
Hhhuuurrraaa.. sudah Nindya Praja.. sorak hatiku demi melihat genteng merah itu kembali (bangunan-bangunan di ksatrian, seperti balairung -ruang pertemuan besar-, menza -tempat makan bersama-, komplek-komplek kelas -ada yang 3 lantai dan ada juga yang 4 lantai-, perpustakaan, wisma-wisma dan bangunan-bangunan lainnya, memang bergenteng merah semua).
Libur kenaikan tingkat dari Madya ke Nindya kemaren memang ia habiskan di kampung bersama orang tua dan ketujuh adiknya (hanya minus kakak sematawayangnya, yang memang sudah menikah beberapa minggu sebelumnya dan langsung diboyong suaminya tinggal di pulau Bali).
Rame suasana rumah kayu kami kala liburan kemaren. Setelah 2 tahun tidak pernah pulang (demi bisa mengirimkan sebagian rejeki ke orang tuanya), tidak banyak yang berubah di desa pengerajin kayu ini. Warganya tetap menggeluti usaha ukir, sebagaimana diturunkan dari Prabangkara menurut legenda.
Sudah tau kah kalian kisah Prabangkara? Coba biar ga repot nanya mbah google, sy kisahkan sekilas di sini ya:
...***...
...Pada zaman dahulu (ga perlu dibaca dengan lantunan melodi film anak-anak dari Malaysia itu ya!), ada seorang seniman (pengukir kayu dan pelukis beraliran naturalisme) dari Kerajaan Majapahit, Jawa Timur....
...Seniman tersebut bernama asli Joko Sungging dengan nama beken Prabangkara (ternyata pada jaman dahulu pun seniman jarang menggunakan nama aslinya ketika berkarya ya..)....
...Lukisan dan ukiran Prabangkara sudah sangat terkenal di seluruh negeri....
...Waktu itu adalah masa pemerintahan raja Brawijaya. Suatu ketika Raja Brawijaya ingin memiliki lukisan istrinya dalam keadaan telanjang, tanpa busana sama sekali, sebagai salah satu bentuk ungkapan rasa cinta sang raja kepada sang permaisuri....
...OIeh karena itu, Prabangkara dipanggil untuk mewujudkan keinginan sang Raja....
...Hal ini tentu merupakan hal yang sulit bagi Prabangkara, karena meskipun pernah melihat wajah sang istri raja pada beberapa kesempatan, tapi dia belum pernah melihatnya tanpa busana....
...Dengan usaha keras (mungkin mengintip para wanita mandi di kali, karena penulis juga tidak mengetahui persisnya apakah Prabangkara sudah menikah/belum pada waktu itu) dan imajinasi senimannya, akhirnya Prabangkara berhasil menyelesaikan lukisan tersebut....
...Ketika Prabangkara sedang istirahat, tiba-tiba saja ada seekor cicak p*p (buang tinj*) di langit-langit teras tempat ia menaruh lukisannya dan tanpa sengaja mengenai lukisan tersebut. Hal ini benar-benar di luar pengetahuan Prabangkara yang mulai terlelap di bangku berandanya....
...Tak berapa lama, kotoran cicak tersebut mengering dan menjadi bentuk seperti tahi lalat....
...Ketika tiba waktunya menyerahkan hasil lukisannya, Raja tentu sangat gembira dengan hasil karya Prabangkara tersebut....
...Sebuah lukisan naturalis yang sempurna , persis seperti aslinya....
...Namun ketika Sang raja mengamati lukisan tersebut dengan lebih teliti, dia melihat gambaran tahi lalat di lukisan tubuh permaisuri tersebut dan sang raja menjadi murka....
...Dia menuduh Prabangkara telah melihat langsung permaisurinya tanpa busana. Karena lokasi tahi lalat persis seperti kenyataan....
...Raja Brawijaya yang terbakar api cemburu, kemudian menghukum Prabangkara dengan mengikatnya di layang-layang, kemudian menerbangkannya tinggi-tinggi....
...Layang-layang itu terbang hingga hingga ke balik gunung dan mendarat di Jepara, tepatnya di desa Mulyoharjo, kecamatan Jepara....
...Karena Prabangkara diterima dan ditolong oleh warga setempat, ia pun mengajarkan ilmu mengukir kepada warga Jepara pada waktu itu, sebagai bentuk balas budinya....
...Dan kemahiran ukir warga Jepara bertahan dan lestari hingga sekarang....
...(Tamat)...
...***...
Orangtuaku juga tidak jauh berbeda dengan para tetangga kami. Punya keterampilan mengukir, namun tidak memiliki kemampuan membaca trend pasar (bentuk/jenis ukiran apa yang sedang diminati pada suatu masa tertentu), pun sangat minus jejaring sosial untuk memasarkan hasil ukiran-ukiran yang sudah jadi tersebut secara lokal, nasional apalagi internasional.
__ADS_1
Aku yang dari kecil selalu berprestasi dalam bidang akademik dan olah raga, mengalami keterbatasan ekonomi keluarga dan tidak dapat melanjutkan sekolahku setelah tamat SMA.
Lalu aku pun bertekad mencari peruntungan di kota besar, tidak tanggung-tanggung aku berbulat tekad akan berkelana ke Jakarta.
Walau berkali-kali orang tuaku menasehati: "Santai wae ke kancang ning kene lakone opo anane nduk" (yang artinya kira-kira: dibawa santai saja dan dinikmati saja hidup ini apa adanya) agar Pras tidak melakukannya karena khawatir.
Namun aku yang merasa diri masih muda, memacu tekad untuk berjuang demi perbaikan taraf hidup, apalagi aku masih memiliki 4 orang adik yang melihatku sebagai teladan mereka.
...***...
Aku tiba di Jakarta setelah menumpang kereta api paling pagi, separo kucing-kucingan dengan petugas pemeriksa tiket, karena tidak sanggup membayar tiket kereta ini secara keseluruhan.
Sore itu, aku tepekur di stasiun pasar senen, bingung harus berbuat apa dan menuju kemana.
Perencanaan yang ku buat, hanya sebatas bagaimana supaya bisa sampai Jakarta. Aku tidak pernah memikirkan kelanjutannya, apalagi dengan uang seadanya.
Ada seorang bapak-bapak supir bus yang mungkin merasa jatuh kasihan melihatku dan menegur: "Hei ngapain kau bengong-bengong di situ nak? Ku perhatikan macam yang tak ada harapan hidupmu?"
"Maaf pak, saya baru sampai di Jakarta dan mau mencari peruntungan di sini, tapi bingung mau mulai dari mana dan melakukan apa.." jawabku cepat campur khawatir demi mendengar kata-kata keras seakan membentak yang keluar dari mulutnya.
"Oh, perantauan juga kau ya?" sambil mengamatiku lebih teliti, "Udah makan kau?" tanyanya lagi dan ku jawab dengan gelengan kepala.
"Kenapa? Ga ada rupanya duit kau buat beli makanan ya?" tanyanya lagi dengan lebih blak-blakan, membuat wajahmu memanas sesaat menahan malu.
"Ada pak, tapi cuma sedikit, saya khawatir nanti tidak cukup buat bayar" jawabku memelas, dan mungkin karena terenyuh pada kejujuranku, si-bapak tadi menggoyangkan tangannya, tampak mengajakku untuk mengikutinya masuk ke warteg terdekat.
"Mau pake lauk apa mas?" tanya si pemilik warung dari balik etalase kaca. Aku pun menunjuk piring ikan tongkol balado yang tampak teramat sangat menggiurkan itu.
Tidak berapa lama kemudian, piring nasi kami pun diserahkan oleh pemilik warung, ku lihat piringku penuh dengan nasi, sayur dan sambal, tak terkecuali potongan ikan tongkol baladonya sebagai hidangan utama.
Ketika ku lirik si-bapak tadi, piringnya hanya terdiri dari sayur-sayuran saja beraneka macam, tanpa nasi ataupun lauk.
"Iyah, sudah beberapa lama ini aku diet nak, tak boleh makan yang macam-macam kecuali sayur dan buah. Dokter yang suruh. Sudah pernah hampir mati aku gara-gara kolesterol jahana* itu. Istri dan anak-anakku sampe ngancem mau ninggalin aku kalau tidak mau mulai hidup sehat. Tukang minum dan ahli hisap-nya aku ini dulu.. Udah jangan diliatin aja, makanlah!" katanya sambil menyuapkan makanannya. Dan tidak perlu dikomandoin 2x, ku lahap makananku yang rasanya nikmat luar biasa itu (mungkin efek lapar yang teramat sangat).
"Mau kau bantu aku ngenek?" katanya setelah beberapa saat.
"Ngenek itu apa pak?" tanyaku bingung.
"Hah, kampung kali asal kau ya? Itu yang biasa minta-mintain ongkos ke penumpang. Aku supirnya dan kau keneknya. Malam ini kita coba kemampuanmu ya. Cuma jujur dan bisa hitung-hitung aja lah modalnya jadi kenek ituh. Tapi sudah aga susah cari yang begitu. Ini kebetulan baru beberapa hari yang lalu kenek ku pecat. Banyakan dikantonginnya setoran. Beda tipis aja ku lihat dia sama copet itu. Mau kau coba?"
"Baik pak.."
Itulah awal-mula aku berprofesi sebagai kenek kendaraan umum trayek Senen-Grogol.
...***...
Di bulan keempat Pras ngenek, terjadi insiden di angkotnya.
Ia sempat menolong seorang ibu yang hampir menjadi korban pencopetan.
__ADS_1
Si ibu yang berterima kasih memberikan brosur sekolah kedinasan ini dan mendoakan Pras dapat diterima di sekolah kedinasan tersebut dengan tulus.
...***...
Takdir merestui dan saat ini, disinilah Pras, kembali berada di ksatrian, dalam pangkat Nindya Praja.
Gerbang ksatrian tampak ramai dengan kehadiran calon praja yang diantar busnya masing-masing.
Tiba-tiba seorang senior, ka'Han, Wasana Praja yang sangat populer karena posturnya yang menjulang, bakat musik dan sikap dingin-nya, tampak bersiul memanggil. "Hei Nindya, sini sebentar!"
"Siap ka.." jawabku sambil memberikan ppm ketika bergegas mendekatinya.
"Tolong antar bapak ini mendaftarkan ulang calon-calon praja yang bersama-nya di pos PKD situ.." lalu ka'Han kembali menolehkan pandangan ke bapak yang dia sebut tadi dan berkata: "Silahkan pak, ikuti saja Praja ini.. dan sebaiknya adik-adik ini dibariskan saja supaya tidak terlihat semerawut begini ya pak, bapak kan tau ini pendidikan semi militer. Boleh sy yang bariskan saja?" katanya lebih lanjut, kalem walau tanpa senyum.
"Oh terima kasih dan silahkan de.." jawab si-bapak kepada ka'Han, sambil berjalan disampingku menuju ke arah pos PKD.
Menurunkan tas tangan di samping kakinya, sempat ku lihat ka'Han mengatakan kemudian:
"Perhatian adik-adik semua.. Silahkan tinggalkan koper kalian di trotoar itu dan berbaris 3 sab.. SIAP GRAK! Hei kamu yang sipit, jadi komandan pasukan kamu, berdiri disamping kanan pasukan..."
...***...
"Dari asal pendaftaran mana ini adik-adik calon praja/capra pak?" tanya ku berbasa-basi sambil terus berjalan.
"Yang bersama saya tadi dari Kalimantan Timur dan Jakarta nak" jawabnya ramah.
Lalu tiba-tiba tampak olehku sosok junior, Dina.. seorang Madya Praja, yang beberapa kali pernah berpapasan denganku dan sungguh menggelitik naluri melindungi dalam diriku setiap kali melihatnya. Sejak pertemuan pertama, sosoknya sudah melekat erat dalam pikiran dan hati ini, entah mengapa..
Dina tampak berjalan cepat dengan wajah menunduk dan secara refleks melakukan ppm ketika melihatku dan si bapak di sebelahku "Selamat pagi ka, pak.." katanya.
Aku membalas ppm-nya sambil tersenyum dan berkata "Selamat pagi menjelang siang de'Dina.." ingin sekali kupakai kesempatan langka ini untuk berbincang lebih lama dengannya, namun sekonyong-konyong aku sadar sedang ada keperluan mengantar bapak di sebelahku ke pos PKD.
Maka dengan rasa keengganan yang tidak ku tutupi dengan baik, aku kembali melangkah bersebelahan dengan bapak tadi.
Ketika ku tolehkan pandangan ke arah Dina, tampak ia melangkahkan kakinya keluar gerbang ksatrian. Gadis yang sangat misterius dan sungguh sangat menarik perhatian.
Penderitaan hidup semacam apa yang telah membuat karakter itu sedemikian tertutupnya?
Ini adalah kali kesekian aku melihatnya sendirian, sebelumnya pernah beberapa kali kulihat dia di perpustakaan, sedang serius membaca buku sendirian. Waktu itu statusnya masih Madya Praja, dan sangat beresiko tinggi nyamperin Muda Praja, walau hanya untuk bertegur sapa. Waktu itu seorang Pras tidak memiliki keberanian melakukan pendekatan. Tapi sekarang tidak lagi..
Pras kembali membulatkan tekadnya untuk sesuatu, yang walaupun belum disadarinya, akan mengubah masa depannya karena kali ini tekadnya melibatkan bukan hanya pikiran tapi juga hati.
Hidupnya akan semakin menarik di lembah manglayang ini..
...***...
《Foto ini inspirasi penulis menggambarkan karakter seorang Pras》
__ADS_1