
"Lho, Leo sama siapa tuh?" Axele bertanya heran pada Geral, mereka berdua baru saja sampai di parkiran sekolah.
Geral meneguk salivanya, dia begitu lelah karena berlari mengejar Leo sampai parkiran sekolah.
"Gw Regan Paulan."
Geral menaikkan sebelah alisnya heran, ia merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Jangan-jangan?
Bingo, cowok itu mulai teringat saat seseorang menelpon Miselia. Padahal handphone gadis itu awalnya ada pada Geral, dan dia baru sadar bahwa nama orang itu sama seperti nama yang tertera di handphone Miselia.
"Ral! Leo mau kemana tuh?"
Mata Geral tak lepas dari Regan, cowok itu masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Leo. Entah urusan apa yang akan mereka lakukan, Geral merasa mungkin Leo mengenal cowok itu.
"Entahlah."
...🍕...
"Jangan-jangan lo?"
"Hm, gw kakak Revelyn. Dan gw dengar, lo dan adik gw sangat dekat."
"Dari mana lo tau?"
"Miselia yang bilang, dia bilang lo selalu buat Revelyn merasa bahagia setiap harinya."
"Terus, sekarang lo mau apa?"
"Gw mau lo bantu gw."
"Bantu apa?"
"Gw mau jelasin semuanya sama Revelyn, dan gw butuh lo buat bantu gw bujuk dia supaya mau ketemu sama gw."
Leo mendesah berat, cowok itu mengalihkan pandangannya menuju luar jendela mobil. Sedangkan Regan, cowok itu sedang fokus menyetir.
"Terima kasih."
Regan mulai membuka suara, membuat Leo berpaling menatapnya.
"Buat apa?"
"Buat semuanya. Gw senang, lo udah ada buat Velyn selama ini."
Leo tersenyum miring, "meski gw ada buat dia, gw masih bisa liat kesedihan di matanya. Mungkin yang dia harapkan bukan lo aja, tapi juga semua keluarganya."
Mendengar penjelasan Leo membuat Regan mencengkram kuat setir mobilnya, entah kenapa hatinya merasa tersayat mendengar ungkapan bahwa adiknya masih merasa sedih.
"Gw emang kakak terburuk di dunia, gara-gara gw, adik gw tersakiti. Gw emang nggak berguna, gw rebut semua kasih sayang untuknya dan sampai sekarang."
"Sampai sekarang?"
Regan menoleh ke arah Leo, "Mama sama Papa masih benci Revelyn, mereka nggak suka Revelyn karena dia lebih aktif dan sehat dari gw yang penyakitan ini." jelas Regan, dia tersenyum miris sambil kembali menatap lurus.
"A-apa? Velyn nggak pernah cerita soal itu sama gw."
"Yang Velyn tau, Mama dan Papa pergi untuk membawa gw berobat. Padahal sebenarnya mereka berdua juga berencana pindah dan menetap di Paris, bersama gw."
Leo meneguk salivanya, suatu kenyataan yang pahit jika Revelyn mengetahui semuanya.
...🍕...
Revelyn menghela napasnya, gadis itu menyeret tasnya sambil berjalan menuju rumahnya.
Agitha yang berada di depan pintu rumah langsung berlari kecil menghampiri Revelyn, pasalnya Agitha cemas saat melihat wajah Revelyn yang seperti habis menangis.
__ADS_1
"Nak, kamu kenapa?"
Revelyn mendongak, detik selanjutnya ia menggeleng lemah.
"Nggak papa."
Agitha terdiam, ia mengangguk paham karena ia mengerti bahwa gadis itu perlu waktu untuk sendiri.
"Mbak Ag---"
"Velyn."
Revelyn langsung menoleh ke belakang tatkala Leo memanggilnya sambil berdiri di ambang pintu pagar, cowok itu menatapnya lekat.
Melihat kehadiran Leo langsung membuat kaki Revelyn refleks ingin berlari menghampiri, namun langkahnya terhenti saat di belakang Leo muncul seseorang yang berhasil membuat Revelyn dan Agitha menatap tak percaya.
"Regan?"
"Kak Regan?"
Leo mencoba tersenyum, cowok itu mulai berjalan menghampiri Revelyn yang mematung di tempat.
"Leo?"
"Sekali aja, berikan kakak lo kesempatan buat jelasin semuanya."
"Tap---"
"Kalau sudah, lo bisa temui gw di dalam." ucap Leo, cowok itu mengusap kepala Revelyn sebelum akhirnya berlalu melewatinya.
Leo merangkul Agitha, agar wanita paruh baya itu mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Sepeninggal mereka berdua, keadaan hening. Suasana di antara mereka nampak canggung, baik Regan ataupun Revelyn sama-sama terdiam.
"Sudah lama yak? bahkan Kak Regan lupa jalan ke rumah ini." Regan mencoba mencairkan suasana, cowok itu terkekeh pelan sambil berjalan menghampiri adiknya.
"Darimana Kak Regan tau Leo?" tanya Revelyn, gadis itu mengalihkan pandangannya dan enggan menatap cowok di hadapannya.
Revelyn menghela napasnya sambil tersenyum getir.
"Kak Regan mau apa ke sini?"
"Mau perbaiki semuanya, kesalahan kak Regan, dan menjelaskan semuanya, kebenaran yang Kak Regan sembunyikan."
Revelyn mendongak, gadis itu menatap Regan lekat.
"Kebenaran?"
Regan mengangguk, "maaf Velyn, gara-gara Kak Regan, mama sama papa nggak pernah kasih kamu perhatian maupun kasih sayang." ekspresi Regan berubah, cowok itu tertunduk.
"Maaf Velyn, gara-gara Kak Regan kamu tumbuh tanpa kasih sayang. Mama sama Papa nggak pernah kasih perhatian, mereka semua cuma fokus sama pengobatan Kakak. Kak Regan sangat merasa bersalah atas semua ini, Kak Regan merasa bahwa kehadiran Kak Regan di dunia ini cuma buat kamu menderita. Kak Regan sangat takut untuk bertatap muka dengan kamu."
"Kak Regan takut, kalau Velyn nggak akan maafin Kak Regan karena Kak Regan---"
Regan menatap manik Velyn lekat, "ngambil semua cinta dan kasih sayang dari mama sama papa."
Gadis itu tertunduk, matanya mulai berair.
"Kak Regan benar, Velyn tumbuh tanpa kasih sayang mereka. Tapi bukan berarti semua itu buat Velyn menderita, Velyn sadar Velyn masih punya orang-orang yang masih menyayangi Velyn, ngasih kebahagian buat Velyn, hingga melupakan kesedihan Velyn."
"Tapi bukan berarti Velyn nyalahin Kak Regan karena udah ngambil semua yang Velyn inginkan, Velyn cuma mau Kak Regan---"
"Velyn cuma mau Kak Regan sadar bahwa, Velyn sayang sama Kakak. Velyn mau Kakak kembali, Velyn mau Kakak tinggal lagi."
"Velyn tau kok bahwa mama dan papa nggak pernah suka sama Velyn, mereka selalu menatap Velyn dengan tatapan benci. Velyn ngerti tatapan mereka, Velyn tau mereka sedih karena mereka juga mau Kak Regan seperti Revelyn."
Gadis itu mulai menangis, ia bahkan meremas roknya seolah menyalurkan rasa sakit di hatinya.
__ADS_1
"Dari dulu Velyn udah biasa tanpa kalian, Velyn sadar jika kalian nggak ada buat Velyn. Setidaknya masih ada yang Velyn punya."
Revelyn meneguk salivanya, gadis itu mencoba tersenyum. Melihat senyum Revelyn membuat dada Regan sakit, cowok itu bahkan mulai mencengkram kerah bajunya.
"Jangan salah paham, Kak Regan kembali buat Velyn, bukan orang lain. Hanya saja Kak Regan perlu waktu, Kak Regan belum siap ketemu kamu."
Seperti Revelyn, mata Regan juga berair.
"Ada satu hal yang kamu nggak tau, dan mama sama papa nggak mau kamu sampai tau." ucap Regan, cowok itu menunduk menyesal.
"Katakan, apa?" Revelyn menatap Regan lekat.
"Mama sama Papa memang membawa Kak Regan buat berobat, tapi mereka juga memutuskan untuk membawa Kak Regan bersama mereka. Meninggalkan kamu bersama Mbak Agitha, dan kami bertiga bisa tinggal bersama selamanya di Paris."
**Deg**
Suatu kenyataan pahit itu membuat hati Revelyn sakit bak tersayat pisau. Gadis itu merasa sesak, mendengar penjelasan dari sang kakak.
"Mereka nggak mau kamu, dan mereka nggak akan nerima kamu. Tapi Kak Regan mau kamu, dan Kak Regan sayang kamu. Kak Regan nggak bakal ninggalin kamu, karena itu Kak Regan berjanji untuk kembali lagi."
"Dan sekarang, Kak Regan datang buat kamu. Buat Velyn, adik tersayang Kak Regan yang sekarang udah tumbuh besar." Regan tersenyum, cowok itu perlahan mendekat untuk memeluk adiknya.
Saat dipelukan Regan, saat itu juga tangisan Revelyn meledak. Gadis itu menangis histeris, antara sedih akan kenyataan tentang kedua orang tuanya, dan bahagia karena sang kakak kembali dan tidak melupakannya.
"Kak Regan sayang sama Revelyn, Kak Regan bakal ada di samping Revelyn lagi."
"Kalau bukan Mama sama Papa, setidaknya Kak Regan saja."
"Selamanya?" lirih Revelyn di isakan tangisnya.
Entah kenapa pertanyaan itu malah membuat Regan terdiam, ekspresinya berubah menjadi tidak yakin.
Cowok itu meneguk salivanya, dia lalu mengangguk ragu sambil terus mengusap rambut Revelyn.
"I-iya ... selamanya."
Semoga saja.
Dari dalam rumah, Agitha dan Leo yang menyaksikan pemandangan itu lantas tersenyum haru. Mereka semua merasa lega karena apa yang Revelyn tunggu sudah kembali.
Kebahagian yang Revelyn pancarkan lewat senyumannya, membuat Leo bahagia melihatnya.
Dengan ini gw harap lo nggak akan bersedih lagi.
"Syukurlah, Mbak sangat senang Regan sudah kembali. Meski nyonya dan tuan nggak kembali, tapi Regan sudah cukup untuk mengobati luka hati."
Leo menoleh ke arah Agitha, wanita paruh baya itu menangis terharu.
"Kalau boleh tau, Regan sakit apa?" tanya Leo heran.
Agitha menatap Leo, detik selanjutnya wanita itu menggeleng.
"Nyonya dan tuan nggak pernah kasih tau, tapi Mbak pernah dengar bahwa."
Agitha meneguk salivanya, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkannya.
"Kenapa?" Leo menatap Agitha lekat, cowok itu mulai berekspresi serius.
Agitha balas menatap Leo lekat, "hanya Tuhan yang tahu kapan Regan bisa bertahan lebih lama lagi."
Deg
"Jangan bilang bahwa ...?"
"Entahlah Leo, Mbak juga berharap semua itu nggak akan terjadi."
Leo menghela napasnya, ia merasa susah bernapas. Cowok itu lantas kembali menatap Regan dan Revelyn dari balik jendela.
__ADS_1
Velyn.
...🍕🍕🍕...