HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 17 Putus (Perspektif Han, Ian & Dina)


__ADS_3

...~ HAN ~...


“Panen lagi bagus neh bang, bahagia kali ku tengok Among dan Inong kita ini.. berhasilnya bang ku kompori mereka, supaya kami weekend ini ke tempat abang. Sejak pengukuhan muda 3 tahun yang lalu, belum sempat kami kan ke Jatinangor lagi. Ku ingat pun dulu pas kami dateng itu kan abang masih yang paling kucel, abang bilang supaya ga jadi perhatian, tapi sekarang sudah mau lulus, pastinya udah yang paling keren kan abangku sekarang di sekolahan ituh..” cerocos adik kesayangan semata-wayang ku itu di telphone sore itu. (Among dan Inong \= panggilan kepada Ayah dan Ibu dalam bahasa Batak. Sudah aga jarang digunakan memang sekarang-sekarang ini, namun orang tua kami membiasakan kami memanggil mereka demikian sejak kecil, karena menurut mereka, kalau bukan orang Batak sendiri yang melestarikan kebiasaan baik ini, siapa lagi, mereka sangat tidak mau bahasa Batak hilang dari peradaban.)


Sayup-sayup aku mendengar lagu Poda Nauli oleh Elexis Trio (ciptaan Sakkan Sihombing) mengalun (yang pasti kerjaan adikku itu untuk menciptakan suasana yang mendukung untuk membujuk orang tuaku)..


...Hamu amang anakkonhu, Sinuan tunas,...


...Tampukni pusu-pusunghi...


...Bege jo amang hatanghon, Huhut pahusor-husor di roham, Hata nauli situtu...


...Naeng si memehononhu tu ho amang,...


...Si podahonokku asa adong Bohalmu...


...anak hasianhu...


...(Terjemahan: Wahai Kalian anak-anakku,...


...Tunas penerus, Jantung hatiku.....


...Dengarkan perkataanku, dan pertimbangkan di hatimu, Kata-kata bijak...


...Yang akan kuajarkan ditunjukan kepada mu,...


...Yang akan kunasehatkan, agar ada bekalmu anakku sayang)...


...Burjuhon ma anakhonhu, o tondikku, Na marsingkola i amang...


...Asa juppangmu da amang, Angka na pinarsinta-sintami...


...Ai so adong si lehononhu,...


...Hauma manang panjaeanmu...


...Holan marsingkola na boi,...


...Tarbahen au di ho anakhonhu...


...(Baiklah engkau anakku, oh jiwaku, seriuslah bersekolah kiranya engkau anakku...


...Agar tercapai cita-cita maupun wahai anakku...


...Sebab tak ada yang bisa kuberikan,...


...Baik tanah warisan...


...Hanya menyekolahkanmu yang bisa kulakukan)...


...Di lakukan Amang si ingotonmu,...


...Poda nauli sian au amangmon...


...Pangarokkom na pinangkemi Amang,...


...Tudos ma i holi-holingki...


...Hodokhu na di balian i,...


...Tudos ma i tintani pangarokkomi...


...Harotas na sinuratmi Amang,...


...Tudos mai huling-hulinghu, Anak hasianhu.....


...(Ingatlah ini anakku,...


...Nasehat bijak dari ayahmu ini.....


...Pena yang kau pakai anakku itu...


...seperti tulang-tulangku...


...Keringat yang bercucuran di ladang itu,...


...seperti tinta penamu...


...Kertas yang kau tulis itu seperti kulit tubuhku, wahai anakku kesayanganku..)...


...***...


“Aish sudah lah boru, kasih kesempatan Amangmu ini bicara. Macam kau saja yang rindu kali sama abangmu itu..” Omelan ayahku terdengar kemudian, lalu ditambahkan (mungkin sambil berebut gagang telphone rumah itu dari tangan Hanna: "Halak na burju marnatua-tua dapotan pasu-pasu sian Debat." (Terjemahan: Orang yang baik kepada orang tua, akan diberkati Tuhan.)


“Horas Handoko, bagaimana kabarmu nak? Ga ada masalah kan kalau kami datang hari Sabtu nanti ke Jatinangor?” tanyanya kemudian. Jelas, padat dan langsung ke pokok pembahasan, khas bapak-bapak Batak pada umumnya ketika berbicara sama anak laki-lakinya.


“Baik Among, nanti ku booking pun penginapan di Wisma Khatulistiwa buat kalian. Tapi maaf sepertinya ga bisa aku jemput ke bandara ya, agenda hari Jumat nanti aga padat.” Jawabku kemudian, mengingat bahwa kedatangan mereka yang lalu tidak bisa menginap di Wisma Khatulistiwa (penginapan yang ada di dalam kawasan ksatrian, diperuntukkan khusus untuk tamu lembaga dan orang tua praja yang datang dari jauh dan perlu menginap) karena sudah penuh.


“Jangan booking dari hari Jumat, rugi nanti kita.. kami masih around-around di Jakarta dulu hari jumat nanti sama keluarga Amangboru-mu, Sabtu pagi baru ke Jatinangor kami, biar Minggunya bisa gereja bareng kita di gereja sekolahmu itu.” Kata Amang lagi.


“Okey baik Among.” Jawabku singkat.


Lalu terdengar suara Inong meminta berbicara juga dan Among pun memberi peringatan agar Inong ngobrol santai saja, jangan sampai menangis yang pada akhirnya akan mengganggu kesehatannya sendiri. Beberapa saat kemudian akhirnya kembali terdengar suaranya berkata dengan isak yang tertahan: “Sonang do roham Anak hasianhu?” (Terjemahan: Apa kamu bahagia?)

__ADS_1


“Ea Inong..” jawabku perlahan. (Terjemahan: Iya ibu)


Kami pun berbincang lama, namun yang paling ku ingat adalah petuahnya: "Arta na sinari doi, rupa pe satongkin doi. Anakhonhi do hamoraon di au. Bahenma dirimu songon laut naluas, manang songon dia pe masalah naroh tungolumu, jalo ma dohot roha naserep dohot iman na gogo. Dai ma sude akka na masa da Anak hasianhu." (Terjemahan: Harta dapat dicari, rupa juga hanya sementara. Anakku adalah kekayaan bagiku. Ketika menghadapi masalah apapun dalam kehidupan ini maka terimalah dengan hati yang sabar dan iman yang kuat. Jadi nikmati setiap momennya ya anak kesayanganku..)


Susah untuk menahan senyum bahagia bercampur haru setiap kali bertukar-kabar dengan keluarga inti ini. Hanya ada Among, Inong dan Hanna, adik kecil ku satu-satunya yang sangat kami manjakan. Sedari kecil, lekat dalam ingatan ini, bagaimana keluarga kecil kami memang sangat erat dan tidak terpisahkan, setiap pagi kami selalu menyempatkan diri untuk bersaat teduh bersama.


Makanya ketika aku terpaksa bersekolah di ksatrian ini, hampir setiap minggu (tidak bisa setiap hari juga karena agenda kegiatan yang lumayan padat dan kalau sudah ngobrol, rasanya 1 jam tidak akan cukup waktunya) aku sempatkan untuk ber-video-call demi untuk sedikit menghibur orang tua (terutama Inong) yang masih saja terharu dengan segudang petuah-nya (local wisdom \= kebijaksanaan lokal) ketika sempat ngobrol.


Sedikit-banyak, kepribadian Hanna aga mirip dengan Dina, kekasih-hatiku, mereka berdua sama-sama cuek dan tidak terlalu terpengaruh dengan situasi dan kondisi sekitar, dapat tetap tenang menghadapi apapun yang ada di hadapannya. ‘Mereka pasti akan cocok kalau hang-out bareng’ batinku lirih, merasa sedikit tidak sabar memperkenalkan Dina kepada mereka.


...***...



Weekend yang ku tunggu pun akhirnya datang. Pagi ini keluargaku akan datang berkunjung ke Jatinangor dan kini aku menunggu kehadiran mereka di depan Wisma Khatulistiwa bersama Dina, setelah mengambil kunci, mengecek kondisi dan kelengkapan pada kamar yang akan mereka pergunakan nanti. Kami duduk berhadapan di lobby depan dalam diam. Dina dengan buku bacaan yang tidak pernah lepas dari genggamannya dan aku dengan HP-ku. Sesekali tatapan kami bertaut dan aku tidak pernah bosan dengan semburat merah muda di pipinya yang sesekali berhiaskan lesung pipi itu.


Sudah sejak kemaren aku sampaikan rencana keluargaku untuk berkunjung, Dina seperti biasa menanggapi dengan tenang, dalam diam dan tampak tidak terlalu bersemangat ataupun tidak juga khawatir, justru aku yang aga sedikit khawatir terhadap penerimaan Dina terhadap keluargaku yang mungkin aga blak-blakan dan apa adanya.


Ketika mobil hitam itu memasuki halaman Wisma Khatulistiwa, kami sama-sama berdiri dan aku menghampiri mobil, menyambut mereka, sementara Dina tetap berdiri diam di dekat pintu masuk Wisma.


“Horas.. horas..” kata Among sesaat setelah membuka pintu mobil dan langsung menjabat tanganku hangat. Lalu aku pun ditarik ke pelukan Inong yang walaupun bertubuh agak mungil, namun punya kekuatan yang besar, erat memeluk pinggang kananku, tak melepaskannya walau Hanna, adik kecilku yang kini telah menjadi gadis muda belia juga memeluk pinggang kiriku.


“Ise i?” tanya Among menolehkan pandangannya ke arah Dina yang sedang tersenyum manis, sambil melipat kedua telapak tangannya (tampak sebuah buku tersembul disitu) berdiri di depan pintu Wisma. Sosoknya tampak menunggu kami mendekat dengan sabar. (Terjemahan: siapa itu?)


“Hallet”¹ jawabku singkat tak bisa menahan senyum sumringah, ketika Hanna dengan nakal berkata: “Cie..cie.. yang na marhallet i..”² (Terjemahan: ¹pacar, ²cie yang udah punya pacar)


"Jolo nidilat bibir, asa nidok hata!" Lugas Among menanggapi berpantun Batak, mungkin menegur aku yang terlalu frontal menjawab atau Hanna yang mengejek abangnya ini, (Terjemahan: Jilat bibir/dipikir lebih dulu, sebelum berbicara)


“Among, Inong dan Hanna, perkenalkan ini Dina, Ibana do haholonganku na parjolo. Dina, ini Ayah, Ibu dan Adikku, Hanna.” Kataku memperkenalkan mereka ketika kami sudah berhadapan. (Terjemahan: dia adalah cinta pertamaku)


“Horas..” kata Dina singkat dengan senyum manis dan tangan terangkat memberi salam.


“Horas.. Horas.. ibotoh ho do marsahap batak ate?” tanya Amang kepada Dina yang lantas tampak kebingungan tidak mengerti lalu menatap ku minta dibantu. (Terjemahan: bisa berbahasa batak ya ternyata?)


“Dina orang Makassar Among, ga ngerti dia bahasa Batak, baru sempet belajar kata Horas aja tadi..” kataku sambil melepaskan diri dari dekapan Hanna dan mengambil tas dari tangan Among, lalu kembali berkata: “Na boratan tas on Among!” mencoba mengalihkan perhatian sambil mengarahkan mereka untuk duduk di teras depan kamar mereka. (Terjemahan: berat aja ini tasnya Ayah)


“Hallo, saya Hanna.. Ka’Dina sudah kenal lama dengan Bang Han?” kata Hanna menarik tangan Dina untuk bersalaman dan mendekatkannya ke arah Inong. Lalu sambil mengedipkan mata, ia berbisik kepadaku: “Langsing daging na bang, tabo idaon.” (Tubuhnya langsing bang, enak dipandang)


“Hi Hanna, senang berkenalan dengan dikau. Saya kenal ka’Han sudah setahun ini. Tapi kalau kenal secara dekat baru-baru ini saja.” Sempat ku dengar Dina menjawab sebelum masuk ke kamar untuk meletakkan tas mereka dan bergegas kembali keluar.


“Nak Dina berapa bersaudara? Ayah dan Ibu-mu masih ada? Tinggal dimana mereka?” tanya Inong perlahan setelah duduk dan menatap Dina dengan intens, tampak sangat tertarik untuk mengetahui data-data ‘calon parmaen-nya’ itu. (Terjemahan: calon mantu)


“Saya 3 bersaudara, Tante..” jawab Dina namun segera dipotong Hanna cepat: “Jangan panggil Tante ke Inong Kak, ga cocok, panggil Namboru ajah! Kalau Among, bisa Ka’Dina panggil Amangboru..” kata Hanna kemudian. (Namboru bisa juga diartikan sebagai Ibu Mertua, biasanya ditujukan kepada saudara perempuan dari ayah dan Amangboru adalah suaminya -red)


“Baik Hanna, terima kasih informasinya.. Ayah dan Ibu saya masih lengkap Namboru, kami tinggal di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.” jawab Dina tetap kalem.


“Oh, jadi margareja dimana kalian?” tanya Inong lagi, tampak oleh ku Among juga menunjukkan perhatian yang lebih sekarang. (Terjemahan: bergereja)


Dina yang tampak tidak mengerti akan pertanyaannya, kembali menghadap ke arahku yang kini telah duduk di sampingnya. Lalu dengan terpaksa aku menjawab: “Dang margareja sidea Inongku, halak Ion..” (Terjemahan: tidak bergereja mereka Ibu-ku, Islam agama mereka)


Namun tatapan terkejut dan rasa tidak setuju segera menguar dari Among dan Inong. Mungkin mereka menentang hubungan kami karena melihat tidak akan ada masa depan akibat dari perbedaan keyakinan ini. Entahlah, kami hanya terdiam beberapa saat, sampai akhirnya sebuah suara junior memecahkan keheningan ini.


...***...


...~ IAN ~...


“Selamat siang Kak..” aku memberikan ppm ke arah Ka’Han dan Ka’Dina yang tampak sedang duduk bersama sebuah keluarga di teras salah satu kamar di Wisma Khatulistiwa ini.


Tadi pagi, ketika berjalan menuju rumah seorang dosen, aku sempat melihat Ka’Han dan Ka’Dina berjalan masuk ke arah Wisma Khatulistiwa. Jadi ketika Bapak Dosen yang ditemuinya telah selesai meminta bantuannya dan kemudian menitipkan pesan kalau keluarganya sekarang sedang menunggu kehadiran Dina (untuk mengajar beberapa orang anak Dosen lainnya yang telah berkumpul), tanpa berpikir aku langsung bergegas ke arah Wisma Khatulistiwa, sambil berharap mereka masih ada di tempat itu.


Dan ternyata memang mereka masih ada di sini. Namun sepertinya sedang dalam suasana yang kurang nyaman melihat kediaman yang tercipta.


“Selamat siang dek..” jawab Ka’Han segera sambil berdiri dari duduknya dan menarik bahuku, menghadapkan ku pada keluarga di hadapan Ka’Dina yang masih terdiam tanpa senyum menatapku sekilas.


“Perkenalkan Among, Inong, ini Ian, adik kelas yang baru saja dikukuhkan jadi Muda Praja beberapa waktu yang lalu. Kontingen Jakarta dia. Ian, ini ayah dan ibu saya, dan yang cengengesan di samping itu adik saya, Hanna..” Kata Ka’Han tampak aga terburu-buru.


“Selamat siang Bapak dan Ibu.. dan juga Hanna..” kataku aga ragu, kurang jelas juga apa maksud Ka’Han memperkenalkan keluarganya kepadaku, walau ujung mata ini sedikit tercerahkan dengan sosok ceria adik ka’Han, yang entah mengapa membuatku teringat pada sosok Ute.


“Selamat siang nak Ian, asal pendaftaran dari Jakarta ya? Kami baru dari sana semalam.. Tinggal di Jakarta di mana-nya nak?” Ayah Ka’Han menjawab sapaanku dengan serentetan pertanyaan sambil mempersilahkanku duduk di sampingnya.


“Mohon maaf sebentar pak..” kataku pada ayah Ka’Han. Lalu kembali menghadap ke Ka’Han dan berkata: “Izin Ka’Han, barusan Dosen Xx mencari Ka’Dina, katanya anak-anak muridnya sudah menunggu untuk les.” Kataku lagi.


Ka’Dina tampak melihat pada jam dinding dan dengan bergegas berdiri, lalu berpamitan singkat: “Oh hampir saja kelupaan, mohon maaf Namboru, Amangboru dan Hanna, saya harus pamit duluan, ada jadwal mengajar les beberapa anak dosen di komplek ini juga. Izin Ka’Han.. selamat siang..”


“Ian tolong temani keluarga saya sebentar, saya anter Dina dulu ya!” perintah Ka’Han yang kembali membingungkanku dan ia pun bergegas menyusul langkah Dina tanpa memberikan kesempatan bagiku untuk minta kejelasan perintah.


Sambil menggaruk kepala yang tidak gatal, aku kembali mengalihkan perhatianku kepada orang tua Ka’Han dan mencoba mengingat pertanyaannya tadi, lalu menjawab: “Iyah pak, saya lahir dan besar di Jakarta, mendaftar sekolah ini pun dari kontingen Jakarta. Keluarga saya tinggal di Jakarta Selatan pak.”


“Abang bukan oppa-oppa korea kan?” tiba-tiba Hanna yang telah duduk di sampingku bertanya tanpa ragu.


“Bukan, saya orang Indonesia.” jawabku dengan senyum terkulum. Adik dari seorang Ka’Han yang selalu jaim, ternyata sangat blak-blakan dan memiliki emosi yang sangat transparan, aku jadi mengerti jika di awal-awal dulu Ka’Han tampak tertarik dengan sosok Ute, karena kepribadiannya sangat mirip dengan adiknya ini.


“Beneran ga ada keturunan Korea, Jepang atau Tiongkok sama sekali?” tanya-nya lagi dengan intensitas semangat yang tidak berkurang.


“Saya keturunan China, tapi orang tua saya, bahkan kakek-nenek saya, sudah kelahiran Indonesia. Jadi yah, kami orang Indonesia.” Jawabku masih dengan tersenyum.


“Oh baru tau saya kalau ada juga Praja yang keturunan China, jangan-jangan yang blasteran kebule-bulean juga ada ya bang? Kirain sekolah ini khusus pribumi..” tanggapan Hanna polos.


"Jolo nidilat bibir asa nidok hata, asa unang haccit rohani donganmu!" Tiba-tiba ayah Ka’Han berkata ke Hanna dengan sedikit keras, lalu melanjutkan kemudian ke arahku: “Mohon maaf ya nak Ian, Hanna ini anak yang aga kami manjakan, jadi suka tidak terkontrol kata-kata akibat keingin tahuannya.” (Terjemahan: Kalau mau ngomong dipikirkan dulu supaya tidak sakit hati kawan bicara-mu)


“Tidak apa-apa pak, setiap orang kan berhak berpendapat dan berhak juga mengubah pendapatnya. Saya senang ada yang panggil saya abang, biasanya kan selalu Kakak atau Kokoh. Dan saya akan lebih senang lagi kalau Hanna bisa mulai menganggap keturunan China ataupun blasteran luar negeri sebagai orang Indonesia juga, walau kami bukan pribumi.” Kataku kemudian.


Wajah Hanna tampak memerah dan dia kemudian berkata: “Maaf ya bang kalau Hanna asal ngomong saja tadi..” sambil menundukkan wajahnya, terlihat sangat imut.

__ADS_1


“Iyah Hanna, terima kasih sudah manggil saya abang.. ngomong-ngomong, cita-cita Hanna apa? Berminat mengikuti jejak Ka’Han?” kata saya kemudian, mencoba mengalihkan percakapan.


“Masih labil dia nak..” jawab si-Ayah menoleh ke si-Ibu dengan penuh senyum mengejek namun berbalut rasa sayang, yang selama ini terlihat hanya diam saja mengamati, kemudian si-Ibu akhirnya berkata: “Dulu waktu masih kecil, pertama kali diajak naik pesawat, sempet kepingin jadi pramugari, lalu ngeliat pilot mau jadi pilot. Di SD sempet kepilih jadi dokter kecil trus bilang cita-citanya nanti akan jadi dokter. Tapi sewaktu SMP, sekolahnya kedatengan rombongan Pemadam Kebakaran untuk demo penanggulangan bencana, dia berubah haluan, mau jadi anggota Pemadam Kebakaran juga. Akhir-akhir ini ketularan teman-temannya demam K-Pop, jadi suka nari dan katanya mau jadi dancer. Mungkin sebentar lagi liat nak Ian, mau masuk sekolah ini juga dia.. Begitu kah boruku?” (boru \= panggilan untuk anak perempuan batak)


“Ish, Inong inilah yang paling pandai ngolok borunya di depan orang lain. Suka kali bikin malu.. nanti kalau borunya ga laku-laku, baru nyesel..” jawab Hanna dengan wajah semerah kepiting rebus sambil masuk dalam pelukan ibunya, seakan mau menyembunyikan rasa malu-nya.


“Ach, ga susah lah kelihatannya cari jodoh buat kau, si-Ian inipun bisa Inong paksa jadi pasanganmu kalau kau mau Hanna.. Iya kan ‘nak Ian?” kata si-Ibu sambil bercanda ke arahku.


‘Such a happy family’ batinku nelangsa, mengingat keluargaku sendiri yang selama ini selalu penuh dengan tuntutan akan kesempurnaan. (Terjemahan: sungguh keluarga yang bahagia)


“Sepertinya ga usah dipaksa bu..” jawabku kalem yang ditanggapi dengan deheman ayah Ka’Han.


“Apaan seh? Kog kalian bisa tiba-tiba kompak banged begini seh? Ini bisa masuk kategori bullying loh. Udah ach, saya mau ke toilet ajah..” kata Hanna kemudian sambil masuk ke kamar, mungkin karena benar-benar merasa malu.


Lalu ayah Ka’Han menghadap kepadaku dan kembali menanyakan beberapa pertanyaan: “Berapa bersaudara nak Ian ini? Ayah dan Ibu-mu masih ada? Tinggal dimana di Jakarta Selatan-nya kalian?” mungkin akan disambung dengan serentetan pertanyaan lainnya, kalau saja kami tidak melihat sosok Ka’Han memasuki Wisma dan berjalan ke arah kami.


“Terima kasih Ian sudah menemani keluarga saya.. eh, Hanna kemana?” tanya Ka’Han.


“Sepertinya ke toilet Kak.. saya yang berterima kasih, bisa kenal dengan keluarga kakak. Izin kalau boleh saya pamit kembali ke ksatrian, sebentar lagi jam apel pelepasan pesiar kak..” kataku dengan cukup tau diri.


“Okey” jawab Ka’Han singkat.


“Eh, ‘nak Ian ga mau keluar makan bareng kita nanti?” tanya ibu Ka’Han.


Aku pun melihat ke arah Ka’Han yang wajahnya tampak sedikit berkerut dan segera menjawab: “Mohon maaf ibu, saya masih ada giat lain. Terima kasih atas penawarannya. Permisi Bapak dan Ibu.. Selamat Siang Ka’Han” kataku sambil memberikan ppm dan segera berlalu. Sayup terdengar percakapan Ka’Han dan orang tuanya dalam bahasa yang tidak ku mengerti.


...***...


...~ DINA ~...


Ini adalah kali pertama pertengkaranku dengan Ka’Han. Jalinan kasih kami yang masih terbilang seumur jagung, selama ini terlihat baik-baik saja, walaupun memang dalam mode senyap alias tanpa sepengetahuan banyak pihak lain, hanya beberapa orang yang mungkin mengetahuinya, seperti Ka’Pras, Ute dan mungkin juga Ian.


Terlintas dalam benakku, petuah daerah yang pernah beberapa kali disampaikan orang tuanya:


“Pangaderengnge temmakkullei sia riappassan apa' lanro alenai arajangnge. Pada toisa temmakkulleni risui' matae risappe' daucculie, riteppe' lilae enrenge aje nariabbeyang.”


(Terjemahan: Adat istiadat itu tidak mungkin dilaksanakan secara paksa, sebab dia adalah tubuh dari besarnya kekuasaan. Sama saja dengan tidak mungkinnya dicungkil mata, dipotong daun telinga, dipotong lidah dan kaki kemudian dibuang.)


Pengalaman sekilas bertemu dengan keluarga Ka’Han, benar-benar membuka mata dan hatiku. Bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa sesuai dengan harapan.


Ka’Han dan aku benar-benar dari dua dunia yang berbeda walau hampir sejenis.


Keluarga Ka’Han adalah keluarga yang harmonis dengan nilai-nilai yang hampir sejalan dengan nilai-nilai yang keluarga ku anut. Seperti: menghormati orang tua, mengutamakan kebersamaan, menjauhi penggunaan kata-kata kasar dan sebagainya.


Keluarga kami sama-sama menjunjung tinggi norma kepercayaan yang selama ini sudah kami imani. Kami juga sama-sama dilingkupi dengan adat kebiasaan yang kental. Yang disayangkan adalah walaupun kepercayaan dan adat kami sudah sangat kuat mengakar dalam diri kami masing-masing, kepercayaan dan adat kami itu tidak sama (sangat berbeda satu sama lainnya) dan hampir mustahil dapat menyelaraskannya.


Satu hal yang kuyakini, kalaupun kami pernah bersinggungan jalan, namun tidak berarti kami harus selalu selalu sejalan. Dan berdasarkan kenyataan ini, aku menyerah, sementara Ka’Han bersikeras untuk memperjuangkannya.


...***...


“Ka, kalau soal yang ini bagaimana ya menyelesaikannya?” suara mungil dan tarikan pada samping pakaianku membuyarkan pikiran-pikiran yang bercokol setelah perpisahan dengan Ka’Han. Tadi dia sempat mengejar dan mengantarkanku dalam diam ke depan rumah dosen tempat-ku mengajar les.


“Oh ini hampir sama dengan soal sebelumnya dek, lihat ya kakak contohkan lagi.. kalau yang ini dipindahkan ke sini, maka nilainya akan menjadi..” konsentrasiku sudah kembali pada mahluk-mahluk kecil yang membutuhkan bimbinganku untuk menyelesaikan PR dan pendalaman materi pelajaran mereka.


Lalu tanpa terasa 2 jam sudah berlalu dan sudah waktunya aku kembali ke wisma, beristirahat.


“Bu, waktu belajarnya sudah selesai, saya pamit kembali ke wisma dulu ya bu..” pamitku ke arah dalam bagian rumah, ditujukan pada istri dosen tempatku mengajar yang tidak kelihatan batang-hidungnya.


“Sudah selesai ya Dina, terima kasih ya nak, mohon maaf ibu tidak anter ke luar ya neng, belum kelar inih masaknya..” sahut pemilik rumah dari arah dapur.


“Tidak apa-apa bu, Assalamualaikum..” jawabku lagi.


“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh..” terdengar lagi sahutan si-ibu.


“Sampai ketemu lagi minggu depan adik-adik, Assalamualaikum..” kepada anak-anak didik-ku yang masih merapikan buku mereka masing-masing, sambil melambai tangan kepada mereka.


“Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.


...***...


“Sudah selesai mengajarnya?” sebuah suara merdu yang cukup sering mengisi hari-hariku belakangan ini, terdengar menyapaku dari arah teras depan ketika sedang memakai sepatu PDH-ku.


“Baru saja Kak. Saya kira Ka’Han akan menemani keluarga kakak seharian ini..” kataku lirih dan menghentikan kelanjutan kalimatku demi melihat raut wajahnya yang agak kaku tanpa senyum.


“Mereka sedang istirahat. Nanti sore menjelang malam kami akan keluar lagi, untuk makan malam, kamu dipersilahkan bergabung kalau berkenan ikut..” kata Ka’Han ragu.


“Saya ga mau merusak suasana keakraban keluarga yang sedang kangen-kangenan Kak.” jawabku cukup tau diri.


“Dina, kita perlu bicara serius.” Akhirnya kalimat itu keluar juga, aku hanya bersyukur bukan aku yang memulai percakapan ini. Rasanya terlalu menyakitkan dan berbeban berat bagi yang memulainya.


“Sepertinya tidak ada yang perlu dibahas lagi Kak, kita hanya perlu menyepakati suatu hal.” Kataku mencoba menenangkan diri sendiri. ‘Jangan sampai menangis Dina, jangan tambahkan beban buat orang baik ini’ batinku sendu menunduk semakin dalam.


“Aku tidak mau menyepakati apapun yang bernuansa perpisahan Dina. Ini cinta pertama dan ku harap akan jadi yang terakhir juga buatku. Tolong jangan menyerah terlalu mudah!” kata Ka’Han memelas dan memaksaku menolehkan pandangan ini ke wajahnya yang sangat memelas. Ini adalah kali pertama ekpresi itu ku lihat tercetak di wajahnya.


Kami sengaja berjalan lambat dan mengambil jalur memutar dari rumah dosen ke arah wisma tempat ku tinggal, melewati bagian depan Klinik Sakit Asrama (KSA) Ksatrian yang aga sepi, agar dapat berbincang lebih lama dan tenang, karena relatif minim dari sapaan maupun pandangan praja lainnya.


“Maafkan aku Kak, tapi suatu hubungan memang seharusnya berdasarkan pada keseimbangan dan kesepadanan. Di awal hubungan kita sudah bersepakat, kalau kita akan menjalaninya dengan baik dan jika sewaktu-waktu dirasakan akan lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya, kita akan mereview kelanjutan hubungan ini.” Akhirnya aku dapat mengatakan kalimat ini walau dengan suara yang aga tercekat.


Sejujurnya, rasa sayang dan nyaman bersama seorang Ka’Han beberapa waktu belakangan ini sudah begitu kunikmati. Selama waktu yang tidak lama ini, Ka’Han telah begitu penuh perhatian, sabar dan memenuhi segala permintaan dan kebutuhanku tanpa banyak bicara. Perpisahan ini pun akan meninggalkan luka di hatiku, namun aku harus kuat, aku tidak ingin menjadi sumber masalah antara Ka’Han dengan keluarga yang sangat disayanginya. Beban itu terlalu berat.


“Tolong jangan katakan hal itu seperti tanpa perasaan Dina.. hubungan kita bukan bisnis yang perlu dinegosiasikan. Rasa cinta ini bukan benalu yang dapat dicabut sewaktu-waktu demi kebaikan si-tanaman. Kita masih bisa sama-sama berjuang. Anggap ini sebagai ujian bagi cinta kita. Kalau kita lulus, maka cinta kita akan naik kelas. Jangan menyerah semudah ini Dina, please..” kata-kata Ka’Han semakin menyesakkan dada ini.


“Sekali lagi aku mohon maaf Kak.. aku hanya melihat kita akan berakhir saling membenci jika hubungan ini diteruskan. Terlalu banyak penghalang dan perbedaan diantara kita Kak. Tolong jangan memaksakan kehendak dan mari kita berdamai dengan keadaan. Aku tidak akan menyalahkan siapapun dan ku harap Ka’Han juga tidak menyalahkan siapa-siapa. Aku bahagia sempat mengenal dan dikenal Ka’Han. Biar kita berpisah dalam kebahagiaan ini ya Kak..” tanpa terasa air mataku sudah menetes, mengalir tanpa suara dan ku buang muka ini, mencoba menghalau tetesan-tetesan selanjutnya.

__ADS_1


Kami berjalan dalam diam kini. Berkutat dalam pemikiran masing-masing. Dan tanpa terasa kawasan wisma putri sudah di depan mata. Dengan lirih aku berujar: “Izin saya duluan ka, selamat sore..” dengan ppm aku berlalu.


...***...


__ADS_2