
...~ PRAS ~...
“Ibu benar-benar kepingin ketemu titisan Nimas Ratu Kalinyamat loh Tole.. Ini bukan kejadian biasa yang sering terjadi kan, mumpung beliau masih praktek kerja di desa sebelah, kita sempetin mampir yuk ‘le..” untuk kesekian kalinya ibuku, yang baru saja pulih dari sakit-nya, kembali membujukku untuk menemani-nya bertemu keturunan Ratu Agung yang selalu dipuja karena dianggap sebagai pemimpin panutan, penyelamat dan pahlawan rakyat Jepara.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara memang berkembang sangat pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani eksport import. Disamping itu juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis sejak masa Kerajaan Demak.
Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi, karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar Niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menyebut sang Ratu sebagai Rainha de Jepara Senora de Rica, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa, tegas dan kaya raya.
Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hampir 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.
Namun semangat Patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang pada abad 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di Dunia.
Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di Malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal di antaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai Quilimo.
Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis pada abad 16 itu.
Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang disebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.
"Ojo dadi kacang kang lali karo kulite nduk." ujar ibuku lagi sambil terus memperhatikan tanganku yang masih sibuk membuat ukiran wajah seorang Ute, walau sekilas juga terlihat seperti wajah Dina minus lesung pipi. (terjemahan: Janganlah jadi orang yang melupakan pengorbanan dan bantuan orang lain)
Sejak awal tiba di rumah ini, tepatnya 15 jam yang lalu (aku minta izin dari Ksatrian karena mendapat kabar kalau kedua orang tua-ku sakit dan diberikan izin 5 hari karena letak desa yang jauh dan aku hanya mampu menggunakan transportasi darat untuk pulang), ibuku sudah merecokiku dengan keinginannya ini. Ibu baru saja sedikit pulih dari flu berat yang dideritanya dan yang sekarang masih menjangkiti Ayahku, yang terbaring lemah di pendopo biliknya.
“Ibu, bukannya saya tidak mau mengantar ibu ke desa Mantingan, tapi siapa yang akan menjaga Rama (Ayah) yang masih sakit itu kalau kita pergi?” jawabku ragu.
“Rama seh bisa saya yang jaga mas, tapi keinginan Ibu untuk bisa ketemu keturunan Nimas Ratu Kalinyamat ya cuma mas Pras yang bisa anterin kan? Apalagi katanya itu masih termasuk adik kelas mas Pras di sekolah kedinasan itu..” adik perempuan yang persis di bawah aku mendekat sambil membawa minuman hangat untuk ibu dan aku.
“Wah cantik sekali perempuan yang sosok-nya sedang mas Pras ukir itu.. Mas Pras sudah punya pacar ya?” tanyanya lagi, mengikuti arah pandangan ibu menatap lekat hasil ukiranku.
“Lah kita kan ga mungkin berkunjung dengan tangan kosong to Bu? Ini nanti bisa sekalian kita kasih bersama buah-buahan sebagai persembahan kita nanti.” jawabku sesaat kemudian dan tentu saja merekahkan senyum bahagia di wajah ibuku.
“Hi Ian, ini k’Pras.. boleh share-loc tempat kalian PPL?” japriku ke Ian setelah mendapat persetujuan untuk meminjam kendaraan (mobil kolt) seorang tetangga.
“Siap K’Pras.. ini alamatnya ya.. ditunggu kehadirannya.. saya infokan ke Ute juga neh..” balas Ian tidak beberapa lama kemudian.
“Ian, kalau tidak salah dengar, ada berita tentang salah satu praja yang merupakan titisan atau mungkin keturunan langsung dari Nimas Ratu Kalinyamat. Apakah kamu kebetulan tau siapa Muda Praja itu?” tanyaku lagi.
“K’Pras juga kenal baik kog sama dia..” jawab Ian misterius.
“Oh, apakah Ute ya?” tanyaku lagi mencoba menebak saja.
__ADS_1
“Wah K’Pras hebat. Bisa benar di tebakan pertama.” jawabnya lagi tanpa lupa menyertakan emotikon jempol.
“Oh jadi benar Ute ya? Bagaimana itu ceritanya bisa begitu?” tanyaku lagi, mencoba mengorek keterangan awal sebelum nantinya akan berbincang langsung dengan Ute.
“Ach, ga seru kalau dibahas via wa Kak, nanti saja kalau K’Pras sudah di sini baru kita bahas. Pasti seru neh ngecengen Ute.. jarang-jarang kan kita punya bahan buat bikin pipinya merona karena malu dan kesal.. wkwkwkwk..” balas Ian lagi jahil.
“Baiklah, sampai ketemu ya Ian. Kalau lihat dari gmap, hanya butuh sekitar setengah jam waktu untuk sampai ke tempat kalian. Kamu masih di kantor desa ya? Sekalian Kakak anter nanti kalian pulang ya?” jawabku akhirnya via wa, sambil mendekati ibu yang masih sibuk memilih dan merapikan panganan yang akan kami bawa untuk diserahkan ke titisan Nimas Ratu Kalinyamat, yang ternyata adalah adik asuhku di Ksatrian.
“Ibu, nanti kita mampir ke kantor desa dulu ya, yang akan ibu temui itu masih bekerja jam segini di kantor desa. Nanti kita sama-sama pulang ke rumah dia tinggal sementara ya..” ujarku membantu memasukkan beberapa buah ke keranjang, namun tanganku ditepis ibu perlahan, mungkin dianggap merusak tatanan yang sudah diaturnya.
"Urip kang utama, mateni kang sempurna." jawab ibuku perlahan. (terjemahan: Selama hidup kita melakukan perbuatan baik maka kita akan menemukan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya)
“Enggeh bu, kita berangkat setengah jam lagi ya..” kataku lagi, tidak bisa berdebat dengan kata-kata bijak ibuku.
...***...
“Selamat sore Kak..” sapa beberapa orang Praja yang ada di luar kantor desa sambil berdiri dan memberikan PPM, ketika aku keluar dari mobil setelah memarkirkannya di sebelah tiang bendera yang tampak baru dibuat dengan cat yang bersih dan tiang yang mengkilap. Ibu memang aku minta untuk tetap tinggal di mobil, karena tampak ribet dengan barang bawaannya yang tidak boleh diletakkan di bak belakang mobil.
“Selamat sore adik-adik, rajin sekali kalian ya? Jam segini belum pada balik kanan?” ujarku mengomentari keberadaan mereka yang bergerombol. “Eh Ian dan Ute ada dimana? Kog ga kelihatan?” tanyaku lagi.
“Siap Kak, tadi seh sudah siap-siap mau pulang bareng kami, rencananya akan bareng K’Pras juga kan? Tapi baru saja dipanggil Bapak Kades mereka berdua itu, mungkin sebentar lagi akan keluar.” jawab seorang Praja Perempuan yang tampak malu-malu.
“Siap Kak, kami hanya melakukan yang kami bisa dan sebagian besar seh berkat kiriman bantuan dari keluarganya Ian dan Ute Kak, makanya bisa optimal kerja kami, semoga bisa bermanfaat buat warga desa terutama bagi aparat pemerintahannya.” jawab seorang Praja Laki-laki yang berdiri dekat pintu masuk kantor desa.
Kami pun melanjutkan percakapan tentang apa saja yang sudah mereka lakukan dan perubahan apa yang sudah terbangun semenjak mereka tiba di lokasi PPL mereka ini. Sayangnya desa tempat tinggal orang tuaku bukanlah salah satu desa yang menjadi lokasi PPL kali ini. Andaikan mereka ini bertugas di desaku, mungkin kantor desa kami juga akan sebagus kantor desa ini, pikiranku berkhayal.
“Selamat sore K’Pras..” sapa Ian dan diikuti oleh Ute beberapa saat kemudian.
“Hi Ian.. Holla Ute, atau saya harus menghanturkan sembah sujud kepada Gusti Raden Ajeng Ute, titisan Nimas Ratu Kalinyamat yang termulia?” tanyaku penuh senyum menggoda yang tentu saja disambut dengan gelak tawa teman-temannya.
“Please deh K’Pras.. sudah sampai mana seh itu beritanya?” tanya Ute dengan pipi memerah antara kesel atau malu.
“Kakak cuma mau mengingatkan ya ‘te, salah satu fans fanatik kamu itu ibu saya yang sekarang sedang duduk penuh harap dan cemas, menantikan bisa berjumpa dengan keturunan Nimas Ratu Kalinyamat. Sangking semangatnya mau ketemu kamu, beliau ga bisa tidur semalem, trus cemas karena khawatir persembahannya nanti ga akan memuaskan hati kamu.. seheboh itulah berita tentang kamu ‘te..” kataku lagi membuat semburat pipi itu semakin memerah.
“Que sera sera..” akhirnya Ute menjawab dan berjalan ke arah mobil bak terbuka yang terparkir di halaman kantor. (terjemahan: Apa yang akan terjadi biarlah terjadi)
“Selamat sore Ibu, saya Ute, ibu tidak perlu keluar dari mobil, saya hanya memberi salam dan memperkenalkan diri kog. Kita nanti ngobrol di rumah saja ya..” ujar Ute menyapa ibuku yang masih tercengang dan terduduk kaget di kursi depan. Lalu Ute dan teman-temannya yang lain dengan lincah naik ke bak belakang mobil dan mencari posisi duduk yang nyaman masing-masing.
“Selamat sore Ibu, saya Ian, temannya Ute dan adiknya Ka’Pras.. salam kenal ya bu.” Ian juga sempat menyetorkan wajahnya kepada Ibuku sebelum meloncat naik ke sebelah Ute.
__ADS_1
Ketika aku masuk dan mulai menstarter mobil, ibu bertanya dengan perlahan, mungkin takut terdengar subyek yang dipertanyakannya: “Apa Ute itu tadi yang dibilang keturunan Nimas Ratu Kalinyamat? Cantik sekali ya ‘le, sekilas malah seperti bule ibu lihat..”
“Bu lek siapa bu yang mirip Ute?” tanyaku menggoda. (Bu Lek sama artinya dengan tante dalam slang bahasa jawa)
“Inget Tole, Manungsa mung ngunduh wohing pakarti." jawab Ibu aga mengkel dengan leluconku. (terjemahan: Kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri)
Aku hanya bisa nyengir menanggapinya.
...***...
Setelah kami sampai, ibu menyerahkan buah tangannya dengan sikap takjim dan kekaguman tercetak jelas di wajahnya. Lalu beberapa lama kemudian, ibu sudah asik bercengkrama dalam bahasa Jawa dengan ibu pemilik rumah di bagian belakang rumah dan kami bertiga (aku, Ian dan Ute) pun akhirnya bisa berbincang dengan lebih bebas.
“Jadi bagaimana kondisi kalian? Sudah betah ya tinggal di sini?” tanyaku berbasa-basi untuk membuka percakapan.
“Ka’Pras, sekarang ini kita cuma bertiga loh, masih berbasa-basi aja Kak!” sergah Ute cepat.
“Ish, galak memang titisan sang Rainha de Jepara Senora de Rica ini..” jawabku tersenyum dan menambahkan: “ (terjemahan: Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa, tegas dan kaya raya)
“Ga galak seh sebenarnya Kak, cuma ga suka buang-buang waktu membicarakan yang ga perlu aja dia..” koreksi Ian sambil mencomot gorengan kesukaannya.
“Iyah, Kakak paham deh karakter adik asuh yang ternyata lebih dikenal sebagai keturunan Nimas Ratu Kalinyamat sekarang ini. Jadi begini Ute dan Ian, seperti yang kalian ketahui, desa tempat tinggal orang tua Kakak itu tidak ada Praja yang PPL di situ, padahal sangat membutuhkan sentuhan perbaikan dari kalian. Apakah ada yang bisa kalian bantu?” tanyaku kemudian dengan lebih serius sambil menyerahkan hasil ukiran wajah Ute yang kini telah berbentuk gantungan kunci ke telapak tangan Ute.
“Menurut Kakak, bagaimana kami dapat membantu kalau kami tidak mengetahui kondisi di sana?” tanya Ian tidak kalah seriusnya sambil melirik ukiran di tangan Ute.
“Kalau menurut Kakak, tentu saja ada banyak hal yang perlu diperbaiki. Namun yang paling urgen saat ini adalah terkait koperasi yang sedang Kakak rintis pembangunannya. Ini sebenarnya juga bahan Laporan Akhir Ka’Han, namun masih mentah dan baru berupa hitam di atas putih saja. Terkait lokasi, Kakak sudah punya tempat, dulunya adalah lumbung desa, namun terbengkalai karena tiudak ada lagi warga yang menyetorkan kelebihan hasil panennya, karena untuk mencukupi kebutuhan masing-masing saja mereka relatif kekurangan. Kakak kirim ke kalian ya file ranangan Ka’Han dan beberapa dokumentasi lokasi.” ujarku lagi dengan lebih perlahan.
Setelah menerima dan membuka file yang ku kirimkan, Ute dan Ian tampak serius berpikir dan mempertimbangkan saran/usulan yang akan diutarakan. Banyak hal yang ingin diusulkan sebenarnya, seperti pengadaan beberapa hal sebagai pendukung berdirinya koperasi, tapi sebagai junior mereka aga khawatir menyampaikan usulan yang mungkin dapat menyinggung ego seorang senior. Namun setelah bertukar pikiran lewat pandangan, akhirnya Ute berujar: “Kalau kita bikin perusahaan saja bagaimana Kak? Jadi bukan koperasi, tapi benar-benar usaha pengembangan hasil kerajinan lokal ukiran kayu khas Jepara, tentu saja dengan profit oriented. Kita bisa rekrut warga lokal yang mumpuni soal kerajinan, kita beli hasil kerajinan warga, kita poles sesuai keinginan pasar dan kita pasarkan.”
Mungkin karena aku sempat terdiam sesaat mencerna ide Ute tersebut, akhirnya Ian menambahkan: “Maksud Ute Kak, kalau membuat koperasi itu kan relatif lambat perkembangannya, karena memang prinsip dasar koperasi adalah bertumbuh bersama para anggotanya. Butuh waktu untuk merekrut anggota, lalu melatih pengerajin dan tenaga pemasarannya. Modal yang dibutuhkan memang tidak sebanyak membangun perusahaan, namun keuntungan yang akan dihasilkan juga tidak banyak dan pada akhirnya akan mengecewakan anggota-anggotanya juga. Itulah mengapa banyak koperasi yang mangkrak, selain karena tidak kuat modal, juga kerena kurangnya komitmen anggota-anggotanya. Sama seperti nasib lumbung desa Kakak itu yang akhirnya terbengkalai.”
“Iya Kak, kita bikin perusahaan dengan sistem pembagian saham, siapapun bisa memiliki saham perusahaan tersebut. Desa Ka’Pras (melalui perangkat desa yang dipercaya dan ditunjuk atau diwakilkan oleh Ka’Pras juga boleh) bisa memegang sepertiga jumlah total saham, karena tempat yang akan kita jadikan kantor adalah bangunan lumbung desa tersebut. Nanti perlahan-lahan kita bisa rekrut lebih banyak pegawai dan pengerajin untuk jadi bagian perusahaan, yang pada akhirnya kita tidak lagi perlu membeli hasil kerajinan lokal tapi mempekerjakan mereka secara langsung, membuat semacam pabrik produksi ukiran khas Jepara.” tambah Ute dengan penuh semangat.
Ian dan Ute tampak berbincang kembali lewat tatapan mata dan Ute kembali berujar: “Kalau Ka’Pras setuju, saya akan segera berkonsultasi dengan tim legal mama saya dan merancangkan dokumen kerja sama dan pembentukan perusahaan. Nanti akan dikonsultasikan juga dengan tim legal dari papa Ian. Saya dan Ian akan menjadi pemegang saham yang sepertiga-sepertiga bagian lagi. Kalau dokumen kerja sama sudah disepakati bersama, bisa langsung dimulai dan semoga sebelum kita Cuti Kenaikan Tingkat nanti sudah siap beroperasi.”
Akhirnya, aku berkata: “"Natas, nitis, netes.. Kalau itu yang terbaik menurut kalian, Kakak akan mendukung dan mari kita mulai perusahaan ini!” (terjemahan: Dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan kita hidup, dan bersatu dengan Tuhan kita kembali)
...***...
__ADS_1