HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 19 Masih Cuti.. (Han, Ian & Pras)


__ADS_3

...~ HAN ~...


Aku terbangun dalam posisi yang sangat menyenangkan. Walaupun kepala terasa sakit, mungkin hang over akibat berliter-liter minuman beralkohol yang telah masuk dalam tubuh ini, namun ada sesuatu dalam pelukanku yang terasa menghangatkan hati dan sekaligus menenangkan pikiranku.


Mencoba mengingat kilasan kejadian semalam, memaksa mataku terbuka. Sebuah wajah cantik dengan mata tertutup, ku lihat masih nyenyak dalam tidurnya di pelukanku. Ini wajah cantik Ute. ‘Apa yang sebenarnya telah terjadi?’ batinku nelangsa.


Walau sangat tidak rela, karena keberadaannya sangat pas terasa dalam pelukanku, namun dengan sangat perlahan ku-urai juga pelukanku dan seminim mungkin menggerakkan badan Ute, menarik tanganku agar aku dapat bangkit berdiri tanpa membangunkannya.


Lalu mataku menangkap sesosok laki-laki lain yang tertidur dengan nyenyak di sofa dekat jendela kamar. Dengan sedikit konsentrasi, aku pastikan itu Ian dan kilasan-kilasan kejadian serta percakapan kami pun kembali satu-persatu dalam ingatanku yang separuh sadar. ‘What have I done?’ batinku malu dengan wajah yang mulai terasa panas. (terjemahan: apa yang sudah ku lakukan?)


Bergegas ku langkahkan kaki ke kamar mandi dan membasuh diri ini. Bau alkohol yang kelat mendominasi dan sempat terpikir bagaimana Ute bisa berakhir tidur dalam pelukanku yang sangat bau ini? Memory akan hal ini benar-benar tidak bisa kutemukan dalam pikiranku. Hanya perasaan damai dan hangat yang tersisa kini.


Setelah menyegarkan diri, aku menelpon bagian room service hotel dari telphone yang tersedia juga di kamar mandi, untuk menyediakan sarapan besar ala western di kamarku. Masih dengan jubah mandi, aku kembali ke ruang tidur untuk mematikan TV, memasak air mineral di electric ketel (pemasak air listrik), mengambil baju ganti dan plastik loundry dari dalam lemari, untuk membungkus baju kotor ku yang sangat bau, serta bergegas kembali ke kamar mandi untuk mengganti jubah mandi ini dengan pakaianku yang rapi.


Walau image-ku sudah rusak di mata Ian dan Ute, paling tidak ketika mereka terbangun nanti, kondisiku sudah tidak semenyedihkan semalam. Apalagi kalau aku bisa tampil lebih segar dari mereka berdua pagi ini.


'Ting tong'.. bel kamar berbunyi.


Aku bergegas membukakan pintu, berharap suara tadi tidak membangunkan 2 orang juniorku yang telah membantuku semalam.


Namun ketika troli makan pagi itu ku dorong masuk, Ute dan Ian telah terduduk di tempat mereka tidur masing-masing.


“Selamat pagi adik-adik.. sarapan telah tersedia..” kataku seceria mungkin.


“Selamat pagi Ka’Han..” jawab Ute menahan diri dari menguap karena mungkin masih sangat mengantuk. ‘Entah jam berapa ia tertidur dan akhirnya masuk dalam pelukanku?’ batinku lirih.


“Sepertinya ada yang sudah pulih dari patah hati-nya pagi ini!” goda Ian menarik selimut yang mungkin semalam ia pakai dan melipatnya dengan rapi bersama bantal.


“Terkait hal itu, ada yang perlu saya bahas dengan kalian setelah sarapan pagi ini ya..” kataku lagi setelah berdeham melonggarkan tenggorokan yang sempat tercekat tadi.


“Okey Kak, aku pinjem kamar mandinya dulu sebentar ya! Jangan memulai membahas apapun tanpa kehadiranku!” seru Ute setengah berlari menuju ke kamar mandi.


“Bagaimana rasanya tidur seranjang dengan seorang Ute Kak?” tanya Ian tiba-tiba, membuatku menyemburkan air mineral hangat yang baru saja masuk mulut ini untuk melonggarkan tenggorokanku.


“Kamu tau? Bagaimana bisa terjadi? Kenapa kamu membiarkannya? Aku sungguh tidak mengerti..” tanyaku lirih namun bertubi-tubi sambil mendekat ke arahnya duduk.


“Tenang Kak, walaupun kami mungkin belum pernah mengalami yang telah Kakak alami bersama Ka’Dina, namun kami memahami bagaimana rasanya sakit hati. Semalam, ketika aku keluar dari kamar mandi dan akan mengantarkan Ute pulang ke rumah tantenya, aku melihat Ute sudah tertidur di samping Kakak. Kalian tampak tenang berdua. Tidak tega rasanya membangunkannya demi mengingat Ute pernah sekilas berujar sekali, kalau aga susah tidur di tempat baru. Apalagi tante-nya Ute termasuk penganut aliran bebas, jadi ia sering keluar malam juga. Jadi aku mengambil bantal dan selimut ekstra dari lemari dan tidur di sofa, karena sejujurnya aku juga tidak tega meninggalkan Ute hanya berduaan dengan Kakak, tolong jangan tersinggung.” Kata Ian panjang dan lebar sambil menangkupkan kedua tangannya memohon pengertianku.


“Enggak tersinggung lah Ian, malah saya berterimakasih buat pengertian yang telah kalian tunjukkan tadi malam.” Kataku perlahan demi mendengar suara pintu kamar mandi yang bergeser.


“Hayo, kalian sudah mulai membahas kejadian semalam tanpa aku ya?” tanya Ute beberapa saat kemudian sambil bergerak ke arah jendela dan membuka tirai tebal-nya, memperlihatkan satu sisi pemandangan kota Jakarta yang sudah dipadati kendaraan.


Ute lalu menghampiri trey makanan dan memilih roti lapis dan kembali mendudukan bokong indahnya di ujung tempat tidur, berseberangan dengan posisi sofa yang kami berdua duduki.


“Tenang ‘te, kami tadi cuma sedang membahas bagaimana kalian berdua bisa tidur seranjang semalam..” kata Ian menahan tawa, sementara Ute tampak tersedak roti yang belum halus dikunyah namun harus segera ditelan demi mendengar kata-kata Ian dan tidak bisa menahan diri untuk menghardik: “HEI.. Wach Out.. there’s a serious matter in what your saying!” (terjemahan: Hati-hati, ada permasalahan serius dalam kalimatmu!)


“Ka’ Han menyemburkan air dan kamu hampir tersedak. Apa memang terjadi sesuatu antara kalian berdua ya semalam? Menyesal juga saya tidak memasang video perekam semalam di kamar ini..” kata Ian sambil bangkit berdiri ke arah kamar mandi, sepertinya mencoba kabur dari ketegangan dalam keheningan yang tiba-tiba tercipta selepas kepergiannya.


Aku dan Ute hanya sempat berpandangan sesaat dan kembali konsentrasi pada sarapan kami masing-masing.


...***...


...~ IAN ~...


Kutinggalkan mereka berdua yang sedang bertatapan dengan wajah memerah, entah karena malu atau akibat tersedak sampai menyemburkan isi mulut masing-masing. ‘Entah kapan mereka menyadari kalau mereka berdua itu sangat cocok bersama.. Yang satu sahabat terbaik ku dan yang satu lagi Calon Kakak Ipar.. Haish.. #ngarep.com..’ batinku sambil membuka HP untuk mengecek WA.


Ada beberapa pesan masuk, namun mataku langsung terfokus pada 1 nama, yang entah mengapa dan tidak bisa dihindari, telah menyita perhatianku beberapa saat belakangan ini.. Hanna..


“Ka’ Ian, selamat pagi.. Bagaimana kondisi Babang Han pagi ini?”


Aga bingung harus menjawab apa, lalu keinginan untuk mendengar suaranya membuat ku mengetik: “Boleh saya telp?”


Tidak berapa lama kemudian, tampak notifikasi telp masuk, Hanna..


Ian : “Hallo..”


Hanna : “Hi Ka’ Ian.. apakah Abang-ku baik-baik saja?” (dengan nada aga panik)


Ian : “Baik-baik saja Hanna, jangan tegang dunks..”


Hanna : “Puji Tuhan.. kirain waktu Ka’ Ian bilang mau telp, saya sempat kepikiran kalau kalian sedang di RS dan.. dan..”


Ian : “Haish.. imajinasi-mu itu Hanna.. kami baik-baik saja, semalam kan saya sudah laporan kalau kami sempat bertemu dan akhirnya bermalam bersama.”


Hanna : “Iya Ka’ Ian, soalnya baru kali ini Abang enggak pulang pas liburan.. dan Among-Inong ga pernah berhenti khawatir dengan kondisinya.. apalagi kan Abang lagi galau gitu.. seharusnya memang tidak dibiarkan sendirian..”


Ian : “No worry dear, kami ga akan membiarkannya sendirian.” (terjemahan: jangan khawatir sayang)


Hanna : “Kami?”


Ian : “Iya, ada seorang teman saya juga.. namanya Ute, aga mirip kamu kepribadian dan penampilannya..”

__ADS_1


Hanna : “Perempuan ya Ka?”


Ian : “Iya..”


Hanna : “Hanya teman buat Ka’ Ian kah?”


Ian : “Sebenarnya, kalau boleh jujur, lebih dari sekedar teman statusnya buat saya, lebih seperti sahabat baik..”


Hanna : “Ga lebih dari itu kan Ka?”


Tak bisa ku tahan senyum mengurai di wajah ini, Hanna tampak mulai berani menunjukkan rasa memiliki-nya.. senangnya perasaan ini, asa-ku tidak bertepuk sebelah tangan sepertinya..


Ian : “Iya Hanna.. Ute itu sahabat terbaik saya, tidak lebih dari itu.. kamu ga perlu cemburu ya..”


Hanna : “Ish, siapa yang cemburu? Ka’ Ian geer deh..”


Ian : “Boleh kan saya geer?”


Hanna : “Terserahlah.. okey, udah ya Ka’ Ian.. nanti kita ngobrol lagi.. terima kasih informasinya terkait Babang Han..” (kalimatnya diucapkan dengan terbata-bata, tersirat jelas kegugupannya)


Ian : “Siap Hanna, kita harus sering-sering ngobrol ya..” (kataku sambil mengulum senyum, tak bisa menahan rasa senang ngobrol dengannya)


Hanna : “Iya Ka.. Bye..”


Dan telp pun ditutup.


Ku-buka kembali pesan-pesan masuk yang belum sempat ku baca dan membalas/menjawab yang perlu dijawab. Aku juga sempat mengabarkan ke orang tua dan orang rumah-ku kalau aku akan mengajak seorang senior dan seorang teman ke rumah malam ini, meminta mereka menyiapkan kamar tamu kalau-kalau temanku ingin menginap.


Lalu ada juga nama Ka’ Pras di inboks sms.. pesannya simpel dan sederhana saja, bertanya kabar dan ajakan untuk bertemu segera setelah kembali sama-sama dari liburan. Aku menjawab seadanya dan menjawab siap untuk ajakannya. Standar jawaban Junior kepada Senior.


Setelah membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi dan menemukan 2 mahluk yang duduk menjauh satu sama lain. Ute duduk di dekat balkon kamar dan Ka’ Han di bangku tempat ku tidur semalam.


“Apakah belum pecah juga kebekuan yang tadi sempat tercipta?” tanyaku kepada kedua orang yang dalam diam mencoba menghabiskan sarapan masing-masing.


“Apa seh Ian?” jawab Ute cepat, semburat merah kembali menghiasi wajah cantik-nya.


“Kamu abis ngobrol sama siapa pagi-pagi begini?” tanya Ka’ Han kemudian.


“Bukan siapa-siapa Kak, hanya memberikan laporan kepada seorang adik yang mengkhawatirkan abang-nya.. dan sekarang bukan pagi lagi Kak, sudah menjelang tengah hari ini..” jawabku kembali duduk di sampingnya. Bukannya aku sudah tidak menghormatinya sekarang, tapi kekakuan Senior-Junior memang sudah aga berkurang kadarnya diantara kami. Perasaan dekat dan percaya satu-sama-lain sudah mulai mengental dan kami sudah berasa seperti bersaudara yang tanpa jarak.


“Yeah, nikmatin deh rasa bisa kurang ajar sama senior sekarang-sekarang ini, mumpung stok toleransi saya masih banyak.. tapi jangan harap hal ini akan berlangsung selamanya ya! Oh iya, jadi kamu abis ngobrol sama Hanna barusan tadi? Apa katanya?” kata Ka’ Han sejurus kemudian sambil menepuk bahuku singkat.


“Tenang Kak, semuanya aman terkendali..” jawabku menolehkan wajah ke arah Ute yang tampak sedang tenggelam dalam dunianya sendiri.


“Saya yang mau tanya kenapa ‘te.. kenapa kamu jadi pendiam gini? Is there anything bothering you?” tanyaku balik. (terjemahan: apakah ada yang mengganggu pikiranmu?)


“Ga ada apa-apa, cuma memikirkan kelanjutan kegiatan kita. Sepertinya liburan kali ini akan sering kita habiskan bertiga ya? We kind of stick to each other now..” perlahan Ute berujar sambil menatap aku dan Ka’ Han bergantian, mungkin sambil membaca aura kami. (terjemahan: kita seperti sudah melekat satu sama lain ini)


“Kalian ga harus merusak rencana kalian hanya karena merasa harus menemani saya ya!” ujar Ka’ Han kemudian sambil menundukkan kepala, mungkin merasa malu.


“Rencana kami? Kakak pikir ada apa diantara kami? Saya kan juga ga pulang ke rumah liburan ini Kak, jadi kalaupun ada yang dirusak rencananya, ya tuan rumah si-Ian ini deh yang sudah kita rusak rencana liburannya.. kita relatif senasib Kak..” jawaban cepat Ute cukup mengagetkan kami berdua.


“Iyah neh, kalian berdua merusak rencana liburan saya bersama keluarga.. Jadi kalian berdua harus bertanggung-jawab dan menjelaskannya kepada keluarga saya!” jawabku kemudian. Semakin tertarik dengan hubungan masa depan antara Ka’ Han dengan Ute yang setiap waktu semakin menunjukkan kecocokan.


“Siapa takut? Kapan kita ketemu keluargamu?” tanya Ka’ Han cepat.


“Segera setelah kita siap.. sebaiknya Ka’ Han beberes dan menyampaikan ke resepsionis kalau kita akan check-out hari ini, jadi ketika kita turun nanti, sudah langsung bisa jalan dan ga perlu balik lagi ke tempat ini.” jawabku cepat.


“Ga apa-apa, nanti dari rumahmu, saya balik lagi ke hotel ini.. selama di Jakarta, saya akan nginap di kamar ini saja..” kata Ka’ Ian selanjutnya.


“Ga bisa begitu Kak, namanya itu tidak menghargai keluarga saya, memang seh kamar tamu rumah kami tidak semewah kamar hotel ini, tapi lumayan layak kog kondisinya.. dan sejujurnya ya Kak, aga repot buat saya harus bolak-balik nganter Kakak lagi ke tempat ini nanti malam.” jawabku lagi, tidak terima jawaban tidak.


“Iya Ka’ Han, kalau lagi ada maunya, Ian bisa ngotot dan percuma berdebat dengannya. Nurut aja deh baiknya!” tambah Ute.


“Baiklah kalau menurut kalian itu yang terbaik..” akhirnya Ka’ Han mengalah, mengangkat telphone di samping tempat tidur dan menghubungi resepsionis.


...***...


...~ PRAS ~...


Liburan kali ini tidak terlalu banyak hal yang ku alami, hanya menghabiskannya bersama orang tua dan adik-adik yang ku rindukan serta mengunjungi ayah dan para pengerajin kayu di tempat kerja-nya, namun sedikit-banyak liburan kali ini menggugah kembali keinginanku untuk membantu para pengerajin kayu di daerah Jepara, tempat keluargaku bermukim.


Hampir semua kecamatan di kota Jepara memiliki ukiran dan mebel kayu yang sesuai dengan keahlian masing masing. Sedangkan untuk hasil kerajinan ukiran Jepara sendiri sangat bervariasi seperti bentuk motif daun, motif patung, relief dan masih banyak lagi.


Ciri khas dari ukiran Jepara yang asli adalah terlihat detail serta seperti hidup jika dibandingkan ukiran dari wilayah lainnya. Detail dari ukiran Jepara terlihat dibuat dengan kecermatan yang tinggi yakni garis ukir objek terlihat halus serta detail. Ahli ukir dari Jepara adalah orang yang sudah sangat terlatih dalam membuat ukiran Jepara dengan cara tetap mempertahankan detail masing masing objek.


Hampir semua orang-orang di desa kami sudah mengetahui kalau aku bersekolah di Sekolah Kedinasan, yang lebih dikenal sebagai Sekolah Calon Camat, jadi selain pamor keluarga kami semakin membaik, juga penghormatan mereka terhadap kami semakin kental terasa, yang ku rasakan sebagai ‘beban/tanggung jawab’ untuk bisa menjadi ‘agen perubah’ memperbaiki kondisi yang ada sekarang.


Di awal liburan, seorang sesepuh yang juga dikenal sebagai seorang ahli ukir dari Jepara, menyempatkan dirinya mengunjungi rumah kami dan khusus meminta waktu untuk berdiskusi denganku. Beliau menyerahkan sebuah kotak kayu besar berukir yang indah (24 cm x 7 cm dengan ketebalan sekitar 1 hingga 1.5 cm), tempat menyimpan segala alat ukir sesudah selesai dipakai, dimana ketika ku buka, di dalamnya terdapat 7 jenis alat ukir, yaitu:


__ADS_1



Penguku (Alat ukir yang memiliki bentuk menyerupai kuku manusia). Biasa dipakai untuk pembuatan cekungan pada kayu dengan mata pahat berbentuk melengkung. Berjumlah 20 bilah dengan ukuran yang beragam, yakni mulai dari ukuran 2.5 mm sampai dengan yang berukuran 3.5 cm.




Penyilat (Alat ukir menyilat goresan kayu) berfungsi untuk meratakan bagian datar dari kayu yang sudah diukir, sebelum nantinya dilanjutkan dengan modifikasi berbentuk motif lingkaran atau cekungan. Mata pahatnya memiliki bentuk yang lurus tajam ke arah bawah dengan jumlah sebanyak 10 bilah. Untuk ukuran umum biasanya adalah 1mm, 2 mm, 3 mm, 4 mm, 6 mm, 1 cm, 1.4 cm, 1.8 cm, 2.4 cm dan 3.5 cm.




Kol (Alat ukir yang memiliki bentuk seperti huruf C). Biasa dipakai untuk menambahkan cekungan pada penguku supaya nantinya bisa lebih dalam. Apabila badan logam penguku berbentuk lurus, maka badan logam kol berbentuk sedikit melengkung seperti garis lengkung bulan sabit. Mata pahatannya akan sangat tajam ke arah atas. Jumlahnya 7 buah dengan ukuran masing-masingnya adalah 6 mm, 7 mm, 1 cm, 1.6 cm, 1.9 cm, 2.3 cm dan 2.8 cm.




Coret (Alat ukir pendukung untuk penyilat). Alat ukir ini digunakan untuk merapikan bagian dari sudut ukiran yang sulit dilakukan ketika memakai penyilat. Alat ukir ini dinamakan dengan coret sebab dapat dipakai untuk mencoret permukaan kayu yang diukir tanpa harus dipukul memakai palu. Mata pahat alat ukir ini berbentuk melingkar 45 derajat dengan bentuk seperti huruf V dengan jumlah sebanyak 6 bilah dengan ukuran yang bervariasi mulai dari 3 mm sampai dengan 9.5 mm.




Pembuluk (Alat ukir pelengkap untuk menghaluskan bagian lekukan dan juga cekungan ruang ukir yang sulit dilakukan). Bagian ujung dari mata pahatnya memiliki bentuk seperti penyilat akan tetapi ditambah dengan cekungan seperti penguku. Bisa dikatakan jika alat ukir ini seperti perpaduan penguku dan juga penyilat dengan ukuran umum yang dipakai adalah 6 mm. Sedangkan untuk panjang logam dari setiap jenis alat ukir umumnya antara 18 sampai 22 cm. Untuk ukuran 18 cm umumnya ada di alat ukir jenis coret sebab alat ini memakai gagang kayu supaya lebih mudah dipakai.




Palu (memiliki ukuran panjang gagang umumnya 17 hingga 18 cm). Tujuan dari ukuran alat ini adalah agar bisa menyeimbangkan antara berat dari kepala palu atau ganden yakni sekitar 400 sampai 500 gram tergantung dari bahan kayu yang dipakai. Sedangkan jenis kayu berkualitas yang umumnya dipakai adalah kayu dari pohon sawo. Tidak hanya ringan, namun kayu dari pohon sawo juga sangat kuat namun tetap empuk sehingga logam alat ukir yang sedang dipukul tidak mudah mental.




Batu Asah (biasanya memiliki ukuran 18 x 3.5 cm dengan berat antara 100 sampai 400 gram).




Sore itu, setelah menolak dengan sopan pemberiannya yang sangat murah hati itu, namun karena dipaksa berkali-kali, sehingga akhirnya aku menerima dengan berat hati, beban yang ku emban di pundak ini terasa semakin berat.


Otak pun terpaksa berpikir keras, bagaimana caranya meningkatkan daya jual hasil kerajinan warga Jepara khususnya yang berada di desa-ku yang ku cinta ini.


Terlintas untuk membuat koperasi warga pengerajin ukiran secara lokal, namun tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit.. lalu tiba-tiba aku teringat akan Ian, seorang keturunan Tioanghoa yang konon kabar berasal dari keluarga pengusaha dan memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Maka dengan muka tebal, aku mengirimkan SMS untuk menanyakan kabarnya dan apakah bisa bertemu dan mungkin menawarkan bisnis ini kepadanya.


Keesokan harinya, aku menyempatkan diri mampir ke sebuah gerai seni tetangga. Belajar membuat ukiran sederhana dengan alat yang sudah ku terima. Keesokan harinya aku belajar ukiran yang lebih rumit dan belajar membuat membuat pajangan dinding dari ukiran nama. Nama pertama yang berhasil ku buat ukirannya selama 2 hari lebih adalah Andi Dinameiriza (Dina), nama yang selalu lekat dalam pikiran dan hati ini selama beberapa waktu belakangan ini. Lalu aku beralih ke nama selanjutnya, yaitu Rianeldy Lee (Ian) dan setelahnya aku membuat Thia Utami (Ute), yang adalah sahabat Ian. Lalu sesaat menjelang selesai liburan, aku bisa menyelesaikan sebuah nama lagi, yaitu Handoko Simangunsong (Ka’ Han).


...***...


Libur telah usai. Kembali ke Ksatrian dengan pemandangan genteng merah pada gedung-gedungnya dan kembali harus berseragam lengkap.


Hari sudah mulai senja, namun dari kejauhan aku dapat melihat sosok Ian bersama seorang senior, yang ternyata adalah Ka’ Han. Mereka tampak berjalan bersama hendak keluar dari gerbang PKD.


“Selamat sore Kak..” sapaan pertama keluar dari Ian dibarengi dengan PPM-nya yang ditujukan kepadaku.


“Selamat sore Ian, selamat sore Ka’ Han..” sapaku lebih lanjut membalas PPM Ian dan memberikan PPM juga kepada Ka’ Han.


“Selamat sore Pras..” jawab Ka’ Han singkat, tampak aga malas.


“Izin kalau boleh tau, hendak kemana kah Kakak dan Ian?” tanyaku lagi, mengabaikan sikap cuek Ka’ Han.


“Siap Ka’ Pras, kami mau makan malam di luar.” jawab Ian kemudian.


“Apakah bisa saya ikut? Sebentar saya nitip barang-barang ini dulu di gerbang PKD.. ada yang perlu saya sampaikan ke Ka’ Han dan juga Ian.” Kataku kemudian dan tanpa menunggu jawaban mereka aku bergegas ke arah petugas yang berjaga di PKD untuk menitipkan barang bawaanku dari rumah. Dengan 2 benda panjang (ukiran nama Ka’ Han dan Ian) aku kembali mendekati mereka berdua.


“Ini ada oleh-oleh karya sendiri buat Ka’ Han dan Ian, semoga berkenan menerima oleh-oleh sederhana ini..” kataku kemudian sambil menyerahkan bungkusan ukiran nama masing-masing kepada mereka berdua yang tampak terkejut.


“Wah Ka’ Pras, tidak perlu repot-repot.. saya jadi malu inih, tidak bawa oleh-oleh apa-apa buat Kakak..” kata Ian beberapa saat kemudian dengan wajah yang aga memerah.


“Enggak repot kog, iseng-iseng ngisi waktu liburan saja saya.. ini ada 1 lagi, titip buat sahabat kamu yang cantik itu ya..” kataku lagi. Tidak bisa menahan diri memperhatikan perubahan mimik wajah Ka’ Han yang sewaktu menerima oleh-oleh-ku aga tersenyum senang bercampur malu dan ketika ku serahkan ukiran nama Ute langsung kembali menunjukkan wajah kurang bersahabat.


“Siap Kak, terima kasih Kak..” jawab Ian lagi.


“Terima kasih Pras, tapi sepertinya aga repot kalau kita makan di luar dengan membawa-bawa oleh-oleh ini. Bagaimana kalau kita makan di kantin bawah Menza saja, kita taro dulu oleh-oleh ini di Wisma masing-masing dan ketemu sekitar setengah jam lagi ya di sana?” tanya Ka’ Han kemudian.


“Siap Kak..” jawab aku dan Ian kompak. Dan kamipun membubarkan diri ke arah Wisma masing-masing.

__ADS_1


...***...


__ADS_2