
"Hai?"
Miselia tersenyum haru, ia mencengkram dadanya sambil berlari ke arah cowok itu.
"Regan!"
Gadis itu langsung berhambur ke pelukan Regan, memeluk cowok itu seolah mengatakan bahwa ia sangat merindukannya.
"I miss you so much." Miselia mencengkram jas Regan, ia sangat senang sekaligus terharu karena sang kekasih telah kembali.
Regan tersenyum, ia mengangguk sambil mengusap-usap puncak kepala Miselia.
"I miss you too."
Setelah berpelukan dan mengungkapkan rasa rindu, kini Miselia melepaskan pelukannya. Ia menatap Regan lekat, begitupula sebaliknya.
"Sudah temui Velyn?"
Mendengar pertanyaan Miselia membuat ekspresi Regan berubah, cowok itu lalu menggeleng lemah.
"Aku belum siap."
"Kenapa? masih merasa bersalah?" tebak Miselia, dan Regan hanya mengangguk.
"Kalau aja aku nggak penyakitan, pasti keluarga kami nggak bakal terpisah seperti sekarang."
"Sstt, kamu nggak boleh ngomong gitu. Lagipula sekarang kamu terlihat sehat-sehat aja."
"Hanya yang kamu lihat, bukan kamu rasakan."
Miselia mendadak murung, gadis itu terdiam sambil memilin ujung bajunya.
"Sorry." lirih Miselia, ia menunduk murung.
Pletak
"Aduh!"
Miselia mengeluh kesakitan saat Regan malah menyentil keningnya, cowok itu terkekeh pelan sambil mengacak puncak kepala gadis itu.
"Nggak usah merasa bersalah gitu, dasar konyol."
Entah kenapa ucapan dan perbuatan Regan tadi berhasil membuat Miselia kembali tersenyum, gadis itu sudah lama merindukkan moment-moment seperti ini.
"Oh iya, aku mau telpon Velyn buat bilang bahwa kamu udah pul-"
"Misel!"
Tangan Miselia yang ingin merogoh saku celananya untuk mengambil handphone terhenti, ia mendongak dan menatap Regan bertanya-tanya.
"Please, jangan bilang dulu. Lagipula dia bahkan nggak tau 'kan bahwa kamu kenal aku?"
Ekspresi Regan memelas, gadis itu terdiam murung. Ia merasa bersalah pada Revelyn tentang semua ini, ia merasa menipu sahabatnya sendiri. Tapi apa yang dia lakukan semuanya untuk Regan, cowok itu bahkan memintanya untuk mengabari kabar Revelyn setiap harinya, mengabari hal apa yang membuat Revelyn senang setiap harinya, dan juga mengabari hal apa yang membuat Revelyn menangis.
"Oke."
...🍕...
"Nih pesanan lo."
Revelyn mendongak, mendapati Una berdiri di hadapannya sambil menyodorkan plaster luka yang sempat ia beli di kantin karena Revelyn yang menyuruhnya.
"Thank." ucap Velyn, ia menerima plaster luka tersebut.
"Miselia mana?" Una bertanya heran, ia tidak melihat gadis itu semenjak jam pelajaran kedua di mulai.
"Nggak tau."
"Bolos kah?"
"Kalau iya, tumben."
Una mengangguk setuju, tidak biasanya Miselia bolos pelajaran. Dan hal itu membuat mereka heran.
"Eh Vel, gw mau ke kelas IPS-5 dulu."
Miselia menaikkan sebelah alisnya, ia menatap Una penasaran.
"Ngapain?"
Tiba-tiba Una tersenyum lebar, meletakkan kedua tangannya di dada sambil memikirkan seseorang yang sudah membuatnya berpikir.
"GW MAU KETEMU AXELE! AXELE, TUNGGU UNA!"
Una beteriak heboh di koridor, gadis itu langsung berlari meninggalkan Revelyn yang masih duduk pada salah satu anak tangga dengan ekspresi terheran-heran.
"Dasar bucin." gumam Revelyn sambil geleng-geleng kepala.
Ekspresi Revelyn kembali murung, ia teringat pada kejadian kemarin sore saat ia melihat Regan dengan mata kepalanya sendiri. Namun sayangnya cowok itu sepertinya tidak melihat kehadirannya, dan itu membuat Revelyn sedih. Gadis itu juga berpikir, jika Regan sudah kembali mengapa ia masih belum menemui dirinya? masih ingatkah dengan janji itu? tapi kenapa malah ia ingkari?
"Eh, velyn?"
Revelyn mendongak, ia menatap Miselia yang menatapnya terkejut. Gadis itu menaiki setiap anak tangga dengan lambat, membuat Revelyn mengernyit heran.
"Lo bolos yak?" gadis itu menatap Miselia dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
Miselia yang merasa di tatap langsung memalingkan pandangannya ke arah lain, ia merasa bersalah karena menyembunyikan kebeneran bahwa Regan sudah kembali, dan juga bahwa ia dan Regan berpacaran.
"Iya, gw cuma mau nenangin pikiran."
"Lo ada masalah? kalau ada cerita aja."
Miselia sontak menatap Revelyn lekat, ia bahkan mulai teringat dengan perkataan Regan kepada dirinya.
"Kamu diam aja dulu bahwa aku ada di sini, dan bahwa aku dan kamu, kita adalah sepasang kekasih."
"Tapi kalau nggak segera dikasih tau, mungkin aja Revelyn bakal salah paham!"
"Iya aku tau, itu resikonya. Karena itu kamu cukup diam saja, aku nggak mau kamu terlalu memikirkan urusan antara aku dan adikku."
Diam tidak akan menyelesaikan masalah, Regan!
"Hei Misel!"
Panggilan Revelyn membuat Miselia tersentak, gadis itu menatap Revelyn lekat sambil memilin ujung seragamnya yang tidak di masukkan.
"Vel, gw mau ngomong sesuatu."
Revelyn mengangguk, "ngomong aja." jawab Revelyn mempersilahkan.
"Gw---"
Baru saja ingin membicarakan sesuatu yang penting, mata Miselia ternyata menangkap sosok menakutkan yang sedang berjalan menaiki anak tangga untuk menuju koridor kelas dua belas.
Sosok itu, sang ketua osis yang disiplinnya minta gampar. Miselia mendadak panik, ia langsung menatap seragamnya yang tidak dimasukkan. Bahkan Miselia tidak memakai dasi, membuatnya semakin panik.
Anjir, si ketua osis!
"Misel, lo mau ngom-"
"Nggak jadi!" Miselia menatap Revelyn dengan mata yang mempelotot karena panik.
"Kenapa?"
"Lo nggak perlu tau nanti juga tau, yaudah gw ke kelas dulu, bye!" pamit Miselia, gadis itu langsung berlari terbirit-birit menuju kelas, hanya untuk menghindari ketua osis tersebut jika tak mau hati sakit karena mendengar omongan Vito yang selalu menohok sampai ubun-ubun.
Revelyn menggaruk tengkuk kepalanya karena kebingungan, detik selanjutnya matanya mengarah menuju kedua lututnya yang tertutupi plaster luka. Gadis itu lalu melepaskan perlahan plaster tersebut untuk menggantinya dengan yang baru.
"Ekhem!"
Suara deheman terdengar, Revelyn mendongak dan menatap kaget seseorang di hadapannya.
"Kebiasaan kalau duduk nggak tau tempat! lo ngalangin orang jalan, paham?"
Revelyn meneguk salivanya, ia kembali berurusan dengan ketua osis yang kalau ngomong nggak pernah pakai filter.
"Ya-ya maaf, cuma sebentar aja."
"Gimana lutut lo?"
Revelyn menatap Vito cengo, ia barusan tidak salah dengar kan? cowok itu menanyakan bagaimana kondisi lututnya?
"U-udah lumayan."
Vito mengangguk lagi, ia masih berdiri di hadapan gadis itu sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Soal kemarin lo---"
"Nggak usah di bahas." potong Revelyn cepat, ia hanya tak ingin Vito membahas soal kenapa ia menangis histeris dalam pelukan Leo.
Ekspresi Revelyn berubah, gadis itu mendadak murung sambil menatap ujung sepatunya. Vito yang melihat perubahan ekspresi hanya bisa mengangguk lagi.
"Oke."
"Sorry---" Revelyn mendongak, kedua mata mereka saling menatap. "---and thank you."
...🍕...
Revelyn menyandang tasnya sambil berjalan menuju gerbang sekolah, ia akan menunggu Leo yang sedang mengambil mobilnya di parkiran.
Sesekali gadis itu tersenyum saat beberapa siswa maupun siswi menyapanya, namun sedetik kemudian gadis itu kembali murung. Pikirannya seolah ditarik kembali pada kejadian kemarin sore, itu memang benar-benar Regan.
"Kalaupun Kak Regan benar-benar kembali, tapi kenapa dia nggak datang ke rumah?" gumam Revelyn, ia mendengus pasrah lalu berhenti berjalan saat sudah berada di ambang gerbang sekolah.
Matanya menyusuri sekitarnya, hingga pandangannya berhenti pada seseorang yang terasa familiar untuknya.
Mata Revelyn memicing, ia menaikkan sebelah alisnya.
"Miselia?"
Revelyn menatap Miselia sedang berbincang-bincang dengan seseorang, kedua orang itu berada lumayan jauh dari Revelyn berada.
Namun yang membuat sesuatu bergejolak dalam diri Revelyn adalah ketika seseorang yang bersama Miselia tak lain ialah, kakaknya, Regan.
Revelyn meremas roknya, ia masih menatap kedua orang itu dengan pikiran yang dipenuhi dengan tanda tanya.
Ada apa dengan mereka?
Miselia mengenalnya?
Dan kenapa, mereka terlihat dekat?
__ADS_1
Revelyn semakin bertanya-tanya, ia bahkan sedikit terkejut saat Regan menyentil kening Miselia kemudian beralih mengacak puncak kepala gadis tersebut.
"Kalaupun iya, kenapa Miselia nggak bilang? kenapa disembunyikan?" Revelyn semakin bertanya-tanya, ia semakin meremas roknya saat Miselia dan Regan mulai masuk ke dalam mobil.
Gadis itu menghembuskan napasnya, ia menatap datar kepergiaan mobil Regan bersama sahabatnya, Miselia.
Itu memang benar-benar Regan, itu memang benar-benar kakaknya. Yang dulu pernah berjanji untuk kembali lagi padanya.
"VELYN!"
Revelyn tersentak kaget, ia langsung menoleh dan mendapati Leo yang memanggil dirinya dari balik jendela mobil.
"Ayo masuk, gw daritadi manggil oi."
Gadis itu mengangguk, ia langsung masuk ke dalam mobil Leo.
"Ayo jalan." titah Revelyn, ia mulai mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.
"Seatbelt-nya. Gw nggak mau jalan kalau lo belum pasang buat keamanan."
Revelyn menghela napasnya, "udah jal---"
Eh?
Gadis itu tersentak saat wajah Leo sangat dekat dengannya, cowok itu meraih seatbelt lalu memasangkannya pada Revelyn.
Sejenak mereka berdua saling berpandangan, Leo menatap gadis itu cukup lekat. Lalu pandangan Leo beralih pada bibir tipis gadis itu, menciptakan suatu gejolak dalam diri Leo hingga cowok itu menggigit bibir dalamnya.
"Apaan sih lo!"
Revelyn spontan mendorong wajah Leo dengan telapak tangannya, cowok itu langsung berdecak kesal karena kaget.
"Kaget gw tau!"
"Siapa suruh liatin gw gitu amat!"
"Ada upil tadi di muka lo." jawab Leo santai sambil menjalankan mobilnya.
Hal tadi sontak membuat Revelyn menabok lengan Leo, "lo yak nyebelin banget!" ketus Revelyn kesal.
Leo terkekeh sambil geleng-geleng kepala, cowok itu lalu membanting stir mobilnya ke kiri yang membuat Revelyn menatapnya heran.
"Kenapa berhenti?"
Cowok itu melepas seatbelt-nya lalu menatap Revelyn.
"Beli minum di mini market, gw haus."
Revelyn mengangguk, ia memilih menunggu saja di dalam mobil saat Leo menanyakan apakah ia ingin ikut atau tidak.
Keadaan di dalam mobil kini hening, yang terdengar dari luar sana hanyalah deru suara motor ataupun mobil yang berlalu lalang.
Gadis itu kembali murung, ia menunduk sambil *******-***** tangannya.
"Kapan mereka berdua kenal? dan apa hubungan mereka sekarang?"
"Lo punya pacar? Siapa? Kok kita baru tau?"
"Kan gw baru bagi tau tadi, namanya Reg-"
Tiba-tiba Revelyn kembali teringat memori saat Miselia menangis karena handphonenya di copet, gadis itu bilang bahwa nama kekasihnya ialah Reg--- namun belum selesai menyelesaikan kalimat itu Miselia langsung terdiam.
Berarti, Reg yang dimaksud yaitu Regan?
Entah ini benar atau tidak, Revelyn akan mengungkap semuanya dan meminta penjelasan.
Ia ingin jawaban dari semua pertanyaan yang memenuhi pikirannya sekarang, dari Miselia langsung tentunya.
Brak
Revelyn tersentak, ia kaget bukan main saat Leo masuk ke dalam mobil sambil membawa lima kantong keresek yang banyak berisikan bermacam-macam camilan.
"Banyak amat lo belinya!"
Leo terkekeh pelan sambil meletakkan kantong keresek tersebut di kursi belakang, membuat Revelyn mendengus pasrah.
"Gw tadi maunya beli minuman aja, tapi kayaknya gw butuh persediaan camilan buat main game di kamar."
"Dasar rakus!"
"Gw nggak habisin semuanya, gw bagi-bagi sama Geral dan Axele."
"Iyain."
"Kenapa? lo juga mau? gw beli coklat juga nih."
Leo menyodorkan sebuah coklat yang ukurannya lumayan besar, Revelyn menatap coklat di hadapannya dengan ekspresi malas.
"Nggak."
"Udahlah ambil aja, nggak usah shy-shy cat." ucap Leo sambil menggoyang-goyangkan coklat di tangannya.
Gadis itu mendengus, ia langsung merebut coklat tersebut dari Leo.
"Iya iya gw ambil nih, maksa banget sih jadi orang. Nggak tega 'kan gw, daripada basi entar coklatnya." celoteh Revelyn yang sontak malah membuat Leo tertawa.
__ADS_1
"Lucu juga yak lo."
...🍕🍕🍕...