HEARTBEAT

HEARTBEAT
19. Tolong Mengerti


__ADS_3

Seorang gadis yang mengenakan dress brokat lengan pendek berwarna putih, berlari kecil keluar dari rumahnya. Rambutnya yang di biarkan tergerai, semakin menambah kecantikannya.


Revelyn berlari kecil menuju pintu pagar rumahnya, dia tersenyum karena malam ini Vito akan menjemputnya untuk datang ke pesta ulang tahun cowok itu.


"Leo!"


"Leo tunggu, sayang."


"Dengerin Papa, Leo!"


Mata Revelyn langsung menangkap sosok Leo yang tengah berjalan keluar dari rumahnya, cowok itu terus berjalan tanpa memperdulikan Papanya dan seorang wanita paruh baya yang sedang mengejarnya.


"Wanita itu siapa?" gumam Revelyn heran, sambil berjalan keluar dari pagar.


Gadis itu terdiam di depan pagar rumahnya, dia menatap Leo yang berjalan melewatinya.


Sebentar, kedua manik mereka saling berpandangan. Seakan waktu tiba-tiba saja berjalan lambat, Revelyn merasa ada suatu perasaan aneh saat Leo berjalan melewatinya.


Leo hanya menatap Revelyn datar sebelum akhirnya cowok itu berlari pergi, Revelyn yakin, Leo berlari menuju taman komplek.


"Leo!"


"Kejar, Leo."


Andhara, Papa Leo dan seorang wanita langsung berlari mengejar Leo.


Sedangkan Revelyn masih terdiam dengan raut wajah bertanya-tanya, apa yang terjadi sebenarnya?


Revelyn berniat ingin ikut mengejar, untuk mengetahui semuanya. Namun saat ingin berlari pergi, sebuah suara menghentikan langkah kakinya.


"Velyn."


Revelyn berhenti, dia menoleh mendapati Vito berjalan menghampirinya.


Cowok itu mengenakan pakaian jas berwarna hitam, dengan setelan dalam berwarna putih.


"Vito." gumam Revelyn, dia menoleh sebentar ke arah Leo pergi, lalu kembali menatap Vito yang sudah berada di hadapannya.


"Lo tadi mau kemana?" tanya Vito heran, dia menaikkan sebelah alisnya sambil sebelah tangannya masuk ke dalam saku celananya.


"Ng-nggak kemana-mana." jawab Revelyn berbohong, dia melempar cengiran kuda ke arah Vito.


Cowok itu mengangguk, "yaudah, kita berangkat sekarang?" tanya Vito, gadis itu lalu mengangguk setuju.


"Oke."


Mereka berdua akhirnya berjalan pergi menuju mobil Vito yang terparkir tidak jauh dari rumah Revelyn, keduanya saling berjalan berdampingan sambil sesekali saling berpandangan lalu tersenyum.


...🍕...


Revelyn terperangah saat melihat dekorasi pesta berkonsep outdoor itu, cowok itu memilih merayakan ulang tahunnya di dekat kolam renang yang berada di belakang rumahnya.


Semua tamu sudah berkumpul, mereka semua mengenakan pakaian sesuai dengan dresscode yang di tentukan.


"Kenapa diam aja? ayo." Vito terkekeh saat melihat Revelyn terdiam di ambang pintu, cowok itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


Revelyn terdiam sebentar, matanya melirik tangan Vito yang terulur ke arahnya.


"Vito, happy birthday." ucap Revelyn tersenyum, gadis itu akhirnya menerima uluran tangan Vito.


Senyum cowok itu terukir, dia dan Revelyn mulai berjalan sambil berpegangan tangan.


Melihat kedatangan Vito dan Revelyn membuat semua tamu undangan menatap mereka, alhasil Revelyn mulai merasa canggung.


"Jangan malu." bisik Vito.


"Ng-nggak malu kok."


Vito mengangguk, lalu melepaskan pegangan tangannya saat mereka sudah sampai di depan para tamu.


"Hai Vito."


Seorang gadis cantik menyapa cowok itu, tanpa malu gadis itu mencium pipi kanan Vito yang alhasil membuat Revelyn kaget.


"Main nyosor aja." cibir Vito, sedangkan gadis itu hanya terkekeh sambil memeluk lengan Vito bak guling.


"Siapa tuh? pacar lo?" tanya gadis itu, dia menatap Revelyn dengan tatapan merendahkan.


"Oh iya Velyn, ini teman gw." ucap Vito memperkenalkan.


Revelyn tersenyum kikuk, gadis itu mengangguk sambil mengulurkan tangannya.


"Gw Revelyn Paulin."


Gadis itu awalnya diam saja sambil menatap tangan Revelyn, detik selanjutnya dia tersenyum lebar sambil balas berjabat tangan.


"Gw Alana Veronica, teman Vito. Sebenarnya sih, mau jadi tunangan."


"O-oh ya?" Revelyn tertawa paksa, berharap bahwa apa yang di katakan Alana hanya bualan semata.


"Jangan ngimpi deh, gw aja nggak suka sama lo." cibir Vito, dia menoyor jidat Alana hingga gadis itu berekspresi cemberut.


"Jahat banget sih lo, untung gw suka." gumam Alana cemberut.


Vito terkekeh pelan, sedangkan Revelyn mulai terdiam.


Dia merasa asing berada di tempat ini sendirian, gadis itu ingin pulang.


"Oh iya nikmatin pestanya ya Revelyn, gw sama Vito mau ke sana dulu." ucap Alana sambil menggandeng lengan Vito.


Gadis itu melempar senyum ke arah Revelyn, lalu menatap Vito sambil menaik turunkan alisnya.


"Ngapain?"


"Udah ikut aja, mama sama papa gw udah nunggu lo."


Vito mengangguk paham, cowok itu akhirnya menurut. Tapi sebelum pergi, Vito berpesan pada Revelyn agar gadis itu menikmati pesta ulang tahunnya.


"Enjoy aja Velyn, gw kesana dulu sebentar." pamit Vito, gadis itu hanya membalas dengan anggukkan.

__ADS_1


Sepeninggal kedua orang itu, Revelyn mulai sendiri, di tengah-tengah semua orang yang sedang menikmati pestanya.


Gadis itu merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, apalagi saat melihat dari kejauhan, Vito dan Alana nampak bahagia.


Revelyn menunduk, dia menggigit bibirnya karena ingin menangis. Gadis itu tidak tahu kenapa, tapi yang pasti, dia merindukan kebersamaannya bersama sahabatnya, Leo.


Sebenarnya apa yang terjadi? siapa wanita itu? Revelyn mulai penasaran, dia bahkan lebih penasaran kenapa Leo meninggalkan rumah saat dia berangkat tadi.


Cowok itu tidak biasanya bersikap labil seperti itu.


Bruk


Revelyn tersentak kaget saat seseorang tak sengaja menabraknya, hingga menumpahkan minuman ke gaunnya.


"Eh sorry." ucapnya, dia merasa bersalah karena sudah membuat gaun Revelyn kotor.


"It's okay." jawab Revelyn, dia tersenyum ramah sambil membersihkan gaunnya yang basah.


"Makasih." ucap orang tersebut sambil berlalu pergi, meninggalkan Revelyn yang mendadak kebingungan harus apa.


Mau tidak mau Revelyn akan menghampiri Vito yang masih berbincang-bincang dengan Alana, serta keluarga lainnya.


Lebih baik dia pulang saja, begitulah pemikiran Revelyn. Dia merasa semakin tidak nyaman berlama-lama di pesta ini.


Gadis itu berjalan di sisi kolam renang, sambil membersihkan gaunnya. Revelyn berteriak saat seseorang tak sengaja menyenggolnya lagi, yang alhasil membuatnya----


Gubyaaaarrr


Tercebur ke dalam kolam.


Semua orang kaget bukan main saat gadis itu masuk ke dalam air, membuatnya basah kuyup bahkan sampai menggigil kedinginan.


Melihat hal itu sontak membuat Vito ingin menghampiri, namun tangan Alana refleks mencegat cowok itu.


Alana menatap Vito tajam sambil menggeleng, gadis itu hanya tak mau Vito jauh darinya walau sebentar.


"Gw mau nolong dia!"


"Lo disini aja!"


"Kenapa?!"


"Gw nggak mau lo jauh dari gw, Vito!


"Alana!"


"Apa?!"


Revelyn menggigit bibirnya, dia sudah naik keluar dari air. Gadis itu memeluk dirinya sendiri sambil menunduk, ia malu sangat malu karena kesialan ini menimpa dirinya.


Rasanya Revelyn ingin menangis saja, dia ingin menangis karena semua orang kini menatap dirinya.


Tidak ada yang menolongnya mereka semua hanya memperhatikan, bahkan sepertinya acara pesta terhenti karena dirinya.


"Leo." gumam Revelyn.


Revelyn membutuhkan cowok itu, sangat-sangat membutuhkan. Dia ingin menangis saja, namun apa daya? bahkan semua orang saja menatap aneh kepadanya.


Sontak gadis itu mendongak, menatap wajah Leo yang sangat dekat dengannya. Cowok itu sengaja melepaskan jasnya sambil memasangkannya ke tubuh Revelyn.


Revelyn tidak percaya, entah datang darimana cowok itu karena saat dia benar-benar membutuhkannya, Leo benar-benar datang untuknya.


"Le---"


"Ayo pergi." ucap Leo, cowok itu langsung menarik tangan Revelyn untuk membawa gadis itu pergi dari tempat ini.


Kepergiaan Revelyn bersama Leo langsung membuat semua orang terdiam menatap kepergiaan mereka, bahkan Vito juga terdiam dan masih bingung kenapa cowok itu tiba-tiba berada di pesta ulang tahunnya.


"Ck, sialan!"


...🍕...


Leo dan Revelyn sama-sama terdiam di dalam mobil yang masih terparkir di depan rumah Vito.


Keduanya saling diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.


Revelyn menunduk, dia sesekali membenarkan jas Leo yang masih menyelimuti tubuhnya.


"Lo marah sama gw yak?" akhirnya Revelyn membuka suara.


Namun bukannya menjawab, Leo hanya diam. Tatapan cowok itu lurus kedepan, bahkan ekspresinya terlihat dingin dan datar.


"Jawab gw! gw nggak suka lo diam gini!"


"Lo kenapa sih Leo?!"


"Kalau gw ada salah, gw minta maaf. Tapi please, jangan diemin gw gini." lirih Revelyn, matanya mulai berair karena cowok itu masih belum menjawab pertanyaannya.


"LEO JAWAB GW!"


Revelyn meninggikan suaranya, dia bahkan memegang lengan Leo sambil mengguncang-guncangkan tubuh cowok itu agar mau menjawab pertanyaannya.


"IYA GW MARAH SAMA LO!"


Gadis itu kaget saat Leo balas membentaknya, Leo menoleh hingga mata mereka saling berpandangan.


"Gw kecewa sama lo!"


"Gw kesal sama lo!"


"Dan gw cemburu karena lo."


Rahang Leo mengeras, dia paling tidak suka membuat Revelyn menangis. Tapi mau bagaimana lagi? Leo akan menjelaskan semuanya, termasuk masalahnya.


"Kenapa?" lirih Revelyn, bulir-bulir air mata mulai terjun bebas dari matanya.


"Kenapa lo tanya?" Leo tertawa, cowok itu menertawai keadaan.


"Lo kemana aja Velyn? lo kemana aja selama ini? lo kemana aja pas gw terpuruk? dan lo kemana aja pas gw benar-benar butuh lo?"

__ADS_1


"Waktu itu gw benar-benar butuh lo, gw bahkan menyendiri akhir-akhir ini supaya lo paham bahwa gw butuh lo. gw butuh dukungan dari lo, gw butuh semangat dari lo, dan gw juga butuh pelukan dari lo."


"Hidup gw hancur lagi Vel, gw merasa semua hancur lagi. Apalagi saat gw lihat lo sama Vito terus di sekolah, gw bahkan nggak punya kesempatan buat deketin lo!"


"Lo terlalu sibuk sama Vito sampai lo lupa, bahwa sahabat lo sangat butuh kehadiran lo."


"Gw nggak mau lo deket-deket sama dia lagi." ucap Leo, dia menghela napas dan berharap agar gadis di sampingnya mengerti.


Namun Revelyn malah mengerutkan keningnya, "jadi lo ngelarang gw?"


"Iya."


"Kenapa? bukannya gw juga punya hak? gw punya hak buat dekat sama siapa aja, termasuk Vito. Dan apa hak lo?!" bentak Revelyn, gadis itu mulai tersulut emosi.


"Gw sahabat lo!" jawab Leo, dia berdecak kesal karena gadis itu masih tidak mengerti ucapannya.


"Hanya karena lo sahabat gw, bukan berarti lo seenaknya ngelarang gw!?"


"Gw ngelarang karena dia udah buat lo jauh dari gw, Velyn!"


Mendengar jawaban Leo alhasil membuat Revelyn terdiam, gadis itu meneguk salivanya sambil mengusap air mata yang masih meluncur bebas dari pelupuk matanya.


Drrrrrttttttt


Handphone Revelyn tiba-tiba bergetar, membuat gadis itu langsung merogoh isi tasnya.


Diam-diam Leo mengintip nama yang tertera di layar handphone Revelyn.


Vito.


Nama itu membuat Leo langsung emosi, cowok itu lalu merebut handphone itu dari tangan Revelyn.


"Leo!"


"Gw nggak pernah suka lo dekat-dekat sama dia, dan gw bahkan nggak akan rela kalau dia sampai ngerebut lo dari gw!"


"Balikin handphone gw!?" pinta Revelyn, namun Leo malah memberikan senyuman miring padanya.


"Lo mau ini?" tanya Leo, detik selanjutnya cowok itu langsung melempar handphone tersebut ke luar dari jendela mobil. "ambil aja!"


Perbuatan Leo sontak membuat Revelyn kaget, gadis itu langsung membentak Leo karena kesal.


"LEO! GW BENCI SAMA LO!"


"Gw benci!"


"Lo butuh gw? bagaimana gw tahu lo butuh gw apa nggak, kalau lo aja nggak cerita soal masalah lo!"


"Gimana gw mau ngerti hah?! jawab, gimana gw mau ngerti?!" desak Revelyn, gadis itu terlanjur kesal dan menunggu Leo menjawab pertanyaannya.


Namun Leo terdiam, cowok itu hanya menunduk.


Revelyn berdecak kesal, gadis itu membuka pintu mobil Leo untuk bersiap turun.


"Cukup sampai sini, sekarang lo boleh pergi!" ucap Revelyn dingin.


Saat sebelah kaki Revelyn sudah menginjak tanah untuk turun dari mobil, Leo akhirnya membuka suara.


"Gw marah sekaligus sedih." lirih Leo, cowok itu masih tertunduk sambil mengepalkan kedua tangannya.


Revelyn terdiam, dia masih membelakangi Leo dan enggan untuk mengubah posisinya sampai Leo sudah selesai bercerita.


"Gw marah karena papa gw menikah tanpa bilang-bilang sama gw."


"Nenek bahkan sudah tahu semuanya, dan hanya gw yang baru tahu saat mereka berdua sudah resmi menikah."


"Gw harus apa? menerima wanita yang bahkan nggak gw kenal sama sekali buat jadi mama gw?"


"Sampai kapanpun gw nggak bakal nerima, karena mama gw cuma satu. Meski sudah tiada, tapi mama bilang bahwa dia ada di setiap detak jantung yang gw miliki."


"Karena masalah itu gw mulai mengurung diri di kamar, gw nggak mau di ganggu. Gw cuma mau sendiri, dan gw cuma mau lo ada disisi gw saat itu."


"Tapi gw baru sadar bahwa lo mulai nggak peduli, lo mulai asik sendiri, lo terlalu asik sama vito tanpa menyadari bahwa gw hampir mau putus asa lagi."


"Gw nggak mau Papa gw nikah lagi, tapi semua sudah terlambat. Gw harus apa velyn? gw harus apa?"


Revelyn meneguk salivanya, tubuhnya mendadak gemetaran.


"Gw butuh waktu buat mengerti, sekarang lo boleh pergi." kata Revelyn pelan, sembari turun dari mobil.


Revelyn menutup pintu mobil Leo, gadis itu berjalan untuk mengambil handphonenya yang sempat di buang Leo tadi.


Gadis itu lalu memejamkan matanya saat mobil Leo mulai melenggang pergi, cowok itu benar-benar pergi meninggalkannya.


Revelyn kembali menangis, gadis itu berjongkok sambil memeluk tubuhnya yang masih di selimuti jas milik Leo.


Revelyn menangis, mencoba merutuki semua kebodohannya bahkan perkataan Leo kepada dirinya.


...🍕...


Leo langsung membanting stirnya ke kiri, menepikan mobilnya untuk berhenti.


Cowok itu langsung memukul stir mobilnya sambil mengumpat saat hujan turun semakin deras mengguyur mobilnya.


Leo turun dari mobil, dia menjambak rambutnya frustasi.


Dia menyesal karena menurut perkataan Revelyn, dan meninggalkan gadis itu sendirian di sana.


Ingin rasanya Leo kembali menjemput gadis itu, namun Leo merasa tidak sanggup untuk bertemu gadis itu lagi.


"SIALAN!"


Leo menendang ban depan mobilnya. Seluruh tubuhnya kini basah kuyup. Cowok itu sesekali menjambak rambutnya lagi karena merasa bersalah sudah meninggalkan Revelyn disana.


Leo menghela napasnya, dia terduduk sambil bersandar pada pintu mobilnya.


Cowok itu mendongak lalu memeluk kedua lututnya, kemudian membenamkan wajahnya sambil menggigit bibir dalamnya.


"Sorry."

__ADS_1


...🍕🍕🍕...


__ADS_2