
...~ IAN ~...
Salah satu alasan Ian dulu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah kedinasan ini adalah adanya praktek kerja lapangan di setiap level pendidikannya, dimana Praja ditugaskan untuk melaksanakan suatu metode belajar sambil bekerja, memberikan peluang kepada peserta praktek lapangan untuk menguji ide dan teknik tertentu yang telah dipelajari secara teori dan mengaplikasikannya pada kehidupan nyata sehari-hari.
Sekolah kedinasan ini, sebagai lembaga pendidikan tinggi kepamong-prajaan dan lembaga pendidikan kedinasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri, mempunyai visi menjadi lembaga pendidikan tinggi kepamong-prajaan yang terpercaya, mengemban tugas pengembangan ilmu, pembentukan perilaku kepamongan dan penyediaan kader pemerintahan yang terampil.
Rekomendasi Terkait Pengabdian Masyarakat bagi Civitas Akademika di sekolah kedinasan ini telah menetapkan praktek lapangan di masing-masing tingkatan, sebagai salah satu prasyarat bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi.
Lebih tepat lagi, ketika tema praktek lapangan tidak dilakukan secara seragam setiap angkatan, namun dilakukan berdasarkan spesifikasi program studi yang dikaitkan dengan isu-isu terkini, yang juga disesuaikan dengan kebutuhan pemerintah daerah dimana lokasi praktek lapangan diselenggarakan.
Pendekatan-pendekatan yang dilakukan meliputi:
1. Empirical Rasional Strategy, yaitu pendekatan yang beranjak pada pengalaman/kondisi obyektif secara rasional yang dapat diterima oleh berbagai pihak, termasuk Praja sebagai pelaku utama dan unsur pemerintah setempat yang pekerjaannya terbantukan dengan kehadiran tenaga tambahan dari Praja.
2. Normative Reeducatif Strategy, yang berarti bahwa dalam pelaksanaan praktek lapangan setiap Praja perlu memperhatikan norma-norma, baik norma agama, norma hukum maupun norma-norma sosial yang lain yang berlaku dalam masyarakat. Karenanya, Praja akan tinggal di rumah penduduk selama melaksanakan praktek lapangan, agar dapat merasakan kehidupan warga secara langsung.
3. Partisipatif, yaitu pendekatan yang didasarkan pada asumsi bahwa untuk memahami pengalaman orang lain atau memperoleh masukan, Praja perlu langsung melibatkan diri dalam kegiatan yang dilakukan oleh warga/masyarakat lain, termasuk kegiatan kemasyarakatan dan lain sebagainya.
Institusionalistis, yaitu pendekatan yang memperhitungkan adanya keterkaitan dengan lembaga-lembaga/organisasi yang ada di lingkungan tempat Praja ditempatkan selama mengikuti praktek lapangan.
__ADS_1
Pada sekolah kedinasan ini, praktek lapangan diselenggarakan setiap tahun, yaitu pada semester II untuk Muda Praja, pada semester IV untuk Madya Praja, pada semester VI untuk Nidya Praja dan pada semester VII untuk Wasana Praja, dengan rincian sebagai berikut:
- Praktek Lapangan I bagi Muda Praja (Tingkat 1) dilaksanakan pada akhir semester II, bertujuan untuk mengenal, mempelajari dan membantu kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dengan sasaran pemerintahan Kelurahan, atau lebih dikenal sebagai PPL \= Praktek Pengenalan Lapangan.
- Praktek Lapangan II bagi Madya Praja (Tingkat 2) dilaksanakan pada akhir semester IV, bertujuan untuk mengenal, mempelajari dan membantu kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dengan sasaran pemerintahan Kecamatan, atau lebih dikenal sebagai PKL \= Praktek Kerja Lapangan.
- Praktek Lapangan III bagi Nindya Praja (Tingkat 3) dilaksanakan pada akhir semester VI. Paktek Lapangan III bertujuan mengenal penyelenggaraan pemerintahan secara komprehensif dengan sasaran Kabupaten/Kota, atau lebih dikenal sebagai Desa LUK \= Desa sebagai Laboratorium Unit Kerja.
- Praktek BKP/Bhakti Karya Praja bagi Wasana Praja (Tingkat 4) dilaksanakan pada akhir semester VII. Praktek bertujuan melatih, melakukan pengabdian intelektual kepada masyarakat dengan sasaran peserta praktek lapangan mampu melakukan kegiatan pengabdian serta memiliki tanggung jawab intelektual kepada masyarakat.
Pelaksanaan praktek lapangan ini selalu didampingi oleh Pengasuh sesuai dengan tupoksi seorang Pengasuh, yaitu mendampingi selama 24 jam dan pra Dosen juga dilibatkan sebagai pembimbing, yang datang ke lapangan secara berkala untuk membantu dan memfasilitasi memecahkan isu-isu aktual yang terjadi di lapangan saat praktek lapangan berlangsung. Dengan model ini dosen dapat melakukan pengabdian masyarakat sekaligus dapat melakukan penelitian terkait permasalahan yang aktuan dan mencari pemecahan masalah, yang dilakukan di lapangan sehingga tugas dosen dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi dapat lebih merata dan lebih efisien serta efektif.
Ian merasa, pendidikan yang hanya mengandalkan pemahaman akan teori apalagi hanya mengandalkan hapalan dan ujian tertulis sebagai ukuran penilaiannya, hanya akan membentuk pelajar dan pekerja yang pintar teori tanpa tau bagaimana mengaplikasikan ilmu pengetahuannya secara nyata.
...***...
Kami ditempatkan menyebar di 16 Kecamatan yang terdapat di seluruh wilayah Kabupaten Jepara. Hari ini adalah hari Jumat, sengaja dipilih untuk memberikan kami kesempatan mengenal warga dan lingkungan tempat kami tinggal selama 2hari (yaitu hari Sabtu dan Minggu) sebelum akhirnya kami terjun ke bidang pemerintahan pada hari Senin pagi.
Setelah upacara penerimaan oleh jajaran pemerintah Kabupaten Jepara yang berlokasi di halaman Kantor Bupati Jepara, di Jl. R. A. Kartini No. 1, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kami dikelompokkan berdasarkan kelas dan penempatan masing-masing. Kelasku dan Ute ditempatkan Kecamatan Tahunan, nanti akan dibagi-bagi lagi ke kelurahan/desa yang ada di Kecamatan tersebut. Kelas kami ditempatkan di Desa Mantingan, salah satu desa yang sudah cukup ramai penduduk-nya di Kecamatan Tahunan ini.
Rombongan kami diterima lagi oleh jajaran pemerintah Kecamatan Tahunan, bersama dengan para Lurah/kepala Desa beserta para perwakilan perangkat kelurahan/desa se-kecamatan Tahunan. Kantor Kecamatan terletak di Jl. Sukarno Hatta, Jepara-Kudus, Tahunan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Tugas yang akan kami lakukan nantinya adalah membenahi sistem pemerintahan desa yang ada, mengarahkan untuk lebih memanfaatkan kemajuan teknologi dan digilitasi administrasi desa juga beberapa perbaikan sarana dan prasarana desa agar dapat lebih memberikan manfaat yang besar kepada warga desa yang ada.
__ADS_1
Setelah secara resmi diterima oleh Petinggi Mantingan, kami diarahkan untuk langsung ke rumah warga, yang selama sebulan ke depannya akan menjadi tempat tinggal kami. Rumah tempat Ute dan aku tinggal tidak bergitu jauh jaraknya. Setiap harinya kami akan berkantor di kantor Petinggi Desa setempat dan untuk pergi ke sana, aku harus melewati rumah tempat Ute dan seorang teman perempuan lainnya tinggal. Jadi kami rencananya akan pergi dan pulang bersama selama menjalani PPL ini.
Ada sesuatu yang unik dari beberapa lukisan Ratu Kalinyamat yang dipajang dibeberapa titik Kabupaten Jepara, terutama di kantor-kantor pemerintahan. Mungkin karena pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang juga melayani kegiatan eksport-import barang. Disamping itu juga, pelabuhan ini juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis sejak masa Kerajaan Demak. Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh seorang Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur, maka penetapan Hari jadi Jepara diambil dari waktu dia dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549. Hal ini telah ditandai dengan pencanangan Candra Sengkala Trus Karya Tataning Bumi atau terus bekerja keras membangun daerah, sebagai sembohyan Jepara secara umum. Sehingga pada akhirnya, sosoknya dianggap inspiratif dan perlu diabadikan dalam bentuk lukisan dan dipajang sebagai pengingat.
Wajah dan tatapan mata sosok yang dilukis itu, walau tidak persis sama dengan sosok Ute, tapi entah bagaimana mengingatkan Ian dengan cara Ute memandang orang lain. Penuh dengan intensitas dan penyelidikan, seakan mempertanyakan segala sesuatu yang dipikirkan lawan berbicaranya. Walau seringkali Ute juga mengesankan sikap tidak fokus dan bahkan sesekali terlihat menganggap enteng sekelilingnya, namun Ian mengetahui dengan pasti bagaimana Ute menganalisa segala sesuatu dengan cermat dan mengutarakan pendapatnya pada waktu yang selalu tepat dengan argumen penuh kecerdasan yang tentu saja seringkali tidak terbantahkan.
Dan ternyata Ian tidak sendirian berpendapat bahwa profil Ute mirip dengan sosok sang Ratu. Banyak warga desa yang juga berpikiran bahwa penampilan Ute, yang tinggi tubuhnya di atas rata-rata perempuan pada umumnya, dengan kulit putih dan wajah yang aga blasteran, dengan hidung bangir-nya, serta caranya memandang segala sesuatu, seakan-akan adalah penjelmaan sang Ratu. Dan tanpa ragu ataupun sungkan, mereka pasti akan menyempatkan diri untuk memandang kagum pada Ute ketika sosoknya masuk dalam jarak pandang mereka, bahkan tidak jarang ada yang sampai membungkuk dan menundukkan kepala menghormat ketika mereka berpapasan dengan Ute. Namun seperti biasa, sosok Ute tetap cuek, bahkan terkesan seperti tidak merasa sedang diperhatikan atau mungkin juga ia tidak peduli, walau sesekali juga tersenyum membalas penghormatan mereka.
“Ute, apakah kamu keturunan Ratu Kalinyamat atau mungkin ada keluargamu yang berasal dari Jepara ini?” tanyaku sore itu tanpa basa-basi, sambil menikmati sepiring gorengan dan pemandangan hijau yang cerah di pendopo depan rumah penduduk tempat Ute tinggal. Hari ini adalah hari Sabtu pagi, hari kedua kami tiba di Jepara nan asri ini.
“Entahlah, setau gue Bokap itu memang orang Jawa sementara Nyokap gue dari Toraja. Tapi Eyang dari pihak keluarga Bokap itu sudah tinggal di Kalimantan dari kecil-nya. Ga tau juga kalau punya leluhur dari Jepara ini. Eyang putri, mamanya Bokap, memang aga nyentrik seh orangnya dan punya hobby atau kesenangan yang unik. Aga berbeda dengan teman-teman seumurannya yang suka ngelukis atau ngoleksi lukisan, Yangti malah suka mengukir kayu dan rumahnya penuh dengan patung-patung hasil ukiran pengerajin ternama.” jawab Ute dengan pandangan menerawang, seakan sedang mengingat sosok neneknya.
Tak bisa menahan diri untuk membuka kisah Ratu Kalinyamat di HP dan menunjukkan beberapa foto sang Ratu kepada Ute, aku kembali berujar: “Hm.. aga menarik tuh buat ditelusurin riwayat keluarga-mu ‘Te. Kali aja ternyata loe adalah salah satu keturunan sang Ratu.. Berasa ga seh loe tuh aga-aga mirip sama penampakan beliau?” tanyaku lagi sambil kembali berselancar di dunia google dan mengambil sepotong pisang goreng yang masih hangat dari piring saji dan memasukkannya ke dalam mulut dengan sekali suapan.
“Masa seh Ian? Tapi memang ya, jujur aja gue aga merasa dejavu gitu sama suasana kehidupan di Jepara ini, awalnya gue kira karena berasa familiar sama patung-patung di rumah Yangti, tapi setelah gue telaah lebih dalem, sepertinya ada alasan lain deh..” wajah cantik Ute kembali menerawang dengan raut yang tampak berpikir keras.
“Ya udah, nanti tanya ke Bokap dan Yangti loe aja ‘Te, ga usah serius banged begitu. Kalau mau besok kita jalan-jalan ke Makam sang Ratu yuks. Menurut catatan sejarah yang sempat gue baca neh, sosok Ratu Kalinyamat ini wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di Desa Mantingan sini, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadirin.” kataku akhirnya sambil menutup browsingan di HP.
“Okey, jam berapa kita jalan?” tanya Ute antusias.
__ADS_1
“Aga pagian aja ya, sambil olah raga pagi deh.” jawabku sambil beranjak pulang mengingat suasana alam ternyata telah menggelap.
...***...