HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 14 Senior oh Senior (2).. (Perspektif Dina dan Ute)


__ADS_3

...~ DINA ~...


Kisah kasihku dengan ka’Han, seorang senior pujaan banyak perempuan di bumi Jatinangor, terutama Praja Perempuan penghuni ksatrian, sudah berlangsung sekitar 5 bulan pada saat ini.


Hubungan yang kami berdua jaga tetap masih dalam mode rahasia, bukan hanya demi menjaga ketenangan hidup-ku, sebagai Madya Praja (tingkat 2 sekolah kedinasan) aku masih punya 2 angkatan senior yang bisa saja terpancing keisengannya atas nama kisah kasih-nya, yang dianggap bagai punguk merindukan bulan (aku dan seorang ka’Han memang tidak sebanding dari sisi ekonomi dan kepopuleran), namun juga karena sesungguhnya aku masih belum teryakinkan akan ketulusan cinta ka’Han dan ketulusan hati-ku sendiri dalam menjalin hubungan ini.


Masih jelas terbayang di benak-ku, kejadian di gerbang PKD ksatrian, ketika untuk pertama kalinya aku dan ka'Han bertegur-sapa, ada rasa tertarik yang mengejutkan pada waktu itu, namun pada saat yang sama, ka'Han juga tidak berusaha menutupi rasa ketertarikannya kepada seorang Calon Praja Perempuan berambut kemerahan yang sangat cantik.


Pun ketika beberapa saat kemudian, yang secara tidak sengaja, aku melihat keduanya kembali bersama, berjalan beriringan ke arah Gedung Pelatihan. Keduanya tampak serius bercakap tanpa memperhatikan sekitar, terlihat serasi, yang satu berwajah ganteng dan berbadan tegap, sementara yang satu lagi berwajah sangat cantik dan bertubuh elok, bernama Ute.


Aku menyadari, kalau pada kedua waktu itu memang belum ada komitmen apa-apa antara aku dan ka'Han, namun tak urung ada rasa minder dan tidak percaya diri jika dibandingkan dengan si-Muda Praja cantik, yang belakangan ku ketahui bahwa Ute adalah gadis kaya raya yang juga punya banyak penggemar.


Dalam beberapa kesempatan bisa pesiar bersama ka'Han, sempat terlintas keinginan ku untuk menanyakan apa arti seorang Ute buat ka'Han.


Mengapa akhirnya ka'Han memilih diriku menjadi kekasih dan bukannya Ute? Apa mungkin karena ada penolakan? Yang artinya aku hanyalah seorang pemeran pengganti, yah dengan pertimbangan daripada ga ada kah?


Namun pertanyaan-pertanyaan itu tidak kunjung terlontar, antara malu bertanya ataupun khawatir jawaban yang akan disampaikan hanya akan menyakiti hati ku sendiri.


...***...


"Hei Madya Praja!" Dina mendengar teriakan itu dari arah Wisma Jabar, tempat senior Nindya Praja Perempuan tinggal, yang kebetulan sedang dilewatinya setelah sebelumnya bertemu untuk berbincang sekilas dengan ka'Han di lapangan Plaza Atas.


Aku pun menolehkan wajahku ke arah sumber suara, memastikan bahwa memang dirikulah yang barusan dipanggil.


"Iya kamu dek Madya, kesini sebentar!" perintah seorang Nindya Wanita Praja yang tampak garang dan berbadan tegap seperti binaragawati dengan kaus ketat yang semakin menonjolkan otot-otot-nya.


Berjalan ke arahnya, aku melihat seorang Muda Wanita Praja berdiri di halaman wisma, Ute, dikerubuti beberapa orang Nindya Wanita Praja lainnya, yang juga telah mengenakan kaos dan training santai. Sekilas ku lihat lirikan mata Ute ke wajah dan papan namaku. Oh sepertinya adik ini sedang kurang beruntung berhadapan dengan macan-macan kampus iseng. Mungkin lebih tidak beruntung dari diriku, karena bagaimanapun dia masih junior terendah, sementara aku sudah aga senior sedikit.


"Selamat sore kak!" sapaku sambil memberikan PPM ketika sudah di hadapan Nindya Wanita Praja yang berotot tadi.


"Sore dek!" jawab si-senior santai, hanya menganggukkan wajahnya sekilas membalas PPM-ku dan kembali berujar: "Coba menghadap ke Muda itu dan tutupi papan namamu!"


"Dek Muda, kamu tau nama Madya ini?" kata si-Nindya ke arah Ute yang memandang balik ke arah senior tersebut tanpa memperlihatkan rasa takut sedikitpun.


"Siap tau kak, ini ka'Dina dari Sulawesi Selatan." jawab Ute lantang setelah melihat ke arahku sekilas.


"Oh jadi kamu maunya cuma kenal sama Madya, tapi ga mau kenal sama Nindya ya?"


"Dari tadi kamu ga ada kenal satupun dari kami di sini! Giliran ditanya nama Madya yang kebetulan lewat kamu tau.. Bagus sekali.."


"Apa kamu lebih takut sama Madya daripada sama Nindya ya?"


"Atau mentang-mentang sudah jadi pacar Wasana Praja jadi bisa belagak? Ga merasa perlu kenal sama Nindya lagi?"


Kakak-kakak senior yang mengerubuti Ute mulai mengoceh satu per satu. Mencoba menakuti dan menjatuhkan mental Ute, yang herannya tampak tidak gentar sedikitpun.


"Hei Madya, apa kamu pikir baik sikap Muda Praja seperti ini?" tanya si senior berotot lagi kepadaku.


"Siap tidak kak!" jawabku tegas walau tetap mempertontonkan (dengan jelas) rasa takut yang ku buat-buat. "Izin kalau boleh saya akan bina adik ini kak.." mohonku kemudian.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya mulai tertarik. Yah memang banyak senior yang suka meminjam tangan juniornya untuk melampiaskan dendamnya kepada junior yang lebih rendah lagi. Sepertinya kejadian sore ini pun demikian adanya.

__ADS_1


"Siap, izin kalau boleh, saya akan kasih hukuman berkala kepadanya di Wisma Madya kak!" kataku lagi, yang artinya secara reguler, aku akan mewajibkan Ute menghadap dan menerima hukuman fisik dariku di Wisma Madya, yang pastinya akan mengundang perhatian banyak Madya lainnya yang sewisma denganku.


Menyeringai aga menakutkan, si senior kemudian berkata: "Okey, kamu bina deh adik Muda kamu itu, sampai jera ya!"


"Siap kak!" kataku cepat, menghampiri Ute dari belakang, mendorong belakang kepalanya agar menunduk sekilas kepada para senior itu dengan tangan sebelah kiriku dan kemudian sambil menarik tangan Ute aku kembali berujar perlahan: "Izin kak, selamat sore kak.."


Berjalan bersama junior cantik ini, aku tiba-tiba teringat pada petuah orang tua:


“Ritomainge'e eppa' masero madecceng: mula-mulanna namaiseiwi topurae mamaseiwi, maduanna tenri ellauwi nabbere, temmattajeng pamale', matellunna tulung ngengngi sukara'na taue risingangka-gangkanna pattulung, maeppa'na mappangaja' lettu' riperu'e. (Terjemahan: Bagi orang yang panjang ingatannya, ada empat hal yang sangat baik: permulaannya mengasihani orang yang pernah mengasihaninya, kedua memberi tanpa diminta dan tidak menunggu pembalasan, ketiga menolong kesukaran orang dengan sepenuhnya, keempat memberi nasihat dengan tulus.)


‘Sungguh beban tersendiri punya orang tua yang penuh petuah dan nasehat bijak. Walaupun tidak semua bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, namun nilai-nilai yang sempat ditanamkan, mau tidak mau sudah terinternalisasi dan memaksa raga ini melakukan hal-hal yang secara logika tidak perlu dilakukan. Haish..’ batinku nelangsa.


...***...


...~ UTE ~...


Pergelangan tanganku masih dalam genggamannya. Kami berjalan menjauhi Wisma Jabar dan para senior iseng, dengan aura hitam masing-masing, yang tinggal di situ.


Namun di dekat Wisma Maluku, tempat aku tinggal, ka'Dina (dengan aura biru muda-nya) melepaskan tanganku dan berkata: "Tidak ada salahnya menunjukkan rasa takut di depan senior iseng dek, anggap saja kamu lagi memainkan peran pengecut di dunia sandiwara ini."


"Kenapa?" tanyaku singkat, penasaran dengan sikapnya yang selama ini selalu terlihat tertutup, namun ternyata sangat baik hati ini.


"Mereka ga akan puas dan berhenti ngisengin kamu kalau kamu terus menunjukkan sikap berani membangkang seperti ini!" jawabnya keras dengan aura diri yang mulai memerah, namun sesaat membiru kembali, "Dan buat apa kamu buang energi dan waktu kamu yang berharga hanya demi meladeni keisengan mereka? Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat yang bisa kamu lakukan dek."


"Siap kak. Terima kasih atas kebaikan hati kakak." jawabku akhirnya.


Sesaat kemudian ka'Dina bergerak duduk di selasar semen yang membingkai pohon di pertigaan jalan ini, lalu dia menepuk dudukan di sebelahnya, meminta aku juga duduk di situ. Auranya kembali memancarkan warna biru muda terang nyaris seperti hijau yang damai.


"Siap kak, sekali lagi terima kasih kak.." jawabku tanpa sadar ikutan tersenyum, mungkin karena merasa sedikit geli dan juga bahagia, seakan menemukan seorang saudara dan juga sahabat, a partner in crime (seorang rekan dalam kejahatan).


Kami terdiam beberapa saat. Menikmati semilir angin sore yang menyegarkan ini, mencoba meresap kedamaian dan ketenangan hati.


Aku pun teringat pada sebuah cerita yang pernah ku baca dalam kisah 1001 malam, mengenai seorang bijak yang merasa mempunyai 2½ orang sahabat.


Untuk lebih jelasnya, beginilah kisahnya:


...***...


Di sebuah negara Antah Berantah, tinggallah seorang saudagar Arab yang kaya-raya bernama Zainal Abidin. Beliau memiliki seorang anak yang dia asuh dengan penuh kasih sayang. Semakin hari anak ini bertumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tinggi budi pekertinya.


Suatu hari, Zainal Abidin memanggil anaknya dan berkata: "Dalam hidup ini, selain harta benda yang kita miliki sekarang ini, kita juga perlu mempunyai sahabat-sahabat yang setia dan selalu bersedia membantu kita sewaktu kita butuhkan. Anakku, ambillah uang ini dan carilah sahabat-sahabat seperti yang ayah katakan tadi!"


Berbekalkan sejumlah uang itu, anaknya ini pergi keluar kota dan mencari beberapa orang sahabat seperti yang diperintahkan oleh ayahnya. Setelah bertemu dengan beberapa orang cakap yang dianggap layak dan sepemikiran dengannya, ia pun bersepakat untuk menjalin persahabatan dengan orang-orang tersebut. Lalu ia pun pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, ayahnya bertanya: ”Sudah sekian lama kamu meninggalkan rumah ini untuk mencari sahabat, tolong katakan kepada ayahmu ini, ada berapa orang sahabatmu sekarang 'nak?”


”Ayah, sejak meninggalkan rumah ini, aku telah bertemu dengan banyak orang. Saat ini ada 50 orang yang bisa aku jadikan sahabat dan aku rasa mereka benar-benar tulus bersahabat denganku.” jawab sang anak bangga.


“Bagus anakku, walaupun ayah telah hidup lebih dari 60 tahun, tetapi ayah hanya mempunyai 2½ orang sahabat saja dan sesungguhnya lah kamu lebih hebat dari ayah. Bisakah kamu mengundang para sahabatmu itu ke rumah kita ini? Karena ayah ingin mengadakan acara syukuran minggu depan.”


Pada hari yang ditentukan, berkumpullah 50 orang sahabat anaknya di rumah dan setelah selesai makan berkatalah Zainal Abidin: ”Wahai para sahabat anakku, aku amat berbesar hati karena kalian semua sudi datang ke rumah ini. Tujuanku mengundang kalian semua adalah karena aku ingin minta pendapat kalian sehubungan dengan musibah yang menimpa anakku ini. Anakku telah dituduh berselingkuh dengan puteri Raja dan kalian tahu anakku tidak melakukan perbuatan terkutuk itu tetapi Raja tidak mempercayainya. Besok pagi, tentara Raja akan datang ke rumah ini dan menangkap anakku."

__ADS_1


“Maafkan kami pak.. Kami sangat takut berurusan dengan Raja dan kami tidak dapat berbuat apa-apa. Sekiranya bukan masalah dengan Raja, kami pasti akan berpihak pada sahabat kami ini.." beberapa orang sahabat anaknya berkelit dan segera memohonkan diri untuk pulang.


Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata: “Aku akan menemani sahabatku ini, apapun terjadi. Sekiranya tentara Raja datang nanti untuk menangkapnya, aku akan ikut bersama dia mengadap Raja dan meminta belas kasihan raja agar perkaranya diselidiki dengan teliti dan sekiranya ada kesalahannya, agar dapat diampuni. Sekiranya tidak bisa mendapat pengampunan, aku siap mempertaruhkan nyawaku untuk menentang perintah Raja tersebut!” dengan lantang dan berapi-api.


Setelah para sahabat anaknya tersebut pulang ke rumah masing-masing, Zainal Abidin berkata kepada anaknya: ”Kamu sesungguhnya hanya mempunyai seorang sahabat dan yang lain-lain hanyalah teman-temanmu belaka. Seorang sahabat akan sanggup bersama kita dalam saat kita senang ataupun susah. Besok aku akan memanggil 2½ orang sahabatku dan aku akan mengenalkannya kepadamu.”


Keesokkan harinya, Zainal Abidin pun memanggil tiga orang temannya untuk datang ke rumah. Dia menanyakan kabar dan kesibukkan masing-masing.


Tiba saatnya kemudian, berkatalah Zainal Abidin: ”Sahabat-sahabatku, sebenarnya tujuan aku memanggil kalian adalah karena aku ingin meminta pendapat kalian berkenaan musibah yang melanda anakku. Dia dituduh berselingkuh dengan anak Raja dan esok tentara Raja akan datang menangkap anakku untuk dijatuhi hukuman mati. Kalian semua tahu bahwa anakku sungguh tidak melakukan perbuatan hina tersebut dan itu cuma fitnah belaka.”


Berkatalah seorang dari mereka: ”Begini saja. Sebelum tentara Raja datang, aku akan mengadap Raja dan menawarkan seluruh hartaku untuk menggantikan nyawa anakmu.”


Seorang yang lain berkata: ”Aku akan meminta Raja mengambil nyawaku sebagai ganti nyawa anakmu karena aku sudah tua dan telah puas menikmati hidup ini. Biarlah anakmu yang masih muda dapat terus hidup untuk menikmati hari-hari mendatang.”


Sahabat yang ketiga angkat bicara: ”Saranku adalah aku akan segera menemui Raja dan menawarkan seluruh hartaku. Sekiranya Raja tidak mau, aku akan menyakinkannya agar beliau mengambil nyawaku sebagai ganti nyawa anakmu.”


Setelah itu, mereka berpelukan untuk pulang ke rumah masing-masing dan meminta Zainal Abidin segera memberi kabar selanjutnya mengenai perkara ini.


Kemudian Zainal Abidin berkata kepada anaknya: ”Kamu lihat anakku, kenapa aku mengatakan aku hanya mempunyai 2½ orang sahabat? Karena yang seorang hanya sanggup mengorbankan hartanya dan bagiku dia adalah ½ sahabat. Seorang lagi sanggup mengorbankan nyawanya dan yang terakhir sanggup memberikan hartanya dan juga nyawa sebagai tanda persahabatan kami. Inilah nilai ketulusan dalam bersahabat.”


...***...


Entah mengapa, teringat akan kisah ini, aku merasa dekat, nyaman dan familiar akan sosok sahabat penuh yang menguar dari diri seorang Dina.


Aku pun bertekad untuk meneladani kebaikan hati Dina dan menjadikan Dina seorang sahabat yang akan dia ikuti arahannya.


Kekagumanku bertambah ketika ka’Dina kembali menambahkan: “Ada kalimat bijak orang Bugis yang berkata: Aja' mumacennimpegang, aja'to mumapai wegang, nasaba' macennimpegakko riemme'ko, mapai' wegakko riluwako. Terjemahannya kira-kira begini: Jangan jadi terlalu manis atau baik, namun jangan juga jadi terlalu pahit atau buruk. Sebab apabila engkau terlalu manis engkau akan ditelan atau dikuasai, namun jika terlalu pahit atau buruk maka engkau akan dimuntahkan dan dibenci. Jadi yang baik ialah bertindak yang wajar-wajar saja.”


‘Bijak banged ga seh ka’Dina ini?’ batinku sambil mengangguk-angguk menunjukkan kesepahaman dengan pemikirannya. Terlihat aura ka’Dina semakin berwarna biru kehijauan, menunjukkan pemikiran mendalamnya.


Setelahnya kami pun kembali terdiam beberapa saat. Menikmati hembusan angin sore yang semilir meniup anak-anak rambut kami.


"Oh iya, tadi kamu disebut-sebut pacaran dengan Wasana Praja, siapa laki-laki yang beruntung itu kalau saya boleh tau?" pertanyaan ka'Dina memecahkan keheningan diantara mereka. Aura kuning mendekati orange kembali menguar, menunjukkan kejahilan sahabat barunya ini.


"Oh itu ka'Han kak.. ka'Dina pasti kenal kan?" jawabku lugas, langsung terheran demi melihat pancaran keunguan kelat dari aura ka'Dina, namun berangsur-angsur menjadi merah dan akhirnya memudar menjadi pink.


"Ka'Han ya? Sejak kapan kalian pacaran?" tanyanya perlahan beberapa saat kemudian.


"Kami ga pernah pacaran kak, itu kan cuma tuduhan senior-senior tadi aja. Ka'Han bukan type-ku kak.. mungkin type ka'Dina kale ya?" kataku lagi mencoba mengorek informasi alasan perubahan auranya yang seakan meledak dengan sangat tiba-tiba tadi.


"Bisa aja kamu ini.." jawab ka'Dina dengan aura pink yang semakin menguat warnanya. Tebakanku ternyata benar. Ada sesuatu antara ka'Han dan ka'Dina.


"Memang type kamu yang seperti apa?" tanya ka'Dina lagi kembali memancarkan aura kuning terang melingkupi pancaran warna pink sebelumnya.


Tanpa bisa menahan diri untuk iseng balik, aku berkata polos: "Seperti ka'Dina.."


"Ngaco aja kamu.." jawab ka'Dina cepat sambil menjentikkan jarinya ke hidungku, menguarkan aura biru kehijauan lagi dan segera beranjak berdiri, berjalan menjauh ke arah wismanya, "Udah sore, kakak balik dulu ya adik cantik.." pamitnya kemudian.


"Siap kak, see you when I see you ya.. selamat sore ka.." jawabku berdiri dan memberikan PPM ke arah punggungnya. (terjemahan: sampai bertemu lagi ketika aku melihatmu)


...***...

__ADS_1


__ADS_2