
\-***Min Yoon Gi\-
Daegu, 9 Maret 1993
Seoul, 7 juli 2012***
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Dadaku terasa sesak, sakit, perih.
Bernafas... Apa itu bernafas?
Paru-paruku bahkan sudah berhenti berkerja saat mendengar kata-kata dokter sialan itu.
Mungkin jika kata-kata bisa membunuh, Aku saat ini sudah menjadi mayat yang terbaring diatas sana.
Aku benci.
Benci sekali.
Karna sepatah kata itu kini dia sudah terbaring diatas sana.
Dengan semua api berkobar-kobar yang menyakiti tubuhnya.
Karna kata-kata itu kini dia sudah tak bisa ku peluk lagi, dan malah rapuh juga hancur menjadi abu.
Bahkan meski yang aku lihat saat ini sangat menyakitkan dan membuatku ingin berlari melindunginya.
Karna kata-kata itu kini dia sudah menjadi sebuah nama diatas sebuah batu didalam guci abu.
Aku benci sekali.
Saat tak bisa berbuat apapun bahkan sampai akhir, sampai paras pucatnya ditutup sehelai kain putih dan sekarang sudah berganti menjadi warna merah kobaran api.
Saat seharusnya aku, setidaknya bisa berbuat sesuatu agar dia tetap disampingku.
Kini aku hanya dapat memeluk erat bingkai fotonya yang tersenyum bahagia disaat semua orang yang ada disisinya sedang menangis penuh pilu.
"Kau jahat Yoongi! "
Dia jahat sekali!
Jahat!
Ah... Apa aku yang jahat?
__ADS_1
Aku sudah membunuhnya.
Haha, seandainya aku bisa memberikannya hatiku dia pasti ada disampingku sekarang.
Jika saja aku bisa memberikan hatiku padanya, mungkin sekarang aku yang akan ada diatas sana.
Disini bahkan rasanya lebih menyakitkan dibanding disanakan, Yoongi?
Atau disana lebih nyaman karna kau dapat menonton semua penderitaanku dibawah sini?
Kau jahat Yoongi!
Aku benci padamu!
"Hiks... sakit Yoongi-ya, sakit sekali"
Rasanya sakit Yoongi.
Kau meninggalkanku lebih dulu.
Bukannya kau sudah janji kita akan pergi sama-sama? Mana janjimu Yoongi.
Kau mengkhianatinya...
Tes...
Tes...
Hujan? Apa kau yang mengirimkannya Yoongi?
Kau tau aku benci hujankan?
Yoongi, aku harus apa?
"Jihan noona, ayo kita pulang hujan turun dengan deras kau bisa sakit aku yakin Yoongi hyung pasti akan memarahimu jika kau jatuh sakit karnanya" ucap Jimin, Saudara tiri Yoongi.
"Akan sangat baik jika dia memarahiku sekarang Jimin-ah..."
"Aku disini saja, Yoongi pasti kedinginan sekarang aku mau menemaninya"
Aku menatap bingkainya sendu.
Memeluk fotonya semakin erat saat udara dingin mulai membuatku menggigil.
"Noona! Yoongi hyung sudah tenang disana, kau harus merelakannya dia tak akan suka kalo Noona seperti ini! "
__ADS_1
Jimin menarikku dalam pelukannya.
Hangat, seperti pelukanmu Yoongi.
Aku kedinginan kau tak mau memelukku Yoongi?
"Dia jahat Jimin, Dia pasti membenciku, Aku membunuhnya hiks Dia sedang menghukumku Jimin hiks. Dia tak mau hiks kembali padaku"
Air mataku kembali turun, isakan putus asa terus keluar dari bibirku yang mulai memucat karna dingin dan dadaku mulai sakit.
"Hyung pergi karna keinginannya Noona, berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Kumohon hiks... "
Jimin menangis.
Kau dengar Yoongi?
Bukan hanya aku yang merasa sakit karna kehilanganmu disini, Jika kau mau menghukumku cukup hukum saja aku.
Jangan hukum semua orang yang menyayangimu Yoongi.
"Yoongi-ya~"
"Ayo Noona"
Jimin membawaku pergi saat badanku mulai lemas dan mengigil kedinginan, masih dalam keadaan menangis hanya saja ia lebih kuat dariku.
Dia membawaku pergi menjauh.
Aku menatap ketempat dimana Yoongi terbaring tidur sebelumnya, dan aku berani bersumpah aku melihatnya kembali.
Yoongi memakai baju putih dengan kulit dan wajah putih pucatnya, tersenyum dan melambaikan tangannya padaku.
Dan tepat sebelum kegelapan menyambutku.
Suara yang kurindukan memasuki Indra pendengaranku.
"Aku mencintaimu Jihan, Selamat Tinggal"
____________________________________
Note :
Maaf ceritanya agak ngeganjal karna sejujurnya.
Aku juga gatau apa-apa aja yang harus dilakukan saat kremasi jadi mohon maklumi.
__ADS_1
Dan Terima kasih sudah membaca dan memberikan Voment! 😊