
...~ UTE ~...
“Ute, kamu ditunggu di belakang balairung sama senior-senior madya!” kata seorang teman ketika aku baru saja memasuki ruang belajar Wisma. Dengan tenang aku membuka meja belajar dan mengeluarkan buku-buku pelajaran dari tasku dan meletakkannya dengan rapi di laci-laci yang tersedia.
“Oh, ada apa ya kira-kira?” tanyaku kemudian, tidak terlalu penasaran juga, udah biasa sama keisengan para senior ini melihat gayaku yang menurut kebanyakan mereka aga tengil dan menantang untuk dikerjain.. ;p
“Mana aku tau?” jawab teman tersebut sambil mengedikkan bahunya santai dan melanjutkan bacaannya di meja belajarnya.
“Ok.” kataku lagi sambil mengunci kembali meja belajarku dan meneruskan langkah menuju toilet.
“Jangan lama-lama ya ‘te, takutnya nanti saya yang dibilang ga nyampein pesen ntu senior!” katanya lagi.
“Siap sista.” jawabku tanpa menoleh. Sekedar info, penyakit prosopagnosiaku masih bercokol manis di diri ini. Kalau ada teman yang berpakaian santai, tidak menggunakan tanda pengenal jelas dan tidak menguarkan aura khas masing-masing, maka aku cukup memanggil mereka sista atau sist' dan sebagainya, demi untuk memudahkan saja.
Setelah mengganti pakaian dengan training lengkap, aku melangkahkan kaki menuju balairung, menguatkan hati dan pikiran ini, berharap bukan masalah yang terlalu berat yang akan segera ku songsong.
Sampai di depan balairung, tampak oleh ku beberapa orang senior Madya Praja Putri (ku hitung sekitar 8 orang), yang untungnya masih dengan Pakaian Dinas Harian/PDH-nya masing-masing sehingga ada papan nama yang bisa ku baca. 3 orang duduk di selasar dan 5 orang lainnya berdiri mengelilingi mereka, seperti sedang merencanakan suatu pekerjaan jahat.. ‘Haish, tenanglah hatiku.. what doesn’t kill me, makes me stronger..’ batinku menguatkan diri sendiri. (terjemahan: yang tidak membuatku mati sedang menguatkanku)
Mata dan otak ini dengan cepat bekerja keras, mencocokkan nama dan aura masing-masing orang. Aga sedikit kesulitan karena aura mereka sekilas tampak sejenis, yang mengindikasikan mereka telah bersepakat dalam sesuatu yang akan dihadapi bersama, aura berwarna aga coklat kemerahan dan sedikit siluet ungu, seperti niat ga bener.
Ketika aku mendekat, kedelapan pasang mata ini kompak memandang ke arahku.
“Selamat sore ka..” sapaku sambil memberikan ppm, menegarkan diri.
“Sore de..” kata seorang senior dengan aura paling gelap, kemungkinan dia adalah pemimpin di kelompok ini.
“Oh ini toh yang namanya Thia Utami aka Ute?” tanya senior yang berdiri di sebelah senior pertama tadi sambil bersama 4 orang lainnya berjalan menghampiriku.
“Anak gaul ya? Rambut masih merah tuh.. ciri-ciri orang yang suka cari perhatian ya?” tanya senior yang lain di belakang punggungku sambil menyentuh sesaat rambut belakangku.
“Kamu tau sudah berapa lama kami nungguin kamu di tempat ini de? Sengaja ya lama-lama?” tanya senior yang lainnya lagi seperti mulai terbakar emosinya, menguar aura merah gelap yang terasa aga panas, walaupun dia berdiri di samping kiriku.
“Udah ga usah lama-lama, bawa langsung ke belakang balairung ajah!” kata seorang senior yang duduk di sebelah senior pertama tadi, ia berkata lugas sambil melangkahkan kakinya menuju bagian belakang balairung.
“Ikuti kami de!” perintah senior pertama yang membalas sapaanku tadi, ia pun bangkit dari duduknya di selasar, mengikuti arah langkah temannya tadi dan dengan tolehan mempertegas perintahnya kepadaku untuk mengikuti kepergian mereka.
Kami berjalan dalam keheningan. 3 senior di depanku dan yang 5 lagi di samping dan belakangku. ‘Ya Tuhan, kuatkan hatiku..’ batinku lagi.
Sesaat kemudian, kami sudah berada di bagian belakang balairung. Suasana masih aga sunyi-sepi, sekarang baru jam 15.30 WIB, biasanya baru sekitar satu jam lagi, lokasi balairung akan mulai rame dengan praja yang mengikuti club-club olah raga, seperti karate, judo, tarung derajat, wushu bahkan bulu tangkis dan sebagainya. Mereka mempergunakan bagian dalam balairung dalam sebagai tempat latihan, setelah lari sore sebagai pemanasan sebelumnya.
“Kamu harus tau kami bukan senior iseng ya de!” kata senior yang tadi berjalan duluan. Aura yang dipancarkannya aga menghijau, namun warna coklat gepat itu tetap ada di sana. Lalu setelah terdiam beberapa saat ia menambahkan: “Kami sedang menjalankan perintah, karena Dina yang diberikan perintah sebelumnya, tidak menjalankan tugasnya dengan baik.. dan kamu perlu tau kalau karena kamu, dia sekarang juga jadi inceran Nindya Putri!”
“Buat apa ngejelasin ke dia? Langsung aja kita hajar neh muda songong!” kata senior lainnya.
“Kita disuruh ngebina, bukan ngebully.. kalau tidak dijelaskan bagaimana dia tau kesalahannya?” kata yang seorang lagi.
“Udah ga usah ribut sendiri. Kita kasih pelajaran aja adik ini. Biar dia tau salahnya apa dan apa yang akan dia alami kalau berani macem-macem di ksatrian.. masih junior aja udah berani belaga..” kata si senior pertama tadi, melangkah tepat ke hadapanku, jarak wajahnya hanya sekitar 10 cm dari wajahku, tinggi kami hampir sama, karena aku menggunakan sepatu kets datar sementara dia pake sepatu PDH dengan hak yang cukup tinggi.
__ADS_1
“Kamu tau salah kamu de?” katanya lagi.
Mataku tajam memandang tepat ke pupil matanya. Dia berkedip, aura warna orange pudar menguar, dia merasa takut.. ‘Hahaha, aga pengecut rupanya sang pemimpin inih’ batinku, tanpa sadar menyunggingkan senyum mengejek yang semakin meningkatkan rasa emosinya dan menguarkan warna merah gelap seperti lidah api yang kotor.
“Plak!” tiba-tiba rasa pedih itu kurasakan di pipi kananku yang menolehkan wajah ke kiri dengan terpaksa sebagai efek tamparannya tadi. ‘Sial, aku telat nangkis barusan, posisi kakak ini terlalu dekat..’ batinku lirih, merasakan bunyi “NNGGIIINNNGGG..” di telingaku.
Aku kembali menoleh menatap matanya nanar. Mempertimbangkan dengan sungguh apakah akan membalas tamparannya. ‘Kalau hanya 8 orang seh sepertinya masih sanggup aku bantai neh, tapi kira-kira akan dikeluarkan kah aku dari ksatrian ini nantinya? Mungkin juga tidak ya? Kan ini bisa masuk pasal pembelaan diri terhadap pengeroyokan? 8 orang senior lawan 1 junior..’ kembali terjadi debat dalam batinku.
Ketujuh senior lainnya juga semakin rapat mengelilingiku. Beberapa sudah mencopot muts-nya dan memukul-mukulnya ke beberapa bagian tubuhku, ada yang di bahu, ada yang di lengan dan terasa juga di punggungku.
“Kamu memang kurang ajar ya de!” kata si senior lagi, sudah tidak terlalu ku pedulikan lagi yang mana orangnya, aura mereka tampak terlalu kotor untuk aku pedulikan.
“Bukannya mikirin kesalahan kamu, malah nantang lagi! Kamu pikir ga ada yang bisa kasih pelajaran sama kamu ya?” sumbang sekali suara itu terdengar tepat di depan telingaku.
“Sadar diri de.. kamu tuh masih junior, harus hormat sama senior.. jangan mentang-mentang merasa cantik, bisa seenak-enaknya mempermainkan hati para senior laki-laki!”
“Tau neh muda, sok cantik.. Berani-beraninya jadian sama banyak laki-laki sekaligus.. Ksatrian bukan tempat playgirl seperti kamu ya.. kalau mau jadi j*lang, jangan di sini..”
“Ksatrian ini tempat terhormat, bukan buat kamu yang ga tau menghormat..”
“Kamu pikir semua senior itu selembek Dina? Cemen dia, ngasih pelajaran ke kamu aja ga berani!” makian-makian yang silih berganti keluar dari mulut para senior di sekelilingku ini semakin mengotori telingaku yang mulai bisa mendengar dengan baik. Ku kepalkan tangan, bersiap-siap mengambil posisi kuda-kuda ketika mendengar hardikan suara bariton yang semakin mendekat: “Madya! Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”
...***...
...~ PRAS ~...
Siang menjelang sore ini pancaran matahari tidak seterik biasanya. Ketika kelas sudah bubar, rasa ingin melakukan sedikit olah fisik membuncah dan aku pun segera mengganti PDH-ku dengan pakaian olah raga santai.
Tidak berselang lama, mereka pun terlihat bersama-sama bergerak ke arah belakang balairung. Rasa ingin tahu ku membuncah dan tanpa sadar aku melangkahkan kaki perlahan memasuki area balairung dan mengikuti pergerakan mereka.
Ketika akhirnya sosok-sosok mereka terlihat, aku memandang para Madya Praja Putri itu tampak mengelilingi si Muda Praja Putri.
Walau masih aga jauh dari posisi mereka, namun bisa ku kenali kini si-gadis bertraining adalah seorang Muda Praja Putri, gadis cantik yang merupakan salah peserta rombongan yang disertai ka’Han ketika prosesi pembaretan sekitar semingguan yang lalu itu.
“Plak!” tiba-tiba aku tertegun ketika mendengar suara nyaring itu.
Seorang Madya Praja Putri yang ada di hadapan si-Muda Praja telah melakukan penamparan. Hati kecilku memberontak, tidak pernah mengijinkan ada peristiwa bullying di depan mata ini dan ku percepat langkah mendekati mereka.
Ketika posisiku sudah semakin dekat, ku lihat beberapa orang Muda Praja Putri tersebut sudah mencopot muts-nya masing-masing, mereka bergerak perlahan sambil memukul-mukulnya ke beberapa bagian tubuh si Muda Praja Putri. Kemarahanku semakin memuncak. ‘Apa-apaan ini Madya, beraninya keroyokan?’ batinku.
Sempat terdengar di telingaku kata-kata para senior ke junior:
“Kamu memang kurang ajar ya de!”
“Bukannya mikirin kesalahan kamu, malah nantang lagi! Kamu pikir ga ada yang bisa kasih pelajaran sama kamu ya?”
“Sadar diri de.. kamu tuh masih junior, harus hormat sama senior.. jangan mentang-mentang merasa cantik, bisa seenak-enaknya mempermainkan hati para senior laki-laki!”
“Tau neh muda, sok cantik.. Berani-beraninya jadian sama banyak laki-laki sekaligus.. Ksatrian bukan tempat playgirl seperti kamu ya.. kalau mau jadi j*lang, jangan di sini..”
__ADS_1
“Ksatrian ini tempat terhormat, bukan buat kamu yang ga tau menghormat..”
Namun yang paling membuat hatiku semakin marah adalah kata-kata: “Kamu pikir semua senior itu selembek Dina? Cemen dia, ngasih pelajaran ke kamu aja ga berani!”
Dan kalimat penuh emosi ini tak bisa ku tahan untuk keluar dari mulutku: “Madya! Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”
Mereka tampak terkejut. Para Madya Praja Putri itu terlihat memandangku aga ketakutan (mungkin mereka juga merasa bersalah karena ketahuan sedang mem-bully seorang junior), namun yang aga aneh buatku adalah tatapan si-Muda Praja Putri. Dia memandangku dengan tatapan tidak percaya, tidak tampak bersyukur telah ditolong tapi malah lebih seperti marah karena mungkin saja dia ingin menyelesaikan masalah ini sendiri.
“Siap kak, Selamat sore ka.. kami hanya sedang berdiskusi..” jawaban ragu seorang Madya Praja Putri memecahkan keheningan yang sempat tercipta tadi, ia menjawab sambil buru-buru menggunakan muts-nya kembali, memberikan ppm dan aksinya ini diikuti oleh teman-temannya yang lain juga.
“Siap ka, selamat sore ka..” mereka membeo.
“Berdiskusi harus dengan tampar-tamparan ya?” tanyaku sambil bersedekap tangan di dada, menunjukkan otoritasku yang mempertanyakan kebenaran pernyataan mereka.
Keheningan kembali tercipta dan terpecah dengan kata-kata lemah si-Madya Praja Putri: “Siap kami salah ka..”
“Sudah bubar sana! Jangan sampai saya mendapati kalian melakukan hal seperti ini lagi.. hanya pengecut yang beraninya keroyokan..” kataku perlahan namun tegas.
“Siap ka, maaf ka, izin duluan ka.. selamat sore ka..” bergantian mereka membeo kata-kata yang hampir sama dan berjalan cepat meninggalkan aku dan si-Muda Praja Putri yang tampak masih terpaku memperhatian para seniornya dengan tangan terkepal.
“Apa kamu mau menghajar senior-senior kamu itu secara fisik de?” tanyaku kemudian.
Dia tidak menjawab, hanya memandang nanar ke arahku, memperlihatkan emosinya dengan jelas.
Aku hanya tersenyum dan tidak bisa menahan diri untuk berujar: "Ada pepatah jawa begini: Manungsa mung ngunduh wohing pakarti. Artinya kurang lebih: Kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. Jadi jangan terlalu ambil pusing sama perlakuan dan tindakan orang lain yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Mungkin mereka itu hanya menjadi penggenapan dari peristiwa yang harus kamu alami. Melakukan kekerasan sebagai tanggapan kita atas suatu kejadian, hanya akan memicu peristiwa buruk lainnya di masa depan.”
Wajah gadis cantik itu melembut dan kami pun terdiam beberapa saat.
“Ambil pelajaran dan teruslah hidup..” kataku memecahkan keheningan, sambil berpaling hendak melanjutkan lari sore-ku yang tadi sempat tertunda.
“Siap ka.. apakah saya boleh kenal kakak?” pertanyaan sederhana dari gadis cantik tadi menghalangi niat ku melanjutkan lari sore.
“Kamu ga kenal saya dek?” tanyaku sedikit aga tersinggung, bukan karena kesombongan diri dan perasaan senioritas (dimana junior wajib pake banged mengenal seniornya namun senior tidak perlu mengenal junior), tapi karena kami sudah beberapa kali berpapasan. ‘Apakah gadis ini aga bodoh atau memang terlalu apatis dan tidak mau mengenal seniornya sama sekali?’ batinku lirih.
Mata bulatnya yang menunjukkan kecerdasan, berputar jelas-jelas mengejek pertanyaanku, lalu ia berkata: “Siap ka, Bandingkan capal wan ikam, mana bungolnya?* Kenal kan bukan sekedar tau nama dan asal pendaftaran saja ka.. tapi lebih ke mengetahui dan memahami siapa orang itu. Tadi saya bertanya, apakah saya boleh kenal kakak? Itu maksudnya saya sedang minta izin untuk memahami kakak lebih dalam lagi.. begitu loh maksudnya kak.. Jawaban kakak seharusnya boleh atau tidak boleh, bukannya malah nanya: Kamu ga kenal saya dek? Udah seperti bermental selebriti saja kakak ini.. padahal sekilas pengenalan saya terhadap kakak, kakak itu berbeda dengan senior-senior lainnya.” celotehnya panjang dan lebar kemudian, membuat senyum geli-ku merekah tak tertahankan. (terjemahan peribahasa Bajar: Bandingkan sandal sama kamu, bodoh mana? Merupakan sebuah ungkapan kata-kata kekesalan terhadap seseorang.)
“Okeh, sebelum saya menentukan boleh atau tidaknya kamu mengenal saya, izinkan saya menanyakan beberapa hal terlebih dulu.. bisa kan?” tanyaku lagi masih dengan senyum kegelian. Sekilas saya bisa melihat daya tarik gadis cantik ini, bukan hanya sekedar secara fisik tapi juga kecerdasan dan gaya tengil-nya yang menahan setiap orang (terutama lawan jenis) untuk menghabiskan banyak waktu berlama-lama dengannya.
Ketika ia mengangguk ragu-ragu, aku pun kembali bertanya: “Apakah ada kebaikan yang terjadi buat saya dan kamu dengan saya memperbolehkan kamu mengenal saya lebih dalam lagi? Lalu pertanyaan berikutnya, bagaimana cara kita bisa saling mengenal secara lebih mendalam di perspektif-mu yang terlalu jujur berbalut kecerdasan itu?”
“Hm, pertama-tama, terima kasih kak.. adalah hal yang menyenangkan bagi saya mendengar pujian akan kejujuran dan kecerdasan yang saya miliki. Harus saya sampaikan kalau hanya orang-orang cerdas yang mampu mengenalinya..” gadis cantik ini sempat terdiam sesaat, memamerkan senyum manisnya dan sekali lagi memutar bola mata indahnya, sebelum melanjutkan berkata: “Entahlah kak, sepertinya kita harus menjalani-nya dulu baru mengetahui untung-rugi dari saling mengenal ini.. kalau ditanya bagaimana caranya, mungkin kita bisa jadi saudara asuh dan meluangkan waktu bersama untuk saling mengajukan pertanyaan dan menjawab dengan jujur dari hati kita masing-masing pertanyaan-pertanyaan tentang satu sama lain.” katanya dengan ragu.
...{Penjelasan penulis: Saudara Asuh adalah salah satu program di sekolah kedinasan, dimana sekelompok Praja, yang berasal dari asal daerah dan latar belakang yang berbeda-beda, termasuk tingkatannya, dipersatukan dalam sebuah Keluarga Asuh, biasanya terdiri dari 8 orang, 2 orang Muda Praja, 2 orang Madya Praja, 2 orang Nindya Praja dan 2 orang lagi Wasana Praja, dimana status mereka adalah Saudara Asuh, jadi bisa saling berbagi suka dan duka sebagai pengganti keluarga sebenarnya yang ditinggalkan di tempat asalnya masing-masing. Diharapkan program ini dapat meningkatkan rasa kepedulian antar Praja dan memulihkan sedikit rasa rindu terhadap keluarga asli masing-masing.}
...
“Okeh, kamu boleh mengenalku lebih dalam..” jawabku kemudian sambil mengarahkannya berjalan ke bagian depan balairung dan kami pun duduk santai di selasarnya.
Hari sudah semakin sore, angin sepoi-sepoi meniup rambut kemerahan saudara asuh baru-ku yang cantik ini. ‘Semoga persaudaraan kami lebih banyak manfaatnya dari pada mudaratnya.. Amin..’ batinku lirih.
__ADS_1
...***...