HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 28 (Bagian 2) Menunjukkan Ketertarikan (H, Ian, D. & P.)


__ADS_3

...~ IAN ~...


Begitu sosok Hanna, yang hanya pernah kutemui sekali, namun sering bertukar kabar via telphone atau wa, melangkah keluar dari mobil rentalan Ka’Han, konsentrasiku langsung buyar. Padahal ia berdiri paling belakang dan diperkenalkan Ka’Han juga belakangan.


Hanna tampak sangat segar memukau. Dia memakai jins biru muda dan kaos pink berhias renda. Rambut panjangnya tergerai lembut di bahu. Hanna melambai ragu sambil tersenyum, terlihat tidak yakin akan disambut dengan baik. Pemikiran yang konyol, karena tubuhku langsung bereaksi, adrenalin sekarang menderas di sekujur tubuh ini, membuatku bersemangat dan sangat senang.


Pertemuan pertama kami di Wisma Palapa beberapa waktu yang lalu itu memang sedikit aga unik.


Sang ibu Ka’Han yang lembut dan jarang berbicara, dengan lugas pernah menanyakan kesediaanku menjadi pendamping masa depan Hanna. Walau mungkin waktu itu ia hanya bergurau, tapi keakraban yang langsung tercipta sangat berbekas di hati ini dan entah bagaimana melekat erat dalam pikiranku. Sejak saat itu, aku merasakan kedekatan emosional yang tidak pernah kurasakan sebelumnya dan aku pun benar-benar bersedia tanpa paksaan kalau disuruh menjadi pasangan gadis manis yang ceria ini, seperti jawaban yang kuberikan waktu itu (baca Ep. 17 chapter Ian –red).


“Hi Hanna, ketemu lagi kita ya?” ujarku melihat ke wajah mungilnya yang semakin terlihat manis dengan semburat rona merah menggemaskan ketika tangan kami mulai bersentuhan ringan dan semakin erat dalam sebuah jabatan tangan berkedok persaudaraan.


Aku menahan genggaman tangan kami cukup lama, tidak ingin melepaskan sentuhan yang seakan mengirimkan sentakan gelombang ke sekujur tubuh ini.


Di mata Hanna, sepertinya aku bisa melihat penerimaan dan pengertian yang mungkin juga sudah menjadi kebutuhannya, sama seperti diriku, serta rasa rindu dan kesepian yang mungkin hampir sama dengan yang ku rasakan selama ini. Binar di mata gadis yang ada di hadapanku ini seakan menceritakan segala yang ia rasakan.


Aku kembali teringat bagaimana aku sering memikirkan gadis ini di pagi dan siang hari dan bahkan melihatnya dalam mimpi-mimpiku di malam hari. Beberapa kali aku berandai-andai tentang apa yang akan terjadi jika kami berdua diberi kesempatan untuk meluapkan hasrat yang tidak pernah kami ungkapkan lewat kata-kata. Rasa penasaran yang terus bercokol di kepalaku dan semakin hari semakin membara sejak pertemuan pertama itu.


Hanna tersenyum malu-malu kepadaku tapi dengan suara lantang balas menyapa: “Hai juga Ka’Ian! Senang bisa bertemu Kakak lagi..”


Masih dengan tangannya dalam genggaman ini, aku memaksakan diri untuk berujar: “Saya juga senang akhirnya bisa bertemu kamu lagi Hanna..” Tatapanku tidak pernah lepas dari sosoknya.


Namun jabatan itu terpaksa ku lepas, sedikit aga lebih cepat daripada yang ku inginkan sebenarnya, tapi memang harus aku lakukan demi melihat tatapan tajam yang dilemparkan Ka’Han, sang Kakak Tertua.


Kalau waktu pertemuan pertama dulu itu aku merasa Hanna adalah godaan yang berbahaya, sekarang aku benar-benar terpesona akan kesegarannya dan tidak sanggup mengalihkan tatapanku sedikitpun.


“Mari silahkan masuk semuanya..” ujarku lagi sambil menjilat bibirku yang terasa aga kering, lalu berjalan terlebih dahulu ke atas tangga dan membuka pintu depan dengan lebar untuk mengundang semuanya masuk ke dalam rumah.


Mereka semua berjalan mengikuti arahan ku untuk duduk beristirahat di ruang tamu yang lumayan luas ini.

__ADS_1


Namun yang terus menerus menyita perhatianku justru sosok Hanna, yang tampak terkagum-kagum dengan eksterior dan interior rumah kami. Tanpa menutupi rasa tertariknya, Hanna memperhatikan setiap pajangan dan lukisan di dinding dengan seksama. Ia memandangi foto-foto keluarga kami satu persatu dengan teliti, seakan ingin merekamnya dalam memori di kepalanya yang mungil itu.


Sepertinya baru kali ini aku bersyukur memiliki orang tua yang ‘berpunya’ dan aku menikmati kekaguman Hanna ini, walaupun tidak ditujukan langsung kepadaku. Perasaan ini aga aneh ku rasakan, seperti semacam kelembutan yang membuat perutku merasakan sesuatu yang asing. Entahlah, aku tidak terlalu tahu pasti rasa apa itu sebenarnya.


Di mataku ini, sosok Hanna yang aga kusut dan sedikit kelelahan, mungkin karena ia sempat tertidur dalam perjalanan Jakarta - Jatinangor tadi, tetaplah terlihat manis dan menarik dengan kepolosan yang menyegarkan walau tanpa polesan make-up sedikitpun.


“Lagi coba mengenali bakal mertua dan kakak ipar ya Hanna?” tanyaku di sisi-nya setelah sempat meminta si-mbok di belakang menghidangkan minum dan cemilan yang telah disiapkan sebelumnya.


“Apaan seh Ka’Ian neh? Suka bener godain cewek polos yang masih lugu seperti saya ini?” jawab Hanna dengan nada manja yang terasa dibuat-buat. Namun semburat merah di pipinya tidak bisa menutupi kebenaran yang tadi sempat kuucapkan asal-asalan. Hanna sepertinya beneran sedang mencoba lebih mengenal keluargaku.


“Orang tua saya mendidik kami anak-anaknya dengan cukup keras. Saya anak paling bungsu sama seperti kamu Hanna. Semua Koko dan Cici saya pengusaha. Mereka sebenarnya berharap saya akan mengikuti jejak mereka juga menjadi pengusaha, pengatur dan pemimpin di bidang ekonomi. Tapi apa mau dikata, saya memilih menjadi pelayan masyarakat, kamu juga harus sabar kalau mau jadi pendamping saya ya..” kataku lugas mencoba membuka pikirannya agar dapat menerimaku apa adanya. Terlalu cepat memang untuk menunjukkan jati diri ini, tapi sepertinya nuraniku menolak berpura-pura di hadapannya, perempuan muda yang kepadanya hati ini sudah berlabuh.


“Ach Ka’Ian bisa aja, kalau jodoh seh ga akan kemana katanya ya?” jawab Hanna lembut dan mengerling, tanda hal yang baru ku sampaikan dengan terpaksa bukanlah suatu masalah baginya, yang mana membuat hatiku semakin yakin memilihnya.


Kami sempat bertatapan sepersekian menit, sebelum deheman keras Ka’Han di belakang kami membuyarkan daya tariknya. Kami pun menoleh bersamaan ke sumber suara.


“Saya cuma lagi membantu Hanna lebih mengenal calon mertua dan kakak-kakak iparnya saja Ka’Han..” jawabku polos yang dihadiahi cubitan di pinggang ini oleh tangan Hanna yang sepertinya bergerak refleks. Membuat mata Ka’Han sempat melotot kepada Hanna, yang tanpa sadar bergerak ke belakang tubuhku, menyembunyikan dirinya.


Tanpa sadar, aku terkekeh dan menarik tangan Hanna untuk duduk dan menyerahkan gelas berisi minuman dingin ke tangannya. Tidak terlalu khawatir pada reaksi Ka’Han lebih lanjut karena di sini ada “pawang”-nya, Ute, yang sigap mendekati Ka’Han, mungkin untuk menenangkannya. Ute memang sahabat yang selalu bisa diandalkan.


Hari itu, aku berkesempatan mengenal lebih dekat adik perempuan Ka’Han yang sangat manis dan aku telah merasa sangat tertarik kepada sosoknya. Hal yang baru pertama kali ku rasakan dalam hidup ini. Mungkin inilah yang dinamakan Cinta? Atauhanya rasa tertarik saja? Entahlah, yang pasti, waktu akan menjawabnya nanti.


...***...


“Ian, kita perlu berbicara serius!” ujar Ka’Han sore itu di pinggir kolam renang. Ia mendekatiku yang sedang duduk santai sambil memperhatikan Hanna dan Ute serta Ka’Dina yang sedang bermain air di sisi seberang kolam renang tersebut.


Aku pun menegakkan duduk dan menggangguk, sambil sebisa mungkin meredakan hentakan jantung yang tiba-tiba menderas, mencoba terlihat tenang seakan terbiasa dengan gaya bicara terus terang seperti yang ditunjukkan Ka’Han, mengupayakan penampilan yang tampak tidak gentar maupun ketakukan ketika menatap sosok Ka’Han yang tinggi dan besar.


“Hanna masih sangat muda, dia juga gadis yang sangat polos..” Ka’Han berujar sambil duduk di salah satu bangku santai di sebelahku. Mata coklatnya tampak waspada mengamati ketiga perempuan di seberang dan sesekali melirik ke arahku dengan tajam seakan sedang menilai karakter atau bahkan kedalaman di jiwaku.

__ADS_1


Setelah berdiam sekian lama, Ka’Han bertanya dengan perlahan: “Kenapa harus Hanna?”


Aku sempat terdiam, lalu menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan juga: “Apakah rasa tertarik perlu alasan Kak?”


Ka’Han menghembuskan nafasnya tampak frustasi, seakan baru mulai menyadari adik kecilnya yang canggung dan manja telah tumbuh menjadi perempuan muda yang cantik dan menarik perhatian laki-laki normal seperti diriku.


“Dia mungkin tampak manis dan bersahaja, tapi dia masih tidak punya tujuan. Belum ada target yang ingin dicapainya. Dan dia sangat ceroboh dalam membuat keputusan.” Urai Ka’Han datar.


“Sebagian besar gadis berusia tujuh belas tahun memang seperti itu kan Kak? Tinggal menunggu waktu saja, Hanna akan segera tumbuh menjadi perempuan tangguh, mandiri, bertingkah laku halus dan memiliki kekuatan yang layak diakui.” jawabku setelah terdiam beberapa saat.


Ka’Han menatap pupil mataku tajam dan akhirnya mendesah berat, memperlihatkan kebijaksanaan yang memungkinkannya mengatur rekan seangkatan dan junior-juniornya di Ksatrian dengan sangat sukses. “Baiklah. Aku akan mempercayakan adikku padamu. Jagalah dia seperti aku telah menjaganya selama ini!”


Tak dapat menahan senyum di wajah ini, aku bersyukur kepada Tuhan, karena satu rintangan besar sudah terlalui dan berharap pelabuhan hatiku itu akan setia menunggu.


Kami berdua kembali terdiam dan memperhatikan candaan ketiga perempuan yang kini sudah hampir membuat basah bajunya masing-masing, entah bagaimana mereka tampak semakin menarik, terutama Hanna yang paling muda, yang di mataku paling penuh gairah hidup dan kebaikan hati, mungkin karena memang kehidupan telah memanjakannya selama ini. Kepolosan itu teramat sangat menarik perhatian ini.


“Ada satu hal lagi yang saya rasa perlu kamu bantu Ian..” ujar Ka’Han membuyarkan lamunanku.


“Iya Kak, katakan saja.. kalau masih dalam kemampuan saya mengupayakannya, pasti akan saya lakukan dengan seoptimal mungkin.” Jawabku meyakinkannya. Bagaimanapun Ka’Han akan menjadi kakak iparku kelak.


“Tentang Ute.. apakah menurutmu akan terlalu cepat kalau saya melamarnya setelah wisuda?” tanya Ka’Han ragu-ragu.


“Apa yang membuat seorang Ka’Han meragu?” tanyaku singkat.


“Setiap kali saya mulai berbicara serius mengenai hubungan kami ini, matanya selalu membesar dan tampak akan menumpahkan linangan air mata. Maka sesegera mungkin saya mengalihkan pembicaraan dan kamu juga akan tidak senang melihat gelagat orang yang kamu sayangi merasa tidak bahagia kan?” jawab Ka’Han tampak kembali terpuruk.


“Kita memang harus bekerja keras untuk kebahagiaan kita sendiri Kak.. apalagi ketika kebahagiaan kita sangat bergantung pada rasa bahagia yang dialami orang kesayangan kita..” jawabku kemudian.


...***...

__ADS_1


__ADS_2