HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 10 Jadian (Perspektif Han & Pras)


__ADS_3

...~ HAN ~...


Sengaja ku parkirkan mobil rentalan ini di parkiran depan gerbang PKD. Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, apalagi sambil memperhatikan beberapa pasangan yang lewat depan PKD untuk pesiar. Bikin mata aga perih-perih gimana gitu.. pun ketika teringat rasa sakit dan malu yang ia alami akibat penolakan Ute beberapa hari yang lalu.. masih terasa perihnya di hati ini.


Kami (aku dan Dina) janjian jam 14.00 wib di depan Bandung Indah Plaza (BIP), jadi sekarang (jam 12.00 wib) adalah waktu yang pas untuk menunggunya di gerbang depan.


'Aku ingin lihat reaksinya kalau diajak naik mobil keren (walaupun boleh rental), apakah Dina akan masih rela menolak tawarannya untuk jalan bareng?' batin Han dalam mode menunggu di dalam mobil berkaca film 60% ini.


Tidak berapa lama, tampak sosok yang dinantinya berjalan keluar gerbang PKD. Tapi dia tidak sendiri, ada seorang Nindya Praja di sampingnya. Sial, itu si-Pras.. Junior yang terkenal aktif di banyak kegiatan kelembagaan di ksatrian ini.


'Ngapain mereka jalan bareng?' batinku mulai merasa gerah padahal AC mobil tetap menyala.


Niat awalku untuk nyamperin Dina dan mengajaknya pergi bersama dari gerbang ini pun urung ku lakukan. 'Lebih baik aku ikutin aja jalannya mereka' batinku lagi sambil memasukkan perseneling gigi 1 dan melepas rem tangan.


Dina tampak sesekali memperlihatkan senyum malu²nya.. Entah apa yang disampaikan Pras brengs*k itu kepadanya, mereka tampak serasi. Otakku kembali memutar otak mengingat trade record kisah asmara seorang Pras.. apakah mereka berdua sudah merupakan pasangan? Sepertinya tidak deh..


Mereka pun menyebrang jalan dan menaiki angkot yang sama menuju Cibiru. Membayangkan mereka duduk bersisian di angkot yang padat itu membuat rasa gerahku semakin meningkat.


Tapi di Cileunyi, tampak Pras turun, melambaikan tangan ke arah Dina yang masih meneruskan perjalanannya di dalam angkot hijau itu.


Aku kendarai mobil ini sedekat mungkin dengan angkot tersebut dan ketika Dina tampak turun untuk berganti kendaraan umum lainnya di Cibiru, mobilku langsung berhenti di hadapannya.


"Naik!" perintahku tegas.


"Siap ka.." jawabnya kaget namun bergegas memasuki mobil dan duduk di bangku depan sampingku.


"Seat belt!" kataku lagi.


"Siap ka.." jawabnya pelan, sigap memasang seatbelt-nya.


Ku lajukan mobilku perlahan ke arah BIP dalam diam. Dina pun hanya diam saja meremas jalinan jari jemarinya.


"Ketemu Pras dimana tadi?" tanyaku masih dengan nada seacuh mungkin.


Dina menoleh tampak bingung dan menjawab terbata ketika lirikan mataku bertemu pandangan matanya: "Siap ka, saya ketemu ka'Pras di depan koperasi tadi, dia mau ke Cileunyi beli celana training biru.. hmm.." jawabnya sambil tersenyum seperti menahan tawa dan melanjutkan: "katanya celana training ka'Pras sobek waktu lari sore kemaren.. tadi.." ucapannya tiba-tiba terhenti, mungkin karena melihat wajahku yang kembali bertambah kelam.


Kami kembali terdiam.


'Apa mungkin seharusnya demikian menghadapi perempuan setipe Dina yang pendiam atau Ute yang penuh percaya diri ini ya? Laki-laki harus berani menunjukkan bukan hanya kelebihan namun kekurangannya juga?' batinku dalam diam.


Tanpa terasa kami masuk pelataran parkir BIP.


"Kamu mau turun di lobby atau bareng aja dari parkiran?" tanyaku kemudian, benar-benar ga tau harus bagaimana memperlakukan teman kencan, ‘hei kami sedang berkencan kan ini? Aduh bingung, tolong jangan salahkan kurangnya pengalamanku..’ batinku nelangsa.


"Bareng aja kalau boleh ka.." jawabnya perlahan.


Senyum ini pun tak dapat ku tahan. Walau Dina terlihat masih aga takut, tapi pilihannya untuk tetap bersama dan ga mau enaknya sendiri sedikit menyenangkan hati ini.


"Ok, semoga dapet parkiran yang ga perlu jalan jauh ya.." kataku kemudian sambil melajukan mobil perlahan, mencari lokasi kosong yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk.


"Oh itu ada yang mau keluar parkiran ka.." seru Dina sambil menunjuk ke arah pasangan keluarga muda (si-istri yang perutnya seperti sedang hamil, tampak berjalan perlahan di samping suaminya yang mendorong troli berisi belanjaan).


Pemandangan yang menarik, namun pada saat yang sama kembali membuka rasa hampa akan sesuatu yang kurang di hati ini.


Ketika mobil telah terparkir di tempatnya, kami pun keluar dan menuju pintu masuk.


"Mau kemana dulu neh Din?" tanyaku kemudian.


"Terserah ka'Han aja" jawab Dina lirih.


"Kita lihat ada film apa di bioskop dulu ya.. mau nonton kan?" tanyaku lagi.


"Ehm, ka'Han tentang hukuman saya?" tanya Dina perlahan.


"Nanti kita bahas sambil duduk tenang ya!" kataku cepat, melirik anggukan kepalanya.

__ADS_1


...***...


Ketika kami akhirnya duduk berhadapan di cofee-shop ini (tidak ada film yang bagus, ternyata kami sama-sama bukan penyuka horor sementara tadi adanya hanya film-film horor), dengan minuman masing-masing kami kembali terdiam.


"Hm.. jalan bareng saya membuat kamu susah ya Dina?" tanyaku dengan perasaan nelangsa yang tidak ku sembunyikan.


"Eh.. enggak kog ka.." Dina tampak terdiam sebentar, mungkin mencoba merangkai kata penolakan sesopan mungkin (hatiku yang sempet cerah kembali nelangsa), lalu kembali berkata: "Maaf kalau ka'Han merasa demikian, saya cuma ga biasa aja diperhatikan orang lain, apalagi seorang ka'Han."


"Memang saya kenapa?" tanyaku penasaran.


"Masa ka'Han ga tau kalau kakak tuh punya banyak banged penggemar? Yang suka sama ka'Han tuh banyak, cewe-cewe cantik dan berbakat pula.. Trus saya kan hanya seorang Dina, gadis serba biasa yang ga suka tampil. Rasanya kog kurang pantes aja jalan bareng ka'Han.." jawabnya sambil tetap menunduk mengaduk-aduk minumannya.


"Dina, bisa kan sambil lihat saya kalo ngomong?" tanyaku kemudian.


Setelah mata kami bertemu, Dina tampak akan mengatakan sesuatu tapi kembali terdiam dan kembali menunduk.


"Kamu ga takut kan sama saya Din?" tanyaku lagi.


"Enggak ka.. saya bingung aja dengan sikap ka'Han, sesaat tampak marah padahal saya ga tau kesalahan saya apa dan sesaat kemudian tampak penuh perhatian seperti kasih sayang seorang kakak yang sangat baik." jawabnya, kali ini sambil menatap mataku. Terlihat ketegaran disana.


Aku pun menegakkan bahu, meraih kedua tangannya dalam genggaman ini, sesaat terasa kaget seperti hendak menolak, namun kemudian diam, tampak pasrah dan aku pun kembali berkata:


"Saya marah karena cemburu lihat Dina jalan bareng Pras tadi. Saya sudah mengikuti kalian sejak keluar dari gerbang PKD.


Saya tau tidak seharusnya rasa cemburu ini ada, karena toh diantara kita belum ada komitmen apa-apa, tapi entah mengapa saya merasakannya, saya ga suka lihat kamu dekat dengan pria lain.


Saya menunjukkan perhatian ke Dina bukan karena rasa persaudaraan, tapi karena rasa suka, selayaknya laki-laki terhadap perempuan yang menarik hatinya.


Susah bagi saya untuk menghapuskan bayangmu dari pikiran ini. Baru pertama kalinya saya merasakan hal ini. Seakan untuk dapat tetap hidup, saya membutuhkan kehadiran dan dukunganmu sebagai pendamping saya..


Kamu mau kan kasih saya kesempatan untuk jadi pendampingmu Dina?"


Wajah manis itu tampak merona dan Dina kembali menunduk, melihat pada tautan jari jemari kami.


"Ka, kita kan baru kenal.." jawabnya kemudian, berusaha menarik tangannya tapi tidak kubiarkan.


"Saya khawatir hanya akan mengecewakan ka'Han.." jawabnya perlahan.


"Keberadaanmu di sisi saya sudah membahagiakan hati ini, selanjutnya kita saling menyesuaikan saja ya.." desakku lagi demi melihat sinar keraguan itu masih membayangi wajahnya.


"Boleh kasih waktu Dina untuk mempertimbangkannya kak? Saya rasa, ka'Han juga perlu sedikit tau tentang kehidupan Dina sebelum ada komitmen apa-apa diantara kita.." jawabnya tetap dengan perlahan.


Aku kembali ngotot dan tak mau menyerah dengan berkata: "Andi Dinameiriza yang saya kenal adalah anak kedua dari 3 bersaudari keluarga bangsawan Bugis, hidup sederhana setelah keluarga mengalami kebangkrutan total beberapa tahun yang lalu.


Dina yang saya kenal adalah gadis pekerja keras yang memberikan les tambahan ke beberapa anak dosen untuk tambahan dana agar bisa maksimal kirim bantuan ke rumah untuk biaya berobat ayahmu. Dina yang pendiam dan menutup diri dari dunia luar karena benci dikasihani.


Saya sudah merasa mengenalmu cukup banyak Dina, untuk memberanikan dini memohon kesedianmu menjadi pelengkap hidupku..


Izinkan saya mengurangi sedikit beban itu Dina.. kamu ga harus menanggungnya sendiri kalau ada saya disampingmu.." kataku panjang lebar.


"Iya ka'Han.. kita coba dulu ya jalanin bersama, tapi kalau sudah banyakan mudaratnya daripada manfaatnya, kita harus sama-sama iklas melepaskan hubungan ini ya.." akhirnya bibir manis itu mengeluarkan kalimat yang sudah sedemikian lama ku tunggu.


"Bener neh Dina?" kataku aga tak percaya.


Dan ketika Dina mengangguk tersenyum memperlihatkan lesung pipinya, ku tarik kedua tangannya dan mengecupnya dengan sepenuh hati.


'Yahuu..' sorakku dalam hati. 'Inikah yang namanya bahagia karena cinta? Oh menakjubkan sekali rasanya.. seperti melayang di atas hamparan taman bunga yang indah.. hadeuh, rasa ini benar-benar memabukkan, seperti tuak manis yang baru dipanen dan disaring dari pohon.


Lalu tiba-tiba ujung mataku menangkap sosok Pras, tampak berjalan mendekat ke arah kami.


"Selamat sore ka'Han." katanya lugas, lalu melirik Dina yang sudah menarik tangannya dari genggamanku dengan tergesa, ku lihat wajah Dina kembali memerah.


"Sore Pras.. lagi ngapain?" tanyaku sambil mengangkat gelas minuman Dina, menaruhnya di meja sampingku dan memberikan kode kepada Dina untuk pindah duduk di bangku sampingku. Dina bergerak perlahan terlihat seperti terpaksa sambil masih menunduk.


Pras tampak memperhatikan semuanya dengan seksama, wajahnya aga mengeras namun ditahan.

__ADS_1


"Siap ka'Han, saya hanya sedang jalan saja dan melihat wajah yang familiar, saya mendekat untuk menyapa. Maaf kalau terasa mengganggu. Hai Dina, ketemu lagi kita.. wajahmu kog merah banged, ga lagi tiba-tiba sakit kan?" akhirnya Pras berkata.


'Sudah tau mengganggu kog masih betah' gumamku mulai merasa kesal.


"Enggak ka'Pras, saya baik-baik saja" jawab Dina mendongak ke arah Pras yang masih berdiri.


"Kami baru jadian Pras, kamu boleh jadi saksi kebahagiaan kami. Silahkan duduk yuk.." akhirnya kalimat itu ku ucapkan demi memecah keheningan canggung yang sempat tercipta beberapa saat. Ku lingkarkan lengan ini ke sandaran kursi yang Dina duduki sambil mencoba menariknya mendekat sampai bahu kami bersentuhan.


Ku perhatikan wajah Pras mengeras sesaat, namun kemudian ia duduk di hadapanku (tempat yang tadinya diduduki Dina) dan berkata: "Selamat ka'Han dan Dina.. ka'Han harus traktir saya neh kalau begitu ya.."


"Pesen aja semua yang kamu mau, Dina juga mau nambah makanan apa? Ga terasa sudah mau malam ini, waktu memang cepet berlalu kalau lagi bersama yang tersayang ya? Btw, Dina mau makan malam di sini atau cari makanan di tempat lain?" kataku menoleh ke arah Dina yang kembali memerah wajahnya. Ish benar-benar menggemaskan.. kalau saja tidak ada Pras di depan kami, sudah pasti ku cubit pipi itu.


"Ga apa-apa ka'Han, di sini aja.." jawab Dina dengan suara lembutnya.


...***...


...~ PRAS ~...


Urgh.. rasanya mau teriak dan menonjok wajah tampan ka'Han itu demi melihat caranya menawarkan makanan ke Dina.


Hadeuh, salah tadi aku mendekat ke arah mereka.


Padahal tadi niatnya hanya untuk menyapa Dina, kami sempat berbincang sesaat di angkot tadi dan Dina sekilas mengatakan tujuan pesiarnya ke BIP.


Kalau bukan karena titipan teman yang perlu membeli training juga, rasanya tadi mau langsung aja nemenin Dina sampai ke BIP. Kebersamaan kami yang singkat dan hanya beberapa kali terjadi (termasuk dari koperasi ksatrian sampai Cilenyi tadi), terasa bagai candu yang perlu dikonsumsi lagi dan lagi. Pikiran dan hati ini selalu “nagih” akan kebersamaan dengannya.


Tak pernah ku sangka Dina ternyata janjian sama ka'Han disini dan mereka ternyata baru saja 'jadian'.. penyesalan karena tidak bisa dateng lebih cepat untuk menghentikan prosesnya..


Namun kisah dongeng Yunani tentang kisah kasih Paris dan Helen, tiba-tiba terlintas di pikiran ini.. Demi meningkatkan pemahaman pembaca, berikut sekilas kisahnya:


...***...


...Helen adalah salah satu perempuan tercantik di dunia. Ia telah menikah dengan Raja Menelaus dari Sparta. Raja memang sudah berumur dan walaupun bertubuh kuat dan besar tapi tidak memiliki paras yang tampan. Namun Raja sangat mengasihi dan selalu membanggakan kecantikan istrinya....


...Suatu hari, seorang pangeran muda berwajah rupawan bernama Paris datang ke istana Raja Menelaus. Paris datang dari kota Troya di seberang Laut Aegea, untuk membebaskan bibinya yang sempat ditawan oleh bangsa Yunani....


...Singkat cerita, Paris dan Helen saling jatuh cinta dan mereka berdua kabur ke Troya....


...Raja Menelaus sangat murka ketika mengetahui apa yang terjadi. Ia meminta bantuan semua raja di wilayah Yunani untuk membantunya merebut kembali istri terkasihnya. Itulah awal mula pecahnya perang Troya....


...***...


Pras merasa sedikit aga lega teringat pada kisah ini, ia seakan mendapat pencerahan.. apalagi menilik paras Dina yang tampak setengah terpaksa (tidak sepenuhnya bahagia) setelah menjadi pacar ka'Han. Mungkin demikian paras Helen ketika menikah dengan Raja Sparta itu. Yah walaupun akhir kisah cinta Paris dan Helen tidak happy ending juga, namun harapan untuk menggenggam pujaan hati, tidak serta merta hilang ketika melihat dan mengetahui perubahan statusnya.


Dalam hati, Pras bertekad untuk meningkatkan daya juangnya lagi. Penyesalan terbesarnya adalah tidak mendekati Dina lebih intens sejak dahulu, di awal pertemuan/perkenalan mereka.


...***...


Masih jelas dalam ingatanku, kami sempat berpelukan tanpa sengaja di sore itu. Aku yang baru melangkah 1 tangga ke arah panggung dalam Balairung, sambil mengangkat banyak kotak perlengkapan bendera dan stik marching band, terpaksa melemparkan semua peganganku ketika melihat sesosok tubuh akan terjerembab jatuh menuruni tangga panggung di sisi bagian atas tangga yang akan kulalui.


Dina sempat menjerit kaget dan jatuh terjerembab dalam pelukanku.


Pandangan kami bertemu dan sempat terpaku beberapa saat, setelah mata indah itu terbuka, ketika Dina tampak menelan ludahnya, lesung pipi-nya tercetak jelas, menambahkan rasa manis di wajahnya yang masih diliputi keterkejutan dan rasa malu.


Kedua lengan Dina lekat di samping wajah ini, sia-sia mencoba menahan tubuh mereka yang sudah menempel erat mulai dada sampai ke kaki, rebah di lantai dengan Pras di posisi bawah.


"Saya seh senang-senang aja kita lebih lama dalam posisi ini, tapi mungkin dampaknya kurang baik kalau ada yang lain yang lihat loh.." kata-ku akhirnya sambil menahan senyum bahagia seperti habis kejatuhan rejeki nomplok. Tubuh langsing Dina terasa empuk dan teramat sangat cocok berada di atas tubuhku. Tanpa komando, terasa ada yang mulai mengeras di bagian bawah.. ;p


"Maaf ka.." jawab Dina singkat, dengan wajah dan leher semerah kepiting rebus, sambil beranjak berdiri dan langsung kabur meninggalkan balairung secepat yang dia bisa.


Sejak saat itu, wajah manis berlesung pipi itu, yang sempat menoleh sesaat sebelum keluar dari balairung, lekat dalam ingatan ini dan tak pernah meninggalkan posisi istimewa di hatiku.


Aku merasakan benih-benih cinta dan asa yang tumbuh di hati ini semakin subur demi menyelidiki lebih lanjut mengenai data dirinya dengan semua daya. Aku selalu mencari tau sosok yang pernah terasa sangat pas di tubuhku tersebut.


Walau belum berani mendekati secara langsung, tapi pandanganku tidak pernah lepas dari sosok itu setiap ada kesempatan pertemuan, seperti di gerbang PKD pada awal perkuliahan yang lalu.

__ADS_1


'Tenanglah Dina, kenyataan kamu baru saja jadian dengan ka'Han, tidak sedikitpun mengurangi rasa cinta dan kekagumanku padamu' batin-ku sambil menatap Dina di seberang meja, yang di mataku tetap bersinar dalam kesederhanaannya.


...***...


__ADS_2