
...~ HAN ~...
Aku merasa sangat malu karena Pras tetap bisa memberi dari kekurangannya. Ia bisa memberikan oleh-oleh liburan berupa ukiran nama dari kayu, yang setelah ku buka bungkusannya di Wisma, ku taksir harganya tidak kurang dari Rp. 300.000,- di pasaran. Aga tidak percaya sebenarnya kalau tadi Pras sempat bilang ukiran tersebut adalah hasil karya tangannya, yang rajin berlatih sejak awal liburan. Selain berkepribadian baik, Pras juga ternyata punya banyak bakat. Penilaianku terhadap sosoknya, yang awalnya sempet sangat buruk karena berani jelas-jelas menunjukkan rasa tertariknya pada Dina yang waktu itu masih merupakan pasanganku, saat ini mulai aga berubah.
Aku sempat mengetahui kalau Pras bukan berasal dari keluarga mampu, karena ia pernah mempublikasikan kisah dirinya bisa masuk ke Sekolah Kedinasan ini dalam sebuah artikel yang dimuat di MAP (Majalah Abdi Praja) beberapa waktu yang lalu.
Tanpa malu, bahkan terkesan bangga, ia membeberkan kondisi ekonomi keluarga yang sangat berkekurangan dan bagaimana dirasakan sebagai keajaiban tersendiri, dia bisa akhirnya melanjutkan sekolahnya, serta harapan-harapan ke depannya.
Kini kami bertiga telah duduk di hadapan makan malam masing-masing dalam kantin bawah Menza yang masih tidak terlalu ramai.
“Jadi selama liburan ini, berapa ukiran nama yang sudah kamu buat? Berapa waktu yang dibutuhkan untuk membuat 1 karya?” tanyaku berbasa-basi sebelum memasukkan makan ke mulut ini.
“Ga banyak Kak, saya hanya sempat membuat ukiran nama beberapa orang yang namanya lekat dalam hati dan sering terlintas dalam pikiran ini. Tidak tentu batasan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan 1 karya, contohnya untuk membuat nama Kakak saya butuh waktu sekitar 3 hari sementara untuk nama Ian kurang dari 2 hari sudah selesai. Baru-baru ini saya bisa memahami yang namanya ‘insting pelaku seni’, dalam hal ini pengerajin ukiran kayu, kami bisa menciptakan karya berdasarkan gerakan tangan yang diatur hati dan bukan hanya pikiran semata.” jawab Pras panjang lebar setelah menelan makanannya.
Aku hanya menganguk perlahan, namun tetap penasaran karena jawabannya tidak menjawab pertanyaan yang sebenarnya ingin ku tanyakan, walau tak terucap: ‘Apakah kamu juga mengukir nama Dina?’.
“Jadi, apa yang bisa saya bantu Kak?” tanya Ian memecahkan keheningan yang sempet tercipta.
“Hm.. sebelumnya, saya perlu menjelaskan kalau saya merasa punya tanggung jawab yang besar dalam memajukan kondisi perekonomian desa kami. Walau punya banyak ahli ukir dan pengerajin kayu, namun karena lokasi yang relatif terpencil dan kemampuan membaca selera pasar serta daya jual yang kurang, desa kami cenderung terbelakang dan secara ekonomi sangat berkekurangan. Jadi saya sempat berpikir untuk membuat sebuah koperasi desa yang akan mengkoordinir pemasaran hasil ukir di desa kami, selain juga akan menjadi sentra pelatihan bagi penduduk sekitar juga. Namun medirikan koperasi membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jadi dengan menelan rasa malu ini, saya memberanikan diri mengajak Ian dan juga Ka’ Han, jika berkenan, mau berinvestasi secara ekonomi dan sosial juga, karena mungkin tidak akan segera balik modal, dalam pendirian koperasi ini.” Pras kembali menjelaskan secara gamblang, walau dengan wajah yang aga memerah, mungkin memang dia merasakan malu dan keterpaksaan.
‘Nilai dirinya semakin baik aja neh di mataku..’ batinku lirih, tanpa sadar mengamati wajah dan perawakan sederhana yang selama ini ditunjukkannya.
“Wah, cita-cita yang sangat mulia sebenarnya.. Tapi apa kamu sudah pernah berkoordinasi dengan pihak pemerintah setempat terkait hal ini? Pasti kan ada alokasi dana pembangunan desa atau program pembinaan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dari pemerintah Kabupaten Jepara terhadap desa kalian?” tanyaku mulai menunjukkan rasa tertarik, karena tiba-tiba teringat pada LA-ku (laporan akhir/skripsi) yang selama ini terasa hambar kerena kekurangan makna dan harapan ke depan.
“Siap sudah Kak, sewaktu menandatangani Surat Cuti, saya sempat mampir ke Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Jepara Kak, tapi sepertinya karena keterbatasan sarana dan prasarana, termasuk personel dan anggaran, daerah-daerah yang aga terpencil dan jauh dari pusat kota, belum dilirik dan tidak dijadikan prioritas dulu saat ini. Jadi satu-satunya cara, ya dengan swadaya dan swadana untuk saat-saat ini, sambil menunggu kalau-kalau nanti ada bantuan dari pemerintah setempat.” kembali Pras menjelaskan dengan penuh semangat, walau tetap tidak mendiskreditkan pemerintah daerahnya.
“Saya bersedia menjadi salah satu investor buat koperasi Ka’ Pras, selama AD-ART-nya sudah jelas. Malah kalau boleh saya saran, kita buat proposal saja Kak, supaya ada alokasi dana juga dari CSR (Company Social Respossibility/alokasi dana sosial sebuah perusahan) yang dimiliki orang tua saya. Pasti akan lebih besar anggaran yang bisa dipakai dan lebih banyak sektor yang akan terjamah.” Ian tiba-tiba berujar antusias.
Akhirnya kami pun berdiskusi dengan lebih rinci terkait proposal pendirian koperasi sampai jauh malam. Kami bertiga memutuskan menjadi Co-Founder Koperasi tersebut. Ian bahkan menyempatkan dirinya mengambil laptop ke Wisma-nya (yang memang posisinya paling dekat dari kantin) untuk mengetik langsung skema/rencana pengembangan Ukiran Khas Jepara dari desa asal Pras dengan lebih spesifik.
...***...
Ketika kembali ke Wisma, dengan posisi menghadap laptop di ruang belajar ini, aku mengubah topik LA-ku, dari segi kepemimpinan pemerintahan menjadi pembahasan mengenai peran Pemda dalam memajukan usaha kreatif local.
Hari-hari selanjutnya, aku pun semakin sering berkomunikasi dengan Pras dan Ian. Bisa 2 sampai 3 kali kami bertemu untuk urung rembuk revisi proposal dan AD-ART Koperasi. Ada saja ide dan masukan yang membangun yang dapat kami tambahkan setiap hari.
Terlepas dari kondisi dan keadaan ekonomi yang sangat berbeda antara Ian dan Pras, aku melihat kesamaan visi dan misi diantara keduanya. Dan aku mengucap syukur bisa bergabung bersama mereka, bertumbuh bersama dan menjadi semakin seperti mereka berdua. Banyak hal ku pelajari dari mereka, walau aku yang paling senior, namun rasanya aku lah yang lebih banyak belajar dari mereka.
Tanpa terasa persaudaraan dan persahabatan di antara kami bertiga semakin kental terasa. Rasa hormatku pun semakin besar terasa kepada 2 orang junior-ku ini. Mereka adalah laki-laki yang mandiri dan memiliki daya juang untuk memperbaiki kondisi, bukan hanya sekedar memaki dan mengutuki masalah, tapi selalu berupaya untuk menjadi ‘agen perubah’ dan pada saat yang sama menyelesaikan masalah, bahkan menjadi jawaban untuk permasalahan tersebut.
Rasa hormat ini pun tidak berkurang kadarnya ketika aku sempat memeregoki kebersamaan Dina dan Pras beberapa waktu yang lalu di samping gedung Perpustakaan. Posisi mereka memang aga tertutup pohon, namun tampak jelas kalau mereka sedang berbicara dengan akrab. Dina tampak sedang memegang sebuah bungkusan besar (kalau dilihat sekilas seperti ukiran nama dari kayu yang beberapa waktu lalu juga ku terima dari Pras) dan sekilas seperti menyandarkan punggungnya ke dinding gedung Perpustakaan, sementara Pras berdiri dalam posisi yang sangat dekat di hadapan Dina. Walau aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, namun aku cukup tau diri untuk bisa berbesar hati dan berlapang dada menerima keadaan. Aku sudah mulai mengiklaskan Dina untuk dapat bahagia, demikian juga dengan diriku yang mencoba untuk berdamai dengan keadaan dan menjadi bahagia.
...***...
...~ DINA ~...
“Auch..” tanpa sadar aku mengusap kepala-ku yang terbentur bahu bidang seseorang.
“Maaf Dina, kamu baik-baik saja?” sosok penabrak-ku tampak khawatir, menundukkan wajahnya, terasa terlalu dekat dengan wajahku.
Aku memundurkan diri dengan refleks dan tidak menyadari kalau ada akar pohon yang menahan kaki-ku untuk menyeimbangkan diri, sehingga badanku condong ke belakang hampir jatuh terjerembab jika tidak ada tangan kokoh yang menangkap pinggang-ku dengan sigap. Tubuh kami sempat menempel erat dari dada sampai dengan dengkul, terasa akrab dan menyenangkan, namun pada saat yang sama juga meresahkan, karena memicu peningkatan debaran jantung ini.
Kami berpandangan, sama-sama terkejut dan terpaku untuk beberapa saat dalam keheningan. Hanya helaan nafasnya yang halus yang ku rasakan menghembus wajahku dan sesaat kemudian menyadarkan-ku. Segera ku tarik badan ini menjauh dan tanpa sadar sampai menempelkan punggung-ku ke dinding samping gedung perpustakaan yang baru saja hendak ku tinggalkan. Panas terasa seketika membakar wajahku.
“Oh Ka’ Pras.. iyah tidak apa-apa ka.. terima kasih sudah ditolong, jadi tidak jatuh saya..” kataku kemudian dengan terbata-bata, sambil mencoba menundukkan wajah se-dalam-dalamnya.
“Sudah selesai membacanya Dina?” tanya Ka’ Pras beberapa saat kemudian.
“Eh iya Kak, sudah..” kataku kemudian dengan bingung, selain bertanya-tanya darimana dia tau aku tadi membaca di Perpustakaan juga masih merasa jengah karena posisi berdiri kami yang terasa terlalu dekat dan meresahkan.
“Maaf, tadi saya sempat melihat Dina sedang membaca dengan serius di pojokan Perpus tadi, lalu saya kembali ke Wisma karena ada yang mau saya kasih ke kamu.. oleh-oleh cuti.. tapi mohon maaf kalau kurang bagus ya, buatan sy sendiri soalnya.” jawab Ka’Pras, seperti bisa membaca pikiranku, sambil sedikit memundurkan badannya dan menyodorkan sebuah bungkusan.
“Eh, terima kasih Kak..” jawabku kembali tergagap dan menerima bungkusan tersebut, memegangnya menggunakan kedua tangan karena terasa aga berat.
“Kog dilihatin aja?” tanya Ka’ Pras sesaat kemudian.
“Harus saya buka sekarang Kak? Atau boleh saya buka nanti saja di Wisma?” tanyaku kemudian, kembali merasa jengah dengan posisi berdiri kami, yang walaupun aga tertutup pohon besar jika dilihat dari jalan utama, namun tetap dapat dilihat orang yang keluar ataupun masuk ke Perpustakaan.
“Oh itu terserah kamu Dina, saya mana punya hak mengharuskan kamu melakukan apapun..” jawab Ka’ Pras cepat.
“Kalau begitu, mohon izin saya kembali ke Wisma Kak.. sekali lagi terima kasih buat oleh-olehnya, namun mohon maaf saya tidak pulang cuti kali ini, jadi tidak bisa bawain Kakak oleh-oleh apapun..” kataku sambil memohon diberikan ruang untuk aku bisa berjalan.
“Sudah tidak ada kelas kah Dina? Mau langsung kembali ke Wisma?” tanya Ka’ Pras kemudian, seakan tidak iklas melepas kepergianku.
“Siap sudah tidak ada kelas Kak.. ini mau kembali ke Wisma.” jawabku lagi.
“Kalau boleh saya temani kamu ya, sepertinya kamu aga kerepotan membawa bungkusan tersebut dan buku-buku yang baru kamu pinjam dari Perpustakaan tadi ya?” kata Ka’ Pras sambil mengambil kembali bungkusan dan beberapa buku dari tanganku yang memang sedang membawa 5 buah buku tebal yang ingin ku baca di Wisma nanti.
__ADS_1
“Oh ga apa-apa Kak, saya saja bisa kog..” jawabku cepat, berusaha menolak bantuannya, karena tidak mau merasa lebih berhutang-budi lagi. Namun ketika telapak tanganku menyentuh tangannya yang hangat ketika akan mengambil kembali buku yang sempat dia ambil, langsung ku tarik kembali tangan ini, karena rasanya seperti tersetrum.
“Dina, tolonglah jangan terlalu rapat menutup hati-mu.. terutama kepada saya.. jangan tolak ketulusan ini, karena rasanya sangat menyakitkan.. boleh ya?” tanya Ka’ Pras lagi sambil kembali mendekatkan posisi wajahnya ke arah wajahku yang sudah menunduk dalam lagi, sekilas ku lihat matanya penuh dengan sorot permohonan.
“Iya Kak.. maaf Kak..” kataku lagi terbata, tanpa sadar kembali memundurkan tubuhku yang ternyata masih menempel di dinding Perpustakaan.
Lalu Ka’ Pras menghadap kanan dan menjulurkan tangannya, seakan membuka jalan dan mempersilahkan aku berjalan di sampingnya.
Tak mungkin menolak kali ini, karena buku dan bungkusan, yang katanya tadi oleh-oleh dari Ka’ Pras, masih dalam genggaman Ka’ Pras, jadi kami akhirnya berjalan berdampingan ke arah Wisma-ku.
Dalam diam sambil berjalan di samping Ka’ Pras, aku mencoba mencerna kata-katanya tadi. ‘Apakah benar aku sedang menutup hati ini rapat-rapat? Apakah hal tersebut terlihat dengan jelas oleh seorang Ka’ Pras? Apa tadi katanya? Ketulusan? Apa memang masih ada yang namanya ketulusan di dunia ini?’ batinku mengisi penuh pikiran sehingga tidak terlalu memperhatikan jalan.
“Dina, ada palang portal, awas kepalamu bisa kejedot!” kata Ka’ Pras aga keras sambil menutupi kepalaku dengan telapak tangan kanannya, mencoba menghalangi benturan yang mungkin akan bikin benjol jidat ini dengan palang portal yang terbuka setengah.
“Oh!!” aku berseru singkat sambil berhenti mendadak dan sempat membuat oleng tubuhku yang kembali masuk dalam rangkulan tangan kiri Ka’ Pras, yang walau sambil memegang buku serta bungkusan, tetap terasa menekan punggungku dan membuat tubuh bagian depanku masuk dalam dekapannya. Panas kembali terasa merajai wajahku ini ketika aku mendongak melihat ke arah wajahnya, dengan mata jernih yang menatap lekat pada mataku.
“Maaf Kak..” kataku lagi mencoba menjauh, namun tertahan di bagian punggung.
“Sebentar lagi..” katanya, lalu dilanjutkan “Maaf Dina.. rasa kedekatan kita begitu menyenangkan dan sekaligus memabukkan..” sambil mengendorkan rangkulannya dan sekilas ku lihat wajah Ka’ Pras aga memerah.
“Ini portal kawasan putri, saya hanya bisa mengantar sampai di sini ya Dina. Kapan-kapan kita bertemu lagi ya.. Tolong kasih kabar saja, saya pasti langsung hadir!” kata Ka’ Pras lagi, menyerahkan barang-barang bawaanku sambil menatap mataku dengan intens.
“Baik Kak, terima kasih sekali lagi.. izin balik kanan, selamat siang..” kataku lirih, mengatur barang bawaanku dan bergegas berjalan memasuki area keputrian menuju Wisma tempat aku tinggal. Ku tahan semaksimal mungkin untuk menoleh ke belakang, untuk memuaskan rasa ingin tahu apakah Ka’ Pras masih berdiri di sana.
Entahlah, ketidak-puasan itu adalah hukuman buatku, aku sedang menghukum diri sendiri karena sudah tidak tau diri, kembali berharap bisa bahagia menjalin hubungan baru, padahal luka karena perpisahan dengan Ka’ Han pun masih belum lagi kering.
Beberapa kali sempat ku lihat sosok Ka’ Han yang walau tetap gagah dan tampan, namun juga terlihat semakin kurus dan tampak tidak bahagia. Wajahnya semakin mengeras dan ada kesan sangar yang tercetak jelas di sana. Seakan seluruh dunia adalah musuhnya. Pesan yang sangat jelas untuk aku sebisa mungkin menghindarinya.
...***...
...~ UTE ~...
Aku mengikuti sosok keduanya sejak keluar dari gedung Perpustakaan ini.
Aura keduanya begitu cocok satu sama lain. Aku belum pernah melihat aura 2 orang yang berpadu demikian asri. Ada semburat warna hijau kebiruan samar yang memancar dari dalam diri keduanya, bertemu secara harmonis di sisi tubuh yang saling mendekat walau tidak bersentuhan dan warna merah nyaris orange yang tidak kalah samar melingkupi keduanya, seperti menjaga si-hijau kebiruan dari aura lain yang mencoba merusak harmonisasinya. Aura mereka tidak sama persis, namun begitu saling melengkapi.
Dan tanpa sadar, aku sudah melenceng dari jalur yang seharusnya aku jalani. Setelah mendata buku-buku berbahasa Inggris yang ada di Perpustakaan tadi, aku semestinya bergerak ke Ruang Sekretariat English Community Union (ECU) atau English Conversation Club (ECC) di gedung bawah Menza, tapi karena keasikan melihat aura 2 orang senior tersebut, aku jadi tanpa sadar mengikuti langkah mereka.
Setelah menelaah lebih intens, rasa tertarik kepada kedua sosok tersebut ternyata bukanlah tanpa sebab. Dari aura-nya yang khas, aku akhirnya mengenali sosok mereka, ya Ka’ Dina dan Ka’ Pras. 2 orang senior yang sama-sama pernah menyelamatkannya ketika di-bully senior dalam 2 periode waktu yang berbeda.
“Ups..” tanpa sadar aku menutup mulut ini ketika melihat kepala Ka’ Dina hampir saja menabrak palang portal, namun tangan Ka’ Pras untung saja sempat menghalangi dan aku kembali menikmati, tentu saja dalam diam dan tetap menjaga jarak, pemandangan kedekatan sosok keduanya.
“Selamat siang Ka’ Pras..” sapaku riang sambil memberikan PPM.
“Eh Ute.. dari mana mau kemana dek?” tanya Ka’ Pras dengan aura hijau kebiruannya yang khas, namun ada segaris warna ungu kesedihan yang sekilas menguar.
“Hm.. dari tadi Kak, mau ngikutin Ka’ Dina dan Ka’ Pras aja..” kataku penuh senyum hendak menggoda dan mencoba menceriakan sosok-nya yang tampak sedih.
Berhasil, semburat warna ungu itu hilang dengan segera, digantikan warna merah terang antara malu ataupun marah, tapi dilihat dari gerak tubuh Ka’ Pras yang tampak seperti akan menyentil kening-ku dengan jari-nya, ku pastikan godaanku pas pada sasaran.
“Nanti saya aduin ke Ka’ Dina loh Kak.. Ka’ Pras mencoba menyakiti adik-nya cantik dan ceria ini..” kata-ku menghindari sentilannya.
“Janganlah Ute.. nanti dia makin tidak suka ke saya..” jawab Ka’ Pras perlahan.
“Wait a second.. Apa Ka’ Pras merasa selama ini Ka’ Dina ga suka ke Kakak gitu?” tanyaku penasaran, aga tidak mengerti dengan hubungan keduanya. (terjemahan: tunggu sebentar)
“Yeah begitu lah.. Sepertinya sejak ada hubungan dengan Ka’ Han, Dina menjaga jarak dan selalu menunjukkan ekspresi tersiksa kalau harus terpaksa bertemu saya..” aura kecoklatan berbaur ungu kesedihan kembali menguar dari Ka’ Pras.
“Dan hal tersebut mendukakan hati Ka’ Pras karena..?” tanyaku mencari kepastian.
“Siapa yang akan tidak sedih kalau orang yang dipuja-nya merasa tersiksa bersamanya?” Ka’ Pras menjawab dengan pertanyaan retorika.
“Pernahkah Ka’ Pras mengkonfirmasi rasa tersiksa, yang mungkin saja atau sebenarnya sama sekali tidak dirasakan Ka’ Dina ini terhadap Kakak, ke yang bersangkutan langsung?” tanyaku lagi.
“Hm, belum pernah seh dek.. menurut kamu bagaimana?” tanyanya lagi dengan aura orange penasaran.
“Saya ga punya kompetensi untuk mengkonfirmasi apa yang dirasakan atau tidak dirasakan Ka’ Dina.. tapi, sejak tadi saya mengikuti Kakak berdua berjalan beriringan, yang saya lihat seh pancaran keharmonisan ya.. Ka’ Pras dan Ka’ Dina tampak serasi aja berdua. Seharusnya, keserasian itu tidak terpancar kalau memang ada yang merasa tidak nyaman satu sama lainnya. Tapi untuk lebih jelasnya, ada baiknya Ka’ Pras tanya langsung ke Ka’ Dina.. mungkin Kakak bisa ajak Ka’ Dina pesiar bareng, biar lebih bebas bertanya-nya..” jawabku normatif, namun tetap mencoba menguatkan hati Ka’ Pras.
“Hm.. Dina pasti akan menolak dengan seribu satu alasan.. sudah pernah Kakak coba beberapa kali dek..” kata Ka’ Pras menonjolkan kembali semburat aura ungu kecoklat-nya.
“Bagaimana kalau saya yang ajak Ka’ Dina pesiar, trus nanti kita ketemuan dimana gitu, belaga ga sengaja aja.. nanti saya cabut duluan dan Ka’ Pras bisa bercakap-cakap dengan lebih intens sama Ka’ Dina..” usulku.
“Kamu memang adik yang baik Ute..” kata Ka’ Pras kemudian, kembali menguarkan aura hijau kebiruan yang terlihat adem.
“Yeah, at least that’s all I can do to repay what you’ve make for me.. ukiran nama yang udah Kakak buat-ku itu loh.. cantik banged Kak.. aga ga percaya sebenarnya, kalau ukiran itu buatan Ka’ Pras sendiri..” jawabku teringat pada oleh-oleh dari Ka’ Pras yang ku terima dari Ian beberapa waktu yang lalu di kelas. (terjemahan: Yah, paling tidak itu saja yang dapat saya lakukan untuk membalas hasil karya-mu ke saya)
“Kalau nama yang diukir cantik, maka hasilnya juga pasti cantik.. dan ya, saya pun aga tidak menyangka bisa menyelesaikan beberapa ukiran nama dari kayu selama liburan kemaren itu. Tapi senang hati saya kalau kamu menyukainya..” kata Ka’ Pras sesaat kemudian dengan pancaran aura kemerahan lagi (warna yang mencerminkan rasa malu yang dipancarkan oleh seorang yang rendah hati-nya).
__ADS_1
“Okeh Ka’ Pras.. saya akan segera menyusul Ka’ Dina.. nanti kepastian kita ketemu dimana dan kapan, akan saya infokan ke Kakak lagi ya!” pamitku kemudian, sambil memberikan PPm dan berujar: “Selamat siang Kak..”
“Oke Ute, saya tunggu kabar baiknya.. selamat siang adik-ku yang cantik..” jawab Ka’ Pras dan kami pun memisahkan diri ke arah yang berlawanan.
...***...
“Selamat siang Kak, izin mau bertemu dengan Ka’ Dina..” sapaku sambil memberikan PPM kepada seorang senior yang sedang menjemur handuk-nya di halaman Wisma.
“Siang dek.. akan saya panggilkan kalau kamu tau nama dan asal pendaftaran saya..” jawab Kakak senior tersebut yang membuatku aga kelimpungan, dia hanya menggunakan training dan kaos santai, tanpa identitas nama ataupun apapun. Aura yang dipancarkannya juga berwarna rata-rata tanpa menonjolkan kekhususan.
“Siap Kak.. saya tau Kak..” jawabku perlahan-lahan sambil mencoba mencari petunjuk.
“Tau apa kamu? Dasar Lanangcelup!” hardiknya.
“Diiinnnnaaaa.. ada adek Muda yang nyariin kamu neh..” kata si-senior ke arah dalam Wisma.
“Siapa ya? Oh Ute.. bentar ya dek..” jawab Ka’Dina untuk sesaat tampak sekilas terlihat di jendela petak A-nya.
“Titip push-up 20x ya Dina, adek ini ga kenal saya tapi berani-beraninya nyuruh saya manggilin kamu..” lanjut si-senior tadi ketika berpapasan dengan Ka’ Dina yang keluar dari Wisma.
“Udah seperti selebritis aja kamu, harus banged dikenal sama adik-adik..” jawab Ka’ Dina.
“Ga usah khawatir, dia sahabat saya satu-satunya. Namanya Tiwi, asal pendaftaran Jawa Timur. Lagi iseng mau nakut-nakutin kamu aja, ga usil kog orangnya.. sini duduk di sini aja kita ‘te!” kata Ka’ Dina kemudian menunjuk pelataran halaman yang adem, se-adem aura yang terpancar dari Ka’ Dina.. warna hijau kebiruan yang sangat identik dengan aura Ka’ Pras.
Setelah aku duduk di sebelahnya, Ka’ Dina kembali bertanya dengan bercanda: “Ada apa neh? Tumben ada putri cantik nyariin rakyat jelata macam saya..”
“Ka’ Dina bisa aja ish..” jawabku perlahan.
“Itu Kak, mau ngajak Ka’ Dina pesiar bareng Sabtu nanti..” sambungku lagi.
“Wah, semakin tumben neh? Ada apakah gerangan?” tanyanya lagi, ada aura orange kecoklatan yang menguar. Rasa penasaran bercampur kecurigaan yang kental.
“Suka banged curigaan Kak? Masa harus ada apa-apa dulu baru seorang adik yang butuh kasih sayang bisa ajak kakak-nya pesiar bareng?” tanyaku pura-pura sedih.
“Hahaha.. akting kamu lumayan bagus Ute, tapi kalau berhadapan sama seorang Dina, masih perlu banyak latihan lagi kamu..” kata Ka’ Dina kemudian.
“Oke-oke.. memang ada apa-apa seh Kak.. saya mau minta tolong sama Kakak..” jawabku akhirnya perlahan-lahan, mencoba mencari alasan yang paling mendekati kebenaran, karena sepertinya Ka’ Dina memang memiliki intuisi yang sangat bagus, sepertinya pengalaman sering terluka, membuatnya lebih aware/waspada terhadap ketulusan dan tipu-daya.
“Minta tolong apa dek? Kog serius banged sepertinya?” tanya-nya kemudian.
“Begini Kak, ada seorang teman yang memberikan saya hadiah istimewa. Sepertinya sangat tidak sopan kalau saya tidak memberikan hadiah balasan. Namun saya perlu pendapat dan saran dari Kakak, yah untuk membantu saya memilihkan hadiah buat dia.” jawabku kembali perlahan, mencoba tetap dalam pose serius.
“Kenapa harus saya? Bukannya hadiah terbaik itu seharusnya yang paling bermanfaat buat yang akan diberikan hadiah? Seharusnya kamu ajak teman kamu itu dan tanya dia mau hadiah apa dari kamu..” kata Ka’ Dina dengan logika yang tidak terbantahkan.
“Permasalahannya Kak, dia memberikan hadiah kejutan dan bukan barang kebutuhan sehari-hari, jadi alangkah lebih baiknya saya juga memberikan hadiah yang sama juga. Tapi saya bingung mau kasih apa buat dia.. makanya butuh saran dan masukan dari Kakak.” akhirnya aku bisa memberikan jawaban setelah terdiam beberapa saat.
“Bagaimana saya bisa memberikan saran atau masukan ke kamu, kalau saya saja tidak tahu siapa teman kamu ini Ute?” Ka’ Dina kembali berargumen secara logis.
“Kakak kenal kog sama dia.. senior kita juga Kak, orangnya baik dan selalu ramah kepada siapa saja, walau akhir-akhir ini aga sedikit berubah jadi aga lebih pendiam, entah mengapa.. Kakak mau yah menemani saya pesiar bareng Sabtu nanti.. please Kak..” kataku lagi sambil menggoyang-goyangkan lengannya mencoba menghiba kebaikan hatinya.
Aura Ka’ Dina tiba-tiba kembali menggelap, coklat gelap penuh kepahitan luka dan dia tampak berpikir serius sesaat.
Dengan tegas dia akhirnya berkata: “Maaf Ute, sepertinya saya tidak bisa membantu kamu dalam hal ini. Pertama, karena saya tidak ada waktu hari Sabtu ini, agenda kegiatan saya aga padat, kamu tau banyak laporan yang harus saya buat, belum lagi tugas mengajar anak-anak dosen. Kedua, saya tidak punya pengalaman membelikan hadiah buat orang lain, ketidak-mampuan saya ini justru akan menghambat kamu untuk berkreasi memberikan hadiah yang paling tepat. Jadi saya mohon maaf tidak bisa memenuhi permintaanmu kali ini ya.. saya juga punya banyak tugas neh, perlu dicicil dari sekarang.. sebaiknya kamu juga balik ke Wisma-mu saja, sudah mau sore inih.. By ya Ute..” kata Ka’ Dina panjang sambil menarik tanganku untuk bangkit berdiri dan separuh mendorong aku keluar dari pelataran Wisma-nya.
“Baiklah Ka’ Dina, saya pamit balik ke Wisma dulu, selamat sore Kak..” kataku akhirnya dengan lunglai memberikan PPM kepadanya.
Di perjalanan menuju Wisma-ku, pikiranku melayang kepada sosok Ka’ Pras. Aga merasa sedih dan prihatin dengan Ka’ Pras yang perlu berjuang keras untuk mendapatkan hati Ka’ Dina yang sudah terlanjut penuh kepahitan.
Tiba-tiba aku teringat pada lirik awal lagu Coldplay berjudul Shiver:
...So I look in your direction...
...(terjemahan: Maka aku melihat ke arahmu)...
...But you pay me no attention, do you?...
...(Tapi kau tak memperhatikanku, iya kan?)...
...I know you don't listen to me...
...(Aku tahu kau tak mendengarkanku)...
...'Cause you say you see straight through me,...
...don't you?...
...(Karena kau bilang kau t’lah mengerti aku,...
__ADS_1
...iya kan?)...
...***...