
...~ HAN ~...
Terasa aga aneh memang. Situasi yang ku bayangkan akan canggung ternyata tidak terjadi. Kami berempat tampak menikmati waktu dan siapa saja yang melihat akan beranggapan kalau kami hanya 2 pasang kekasih yang sedang menikmati waktu bersama.
Aku bahkan teramat sangat menikmati waktu-waktu ini. Melihat Dina yang pada akhirnya bisa tertawa bebas dan tentu saja bisa bermesraan dengan gadis cantik di sisiku ini, yah walau saat ini status kami masih “pacar bohongan”, tapi sepertinya hanya tinggal menunggu waktu meyakinkan Ute akan kesungguhan hati ini mendekatinya.
Tidak ada yang tidak akan kuberikan kepadanya. Mungkin ini yang disebut “bucin” itu ya? Dulu aku sering mengolok-olok teman yang berada dalam fase tersebut, mereka jadi terlihat bodoh dan menganggap tidak ada yang penting selain pasangannya.. kini aku paham kalau ejekan ataupun hinaan yang mengiringi perasaan itu jauh lebih kecil porsinya dalam pikiran ini dibandingkan perasaan ingin menyenangkan hati yang terkasih.
Bener-bener “everyting I do, I do it for her..” deh. (terjemahan \= semuanya akan ku lakukan untuknya)
Tidak bosan-bosan aku bersyukur bisa meraih sosok Ute dalam pelukanku. Banyak kesempatan yang ku manfaatkan untuk bisa sekedar menyentuhnya dan melihat semburat merah merekah di wajahnya yang semakin cantik ku lihat.
Beberapa kali aku rasakan penolakan (seperti sikunya yang menekan rusukku mungkin untuk mengurai menempelnya tubuh kami atau tatapan tidak setuju yang dia lontarkan) karena mungkin tindakan yang ku lakukan tidak ia duga atau terasa terlalu mesra, namun dengan iklas dan tanpa terpaksa sedikitpun aku selalu membisikkan kalimat: “Totalitas akting ‘te, dinikmatin aja..” berulangkali, di telinganya yang memerah dan sesekali sambil menghirup keharuman rambut kemerahannya yang halus terasa di jemariku.
“Eh sudah hampir waktunya film kita tayang. Yuks ke bioskop!” ajak Ute beberapa saat kemudian.
“Ute, kamu ga salah pilih film neh? Masa lagi double date begini kita nonton film action? Kan kurang romantis itu?” tanya Pras sambil bangkit berdiri, menggeser bangkunya ke dalam meja untuk mempermudah Dina berjalan melewatinya.
“Ka’Pras.. apa masih kurang romantisme live yang sudah kita tonton sejam ini?” jawab Dina dengan lesung pipi menggoda-nya.
Sementara aku hanya memundurkan posisi dudukku, seakan memberikan Ute kesempatan untuk berjalan melewatiku. Dan ketika Ute dengan cemberut berjalan membelakangiku, ku tarik pingganggnya sehingga ia terduduk di pangkuanku dengan mulus. Lalu ku dekap pinggang dan bahunya yang aga memberontak sambil menghirup puas harum lehernya dan berkata lirih: “Aku lebih suka kita bikin film ‘te..”
“Ish Ka’Han.. malu kan dilihat orang!!!” ujar Ute sambil mencubit pahaku dan memaksa tubuh kami bangkit berdiri.
Lalu tanpa ku sadari ku tarik tangannya supaya kami bisa berjalan bergandengan dan kembali berbisik di telinganya: “Katanya kamu bisa akting ‘te? Kog sepertinya aku aja yang berinprovisasi dari tadi? Kamu mau lihat Dina dan Pras tidak canggung bermesraan di depan kita kan? Harus kita kasih contoh dunks biar mereka ga ragu meniru..”
Ute hanya terdiam, namun bola matanya yang cantik berputar lucu, genggeman tangannya semakin erat tanpa perlawanan ku rasakan dan pipi yang mulus serta kupingnya yang indah kembali memerah.
Karena sudah merasa penuh dengan minuman dan makanan sebelumnya, kami berempat langsung masuk ke studio tempat kami akan menonton tanpa mampir dulu ke konter cemilan.
Kami duduk di tengah-tengah ruangan bioskop ini, jalur VIP, yang baru kali ini aku sesali sudah kami pilih, karena ternyata untuk memberikan kenyamanan menonton, jarak bangku lebih lebar dari bangku lainnya dan tentu saja akan mempersulit usahaku untuk bermesraan dengan Ute.
Ute dan Dina duduk diantara aku dan Pras.
Ketika fil sudah mulai ditayangkan, dengan provokatif, aku melingkarkan tanganku, menarik bahu Ute untuk bersandar ke dadaku dan kembali berbisik: “Jangan kaget apalagi melawan ya ‘te, kalau suasana aga gelap nanti, aku akan mencium kamu beberapa kali..”
“Kenapa?” bisik Ute dengan tatapan heran.
“Kan itu kebiasaan orang yang sedang jatuh cinta..” jawabku asal, menahan diri sekuat tenaga untuk tidak mencium bibir ranumnya saat ini juga.
“Maksud saya Ka’Han, kenapa Kakak harus menunggu suasana aga gelap?” tanyanya lagi masih dalam bisikan namun terdengar seperti menantang.
Lalu aku ******* bibir indah itu tanpa sedikitpun keraguan dan sekali lagi reaksi Ute cukup mengagetkanku. Bukannya malu atau ragu-ragu, Ute justru luluh dalam rangkulan dan pagutan bibirku, seperti seoles mentega di atas biskuit panas. Dan bibirnya membalas memagut dengan intensitas yang sama panasnya.
__ADS_1
Aku mendengar suara terkejut dan seperti badan yang bergeser menjauh dari sebelah, namun tidak aku perdulikan sama sekali.
Aku begitu terhanyut dalam ciuman ini dan tampaknya Ute juga merasakan hal yang sama. Entah berapa lama bibir kami saling bertautan, namun ketika kami berhenti melakukannya, aku seperti kehabisan nafas dan ku perhatikan di temaramnya suasana bioskop ini, wajah Ute sudah seperti kepiting rebus, memerah dengan cantiknya di setiap jengkal kulit putihnya.
Ute tampak mulai memperhatikan sekelilingnya dan lalu berkata lirih kepadaku: “Kak, aku malu, orang-orang sepertinya memperhatikan yang sudah kita lakukan..”
Tidak ingin momen ini berlalu begitu saja, aku mengeluarkan HP dan mengetik kepada Pras:
...“Mau memanfaatkan waktu seoptimal mungkin, kami tunggu di mobil ya.. kalau kalian sudah mau balik, kasih kabar ya!...
...Semoga tidak terlalu cepat!!!”...
Lalu aku menarik tangan Ute untuk keluar dari ruang bioskop dan mengarahkannya ke tempat mobil kami diparkir.
Membuka pintu belakang mobil, sedikit mendorong tubuh Ute aku merangsek masuk juga dan langsung ******* kembali bibir merahnya. Ketika aku menyusupkan lidahku ke dalam mulutnya, aku berani bersumpah kalau jari-jari kakiku sampai melengkung kegirangan dan sejak saat itu aku tersesat dalam manisnya rasa seorang Ute.
Kelembutan yang ku rasakan seperti madu dan sutra. Gadis ini adalah gula, rempah, cuka dan semuanya menjadi satu. Ute adalah perempuan yang keras kepala, kuat, cerdas walau kadang sulit dimengerti, akan tetapi.. Ute telah menjadi segalanya bagiku.
Aku sungguh berharap dapat mengungkapkan hal itu kepada Ute. Mengatakan kalau ia adalah penyelamat hidupku, bahwa ia telah menempati posisi yang istimewa di hati ini.
Dengan caranya yang unik, Ute telah mengorek luka hatiku dan meredakan rasa sakit itu.
Ute telah memberikan ku asa, ketika aku tidak punya harapan sama sekali.
Memberikanku pengampunan atas kesalahan yang membuatku ingin selamanya menyalahkan diri sendiri.
Walau tampak aga terkejut dengan ketergesaanku, namun Ute tidak menolak dan tanganku pun semakin lincah menelusuri lekuk tubuh Ute, mulai dari rambutnya yang halus, lehernya yang jenjang, turun ke dadanya yang lembut, perutnya yang cekung dan bokon*-nya yang empuk.
Tidak puas dengan rabaan tersebut, aku menarik tubuh Ute untuk duduk mengangkangiku. Rok PDP-nya (pakaian dinas pesiar) sudah tertarik sampai ke paha atasnya, memperlihatkan kulit putih mulus yang tanpa sadar ku elus-elus untuk menambah gairah yang kami rasa bersama. Bulu-bulu halus di sekujur tubuh Ute meremang dan semakin meningkatkan hasratku untuk menjelajah lebih dalam.
Sementara tangan Ute mulai naik melingkari bahu dan mencengkram rambut bagian belakangku, leher Ute kini jadi sasaran ******* bibirku yang bergerak semakin ke bawah.
Kancing pertama dan kedua PDP-nya kini sudah terbuka, memberikan akses terbatas kepada mataku untuk memandangi undakan kembar yang indah dan mulus itu, mulutku pun tidak mau ketinggalan untuk merasakan, menciumi tonjolan itu dengan rakus.
Membuka kancing ketiga dan akhirnya keseluruhan atasan PDP-nya bukan lagi masalah buat tanganku yang semakin terampil dan mulutku kini bahkan sudah mengulum ****** payudara Ute yang berwarna pink kecoklatan.
Terdengar lenguhan nikmat dari mulut Ute, yang membuatku menggeram dan semakin bersemangat menghisap dengan membabi-buta, seakan tanpanya aku tidak lagi bisa hidup. Sesuatu semakin mengeras di bagian bawahku dan sepertinya menghentak kesadaran Ute.
Lalu seperti baru saja tersadar dari koma, Ute tersentak, seolah-olah seekor lebah telah menyengat bokong-nya.
Ia lalu menjambak rambutku dan menarik wajahku dengan paksa untuk kembali tegak melihat ke matanya yang kini tampak penuh dengan air mata yang siap tumpah, memancarkan rasa terkejut, terluka sekaligus bingung, mungkin terhina.
“Ute.. maaf..” kataku akhirnya menyadari tubuhnya yang kaku dan seketika merasa bersalah melihat kesedihan di matanya yang bulat.
Air mata menetes di wajahnya dan dengan perlahan aku mengusap tetesannya sambil merapikan pakaiannya.
__ADS_1
Mengkancingkan satu persatu PDP-nya dan setelah mendudukkan ia kembali di sampingku, aku menatap matanya dengan ragu-ragu.
“Maafkan aku Ute.. aku belum pernah merasakan dorongan kuat untuk melakukan hal-hal seperti ini.. aku.. aku..” tidak tau harus mengatakan apa lagi sambil mengusap wajahku, mengacak rambut ini dan menunduk.
Benar-benar tidak tau harus bagaimana dan melakukan apa lagi untuk memperbaiki kesalahan nikmat yang tanpa ku sadari telah ku lakukan dan sepertinya telah mendukakan hati seorang Ute.
“Erm.. sepertinya kita berdua terlalu terhanyut dalam akting kita Kak..” ujar Ute akhirnya.
Cukup mengagetkanku yang tanpa sadar menggeleng dengan kuat lalu berkata: “Ini bukan akting Ute sayang.. aku benar-benar menikmati kebersamaan kita.. aku rela melakukan apa saja untukmu. Melihat kamu menangis, aku merasa telah sangat bersalah dan rela menyerahkan nyawa ini asal bisa menebus kesalahan itu..” sambil memegang kedua bahu Ute, aku mencoba melunakkan kekeraskepalaannya dan meyakinkan bahwa perasaan kami ini nyata adanya dan bukan direkayasa.
“Maksud Ka’Han apa?” tanyanya dengan wajah polos seakan tidak mengerti atau hanya sedang menguji kesungguhan kata-kataku.
“Aku mencintaimu Ute.. dengan segenap hati dan pikiran ini. Bahkan mungkin dengan segenap jiwa ini. Aku ga peduli lagi kalau nanti akan sakit hati atau sakit jiwa, tapi aku sungguh tahu kalau aku hidup hanya untuk kamu. Tolong terima perasaan ini dan jadikan aku laki-laki bahagia yang akan mendampingi sisa hidupmu di dunia ini!” ujarku tanpa berkedip memandang lurus ke kedua bola matanya yang seakan minta diyakinkan.
“Oh Ka’Han.. apakah.. apakah kita sekarang pacaran beneran?” tanyanya lagi dengan raut wajah yang melembut dengan semburat merah menggemaskan.
“Kalau bisa, kita nikah sekarang juga Ute. Aku ga mau kita hanya pacar-pacaran, tapi aku mau jadi suami kamu, pendamping hidupmu satu-satunya. Sampai maut memisahkan kita kelak.” jawabku dengan lebih bersungguh-sungguh.
“Hayu, ada sesuatu yang harus kamu lakukan sekarang!” ujarku dengan tekad penuh sambil merapikan lagi pakaianku dan keluar dari mobil.
“Kita mau kemana sekarang Kak?” tanya Ute lagi tampak sedikit aga khawatir dengan gaya impulsifku yang memang aga menggebu-gebu jika berhubungan dengan seorang Ute.
“Aku mau kamu pilih sebuah cincin. Aku mau mengikatmu sekarang juga. Aku ga mau kasih kesempatan laki-laki lain berpikir mereka masih punya kesempatan untuk menjadi pendampingmu.” jawabku lagi mengarahkannya masuk ke sebuah toko perhiasan.
“Selamat siang dan selamat datang.. silahkan dipilih-pilih perhiasannya..” sapaan beberapa pelayan berpakaian rapi yang kami balas dengan anggukan sopan.
“Tapi Kak, aku mau dilamar seperti yang di film-film itu.. yang Ka’Han berlutut dan bilang ‘Will you marry me?’ gitu loh.. bukan sekedar dikasih cincin gini..” rajuk Ute perlahan di telingaku setelah dia menarik tanganku untuk mendekat. Tingkah dan kata-katanya tersebut sungguh teramat sangat menggemaskan. Membuatku tidak dapat menahan senyum geli ini. (terjemahan \= Maukah kau menikahi ku?)
“Kan aku ga bilang mau kasih cincin itu ke kamu sekarang sayang.. Aku cuma mau kamu pilih yang kamu suka saat ini. Dan tolong jangan lihat harganya, cukup pilih yang menarik hati-mu saja, yang akan selalu nyaman kamu pakai dan kira-kira setiap kali melihat cincin itu kamu akan teringat akan seorang Han yang mencintai dan menunggu bisa menjadi suami kamu secepatnya.” jawabku lagi dengan lebih tegas walau dengan suara pelan di telinganya yang kembali memerah.
Ute berkeliling perlahan, dengan seksama memperhatikan jejeran cincin di etalase-etalase kaca itu. Sampai pandangannya tertahan beberapa saat di sebuah cincin platinum sederhana dengan batu aquamarine berbentuk hati sebagai matanya.
(Kira-kira mirip seperti ini deh model cincin-nya, tapi bentuk batunya bukan seperti tetesan air, melainkan berbentuk hati -red)
Dengan menjentikkan jari aku memberi aba-aba kepada seorang pelayan yang sedang memperhatikan kami untuk mengeluarkan cincin tersebut dari konternya.
“Pilihan yang sangat bijaksana tuan dan nona. Cincin ini baru saja tiba dan merupakan replika The Winston Blue Diamond Ring. Walau harganya sedikit aga lebih mahal dari cincin-cincin lainnya, namun batu aquamarine 4 karat ini sangat baik untuk dijadikan investasi buat masa depan. Kami juga kebetulan sedang ada promo cicilan nol persen dengan kartu kredit XX untuk 12 bulan.” Ujar si pelayan dengan panjang dan lebar sambil mengeluarkan cincin tersebut dan menyerahkannya kepadaku dan langsung ku coba sematkan di jari manis Ute.
Tampak pas dan memang seperti dibuat khusus untuk Ute.
“Kami ambil..” kataku lagi sambil menyerahkan kartu kreditku kepada pelayan tersebut.
“Ini Ka’Han..” ujar Ute tampak seperti enggan menyerahkan cincin tersebut, yang tentu saja membuatku tersenyum senang, berpikir dia memang sudah merasa cocok dengan cincin tersebut dan tidak rela berpisah walau sesaat.
__ADS_1
‘Sabarlah menunggu waktunya Ute’ batinku riang menerima cincin tersebut dan meletakkannya kembali di kotak beludru dan bergerak ke arah kasir untuk membayar.
...***...