HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 25 (Bagian 2) Sang Ratu.. (Ian, Ute & Pras)


__ADS_3

...~ UTE ~...


Pagi ini Ian datang lebih awal dari yang diperkirakan. Langit masih aga gelap namun aura kebaikan hati yang memancar dari tubuhnya mencerahkan hari. Dengan sopan ia bercakap-cakap dengan pemilik rumah kami dan meminta izin untuk mengajak kami jalan-jalan ke kompleks makam Ratu Kalinyama, yang letaknya tidak terlalu jauh.


Ibu dan Bapak tuan rumah kami sangat ramah dan walau sudah aga berumur, namun mereka belum juga dikarunia anak, itulah sebabnya ketika mengetahui ada rencana kunjungan Praja ke desa mereka ini, dengan penuh semangat mereka mengusulkan diri menjadi salah satu rumah yang dapat digunakan sebagai home-stay Praja dan disinilah kami (aku dan seorang teman perempuanku) tinggal.


Setiap malam mereka menjamu kami dengan banyak hidangan lezat. Mereka tidak pernah menutupi rasa senang yang timbul karena sangat menyukai kehadiran kami. Seringkali aku mendapati mereka memandang ke arahku dengan pandangan yang sulit dimengerti artinya. Namun karena aura yang keluar dari tubuh mereka berwarna bersahabat dan tidak sedikitpun ada aura jahat, aku memilih untuk menikmati saja perhatian-perhatian mereka tersebut.


Ketika terbangun tadi, teman sekamarku masih tenggelam dalam dunia mimpi-nya. Tidak tega rasanya aku membangunkannya dan membuyarkan mimpi indah yang sepertinya sedang ia alami jika menilik pada aura pink muda yang menguar dari tubuhnya. Jadi aku hanya bersiap sendiri dan meninggalkan sepotong kertas yang menginfikan kalau aku dan Ian akan berjalan pagi ke area Makam Ratu Kalinyamat yang terkenal itu.


Ratu Kalinyamat, di mata penduduk desa merupakan ratu yang cakap dan disegani. Konon kabarnya ia pernah dua kali mengirimkan armada perangnya untuk menyerang Malaka, walaupun penyerangan tersebut mengalami kegagalan dan banyak prajuritnya yang gugur serta armada kapalnya rusak dan tenggelam. Namun sosoknya tetap dicintai warga dan silsilah ketuturnannya memang sangat terhormat. Ia adalah cucu Raden Patah pendiri Kerajaan Demak. Ayahnya bernama Pangeran Trenggana, salah satu anak Raden Patah. Salah satu saudaranya bernama Sunan Prawata. Nama Kalinyamat merupakan sebuah nama julukan karena bertempat tinggal di Kalinyamat. Ratu Kalinyamat bersuamikan Pangeran Hadiri.


Ketika kami akhirnya sampai ke kompleks makam Ratu Kalinyamat, walau langit masih temaran dan lampu-lampu komplek sudah dipadamkan sebagian, kami tetap dapat melihat kondisi makam masih terpelihara dengan sangat baik. Selain makam Ratu Kalinyamat dan beberapa kerabatnya, ada juga sisa masjid kuno Mantingan di komplek tersebut. Terdapat juga sebuah prasasti batu bertuliskan candrasengkala dengan huruf dan bahasa Jawa, berbunyi ‘Rupa Brahmana Warsa Sari’, yang diperkirakan dibuat pada tahun 1481 Saka atau 1559 Masehi. Namun Masjid kuno Mantingan sudah tidak ada saat ini dan di atasnya telah didirikan masjid baru, yang juga sangat megah namun tetap terlihat adem.



Makam Ratu Kalinyamat persis berada di belakang Masjid Mantingan. Di sana, Ratu Kalinyamat dimakamkan bersebelahan dengan makam suaminya, Pangeran Hadlirin.


Menurut orang pertama yang kami sapa ketika memasuki area makam, kala itu beliau sedang mematikan penerangan secara manual satu persatu, yang ternyata adalah Juru Kunci Makam Ratu Kalinyamat, Bapak Ali Safii, tempat tersebut tidak pernah sepi pengunjung. "Kalau pas ramai peziarah itu biasanya pas hari malam Jumat wage, seperti semalem, tempat ini penuh dengan peziarah.” ujarnya sopan, memandang ke arahku dengan pandangan hormat seakan kagum dan hampir seperti tidak mempercayai mata tuanya. Aura yang tepancar dari tubuh renta-nya adalah berwarna orange terang berselimut warna ungu muda, yang penuh dengan pemujaan dan tanda tanya, membuat hatiku seperti dikenali namun juga bertanya-tanya.


Sambil terus berjalan ke arah penerangan lampu yang satu dengan yang lainnya, Pak Ali juga sempat mengatakan, kalau di tahun baru Islam atau pada bulan Muharam ini akan diselenggarakan sejumlah acara. Dalam perhitungan Jawa bulan Suro akan ada acara syukuran di Makam Ratu Kalinyamat. Namun karena kondisi pandemi syukuran tersebut digelar secara sederhana. "Tanggal 1 Suro nanti akan ada acara syukuran mengawali tahun, kemudian tanggal 10 Suro ada perayaan hari kemenangan, tapi sepertinya saat ini syukurannya digelar secara sederhana. Tidak ada ramai-ramai seperti sebelum-sebelumnya." jelas Pak Ali, masih dengan pandangan kagum kearah-ku, yang sepertinya mulai juga dirasakan Ian.

__ADS_1


"Setiap setahun diperingati dua kali, haulnya Sultan Hadirin dan haul Ratu Kalinyamat itu dibarengi dengan hari jadi Kabupaten Jepara. Tapi maaf ya, Gusti Raden Ayu ini namanya siapa dan tinggal dimana kalau boleh saya tahu" ujarnya lagi fokus ke arahku, padahal yang selama ini mengajak beliau berbicara adalah Ian.


“Oh mohon maafkan ketidaksopanan kami karena tidak memperkenalkan diri sebelumnya pak. Kami ini praja sebuah sekolah kedinasan bidang pemerintahan yang sedang melakukan praktek kerja lapangan di Kabupaten Jepara ini. Kami tinggal tidak jauh dari lokasi sini dan akan mulai bekerja selama kurang lebih satu bulan ini di kantor Desa Mantingan, mulai dari hari Senin besok. Nama saya Ian pak, ini teman saya Ute.” Ian menjawab sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


“Oh Den Gung Ian ini ada hubungan apa ya kalau boleh tau dengan Gusti Raden Ayu Ute ini?” tanyanya lagi takjim sekilas memandang Ian namun kemudian kembali memandangi wajahku. Kalimat pertanyaannya tersebut sempat membuat kami berdua aga kebingungan untuk menjawab, apalagi dengan embel-embel keningratan yang dia sematkan ketika memanggil nama kami.


“Maaf pak, nama saya Ute, cukup dipanggil Ute saja. Saya bukan keturunan bangsawan atau ningrat Jawa, ayah saya dari Kalimantan dan ibu dari Sulawesi pak, jadi tidak perlu ditambahkan Gusti Raden segala di depan nama saya. Saya dan Ian sudah berteman lama pak, selain sahabat ya kami tidak punya hubungan apa-apa lagi.” jawabku dengan senyum geli namun tetap menunjukan rasa hormat, sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman dengannya.


Reaksi beliau berikutnya juga kembali mengejutkan kami, dengan sikap hormat, beliau menekuk satu lututnya dan mendekatkan kedua tangannya yang telah tertangkup menyentuh sekilas tanganku sambil berujar: “Gusti Raden Ajeng Ute, kados pundhi pakabarenipun?” (terjemahan: “Yang Mulia Ute, bagaimana kabarnya?”)


Dengan refleks aku memegang kedua sisi bahunya untuk membimbingnya menegakkan badannya lagi dan bertanya: “Maaf pak, saya ga ngerti bahasa Jawa dan Bapak tidak apa-apa kan?”


“Baiklah Pak Ali, penghormat bapak saya terima, namun saya punya permohonan yang saya minta dapat Bapak penuhi ya.” ujarku kemudian setelah terdiam beberapa saat dan saling pandang dengan Ian yang juga tampak agak kebingungan namun tidak terlalu terkejut, sepertinya entah bagaimana Ian telah menduga hal seperti ini akan terjadi.


“Menopo ingkang Kulo ayae, Gusti Raden Ajeng Ute?” ujar bapak itu lagi tetap dengan raut penghormatan bahkan mungkin pemujaan yang tidak berkurang kadarnya, aura yang terpancar dari tubuhnya kini telah berwarna ungu terang. (terjemahan: “Apa yang harus saya kerjakan yang mulia?”)


“Saya minta pak Ali tidak menyebarkan kejadian pengenalan bapak terhadap saya ini. Saya perlu menyelidiki asal keturunan saya, baik itu dari orang tua ataupun kakek-nenek saya, sebelum beritanya menjadi heboh dan akan banyak pertanyaan kepada saya nantinya. Jadi saya mohon bapak dapat merahasiakan kejadian pertemuan kita ini ya..” pinta saya sambil kembali membimbing sosoknya untuk bangkit berdiri.


“Kanjeng Gusti Raden Ajeng Ute, nyuwon pangapunten, yenipun kulo mboten saget melampahi nyadong duko..” jawabnya dengan raut takut dan aura ungu yang semakin menggelap. (terjemahan: Mohon maaf Kangjeng Gusti Raden Ajeng Ute, saya tidak bisa melakukannya)


“Tolong diusahakan ya pak, saya mohon banget dan kami juga sekalian pamit pak. Semoga Bapak dan keluarga tetap diberkahi Tuhan umur yang panjang dan kesehatan. Terima kasih.” ujarku lagi, tidak mengerti apa yang dikatakan Pak Ali tadi, namun dari aura yang menguar sepertinya ia sedang terpaksa menolak permintaanku tersebut. Lalu aku menarik tangan Ian untuk segera meninggalkan lokasi tersebut.

__ADS_1


Ian hanya mengikutiku sambil tidak lupa memberikan tatapan seakan berkata: “I told you so..” (terjemahan: Kan saya bilang juga apa)


...***...


Ini adalah hari kesekian kami berkantor di Kantor Desa Mantingan, Jepara. Tinggal seminggu lagi waktu kami mengikuti PPL. Banyak sudah yang kami lakukan untuk memperbaiki administrasi pemerintahan, baik itu secara fisik kantor maupun urusan kependudukan yang kami buat lebih ke arah digital. Keluarga besar Ian mengirimkan beberapa perangkat komputer untuk mendukung administrasi di kantor desa dan aku menghubungi teman mama untuk menyediakan layanan internet di desa ini. Teman yang jago IT membuat web kantor desa dan sudah berhasil mendokumentasikan surat-surat penting terkait beberapa situs peninggalan yang berlokasi di desa kami ini.


Seperti biasa, Ian sudah menunggu sekitar 5 menit di depan rumah yang kami tinggali ketika kami siap berangkat. Setelah berpamitan dengan Bapak dan Ibu di rumah, kami pun berangkat menuju kantor Desa.


“Kamu makin glowing loh ‘te..” ujar Ian membuka gombalan di pagi hari.


“Ach masa seh? Mungkin karena udara segar yang beberapa waktu belakangan ini sudah kita hirup?” jawabku seadanya karena sudah menebak arah percakapan kami ini.


“Atau mungkin juga karena kamu semakin menikmati pemujaan warga sini ya? Siapa seh yang ga bangga kalau titisan Ratu Agung mereka sedang PPL di desa mereka. Menjadi pelayan rakyat dalam arti yang sesungguhnya?” godaannya semakin meningkatkan rasa jengkel yang ku rasakan.


Dari kecil aku memang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Menjadi putri semata-wayang orang-orang yang berpengaruh dan memiliki banyak bakat serta penampilan fisik yang menarik, membuatku seringkali dijadikan bahan pembicaraan dan tidak jarang juga jadi bahan ejekan yang julid karena iri. Namun semua perhatian itu dapat dihitung jari yang benar-benar tulus karena mereka sayang atau peduli kepada kesejahteraanku. Sebagian besar mendekati aku untuk mendapatkan sesuatu, entah itu kerjasama bisnis dengan mama atau perlindungan hukum dari papa, atau bahkan sedikit saja pembagian harta dari Eyang atau Opa/oma-ku. Baru kali ini lah aku mendapatkan pemujaan yang berlimpah tanpa tendensi apa-apa selain kesempatan untuk memberikan yang terbaik untuk junjungannya. Dan mereka telah, secara aklamasi, menetapkan aku sebagai titisan atau bahkan keturunan langsung dari Ratu Kalinyamat, yang bisa juga dianggap sebagai penyelamat warga di desa ini.


Kiriman hasil panen dan kerajinan, juga buah-buahan, bahan makanan dan panganan rumahan yang tidak sedikit, selalu menghampiri rumah tempat kami tinggal sementara ini. Awalnya hanya dari warga sekitar desa, namun semakin lama sudah mulai dari desa-desa tetangga dan entah dari mana lagi. Bukan hanya rakyat jelata yang menyempatkan diri mampir, namun para tokoh masyarakat dan tokoh budaya juga sering berkunjung untuk sekedar berbincang-bincang dan berfoto denganku. Mereka membawa sesembahan tersebut dan dengan kedua tangannya secara hormat menyerahkannya kepadaku. Jika aku kebetulan sedang tidak di rumah, mereka akan rela menunggu berjam-jam hanya agar dapat bisa bertemu denganku. Kedua orang tua tempat kami tinggal ini bahkan sampai kehabisan tempat menyimpan makanan dan akhirnya setelah minta izin kepadaku, kembali membagikan bahan-bahan tersebut kepada warga lain yang lebih membutuhkan.


Awalnya teman-teman sekelasku merasa takjub dengan penetapan aku sebagai titisan ataupun keturunan langsung dari Ratu Kalinyamat, namun setelah beberapa waktu mereka akhirnya mulai terbiasa juga dan bahkan mulai menjadikan hal ini sebagai bahan olokan, seperti yang baru saja Ian lakukan. Mereka tampak menikmati rasa jengah dan ketidaknyamanan yang aku rasakan akibat pemujaan berlebihan yang ku alami.


...***...

__ADS_1


__ADS_2