HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 11 Pengkaderan Polpra (Perpektif Ian & Dina)


__ADS_3

...《Sekilas info kehidupan Praja》...



Gedung Nusantara atau biasa disebut Menza, adalah tempat praja (dari Muda sampai dengan Wasana) berkumpul untuk melaksanan kegiatan makan bersama, 3 kali sehari (makan pagi, siang dan malam). Sebelum mulai makan, acara selalu diawali dengan upacara makan yang di pimpin oleh fungsionaris tertinggi Wahana Wiyata Praja (WWP) yang duduk di meja khusus di atas podium kehormatan.



Setelah pintu ditutup, Komandan Upacara Makan (biasanya dari Nindya atau Madya Praja pilihan) berjalan ke tengah Menza, persis di depan podium fungsionaris WWP menghadap ke meja nagian tengah Menza.


Ia menyiapkan praja yang telah menempati bangku masing-masing: "Izin ambil alih aba-aba.. Seluruhnya, Dudukkk Siiiaaaaap Grak!"


Lalu akan terdengar bunyi hentakan kompak kaki praja "PRAK" dan posisi semua dalam sikap tegak (punggung tidak ada yang menempel pada senderan kursi makan).


Si-komandan upacara makan akan berbalik, menghadap fungsionaris WWP (dengan jabatan tertinggi, yaitu Gubernur Praja, jika yang bersangkutan berhalangan maka akan digantikan oleh para Wakil Gubernur Praja) yang kemudian berdiri, membalas PPM si-komandan.


"Lapor, acara makan Siap.." kata si-komandan.


Lalu akan terdengar bunyi dentang lonceng 2 kali "Ting-ting", semua praja menundukkan kepala untuk berdoa sebelum makan, lalu beberapa lama kemudian lonceng digemakan 2 kali lagi "Ting-ting" dan semua praja mengangkat kepalanya kembali.


Si-komandan lalu berbalik badan kembali menghadap barisan tengah meja Menza dan memberi aba-aba "Istirahat di tempaaaaat Grak!"


Kembali terdengar bunyi hentakan kaki praja "PRAK!" dan semuanya berkata bersamaan "Selamat Makan.." sambil menyenderkan punggung masing-masing ke senderan kursi. Komandan upacara makan pun kembali ke posisi duduknya, untuk ikut makan.


Acara makan pun dimulai, senior tertinggi di meja itu akan memulai menyendokkan nasi, lauk-pauk dan sayuran yang tersedia disusul dengan juniornya secara hierarki. Ketika akan mulai makan pun junior harus berkata "Izin makan ka.." ke para senior yang duduk di depan atau samping kanan/kirinya.


Walau junior yang paling belakangan makan, namun mereka jugalah yang diharuskan selesai makan terlebih dahulu. Ini adalah salah satu kesempatan bagi senior untuk 'ngerjain/ngisengin' juniornya. Salah satu kewajiban lainnya untuk junior adalah harus mengenal senior, itulah sebabnya ketika memasuki Menza, banyak junior yang memilih tempat duduk sejauh mungkin dari senior-senior yang terkenal suka iseng (macan ksatrian).


Setelah semua praja dianggap selesai makan (kurang lebih 15-20 menit) ditandai dengan semakin sedikitnya suara alat makan dan obrolan antar praja, maka komandan upacara makan akan menempati posisi di tengah ruangan lagi dan memberikan aba-aba kembali "Perhatian seluruhnya, Duduk Siaaaaap Grak!" lalu ia berbalik menghadap ke Gubernur Praja yang telah berdiri tegak kembali.


Lalu akan terdengar bunyi dentang lonceng 2 kali "Ting-ting", semua praja menundukkan kepala untuk berdoa setelah makan, lalu beberapa lama kemudian lonceng digemakan 2 kali lagi "Ting-ting" dan semua praja mengangkat kepalanya kembali.


"Acara makan telah selesai dilaksanakan, laporan selesai.." kata si-komandan.


"Terima kasih, bubarkan dan kembali ke tempat!" jawab Gubernur Praja dan membalas PPM si-komandan upacara, yang setelahnya berbalik badan kembali menghadap barisan tengah meja Menza dan memberi aba-aba "Istirahat di tempaaaaat Grak!"


Kembali terdengar bunyi hentakan kaki praja "PRAK!" dan semuanya kompak berkata "Terima kasih.." sambil menyenderkan punggung masing-masing ke senderan kursi. Komandan upacara makan pun kembali ke posisi duduknya lagi.


Acara makan pun selesai, senior tertinggi di meja itu satu persatu meninggalkan ruangan dan disusul oleh juniornya secara hierarkhi.


Ada 5 pintu masuk ke ruang makan Menza, 2 pintu di bagian depan bangunan (pintu sisi kiri, biasanya dikhususkan untuk Praja Perempuan, karena meja khusus Praja Perempuan memang diposisi sebelah kiri Menza dan pintu sisi kanan untuk Praja Pria, karena posisi mejanya selebihnya, bagian kanan dan tengah Menza). Kedua pintu depan ini biasanya dijaga oleh sepasang kader/calon Polisi Praja (Polpra) dari Muda Praja. Sebelum upacara mereka berdiri tegak di luar dan sesaat sebelum upacara makan dimulai, mereka menutup pintu dan berdiri tegak di bagian dalam ruangan.


Selain kedua pintu depan, terdapat juga 2 pintu samping (sisi kanan dan kiri) serta 1 pintu belakang dengan lift barang, tempat petugas mengangkut makanan dan alat makan dari dapur di lantai dasar.


Untuk masuk ataupun keluar dari ruangan makan di Menza ini tidak sembarangan, ada protokol khusus, yaitu memberikan penghormatan ala militer ke arah lambang negara yang bercokol gagah di tembok di belakang podium fungsionaris. Khusus untuk Muda dan Madya Praja, harus tetap dalam barisan ketika memasuki gedung dan memberikan penghormatan pasukan dengan komando dari danton masing-masing.


Sebelum masuk ke ruangan makan Menza, Muda Praja biasanya dibariskan terlebih dahulu di lapangan Plaza depan Menza untuk pengecekan personel oleh Polpra ataupun jajaran Komando.


...***...


...~ IAN ~...


Siang ini perkuliahan sudah berakhir di kelas, menjelang makan siang di Menza, seperti biasa kami (jajaran Muda Praja) sudah berbaris dengan rapi di lapangan Plaza depan Menza, pengecekan Muda Praja dan persiapan masuk ke ruang makan.


Rupanya sedang ada pencomotan bakal calon Polpra dari Muda Praja. (Dikategorikan sebagai pencomotan karena sifatnya Top-Down, Polpra senior yang langsung memilih dan untuk yang terpilih diminta memisahkan diri dalam suatu barisan khusus).


Aku dan Ute termasuk dalam barisan yang terpilih. Mungkin karena tinggi badan kami yang di atas rata-rata rekan Muda Praja lainnya.


Terlintas sebuah pengalaman di benak Ian:


...***...


Kala itu baru pertama kalinya, kami (Muda Praja) dibariskan di lapangan Plaza Bawah, untuk pengecekan personel oleh satuan Polpra dan jajaran Komando. Beberapa orang senior juga tampak berkeliling barisan, antara mencari mangsa (buat dikerjain) atau mencoba menemukan kenalan (untuk dilindungi).


"Bang..." tiba-tiba ada seorang teman yang berdiri di sampingku menyapa seorang senior yang lewat dibarisannya.


"Eh diks.. Bagaimana, sehat?" jawab si-senior bertali kur putih (lambang kebanggan yang dipakai Polpra).


"Siap sehat bang" jawab si-junior lagi.


Adalah suatu kebiasaan jika sudah ada seorang senior (terutama Polpra) mendekat dan menanyakan kabar, maka senior lain tidak akan datang mengganggu junior tersebut.. Inilah salah satu alasan yang membuatku senang dengan senior polpra. Kewibawaan yang mereka tunjukkan sangat berbabding terbalik dengan senior-senior iseng lainnya.


Semenjak itu akupun bercita-cita menjadi seorang Polpra, supaya nanti bisa menanyakan kabar kepada junior dimanapun mereka dikumpulkan, sehingga junior-juniorku nantinya tidak ada yang mengganggu.

__ADS_1


...***...


Pucuk di cinta ulam tiba, kami yang berpostur potensial dibariskan khusus untuk memulai pengkaderan Polpra ini. Namun ku lirik Ute di sebelahku merasa kurang “sreg” dengan penunjukan dirinya, entah mengapa, dia tampak cemberut dan beberapa kali berdecak kesal.


"Baik adik-adik di barisan ini, setelah makan siang nanti, kembali ke lapangan ini untuk mengikuti pengarahan tentang giat selanjutnya!" kata-kata seorang Polpra menghentakkan lamunanku.


Kami pun akhirnya digiring masuk ke ruang Menza untuk melaksanakan acara makan siang. Setelah barisan kami membubarkan diri, setiap kami berjalan menuju meja yang setidaknya ada senior yang kami kenal, demi ketenangan batin ketika sedang makan. Salah posisi bisa bikin masalah berkelanjutan, apalagi kalau ketemu 'apes' satu meja dengan 'macan ksatrian'.. ampun deh repot dan bakal panjang aja urusannya.


...***...


Kembali ke pengkaderan polpra, ada satu tugas unik yang paling buat deg-deg-an selama menjadi kader polpra, yaitu menjaga pintu menza.


Menjaga pintu menza sebelah kiri memiliki ujian unik, yaitu tidak boleh goyah dari rayuan senior putri. Posisi pintu kiri yang berada di Daerah Persiapan/DP putri, membuat posisi penjaga pintu persis di sebelah meja makan senior putri.


Sebenarnya tugas ini tidaklah terlalu sulit, hanya perlu menutup pintu ketika upacara makan sudah mau di mulai dan membukanya kembali ketika upacara makan telah berakhir, yang membuatnya penuh tantangan adalah adanya aturan tidak boleh tersenyum selama bertugas.


Siang ini adalah kali kedua aku menjaga pintu. Setiap kali pintu ditutup dan acara makan dimulai, maka senior-senior putri mulai melancarkan godaan-godaan maut mereka...


"Adeeee..."


"Kok tegang sih.."


"Coba senyum sedikit dunks.."


"Ade yang jaga pintu gagah ya, dari Kontingen mana? "


Panggilan-panggilan itu terus berlangsung sepanjang acara makan.


Sekilas sempat ku lirik seorang Madya Praja Putri, duduk tak jauh dari posisiku berdiri, senior berwajah manis yang sempat ku lihat di awal keberadaaanku menjejakkan kaki di ksatrian lembah Manglayang ini.


Dina kalau tidak salah namanya.


'Yah, walau sudah aga lama kejadian pertemuan yang lalu itu, namun wajah manis dan sikap acuh-nya itu cukup meninggalkan kesan di benak ini, entah mengapa..' batinku sambil konsentrasi menjaga image tegas seorang calon polpra.


Wajahnya kembali tampak ditekuk, tertunduk dan tidak peduli dengan sekitar. Sampai seorang Wasana Praja Putri yang duduk di depannya menegurnya: "Kamu sakit dek?"


"Siap, tidak kak." terlihat lesung pipinya ketika ia menjawab cepat sambil mendongakan wajah manisnya.


Dengan terpaksa Dina memandang kearahku. Tatapan kami sempat terpaku sesaat. Lalu senyumnya merekah.


Perang batin pun terjadi.. hati ini ingin balas tersenyum, tapi dari kejauhan pandangan para senior polpra terus memantau.. Jika tersenyum berarti koreksi.. sudah banyak yang menjadi korban, kalau sekedar dipecat dari kader polpra saja seh ga masalah, tapi kalau sampai digilir di barak senior, karena dianggap berani menggoda senior putri, ampun deh..


Walau mata ini masih terpaku pada bola matanya yang terkesan menyimpan luka, namun aku tetap tidak berani menoleh apalagi merekahkan senyum..


"Hi adik, boleh bantu kakak dengan kasih kakak-kakak di sini senyum manismu sedikit saja?" tanyanya lirih, tampak sekali terpaksa.


Aish, kalau sudah begini, rasa kemanusiaan tidak mungkin ku abaikan. Dia tentu akan mendapat masalah kalau aku sampai tidak berhasil membuatku tersenyum. Akhirnya perang batin ini berakhir dengan kekalahan di pihakku.


Mengalah demi kebaikannya, aku tersenyum sekilas ketika kembali melihat senyum manis-nya dan permohonan di bola matanya..


"Kamu memang penggoda sejati ya Dina? Hebat bisa bikin adek calon polpra ini tersenyum.." kata si-Wasana Praja Putri ke Dina, yang tampak sudah kembali tertunduk sambil menghabiskan sisa makanannya.


"Ka’Han aja bisa dibikin klepek-klepek, apalagi cuma calon polpra ya?" kata seorang senior lain menimpali.


"Kamu beneran sudah jadian sama Han ya dek?" tanya si-Wasana Praja Putri itu lagi.


"Siap tidak kak." jawab Dina lirih.


"Bagus kalau kamu tau diri." kata si-senior lagi.


Ku perhatikan wajah Dina kembali semakin dalam ditekuk dan raut menyesal tercetak jelas disana. 'Ah ada apa ini? kenapa aku harus peduli padanya?' batinku kembali bergolak.


Tak terasa, acara makan selesai, dan pintu menza pun harus segera dibuka.


"Senyum kamu manis dek, tapi selamat dibayat ya sama polpra-polpra itu.." sapa si-Wasana Praja Putri tadi ketika berjalan di depanku sambil keluar dari gedung Menza. (bayat \= diberikan pembinaan lebih, hukuman fisik dan sebagainya)


"Maaf ya dek.." pelan ku dengar Dina berkata (masih sambil menunduk) ketika keluar Menza dan melewatiku. Tak ada senyum di wajahnya dan sekuat tenaga ku tahan tangan dan badan ini yang hendak ikut bergerak mengikutinya.


"Calon polpra yang jaga pintu, segera berkumpul di plaza bawah Menza!" suara itu mengagetkan, sekaligus menyadarkan lamunanku, dan kaki ini ku langkahkan secara otomatis ke arah Lapangan Plaza Bawah Menza, seperti yang diperintahkan.


'Sabar.. sabar.. badai pasti berlalu.. walau mungkin topan akan datang sesudahnya.. aish..' batinku mencoba menguatkan hati yang mulai ketar-ketir ketakutan menunggu pembayatan..


...***...

__ADS_1


...~ DINA ~...


Adik Muda Praja calon polpra itu memang tampak berwajah oriental ganteng (setipe artis K-Pop) dengan perawakan yang putih bersih. Menarik perhatian ketika berdiri menjaga pintu Menza tadi. Ian kalau tidak salah tadi nama yang tercetak di papan namanya. Pantas saja tadi banyak senior yang ingin melihat senyumnya. Aku hanya bisa bersimpati, karena dia hanya berada di tempat dan waktu yang salah.


"Bagus kalau kamu tau diri" kata-kata si-senior putri yang tadi duduk di depannya tadi kembali terngiang di pikirannya.


'Memang kenapa kalau aku jadian sama ka’Han? Yang mendekati duluan juga dia kog? Apa serendah itu harga diriku di mata para senior ini? Apa mereka merasa lebih dariku? Kalau mereka tau yang sebenarnya, bagaimana ya?' pertanyaan-pertanyaan ini terlintas dalam batinku ini. Memicu perasaan rendah dan tak layak kembali hadir dalam diri ini. Tak sadar sepasang mata merah memantau dan menungguku di bagian atas tangga Menza.


"Kenapa ditekuk wajah manismu Dina?" suara ka’Han yang telah berdiri di depanku mengagetkan.


Ku tolehkan pandangan ini ke sekitar sebelum akhirnya menjawab: "Siap maaf kak.." demi melihat di sekitar kami masih banyak senior dan junior yang berseliweran keluar dari Menza menuju tempatnya masing-masing.


Aku tak bisa menolak ketika tangannya meraih tanganku dan menarikku dengan paksa ke ruangan WYP (Wahana Wiyata Praja) yang terletak persis di bawah gedung Menza.


"Apa-apaan tadi mengumbar senyum ke calon praja?" kata ka’Han lagi setelah aku terduduk di bangku dan dia bersidekap menyender ke meja di depanku.


'Apa ini yang dinamakan kecemburuan tanpa sebab? Cemburu buta? Bumbu berbau cinta semacam roman picisan yang sempat ku baca di beberapa novel itu?' batinku lagi sambil tetap memandang wajah ka’Han tak percaya.


"Jawab!" perintahnya lagi.


"Apa tadi pertanyaannya ka?" tanyaku kalem sambil melipat tangan di dada ini, aga terasa sakit pergelangan tangan yang tadi ditariknya, namun gengsiku menahan diri ini untuk menunjukkan kepadanya.


Sekilas ada ragu di wajah ka’Han, namun kembali dikeraskannya dengan kalimat: "Kenapa kamu menggoda calon polpra yang jaga pintu tadi?"


"Saya akan jawab, tapi izinkan saya bertanya dulu ka.. Apa akan seperti ini terus hubungan kita?" kataku tanpa senyum dan menatap matanya meminta ketegasan.


"Seperti apa?" tanya ka’Han kembali meragu.


"Seperti senior-junior.." jawabku cepat.


"Kamu pacarku, status saya senior dan kamu junior ya tetap melekat kan?" jawab ka’Han dengan nada yang mulai merendah. Tangannya yang bersedekap pun mulai diturunkan. Kedua telapaknya kita menggenggam erat papan meja yang disenderinya.


"Oh saya kira pacaran itu hubungan saling sayang, memberikan kenyamanan dan perlindungan dan sebaliknya, hubungan senior-junior itu pembinaan dan tuntutan akan kesempurnaan.. Tolong koreksi kalau saya salah kak!" kataku lagi, mencoba mengingatkannya kalau statusku sebagai pacar rahasianya, bukanlah dasar untuk mengekang ataupun membatasi gerakku.


"Maaf saya mungkin telah salah menduga.. kamu yang jarang tersenyum, tiba-tiba terlihat menggoda seorang calon polpra.. saya baru merasakan perasaan ini lagi sejak kita jadian.. cemburu.. ga tau harus bagaimana meluapkannya.. kamu milikku Dina, emosi ini sulit ditahan.." kalimat-kalimat ka’Han meluncur terputus-putus dan diucapkan lirih sambil menundukkan wajahnya, lalu melihat ke arah pergelangan tanganku yang kuusap pelan dan memang terlihat aga memerah.


"Kita masih sama-sama belajar kak.. ini juga pertama kali buat saya.. maaf kalau saya salah, tapi segala sesuatunya bisa dibicarakan baik-baik kan tanpa emosi? Bisa kan saling percaya jadi dasar hubungan kita?" kataku lagi.


"Bisa.." jawabnya cepat dan dilanjutkan dengan kata "Maaf.." sambil mengelus dan memberikan tiupan dingin ke pergelangan tanganku tadi sambil merendahkan dirinya, seperti berlutut di hadapanku.


Tanpa sadar wajah kami mulai mendekat. Ketika mata kami bertatapan, ku lihat semacam kabut mulai menutupi bola matanya, wajahnya pun semakin mendekat.. ‘Akankah ini jadi ciuman pertama kami?’ tanyaku dalam batin saja.


Tiba-tiba terlintas di pikiran ini tentang pembayatan calon polpra dan rasa bersalah yang tadi sempat ku rasakan, lalu aku pun berkata: “Menjawab pertanyaan ka’Han tadi, saya terpaksa melakukannya, menjalankan perintah senior yang mencurigai kita punya hubungan..” aku mencoba menggugah rasa bersalahnya dan kembali bertanya: "Ka’Han, aku mau minta tolong boleh?"


"Apa?" tanyanya perlahan, mulai kembali terlihat terganggu.


"Berjanjilah dulu ka’Han ga akan marah dan akan berupaya mewujudkannya.." kataku mencoba bermanja sambil menggenggam tangannya erat-erat, 'Geli juga sama sikapku yang seperti ini, tapi terlihat berhasil' batinku melihat secuil senyumnya terekah dan ka’Han pun menganggukkan kepalanya.


"Itu ka, tadi saya kan dipaksa senior yang duduk di depan saya untuk membuat calon polpra tadi tersenyum dan tampaknya dia mengetahui hal tersebut dan juga terpaksa tersenyum supaya saya ga bermasalah sama senior tadi.. Sekarang saya yang merasa bersalah sama adik calon polpra tasi.. bisa ka’Han tolong dia? Namanya kalo ga salah Ian." kataku lagi panjang lebar, sambil menjelaskan kejadian tadi.


"Ok, saya pasti bantu dia, tapi dengan 1 syarat.." jawab ka’Han lagi mengerling genit. Perasaanku kembali waspada.


"Apa syaratnya ka?" tanyaku penasaran.


"Cium dulu.." jawab ka’Han sambil menunjuk pipi kanannya.


"Mungkin sekarang sudah mulai pembayatannya, makin lama kamu tunda, makin banyak hukuman yang harus dia jalanin.." kata ka’Han lagi, mungkin melihat kepadaku yang meragu.


"Baiklah.." kataku berdiri dan mendekatkan diri ke arah pipi kanan-nya untuk mencium pipinya sekilas. Tapi gerakan cepat ka’Han ketika menolehkan wajahnya dan pelukan tangannya ke pinggang ini, memerangkap bibirku dalam ciumannya dan pagutan lama terjadi karena tangan kirinya menahan leher ini. Tolakan kedua tanganku di dadanya pun tidak mengurangi intimasi yang terjalin.


Akhirnya ciuman itu terlepas ketika kami mendengar suara hentakan langkah yang terdengar semakin mendekat. Aku kembali terduduk, merasa sedikit kurang tenaga dan mencoba mengelap bibirku ketika tangannya menahan tanganku dan ku lihat kilasan emosi pada tatapan ka’Han.


"Jangan dihapus, biarkan jadi pengingat kalau kamu itu milikku seorang.." bisiknya di telingaku dan berjalan keluar ruangan.


"Kak.." kataku mencoba mengingatkannya lagi tentang permasalahan Ian.


"Iyah, akan saya bantu.. sekali ini saya akan mencoba untuk mengerti rasa bersalahmu Dina, tapi kita harus sering-sering melakukannya.." katanya lagi sambil memberikan ciuman jauh.


'Aarrgghh.. kenapa hubungan ini tidak seindah kisah kasih yang pernah dan kerap ku baca di novel-novel itu? Kenapa rasanya ada yang kurang pas? Apakah bukan ka’Han untuk ku?’ batinku nelangsa.


Aku harus tetap tegar menghadapi hidup ini.. dan terus tetap hidup..


...***...

__ADS_1


__ADS_2