
...~ UTE ~...
Hari pesiar yang indah sudah berlalu.
Tadi akhirnya Ka’Han setuju untuk menginapkan keluarganya di rumah keluarga Ian ini menjelang pengukuhan Purna Praja-nya nanti, dengan syarat Ian perlu memastikan keluarganya tidak akan terganggu dengan kehadiran keluarga Ka’Han dan Ka’Han juga yang akan membayar segala pengeluaran makanan/minuman yang akan terpakai selama keluarganya menginap di rumah Ian tersebut.
Aku tidak menyangka akan benar-benar jadian dengan seorang Ka’Han.
Dan bahkan kami sempat bermesraan (dalam arti yang sesungguhnya) di mobil yang terparkir di basemen parkiran mobil BIP tadi sore.
Masih jelas dalam kenangan ini, bagaimana rasa menggebu dan luapan hasrat itu menguasai kami berdua. Setiap rabaan dan kecupan terasa pas, mengaburkan kesadaran kami berdua seperti candu yang kuat.
Untung saja ledakan gairah beraura merah menyala itu sempat terasa membakar diriku dan menyentakkan kesadaranku waktu itu, kalau tidak entah sudah salah jalan pastinya kami tadi.
Sepanjang perjalanan pulang tadi pun Ka’Han tampak sering menahan dirinya. Genggaman tangannya tetap hangat dan beraura biru gelap seakan ingin menguasai seperti biasanya, tapi terasa menenangkan dan pas bagiku.
Kami sempat mencuri-curi ciuman di pojokan rumah Ian dan pagutan bibir Ka’Han kembali terasa menenggelamkan. Namun dengan gentelmen Ka’Han bisa menahan dirinya dan aku semakin mengagumi pengendalian diri yang ditunjukkannya.
Tiba-tiba aku merasakan getaran HP, tanda ada wa masuk:
...“D rain makes all things beautiful,...
...d grass n flowers too....
...If rain makes all things beautiful,...
...how long does it rain on u?...
...U r so beautiful and...
...I can’t take away my eyes from u..”...
(terjemahan \= Hujan membuat semua hal cantik, rumput dan bunga juga. Jika hujan benar-benar mempercantik sesuatu, berapa lama ia menghujanimu? Karena kamu begitu cantik dan aku tidak bisa melepaskan mataku dari memandangmu..)
‘Gombal..’ batinku senang membaca wa dari Ka’Han. Lalu aku pun mengetik:
...“Roses r red, violets r blue....
...Monkeys like u should be kept in zoo....
...Don't feel so angry u will find me there 2....
...Not in cage but laughing at u.”...
Untuk membalas gombalannya itu.
(terjemahan \= Mawar itu merah dan bunga violet biru. Kera sepertimu harusnya disimpan di kebun binatang. Jangan merasa marah karena kamu akan menemukanku juga di sana. Tidak di kandang sepertimu tapi mentertawakanmu.)
Tidak berapa lama kemudian, masuk lagi balasan wa dari Ka’Han:
...“God saw me hungry, He created pizza....
...He saw me thirsty, He created Pepsi....
__ADS_1
...He saw me in dark, He created light....
...He saw me without problems, He created U. (*_*)”...
(terjemahan \= Tuhan melihatku kelaparan dan Dia menciptakan pizza. Dia melihatku kehausan, Dia menciptakan pepsi. Dia melihatku dalam kegelapan, Dia menciptakan cahaya. Dia melihatku tanpa masalah dan Dia menciptakanmu.)
‘Hei, sekarang aku sudah jadi masalahmu ya?’ batinku mulai mengkel walau tetap tidak bisa melepaskan senyuman ini dari pipi. Lalu membalas:
...“When ur life is in d problems of darkness,...
...Pray 2 God ask Him 2 free u from darkness....
...And if after u pray & u r still in darkness,...
...Please pay ur ELECTRICITY BILL..”...
(terjemahan \= ketika kehidupanmu penuh masalah kegelapan, berdoalah pada Tuhan untuk membebaskanmu dari kegelapan itu. Dan jika setelah kamu berdoa tetapi tetap dalam kegelapan, tolonglah bayar tagihan listrik-mu..)
Setelah sekian lama, akhirnya masuk lagi balasan dari Ka’Han:
...“I wrote ur name on sand, it got washed...
...I wrote ur name in air, it was blown away, then.....
...I wrote ur name on my heart n I got heart attack.. ♥”...
(terjemahan \= Aku menuliskan namamu di pasir, namun segera terhapus ombak. Kutuliskan namamu di langit, namun segera tertiup angin. Aku tuliskan namamu di hatiku dan aku mendapatkan serangan jantung.)
‘Rese juga neh Ka’Han..’ batinku dan membalas lagi:
...U should know what u r....
...And once u know what u r,...
...Mental hospital is not so far....
...Udah ah Ka’Han, ngantuk neh,...
...mau jaga serambi 2 jam lagi,...
...jangan ganggu lagi ya!”...
(terjemahan \= Para bintang yang berkelap-kelip, kamu pasti tau apa itu dirimu. Dan ketika kamu sudah memahami dirimu sendiri, RS Jiwa tidak terlalu jauh jaraknya.)
Tidak berapa lama kemudian masuk lagi wa singkat dari Ka’Han:
...“Okey cintaku.. selamat istirahat ya.. I love u..”...
So sweet banged kan? Tapi akhirnya aku pun menutup HP tanpa membalas wa-nya lagi. Mencoba menjalankan petuah orang tua, “Jangan dibalas, biar Tuhan saja yang balas..” ;p
...***...
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat.
__ADS_1
Tidak terasa malam inagurasi yang sebenarnya aku khawatirkan akan segera menjelang. Bagaimana tidak khawatir, nanti aku akan mendampingi Ka’Han dalam acara resmi para senior melepas statusnya sebagai Wasana Praja menjadi Purna Praja (sebutan untuk alumnus Ksatrian ini).
Tentunya dinacara tersebut, kami akan dikelilingi para Wasana Praja seangkatan Ka’Han. Yang laki-laki pastinya akan menggodaku habis-habisan, sementara yang perempuan akan membuat perhitungan denganku, tentunya pake tatapan kejam khas senior ke junior.
Aku mulai merasa mual begitu berjalan keluar dari ruang ganti butik ini. Aura ungu terang penuh kekaguman, yang terpancar murni dari seorang Ka’Han pun, hanya bisa sedikit meredakan gejolak rasa mual ini.
Dan ketika kami telah berada di mobil menuju ke Ksatrian untuk bersama-sama mengikuti gelar malam inagurasi, aku cukup yakin akan segera muntah.
Namun entah bagaimana, aku berhasil menahan isi perut ini tetap berada di tempat yang seharusnya, walau ketika memasuki Ksatrian, hatiku dipenuhi dengan sejuta kecemasan yang amat mencekam.
‘Tidak, ini bukan sekedar kecemasan, ini adalah malapetaka.’ batinku nelangsa.
Sebagai pendamping seorang Ka’Han yang punya banyak penggemar, aku mungkin akan memasuki ruangan Balairung dengan diiringi banyak tatapan iri penuh keingintahuan. Iri karena bagaimana bisa seorang junior bisa menaklukkan seorang Ka’Han dan tentu saja keingintahuan tentang caraku melunakkan hati Ka’Han yang selama ini selalu dingin dan kaku.
Kalau saja tajamnya cara pandang seseorang dapat membunuh, mungkin jasadku akan tercabik-cabik tak berbentuk sebelum sampai ke bangku kami.
“Amat sangat buruk..” gumamku lirih memasuki ruangan Balairung yang telah disulap menjadi ruang dansa megah dikelilingi meja-meja bundar dan kursi yang melingkarinya.
“Apakah kau mengatakan sesuatu sayangku?” tanya Ka’Han sedikit menunduk agar dapat tepat berbisik di telingaku.
“Eh itu, Ka’Han adalah orang yang sangat kejam!” jawabku dengan nada dan tatapan membangkang.
Ka’Han terkekeh dan entah bagaimana aku sebenarnya sudah tahu kalau ia akan terkekeh menanggapi hujatanku, tetapi reaksinya itu tetap membuatku jengkel bukan kepalang.
Ka’Han tadi sempat janji kalau ia akan selalu mendampingi dan tidak akan pernah meninggalkan ku sendiri. Dengan sikap kesatria ia membimbingku untuk duduk di meja kami bersama dengan beberapa orang teman dekatnya. Ia memperkenalkanku sebagai kekasih hatinya dan meminta mereka juga menjagaku kalau-kalau ada yang mencoba menyakitiku, yang mana membuat perasaanku semakin menciut karena dianggap lemah dan tidak bisa membela diriku sendiri.
Namun kemudian pikiran bahwa kejadian ini pun akan berlalu dan mungkin ini kali terakhir aku akan bertemu dengan para senior ini, sedikit aga menenangkan diriku sendiri.
Lalu aku pun mulai bisa menikmati suasana.
Banyak senior yang menebarkan aura pink persahabatan dan biru muda yang menyiratkan kesedihan akan perpisahan yang sudah di depan mata. Mereka akan kembali ke daerah masing-masing dan mungkin sedikit/banyak mulai merindukan pengalaman kebersamaan di Ksatrian ini. Pengalaman yang pastinya indah untuk dikenang namun akan terasa pahit jika harus diulang.
“Apa yang membuatmu tersenyum?” tiba-tiba suara bariton Ka’Han terdengar berbisik namun aga menuntut di telingaku.
“Aku sedang merencanakan hukuman yang pantas buat Ka’Han..” jawabku tak kalah perlahan tanpa merasa perlu menengadah ke arahnya.
Ka’Han pasti menyengir, aku tidak perlu memandanginya untuk mengetahuinya.. terlihat jelas dari auranya yang memancarkan rasa geli kehijauan bersemburat orange muda. Aku kurang suka pada kepekaan diriku sendiri terhadap setiap suasana hati Ka’Han. Terutama sejak aku curiga Ka’Han juga sepertinya dapat merasakan hal yang hampir sama persis terhadapku.
“Setidaknya hukuman itu pasti menghibur..” ujar Ka’Han lagi dengan aura pink-nya.
“Apanya yang menghibur?” tanyaku sambil mencoba menikmati persembahan penampilan dari Band Katulistiwa yang memperdengarkan lagu-lagu kenangan tempoe doeloe.
“Hukuman untuk-ku tentunya..” jawab Ka’Han dengan senyumam jahil dan aura pink berselimut hijau-nya yang menyiratkan rasa geli kesegaran, lalu menambahkan dengan bisikan yang terasa semakin dekat di telingaku: “Kalau kamu mau menghukumku, kamu mungkin akan bersenang-senang saat melakukannya, karena Tuhan tahu aku pun akan bersenang-senang menerima segala hukumanmu.”
Dengan sedikit terkejut dan rasa panas di pipi ini aku akhirnya berkata: “Ka’Han gila ish!”
“Bisa jadi.” jawab Ka’Han mengedikkan bahu dengan sikap tak acuhnya, walau aga bertolak belakang dengan aura penuh cinta dan kesegaran yang masih terpancar dari dirinya, sebelum ia akhirnya kembali bersandar di tempat duduknya tanpa lupa menarik tanganku untuk digenggamnya erat dan menambahkan: “Bagaimanapun, aku telah berhasil mendapatkan hati dan perhatianmu, yang mana cukup memenuhi syarat sebagai hal paling gila yang pernah ku lakukan dan perasaan paling tergila-gila yang pernah aku alami.”
‘Yah malam gila ini memang harus aku lalui. Nikmati saja!’ perintah batinku akhirnya.
Sembari mendesah pasrah, aku tidak lagi menolak genggaman tangannya.
“Benar-benar gadis cantik dan cerdas yang sangat menarik.. Beruntungnya aku ini...” gumam Ka’Han, mungkin ia tanpa sadar memujiku, yang menambah rasa panas di wajahku ini.
__ADS_1
...***...