HEARTBEAT

HEARTBEAT
27. Kamu Berarti


__ADS_3

...Kenangan akan selalu tercipta saat kamu mulai menguntai sebuah cerita, dari segala hal yang terjadi dalam hidupmu dengan penuh suka maupun duka....


......... ...


Revelyn merasa seakan waktu berputar sangat lambat, saat ia teringat momen Leo yang memberikannya gelang saat itu.


Ketika Vito membuang gelang itu, kemudian berdiri membelakangi dirinya, saat itu juga Revelyn lantas berjalan untuk mencari gelang itu.


Dengan hati-hati Revelyn menuruni jalan berbatu yang seperti perosotan, bahkan Revelyn risih karena banyaknya semak-semak belukar di sekitarnya.


Revelyn mengedarkan seluruh pandangannya untuk mencari gelang itu, Revelyn melakukannya karena gelang itu pemberian Leo, yang artinya gelang itu cukup berarti untuknya.


"Itu dia."


Revelyn tersenyum, ia mendapatkan gelangnya yang tersangkut di salah satu ranting.


"Revelyn!"


Gadis itu sudah mendapatkan gelangnya, dan ingin naik ke atas untuk menemui Vito. Namun naas, Revelyn malah terpeleset sehingga ia terjatuh, bahkan tubuhnya terguling-guling hingga membentur akar pohon yang cukup besar yang menjalar di tanah.


Bruk


"Aduh."


Revelyn mengaduh kesakitan, ia sudah berhenti terguling namun kepala dan tubuhnya semua terasa sakit.


Gadis itu menyentuh dahinya saat darah segar mengalir begitu saja, alhasil membuat Revelyn kaget.


"Darah ...?"


Namun Revelyn terdiam saat tak jauh dari dia berada, Revelyn melihat gelang yang Leo kasih kepadanya.


Perlahan tangan Revelyn bergerak untuk bisa menjangkau benda itu, namun gadis itu tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya karena merasa kesakitan.


Namun mata Revelyn mulai berkaca-kaca, gadis itu meremas rerumputan di sekitarnya, tiba-tiba saja Revelyn seakan di tarik ke masa lalu sehingga membuatnya kembali teringat masa kecilnya dulu bersama Leo.


"Mbak ... mereka kapan pulang?"


Revelyn, anak berumur enam tahun itu terus menangis sambil duduk di gazebo halaman rumahnya bersama Agitha, pengasuhnya.


Sudah setahun semenjak kepergiaan Mama, Papa, dan juga Kakaknya, namun mereka bertiga tak kunjung pulang, membuat Revelyn menangis karena merindukan keluarganya.


"Mereka pasti pulang, Nak, kamu harus sabar, ya." hibur Agitha, ia mengusap-usap rambut Revelyn lalu mencium puncak kepala anak itu.


"Ya, kapan?"


Tangis Revelyn semakin menjadi, ia sudah tidak tahan lagi.


"Mbak, Leo boleh pinjam Velyn sebentar?"


Kehadiran Leo mengagetkan keduanya, anak berumur tujuh tahun itu berdiri tak jauh dari mereka berada.


Mendengar ucapan Leo membuat Agitha tersenyum sambil mengangguk.


"Tapi Velyn bukan barang, mana bisa di pinjam!" rengek Revelyn, ia menatap Leo cemberut.


"Maaf." ucap Leo, anak itu terkekeh.


Setelah itu Revelyn berjalan menghampiri Leo, "kamu ikut aku, bentar aja." ucap Leo, ia memegang tangan kiri Revelyn lalu beranjak pergi menuju tempat tujuan.


Mereka berdua akan berjalan menuju taman, entah apa yang akan Leo lakukan, Revelyn kebingungan dan hanya menurut kemana mereka pergi asal bersama Leo.


"Kamu jangan nangis, anak cewek nggak boleh cengeng." ucap Leo, mereka berdua mengambil duduk di bangku taman.


"*Nggak papa! yang nggak boleh cengeng itu anak cowok!" kesal Revelyn, membuat Leo tersenyum*.


"Tapi tetap aja, Velyn nggak boleh nangis, nanti Leo juga ikut sedih. 'Kan tugas Leo harus buat Velyn bahagia, makanya Velyn harus bahagia."


Revelyn menoleh ke arah Leo, namun ia malah kembali menangis karena perkataan anak lelaki di sampingnya.


"Velyn sedih, mereka ninggalin Velyn, katanya mereka akan kembali, tapi apa? sampai sekarang belum pulang. Pasti karena Velyn cengeng 'kan? makanya mama, papa, sama kak Regan nggak mau pulang."


Revelyn terisak, membuat ekspresi Leo menjadi murung.


"Kamu bilang, aku nggak boleh cengeng. Jadi, kamu juga nggak boleh cengeng." ucap Leo, ia menepuk-nepuk pelan puncak kepala Revelyn.


Anak perempuan itu berhenti menangis, ia lalu menatap Leo lekat.


"Leo, apa Leo juga seperti mereka?"

__ADS_1


"Seperti apa?"


"Pergi lalu nggak pernah kembali."


Leo menggeleng, "Leo bukan mereka, karena tugas Leo itu bahagiain Velyn, dan selalu ada buat Velyn, Leo nggak bakal ninggalin Velyn, karena Velyn itu berarti buat Leo."


"Leo nggak bohong 'kan?"


"Nggak."


"Kenapa Velyn berarti buat Leo sih?"


"Karena Velyn itu berharga buat Leo, sekarang, besok, dan selamanya, Velyn akan jadi yang paling berarti buat Leo."


Leo selalu mengatakan bahwa Revelyn itu berarti bagi dirinya, Revelyn itu segalanya, bahkan saat mereka mulai menginjak kelas 3 SMP.


Saat itu adik kelas dari sekolah mereka menyatakan perasaannya pada Leo, Revelyn yang mendengar hal itu hanya biasa saja, namun karena ia penasaran akhirnya Revelyn bertanya pada Leo saat mereka berada di taman sekolah.


"Gw dengar lo di tembak sama adik kelas." 


"Mati dong gw."


"Bukan itu dodol, maksud gw, ada adik kelas menyatakan perasaannya sama lo, kenapa malah lo tolak? padahal dia cantik banget." cerocos Revelyn, ia menatap Leo yang duduk di sampingnya.


Ekspresi cowok itu biasa saja, Leo memang seperti itu, banyak cewek-cewek yang menyatakan perasaannya kepada Leo, namun cowok itu selalu menolaknya. Entah apa alasan Leo, Revelyn tidak habis pikir, apakah Leo berbeda? oh tidak, rasanya tidak mungkin.


"Gw tolak karena gw udah punya lo, Velyn."


Revelyn langsung menatap Leo cengo, "maksud lo?"


"Velyn itu segalanya buat gw, karena itu gw nggak mau apapun lagi selain Velyn, karena menurut gw yang gw butuhin di dunia ini, cuma Velyn."


Mulut Revelyn sedikit terbuka, ia tidak percaya Leo mengatakan itu kepada dirinya.


"Ke-kenapa? ke-kenapa Velyn segalanya buat Leo?" tanya Revelyn gugup, rasanya lidahnya mendadak kelu karena cowok itu.


"Karena lo orang yang paling gw cintai di dunia ini, setelah mama gw."


...🍕...


Revelyn berhasil menjangkau gelang miliknya, sekuat tenaga ia mengubah posisinya menjadi duduk.


Bulir-bulir air mata mulai terjun bebas di pipi Revelyn, gadis itu menangis dalam diam sambil memandangi gelang di tangannya.


Gadis itu mendongak, ia kaget saat Leo berdiri tepat di depannya, meski dengan napas tersenggal-senggal.


"Leo ...." lirih Revelyn pelan.


Leo mengernyit, "lo terluka?" tanya Leo panik saat melihat dahi Revelyn mengeluarkan darah segar.


"Kenapa ...."


"A-apa?" tanya Leo sambil meneguk salivanya, ia menatap Revelyn lekat, gadis itu masih terduduk di tanah.


"Kenapa lo selalu peduli sih sama gw? kenapa lo selalu ada saat gw butuhin lo? kenapa lo selalu ada buat jadi sandaran gw? padahal, padahal gw mulai menjauh dari lo, gw mulai nggak peduli lagi sama lo, bahkan gw nggak pernah ada lagi saat lo butuhin gw ...."


"Lo selalu berusaha buat gw bahagia selama ini, padahal gw bahkan nggak bisa buat lo bahagia setiap harinya."


"Di saat semua orang menyuruh lo buat jauhi gw, karena gw egois, karena gw naif, tapi kenapa, kenapa lo nggak mau jauhi gw? kenapa lo malah masih peduli sama gw, kenapa lo selalu ada buat gw?"


"Sebenarnya seberapa berartinya, sih, gw buat lo?!" teriak Revelyn, air mata gadis itu tidak berhenti keluar dari pelupuk matanya.


Mendengar semua ucapan Revelyn, Leo hanya diam, namun gadis itu terus menatapnya seolah ia menunggu jawabannya.


"Entahlah, gw juga nggak tau." jawab Leo, membuat Revelyn mengerutkan keningnya.


"Bagi gw, lo itu segalanya, lo itu berarti buat gw. Lo, orang yang paling gw sayang setelah mama gw tiada. Mungkin lo orang yang dikirimkan mama, dari surga, agar membuat gw kembali bahagia."


"Karena Velyn, hari-hari gw selalu bahagia dan penuh canda tawa."


"Gw nggak peduli lo egois, naif, atau apapun, karena manusia itu punya sisi baik dan buruknya. Lo itu sahabat gw, lo itu segalanya, lo itu berarti buat gw. Karena lo, gw bisa bangkit dari keterpurukan yang gw alami."


"Gw ... sayang banget sama lo, Velyn. Bahkan perasaan sayang ini sampai ingin memiliki lo, selamanya."


Hening, setelah itu mereka berdua terdiam. Revelyn, mulai berdiri, dalam keadaan yang sangat kacau, Revelyn menatap kedua manik Leo cukup dalam.


"Seberarti itukah gw buat lo ...?"


...🍕...

__ADS_1


Semua orang tertawa lepas sambil duduk mengelilingi api unggun, mereka juga bernyanyi dan juga menari di sekitar api unggun.


Vito duduk di samping Revelyn sambil bermain gitar dan menyanyi. Sedangkan Revelyn, gadis itu hanya diam menatap api unggun dengan tatapan kosong.


"Velyn, ayo nyanyi."


Niat Vito untuk mengajak gadis itu, namun Revelyn malah bangkit dari duduknya untuk beranjak pergi.


Namun Vito malah mencegat tangannya, "kamu mau kemana?"


Revelyn menatap Vito nanar, ia lalu mengempaskan tangan Vito yang mencegatnya.


"Jangan ganggu gw."


Setelah mengatakan itu, gadis itu mulai pergi meninggalkan keramain. Revelyn memilih berjalan menjauh dari tenda, gadis itu hanya ingin sendiri.


"Revelyn!"


Vito menarik tangan Revelyn sehingga tubuh gadis itu berbalik menghadapnya, Vito menatap gadis itu lekat, tapi sepertinya Revelyn hanya menatap datar dirinya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Vito.


Revelyn menaikkan sebelah alisnya, "gw, kenapa?"


"Velyn." Vito mendesak gadis itu, membuat Revelyn tersenyum.


"Lo mau gw jauhi Leo, sahabat gw, 'kan?"


"Iya." Vito mengangguk, "gw nyuruh lo, karena gw sayang sama lo, gw cuma nggak mau lo dekat-dekat sama dia, itu buat gw cemburu." jelas Vito, Revelyn mengangguk.


Setelah itu Revelyn menyentuh sebelah pundak Vito sambil menepuk-nepuknya perlahan, Revelyn tersenyum sarkastis.


"Gw tau lo itu pacar gw, tapi bukan berarti lo seenaknya nyuruh gw buat jauhin Leo. Dia itu sahabat gw, yang bahkan lebih mengenal gw dan masalah keluarga gw, lebih dari siapapun termasuk lo!"


"Lo itu cuma tau sisi bahagia gw tanpa mau memahami kesedihan gw."


"Di saat gw lebih berarti dan segalanya buat sahabat gw, lantas kenapa gw harus meninggalkannya? dia, berharga buat gw. Karena dia, juga segalanya buat gw." cerita Revelyn, ia memiringkan kepalanya sambil menatap Vito dengan senyum sok polosnya.


Cowok itu mengepalkan kedua tangannya, ia menarik tangan Revelyn saat gadis itu ingin berlalu pergi meninggalkan dirinya.


"Jadi, lo nolak buat jauhi dia?" tanya Vito dengan ekspresi datar.


Revelyn mengangguk, ia melepaskan tangan Vito yang mencegat dirinya.


"Kalau lo nyuruh gw lagi buat jauhi Leo," Revelyn menatap Vito dengan ekspresi datar. "mungkin lo yang bakal gw jauhin."


Revelyn beranjak pergi meninggalkan Vito menuju tenda, gadis itu lalu memeluk tubuhnya sendiri sambil menggigit bibirnya dalam.


Apa gw tadi terlalu kasar, ya, sama Vito?


Gadis itu menghela napasnya sambil masuk masuk ke dalam tenda, namun ia tersentak saat mengetahui Leo berada di dalam tendanya.


"L-lo ngapain di sini?"


Leo menoleh, ia menatap Revelyn sambil tersenyum.


"Gw mau obatin luka lo."


"Nggak usah, gw nggak papa, darahnya udah berhenti keluar kok." tolak Revelyn sambil terkekeh, namun Leo malah menarik tangannya agar duduk di hadapan cowok itu.


"Tapi tetap aja, nanti lukanya infeksi."


Pasrah, gadis itu akhirnya menurut. Ia membiarkan Leo mengobati lukanya dengan obat merah, lalu menutupi dahinya dengan plaster luka.


"Makasih."


Leo mengangguk, "iya."


"Makasih."


Leo mengernyit, "kan udah tadi makasihnya,"


"Buat semuanya."


Cowok itu tersenyum saat manik mereka saling bertatapan, detik selanjutnya Leo mencubit sebelah pipi Revelyn karena gemas.


"Gw juga mau berterima kasih."


Revelyn menaikkan sebelah alisnya heran, "buat apa?"

__ADS_1


"Buat semuanya juga"


...🍕🍕🍕...


__ADS_2