar ****** gw lo intip!" jawab Revelyn masih datar.
"Nggak gw intip juga gw udah tau warna sempaknya." canda Leo terkekeh.
"Anjir! mau gw timpuk pakai sepatu hah?!"
Cowok itu lantas tertawa sambil berjalan ke arah tangga, ia lalu naik tanpa menyadari bahwa Revelyn masih tak kunjung ikut naik.
Leo sudah berada di atas tembok, ia lalu menatap Revelyn yang masih di bawah.
"Cepetan naik Velyn, jam pelajaran pertama kelas lo bentar lagi di mulai." Leo berujar serius, namun Revelyn hanya menatapnya ragu.
"Gw takut."
Leo menghela napasnya, "nggak usah takut, 'kan ada gw." ujarnya sambil tersenyum hangat.
"Kalau gw jatuh gimana?!" tanya Revelyn setengah teriak.
"Gw tangkap."
"Bener yak?"
"Iyak cantik."
Revelyn mengangguk, ia mulai menaiki tangga meski perlahan. Dan Leo, cowok itu sudah lebih dahulu loncat ke bawah, lalu menunggu Revelyn ketika gadis itu akan loncat.
Sesampai di atas tembok, kaki Revelyn mendadak gemetar. Gadis itu meneguk salivanya, menatap Leo dari atas dengan mata yang melotot.
"INI TINGGI BANGET, GW TAKUT!"
Gadis itu berteriak ketakutan, membuat Leo sontak meletakkan jari telunjuknya di bibir. "ssstt, jangan teriak oi! entar kita ketahuan Pak Dayat." tegur Leo yang langsung membuat gadis itu menutup mulutnya.
"Leo, gw loncat nih?"
"Terbang."
"Leo!"
"Ya loncat lah, buruan Velyn." Leo mulai gemas pada gadis itu, kedua tangannya sudah siaga untuk menangkap gadis itu.
"Tangkap gw yak! awas aja kalau nggak, gw marah sama lo!"
"Busetdah, udah dibilangin gw bakal tangkap. Makanya cepetan loncat, mau loncat aja lebay banget sih." cerca Leo, ia mulai kesal karena lama menunggu.
__ADS_1
"LEO KAMPRET!"
Revelyn berteriak, sambil meloncat begitu saja. Membuat Leo tersentak dan langsung menangkap gadis itu namun naas!
BRUK
Keduanya meringis kesakitan, merasakan rasa sakit saat tubuh keduanya mencium tanah.
Leo berdecak kesal, namun rasa kesalnya tiba-tiba saja berhenti saat ia membuka matanya. Cowok itu merasakan Revelyn menindih tubuhnya, sedangkan lengan gadis itu melingkar erat di lehernya.
Mereka sangat dekat, membuat Leo dapat mencium wangi khas tubuh gadis itu.
Wangi permen karet?
"Aduh sakit--- kening gw berdarah!!!"
Revelyn menyingkir dan mengubah posisinya menjadi duduk, ia dan Leo duduk saling berhadapan.
"Kena apa?"
"Batu!" jawab Revelyn sebal, keningnya sedikit mendapat luka gores.
"Sorry." ucap Leo, ia lalu merogoh isi tasnya untuk mengambil plaster luka yang selalu dia bawa untuk berjaga-jaga.
Cowok itu lalu menempelkan plaster luka tersebut di kening Revelyn yang terluka, selesai menempelkan dia lalu tersenyum sambil membenarkan rambut Revelyn yang sedikit berantakkan.
"Udah sana masuk kelas."
Revelyn mengangguk, bangkit dari duduknya sambil menepuk-nepuk seragamnya yang sedikit kotor.
"Lo juga masuk kelas 'kan?" tanya Revelyn namun cowok itu malah menggeleng, membuatnya menghela napas pasrah.
"Gw mau nyamperin Geral sama Axele di gudang sekolah."
"Ngapain sih di sana?!"
"Bolos."
Revelyn mendengus, menatap Leo sebal. Sedangkan yang di tatap hanya terkekeh sambil menepuk pelan puncak kepala Revelyn.
"Bye, istirahat gw jemput." ucap Leo sebelum akhirnya ia segera beranjak pergi dari hadapan Revelyn.
Sepeninggal Leo, Revelyn mendengus kesal sambil menyandang tas di punggungnya. Kemudian ia segera beranjak pergi menuju kelas sambil menggerutu.
"Bolos mulu kerjaannya, belum pernah gw giling tuh anak."
...🍕...
"Terus?" tanya Revelyn, gadis ini memang selalu penasaran akan hal apapun.
Sedangkan Miselia, gadis itu terus fokus pada handphone di tangannya.
"Terus gw bilang, Axele! aku padamu!" Una mulai menceritakan pengalamannya kemarin malam saat mengirim message untuk Axele.
"Ya terus?" Miselia membuka suara, berhenti memainkan handphonenya. Gadis itu memasukkan kembali benda pipih tersebut ke dalam saku seragamnya, ia mulai fokus pada obrolan kedua temannya.
"Terus dia bilang gw sakit jiwa. So sweet banget 'kan? dibilang sakit jiwa sama doi, rasanya nyelekit hati gimana gitu ... tapi untungnya rasa sayang gw ke dia lebih besar dari rasa benci gw."
Revelyn dan Miselia sontak ternganga, mereka saling berpandangan lalu kembali memandang Una sambil menoyor dahi gadis lugu itu.
"Dasar bucin!"
"Dibilang sakit jiwa malah senang, situ bego atau polos?"
Una memasang ekspresi cemberut, kedua temannya itu selalu membuatnya kesal.
Langkah ketiga orang itu tiba-tiba saja terhenti saat sebuah bola basket memantul ke arah mereka, lantas mereka bertiga memandang ke arah lapangan basket.
"Bisa ambilin?"
Revelyn menatap cowok yang tengah berdiri di tepi lapangan basket, ketua osis, cowok itu tengah bermain basket.
"Vel, ambilin katanya." titah Miselia sembari memberi kode dengan dagunya.
"Kok gw?! ogah ah, entar dia malah komen penampilan gw!" Revelyn menolak mentah-mentah, ia hanya tidak ingin berurusan dengan ketua osis itu.
"Una, ambilin tuh. Bola basketnya di depan lo, jadi lo yang harus ambilin buat tuh ketua osis." titah Miselia, membuat Una langsung menyepak bola basket tersebut menuju ke arah Revelyn.
"Sekarang bukan di depan gw, tapi di depan Velyn." Una nyengir kuda, menatap Velyn yang kesal sambil bergaya peace.
Akhirnya Revelyn mengalah, gadis itu memungut bola basket tersebut lalu berjalan menghampiri Vito yang masih setia menunggunya di tepi lapangan.
Manik Vito menatap lekat seorang gadis yang tengah berjalan ke arahnya, ekspresi gadis itu nampak kesal membuat Vito tersenyum miring.
"Nih."
__ADS_1
Vito mengangguk, menerima bola basket tersebut dari tangan Revelyn. Ia lalu memantulkan bola basket tersebut ke atas dan ke bawah, namun tatapannya masih tidak lepas dari gadis di hadapannya.
"Thank."
Revelyn mengangguk, namun maniknya masih terus memperhatikan bola basket yang memantul ke atas dan ke bawah di hadapannya.
"Kenapa?"
Gadis itu sontak mendongak, menatap Vito dengan tatapan bertanya-tanya.
"Mau gw ajarin cara mainnya?"
Tawaran cowok itu membuat Revelyn menatapnya dengan ekspresi cengo, ia tidak salah dengar 'kan? ia kira Vito itu orang yang jahat dan menyebalkan, tapi ternyata lumayan baik.
"Ng-nggak papa nih?" tanya Revelyn memastikan.
Vito mengangguk, "nggak papa." jawabnya santai.
"Yaudah, kalau gitu tolong ajarin gw main basket."
"Oke."
...🍕...
Leo memasang ekspresi datarnya, ia dan kedua temannya berjalan di sepanjang koridor kelas sepuluh.
Leo sedang mencari-cari Revelyn, ia kan sudah bilang bahwa istirahat akan menjemput gadis itu. Namun ternyata Revelyn tidak ada di kelasnya, menurut beberapa teman Revelyn, mereka melihat Revelyn dan kedua temannya ada di koridor kelas sepuluh.
"Duh males banget gw ketemu sama tuh cewek." Axele mengeluh, memijit-mijit pelipisnya karena pusing jika harus menerima semua ocehan dari cewek itu.
"Siapa?" Geral menatap Axele heran, pasalnya cowok itu nampak menunjukkan gelagat malas.
"Yang namanya Una, temannya Velyn itu."
"Oh itu, cocok sama lo."
"Anjir, cocok dari mananya coba?! sembarangan lo!"
"Cocok karena sama-sama gila!" teriak Geral di telinga Axele yang spontan membuatnya mendapatkan sentilan di dahi.
"Dasar kutil onta!"
Mata Leo menangkap sosok dua orang gadis yang familiar, dua orang itu tidak lain ialah temannya Velyn, Una dan Miselia. Kedua gadis itu berdiam diri di dekat pilar sambil menatap ke arah lapangan, lantas Leo mulai berjalan menghampiri mereka.
"Kalian."
Miselia dan Una kompak menoleh, menyadari kehadiran tiga orang di hadapannya.
Una yang melihat Axele langsung mengukir senyum sejuta wattnya, sedangkan Axele mulai bersembunyi di belakang tubuh Geral saat merasakan hawa tidak enak di hadapannya.
"Velyn, mana?"
Miselia memberi kode, menunjuk ke arah lapangan dengan dagunya. "tuh."
Manik hitam pekat itu mulai menatap ke arah lapangan, menangkap dua sosok yang sedang bersenang-senang sambil bermain basket.
Sejak kapan?!
Leo tidak berkedip, ia memasukkan kedua tangannya di masing-masing kantong sambil berjalan dengan wajah kesalnya. Menghampiri dua orang yang berada di bawah ring basket itu.
"Yes, masuk! udah berapa kali?" tanya Revelyn senang saat ia berhasil memasukkan bola basket tersebut ke dalam ring.
Vito tersenyum, "baru empat." jawabnya.
"Huft," Revelyn mendengus kesal, ternyata mencoba berteman dengan Vito asik juga pikirnya.
"Velyn."
Revelyn dan Vito kompak menoleh ke arah sumber suara, mendapati Leo berjalan menghampiri mereka sambil tersenyum manis.
"Eh Leo, sorry gw tadi nggak ada di kelas." Revelyn langsung membuang bola basket di tangannya ke sembarang tempat, gadis itu langsung berjalan mendekati Leo.
Leo tersenyum, "no problem." jawabnya sambil cowok itu masih menatap Revelyn dengan senyuman.
"Yaudah, ayok sekarang kita ke kantin." ajak Revelyn, namun Leo malah menggeleng.
"Nggak, sorry. Gw mau ke kelas aja." Leo menolak dengan lembut, ia bahkan masih terus mengukir senyum manis yang membuat kedua lesung pipinya terlihat.
"Lho, kenapa?" Gadis itu nampak kecewa.
"Gw capek, gw ke kelas dulu yak."
Leo pamit, ia masih saja mengukir senyuman untuk Revelyn. Namun senyumnya tiba-tiba berganti dengan tatapan tajam saat Leo menatap Vito yang berdiri tak jauh dari mereka, cowok itu menatap Vito dengan ekspresi datar lalu beranjak pergi meninggalkan Revelyn yang masih menatap kepergiaannya dengan tatapan heran.
"Dia kenapa sih? kok kayak aneh gitu."
__ADS_1
...🍕🍕🍕...