
...Setidaknya aku beruntung karena pernah hadir di dalam hidupmu, melukiskan sejuta kenangan indah bersamamu, hingga perpisahan tiba menghampiri....
...Terima kasih, untuk semua perhatianmu dan juga ketulusan cintamu....
...Aku harap kita akan bertemu lagi, tentunya dengan cerita cinta yang baru lagi....
...-HeartBeat-...
***Deg**, deg, deg, deg*.
"Aku mohon, bertahanlah."
Panik dan juga cemas menghantui pikiran Miselia, ketika Regan di dorong menggunakan brankar.
Salah seorang perawat terus memberikan bantuan alat pernapasan untuk Regan, sedangkan Miselia masih menggenggam tangan cowok itu sambil setengah berlari mengikuti brankar itu yang di dorong menuju ruang operasi.
Regan berkedip beberapa kali, ia merasa pandangannya mulai memburam, bahkan suara tangisan Miselia yang memanggil namanya terdengar tidak jelas di telinganya, ia hanya memandang langit-langit koridor Rumah sakit sampai brankar itu masuk ke dalam ruang operasi.
Pegangan tangan Miselia terlepas saat Regan sudah di bawa masuk ke dalam, mendadak tubuh gadis itu melemas.
Dengan tubuh yang gemetar Miselia berjalan menuju kursi, ia menjambak rambutnya frustasi sambil menunduk.
"Tolong ...."
...🍕...
"Tumben weekend gini nggak jalan-jalan sama Leo?" cibir Una saat ia dan Revelyn sedang piknik di halaman rumah Revelyn.
Revelyn memutar malas bola matanya sambil membuka kotak makanan di hadapan mereka.
"Harus ya setiap weekend jalan-jalan sama dia?"
"Kan kata Leo, wajib." jawab Una sambil memakan kacang di hadapannya.
Revelyn terkekeh sebentar, setelahnya ia dan Una mulai membaca buku novel sambil tengkurap di atas tikar.
"Gw jadi kepo, Miselia ngapain aja sama pacarnya? sampai sekarang belum pulang." ucap Una, gadis itu masih fokus membaca sambil sesekali tangannya masuk ke dalam toples yang berisikan kacang.
Beberapa saat tidak ada yang membuka suara setelah pertanyaan Una tadi, detik selanjutnya mereka saling berpandangan sambil melotot.
"Lo jangan mikir macam-macam!" ucap Revelyn, namun Una malah terkekeh.
"Sorry, gw tadi ambigu awokwokwok."
"Lo ketawa apa berkokok?"
"Gw ketawalah awokwokwok."
"Gila lo." pasrah Revelyn sambil geleng-geleng kepala.
Una menghela napasnya, gadis itu mengubah posisinya menjadi terlentang.
Revelyn melirik gadis di sampingnya, "lo mau ngapain?"
"Dangdutan, ya, tidurlah." jawab Una sambil menutupi wajahnya dengan buku novel di tangannya.
"Emang kemarin malam lo nggak tidur?"
Una mengangguk, dan Revelyn hanya menyahut dengan manggut-manggut.
"Oi Velyn!"
Gadis itu tersentak saat seseorang memanggilnya. Revelyn mendongak, menyadari Leo dan juga kedua temannya berjalan menghampirinya.
Segera Revelyn mengubah posisinya menjadi duduk, sedangkan Una masih rebahan dengan buku novel yang menutupi wajahnya.
"Piknik nggak ngajak gw, ya." cibir Leo sambil mengambil duduk di samping Revelyn.
"Jelaslah gw nggak ngajak, pikniknya aja di depan rumah sendiri." jawab Revelyn sambil menarik sebelah telinga Leo hingga cowok itu berteriak kesakitan.
"Sakit, oi!"
Geral dan Axele sontak tertawa ngakak kala melihat telinga Leo yang memerah.
"Kenapa dijewer sih? kenapa nggak dicium aja?"
Selalu seperti itu, Leo pasti selalu berkata seperti itu untuk menggoda dirinya. Tapi Revelyn hanya memutar malas bola matanya sambil geleng-geleng kepala.
"Masih mending, 'kan, daripada muka sok ganteng lo gw timpuk pakai bata." cibir Revelyn berekspresi malas.
Spontan Leo langsung meraba-raba wajahnya, ia lalu nyengir kuda ke arah Revelyn.
"Tapi, gw emang ganteng."
"Percaya diri sekali, anda."
"Oh tentu,"
"Masa?"
"Iya."
"Bodo."
Leo tersenyum sinis saat Revelyn mempermainkan dirinya, lantas cowok itu mengambil kacang dari toples lalu memakannya.
"Gemes deh gw sama lo, jadi pengen nyium." ucap Leo tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
Revelyn menghela napasnya sambil memutar malas bola matanya, "coba aja kalau berani."
Niat Revelyn berkata seperti itu hanya becanda dan tidak bermaksud agar Leo menciumnya, tapi tak disangka-sangka ternyata Leo berani, cowok itu mencium sebelah pipi Revelyn sekilas hingga membuat Revelyn tidak bergeming. Bahkan Geral dan Axele sontak berseru, mereka lalu tertawa karena perbuatan Leo tadi.
"Wah gila njir, main nyosor aja kayak bebek sawah." ucap Axele tertawa.
"Kayak angsa juga." timpal Geral manggut-manggut.
"Gimana? berani 'kan, gw?" tanya Leo sambil melempar senyum kemenangan ke arah Revelyn.
Revelyn yang awalnya masih diam spontan langsung menabok lengan cowok itu.
"Dasar sialan!" umpat Revelyn kesal, bahkan gadis itu menyentil bibir Leo beberapa kali hingga cowok itu berteriak kesakitan.
"Jangan disentil, njir." protes Leo, namun sepertinya Revelyn tidak mau berhenti untuk memukuli bahkan menyentil dirinya.
"Coba cium lagi!"
__ADS_1
Leo mendongak, "beneran?"
"Cium ini maksud gw!" ucap Revelyn sambil menyodorkan sandal ke wajah Leo.
"Ogah!"
"Ayo, cium, katanya berani!" desak Revelyn, namun Leo terus berusaha menyingkirkan sandal yang di pegang gadis itu.
Menonton tingkah mereka berdua membuat Geral ikut tertawa sambil , sedangkan Axele mulai heran kala melihat seorang gadis yang sedang rebahan di dekat Revelyn.
Axele mengernyit heran, ia lantas mendekati gadis itu.
"Ini siapa, njir?" tanya Axele entah pada siapa.
Perlahan tangan Axele bergerak untuk menyingkirkan buku yang menutupi wajah gadis yang sedang tertidur itu.
"ALLAHU AKBAR!"
Axele kaget dan langsung menjauhkan dirinya dari gadis itu, yang ternyata adalah Una.
Una mengerjapkan matanya, ia lalu menoleh ke sampingnya. Saat ia membuka mata, ia malah melihat sosok Axele yang menatap kaget ke arahnya.
"OH MY, AXELE!"
Melihat Axele duduk tak jauh darinya berada membuat Una langsung bangkit dari tidurnya, ia menatap Axele dengan mimik bahagia.
"Waktuku buka mata, orang yang pertama kulihat adalah dirimu, wahai Romeo." ucap Una dramatis sambil menunjuk Axele.
Cowok itu meneguk salivanya sambil mengusap-usap dadanya, untung saja Axele tidak jantungan saat melihat bahwa wajah gadis yang tertidur itu ternyata Una. Si gadis sakit jiwa.
"Romeo ndasmu!" teriak Axele gemas sambil menoyor jidat Una.
Gadis itu lantas memekik, membuat Leo, Revelyn, dan Geral menatap mereka heran.
"Lo kenapa, Na?" tanya Geral heran.
Una memasang ekspresi cemberut sambil mengusap-usap dahinya.
"Ini Axele, dia nyakitin aku." Una mengadu pada Geral, membuat Axele tertawa sinis.
"Wah main ngadu aja nih ama bapaknya." cibir Axele, menatap Una dan Geral secara bergantian.
"Gw bukan bapaknya, njir!"
Tawa Axele, Leo, dan juga Revelyn meledak. Merasa lucu dengan tingkah Axele dan juga Geral.
"Kalau dia bapak aku," Una menunjuk Geral dengan tampang polosnya. "berarti dia mertua kamu." ucapnya sambil menunjuk Axele dengan cengiran khasnya.
Axele langsung bergidik, "amit-amit!" ucap Axele berlagak sok jijik.
Geral tertawa sinis sambil menjitak kepala Axele, lalu mengapit kepala Axele di bawah keteknya.
"Lepasin njir!" pinta Axele membrontak.
Una memekik histeris sambil menutup mulutnya, "JODOH GW JADI BAU KETEK NANTI, ANJIR!" teriak Una, gadis itu melepaskan tangan Geral yang mengapit kepala Axele.
Drrrrtttttttt
Revelyn tersentak saat handphonenya bergetar, lantas gadis itu membaca nama yang tertera di layar handphonenya.
Segera Revelyn mendekatkan benda pipih itu di telinganya.
"Halo Miselia?" tanya Revelyn sambil tersenyum pada gadis yang berada di seberang sana.
Deg
"A-apa?"
Leo, Una, dan kedua temannya lantas terdiam. Mereka mulai heran kala melihat raut wajah Revelyn yang tidak biasa saat menerima telepon.
Revelyn meneguk salivanya, ia mematikan sambungan telepon secara sepihak.
"Vel---"
"Kak Regan!"
Gadis itu langsung berlari pergi entah mau kemana, meninggalkan ketiga temannya yang terheran-heran melihatnya.
"Velyn kenapa?" tanya Una bingung.
Leo lantas berdiri, namun tiba-tiba handphonenya menerima panggilan masuk.
Leo segera mengangkat panggilan itu sambil mendekatkan handphone tersebut di telinga kanannya.
Deg.
"Apa?!"
...🍕...
Mata Revelyn memanas, gadis itu berlari dengan paniknya di sepanjang lorong Rumah Sakit.
"Kak Regan, jangan tinggalin Velyn." lirih Revelyn, ia semakin mempercepat larinya hingga para perawat bahkan pasien yang ada di Rumah Sakit memperhatikannya.
Mata Revelyn mencari ruangan tempat Regan sekarang berada, ia sungguh panik hingga tidak bisa berpikir dengan jernih, bahkan degupan jantung Revelyn semakin kencang.
"Itu dia."
Akhirnya Revelyn menemukan ruangannya, dengan napas yang terengah-engah, gadis itu segera berlari menuju ruangan tersebut.
"Kak Regan!" panggil Revelyn, ia membuka pintu tersebut hingga terlihatlah Miselia yang menangis histeris di samping ranjang yang di tempati Regan.
"Regan, jangan tinggalin aku." Miselia terus menangis sambil mengguncang-guncang tubuh Regan.
Bulir-bulir air mata terus mengalir membasahi pipi Miselia, wajah Regan yang pucat membuat Miselia tidak sanggup lagi melihatnya.
"Regan, kamu udah janji, jangan tinggalin aku! kembali, aku mohon, kembali!"
Berulang kali Miselia memanggil cowok itu yang sudah tidak dapat diselamatkan lagi.
"Regan!"
Miselia semakin menangis histeris, untuk terakhir kalinya ia memeluk Regan yang sudah tidak bernyawa, dan untuk terakhir kalinya Miselia melihat wajah Regan, dan untuk terakhir kalinya Miselia harus mengucapkan salam perpisahan pada Regan.
"Regan ...." lirih Miselia disela isak tangisnya.
__ADS_1
Revelyn bersusah payah meneguk salivanya, ia hanya berdiri di ambang pintu. Revelyn merasa tidak sanggup lagi melangkah masuk ke dalam, tubuhnya mendadak lemas.
"Velyn!"
Una berteriak memanggil, bersama Geral dan juga Axele, ketiganya berlari menghampiri.
Revelyn perlahan membalikkan badannya, namun ....
Plakkk.
Revelyn tersentak, ia tidak dapat berkata-kata lagi, yang ia rasakan hanya satu tamparan keras yang mendarat di pipinya, menyebabkan rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Gadis itu menatap wanita di hadapannya dengan tatapan hampa, menatap wajah wanita itu yang terlihat garang, itu Mamanya. Vera Paulin.
"Inilah sebabnya kami hanya menginginkan kamu saja yang ada diposisi Regan sekarang!" teriak Vera sambil menunjuk wajah Revelyn.
Melihat pemandangan itu, ketiga teman Revelyn terdiam, tidak ada yang berani membuka suara.
Akhirnya Dokter baru saja keluar dari ruangan, langkah kakinya tertahan saat seorang pria paruh baya mencegat Dokter tersebut.
"Selamatkan anak saya, Dok, saya akan berikan berapa saja yang anda mau." ucapnya memohon, membuat Dokter itu menatap pria itu sebentar sambil menggeleng sebelum akhirnya beranjak pergi.
Pria paruh baya itu menatap Revelyn sebentar, ia lalu segera masuk ke dalam ruangan untuk menemui Regan untuk yang terakhir kalinya.
Pria itu Papa Revelyn, namanya Reza Paulan.
Vera ikut menyusul suaminya masuk ke dalam, mereka berdua bahkan tidak menghiraukan Revelyn yang mulai terisak sambil menunduk dalam.
"Inilah sebabnya kami hanya menginginkan kamu saja yang ada diposisi Regan sekarang!"
Una menatap Revelyn iba, "Velyn." saat ia ingin mendekati, gadis itu malah berlari pergi meninggalkan mereka.
Revelyn tidak sanggup berada di sana, ia memilih keluar dari Rumah Sakit tersebut.
Saat sudah keluar melalui pintu Rumah Sakit, ia sedikit terkejut dengan kehadiran Leo yang berdiri tak jauh dari dirinya berada.
Gadis itu menatap Leo lekat begitupula sebaliknya, ia berjalan lambat menghampiri Leo sambil sesekali menyeka air matanya.
Leo menatap Revelyn sedih, mendadak rasa sakit di hatinya muncul lagi tatkala gadis itu mengadu kepada dirinya.
"Leo, orang yang paling gw sayangi didunia ini udah pergi, selamanya ...." ucap Revelyn menatap Leo lekat.
"Gw udah nggak punya siapa-siapa lagi, gw udah nggak punya kakak lagi, gw sendirian ...."
"Kenapa harus gw yang selalu menderita sih? kenapa harus gw? "
Bulir-bulir air mata mengalir begitu saja, membuat hati Leo sakit saat melihatnya.
"Apa sebaiknya gw juga harus pergi?! bahkan mama juga mau gw pergi---"
Revelyn tersentak saat Leo menarik tangannya, hingga membuatnya masuk ke dalam dekapan cowok itu.
Leo memeluk gadis itu erat, ia ingin memberikan sebuah pelukan yang bisa membuat gadis itu tenang.
"Jangan pergi, jangan pernah berpikiran untuk pergi, karena gw membutuhkan lo."
"Lo nggak sendiri, bahkan setelah orang yang lo sayangi telah pergi. Lo masih punya gw, Velyn, dan lo masih punya teman-teman yang tetap setia berada disisi lo."
Entah kenapa kalimat Leo barusan mengingatkan Revelyn pada perkataan Regan.
"Kak Regan berharap bisa selalu ada disamping kamu."
"Kakak harus janji soal itu."
"Kalaupun nggak bisa, kamu nggak akan sendirian."
"Karena kamu masih punya mbak Agitha, Leo, dan juga yang lain-lain."
Tangis Revelyn meledak, gadis itu tidak kuasa menampung semua rasa sakit di hatinya. Ia menangis di dalam pelukan Leo, meluapkan segala rasa kehilangan dan juga kesedihannya.
"Gw udah nggak punya siapa-siapa lagi, gw mohon sama lo, Leo, jangan pernah tinggalin gw juga ...." lirih Revelyn disela isak tangisnya.
Leo mengangguk, ia tersenyum tipis sambil mempererat pelukannya pada gadis itu.
"Nggak akan, gw janji ...."
...🍕...
Saat pemakaman Regan, semua hadir, bahkan seluruh keluarga dan juga rekan kerja Regan. Mereka turut berduka cita atas kepergiaan Regan, karena sakit yang dideritanya.
Di samping batu nisan yang bertuliskan nama Regan, Miselia masih menangis terisak, ia masih tidak bisa percaya bahwa Regan akan meninggalkannya bahkan setelah satu hari berlibur bersama dirinya.
Sampai semua orang sedikit demi sedikit mulai pergi, yang tersisa sekarang hanya Revelyn, Leo, Miselia, Una, Axele, dan juga Geral.
Mereka masih tetap setia memandangi gundukkan tanah yang sudah di taburi bunga-bunga itu.
Revelyn menatap hampa makam kakaknya itu. Sedangkan Leo yang berdiri disampingnya, mulai merangkul gadis itu, untuk membawanya pergi.
Namun Revelyn menepis tangan Leo, gadis itu lalu berjongkok di samping Miselia.
Ia menyentuh pundak Miselia, membuat gadis yang masih menangis itu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Revelyn.
"Gw dan lo sama-sama kehilangan, jadi gw bisa mengerti dengan apa yang lo rasain sekarang." ucap Revelyn menatap Miselia lekat.
Mendengar ucapan Revelyn barusan, Miselia langsung memeluk gadis itu. Tangisnya kembali meledak, ia merasa sangat kehilangan seseorang yang pernah hadir di hidupnya lalu membuatnya merasakan yang namanya jatuh cinta.
"Regan ...." lirih Miselia yang masih menangis dalam pelukan Revelyn.
Melihat kedua temannya menangis dan merasa sangat kehilangan, membuat Una juga meneteskan air matanya.
Gadis itu juga sakit saat harus melihat kedua temannya menangis, Una juga bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
Axele diam-diam melirik Una yang berdiri di sampingnya, perlahan tangan Axele bergerak menyentuh pundak gadis itu.
"Lo nangis?"
Una menggeleng sambil menyeka air matanya, namun sudah berkali-kali diseka tetap saja air mata itu terus membanjiri pipinya.
"Gw ketawa."
Axele menatap Una cengo, "hah?"
"Bodoh!"
...🍕🍕🍕...
__ADS_1