
...~ IAN ~...
Melalui wa, Jiějiě (kakak perempuan dalam bahasa Mandarin) pertama-ku mengirimkan gambar pemandangan bagian tengah sebuah rumah mewah dan share-loc tempat tersebut (yang terlihat masih di daerah Jatinangor, tidak terlalu jauh jaraknya dari Ksatrian).
Tanpa bisa menahan diri, aku membalas: “Bagus.. Rumah siapa ‘jiě?”
Tidak berapa lama kemudian, Jiějiě kembali membalas: “Rumah kita lah, Bàba bilang rumah ini dibeli khusus buat tempat kita nginap, terutama sewaktu lagi ngunjungin kamu..”
Lalu ia menambahkan tidak berapa lama kemudian: “Kesinilah Dìì, lumayan tempatnya.. kami, minus Gēgē, lagi pada santai-santai neh..” (Bàba \= Ayah dalam bahasa Mandarin, Dìì \= singkatan dari Dìdì Ian atau panggilan kepadaku sebagai adik laki-laki yang paling kecil, Gēgē \= panggilan untuk kakak laki-laki pertama-ku)
“Ini masih hari Jumat Jiějiě, mana lah boleh kami keluar Ksatrian sesuka hati.. mungkin besok pagi, pas jam pesiar, saya mampir ke situ ya.” balasku lagi.
“Okeh, kalau bisa aga pagian ya Dìì, biar sempet ketemu dulu kita, soalnya Māma bilang sudah kangen berat sama anak bungsunya.. tapi karena besok sore ada pertemuan D Blink di rumah tante XZ, Māma ga mau kalau sampe terlambat dateng di acara tersebut dan ketinggalan gosip teranyar, maka kami berencana balik ke Jakarta segera setelah makan siang besok.. wkwkwkwk, kamu paham kan?” Jiějiě kembali membalas wa-ku. (Māma \= Ibu dalam bahasa Mandarin)
D Blink adalah salah satu perkumpulan yang diikuti Māma, anggotanya terdiri dari kaum ibu-ibu kalangan the have (berharta/orang kaya) yang dilakukan rutin sebulan sekali. Kebanyakan adalah teman-teman Māma ketika masih sekolah dulu dan beberapa adalah istri-istri teman Māma.
“Siap..” jawabku singkat sambil menutup HP dan melanjutkan tugas yang sedang ku ketik di laptop-ku.
...***...
Sabtu pagi ini kami sedang mengikuti apel persiapan pesiar di lapangan Plaza Bawah.
“Mau pesiar kemana kamu ‘te?” tanyaku pada Ute yang berdiri di samping-ku.
“Tuh bareng sama Polpra itu..” jawab Ute singkat memonyongkan bibirnya ke arah Ka’ Han yang berdiri tidak jauh dari gedung Bhineka Nara Eka Bhakti, tampak dengan sabar menunggu kami, Muda Praja, selesai mengikuti apel.
“Cie.. cie.. yang baru jadian.. sumringah terus ya..” ledek-ku sesaat kemudian.
“Apaan seh Ian, you have no idea what you are talking about..” jawab Ute dengan wajah aga cemberut, yang bertentangan dengan pembawaan dirinya yang selalu ceria. (terjemahan \= kamu ga ngerti deh sama yang kamu omongin)
“Enlighten me then..” kataku lagi. (terjemahan \= maka terangkanlah kepadaku)
“Besok ya, hari ini sepertinya ga ada banyak waktu deh Ian..” kata Ute sesaat setelah terdiam, seperti mempertimbangkan.
“Janji ya? Besok kita ketemuan jam 09.00 wib di gerbang PKD bagaimana?” tanyaku lagi.
“Ga bisa dunks Ian, kan besok aku harus gereja dulu. Jam 11an aja bagaimana? Pokoknya setelah selesai ibadah, aku langsung ketemuin kamu deh!” kata Ute lagi, kembali melihat ke arah Ka’ Han berdiri gagah, kini dia dikelilingi beberapa Nindya Praja yang bertugas mengambil apel persiapan pesiar ini.
“Okeh.. besok saya tunggu kamu di kantin bawah Menza saja ya.. ada tempat yang mau saya kasih lihat ke kamu.. mungkin terkesan pamer, tapi pastinya bermanfaat buat kita nantinya..” jawabku akhirnya.
“Masa? Memang besok kita mau kemana Ian?” tanya Ute lagi sesaat sebelum kami dengar aba-aba: “Perhatian, pasukan saya ambil alih.. Seluruhnya, SIAP GRAK!” tanda bahwa apel akan segera dimulai dan tidak ada lagi yang boleh bersuara.
...***...
...~ DINA ~...
Sesampainya mereka di gerbang masuk kediaman Lee yang kelihatan sangat megah dan tampak masih kinclong, sebagai hasil renovasi besar-besaran sebelumnya, aku sempat berharap tadi tidak menyetujui ajakan Ian.
Tapi beberapa hari ini, aku memang sedang suntuk berat dan butuh pengalihan pikiran.
Ketika bertemu Ian dan Ute di pintu gerbang tadi, aku tidak punya alasan untuk menolak ajakan mereka. Apalagi mereka bilang akan mengunjungi rumah keluarga Ian dengan berjalan kaki saja, yang artinya tempat yang kami tuju seharusnya tidak terlalu jauh dari Ksatrian.
“Itu namanya tanaman climbing fig Kak, atau yang lebih dikenal dengan nama rambat dolar. Bagi masyarakat Cina, tepi putih pada daun yang berbentuk hati tersebut, dipandang sebagai lingkaran cahaya. Kami percaya bahwa semangat hijau yang baik dari tanaman tersebut dapat mengusir energi negatif.” kata-kata Ian meresap di pikiranku dan akhirnya konsentrasiku kembali ke tanganku, yang tanpa ku sadari ternyata telah menggenggam sehelai daun dari tembok yang kami lewati tadi.
Aku memperhatikan lingkungan sekitar-ku dan tersadar bahwa rumah ini lebih tepat disebutkan sebagai istana. Dengan pagar tembok tinggi berlapis tanaman rambat dolar yang mengelilingi taman dan banyak pepohonan yang terawat baik, sebelum akhirnya kami diperhadapkan dengan teras rumah mewah bergaya Moorish (bangunan di daerah Timur Tengah/Mediterania.
Bangunan megah yang menjulang di hadapanku ini, dicat putih dindingnya dan tampak dilapisi batu alam rapi pada bagian bawah, berpadu mewah dengan atap cantik dari genteng yang disusun berbentuk kerucut. Pemandangan ini membuat-ku seolah berada di Negara Arab bukannya di Jatinangor. Padahal kami tadi hanya berjalan tidak lebih dari setengah jam dari gerbang PKD tadi.
Mereka berdiri di depan sebuah pintu ganda dari kayu berukir dengan pegangan pintu yang sepertinya terbuat dari kuningan tempa. Rumah, bukan.. bangunan ini bukan rumah, terlalu mewah untuk dikategorikan sebagai rumah.. ini adalah istana yang sangat mengagumkan dan eksotis, namun tetap terasa nyaman, dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkannya dengan rumah kami yang serba minimalis di pulau Sulawesi sana.
Ian membuka kunci dan menahan pintu untuk-ku dan Ute.
Kami melangkah masuk ke dalam lorong berlantai granit putih yang didekorasi dengan arsitektur yang juga bergaya Moorish.
Ian memimpin kami menyusuri ruang tamu luas berfunitur sofa kulit serba putih, terletak nyaman di atas karpet biru muda yang sekilas saja terlihat tebal dan halus. Beberapa pajangan kramik dan benda-benda seni lainnya tampak menempati posisi yang harmonis dengan hiasan dinding bernuansa Timur Tengah dan langit-langit tinggi.
Sebuah pintu yang juga bergaya Moorish, berhias mozaik, terbuka lebar ke arah samping, teras berdinding kaca yang menyuguhkan pemandangan taman yang kehijauan.
Lalu Ian mempersilahkan kami duduk: “Lebih santai di sini sepertinya, kita duduk-duduk dulu sebelum menjelajah lebih jauh ke dalam rumah ini ya Ka’ Dina dan Ute..” dan ia pun mendudukkan dirinya dengan nyaman di sofa terdekat.
“Jadi ini tempat yang mau kamu kasih lihat ke saya kemaren itu Ian.. not bad at all.. Sudah pasti bermanfaat buat kita nantinya kalau mau bikin acara neh, tapi keluarga kamu ok kah kalau kita sering-sering ke sini?” tanya Ute beberapa saat kemudian. (terjemahan \= sama sekali ga buruk)
“Ya mereka enggak bakal keberatan lah Ute. Kemaren, sambil menyerahkan kunci rumah ini, Ibu saya bilang kalau rumah ini dibeli dan direnovasi memang untuk memfasilitasi kegiatan saya dan teman-teman di luar Ksatrian. Supaya kita ga kelayapan kemana-mana katanya. Eh, bentar ya.. saya pesen minum dulu sama orang belakang. Ka’ Dina mau minum apa? Ute?”
“Saya air putih saja Ian..” jawabku singkat. Masih penuh kekaguman melihat kemewahan di sekitarku.
“Saya mau ice lemon tea kalau ada ya..” jawab Ute tanpa beban.
“Ada pastinya.. Ka’ Dina air mineralnya dingin atau hangat?” tanya Ian lagi.
“Yang paling mudah dibuat saja Ian, jangan pake ngerepotin pokoknya..” jawabku lagi.
“Siap Ka’ Dina yang selalu baik hati dan tidak mau merepotkan siapapun..” jawaban Ian penuh senyum sambil bergerak ke arah belakang. Kata-katanya terasa sedikit seperti ejekan buatku. ‘Sabar, orang kaya memang bebas berekspresi, sementara yang miskin harus tau diri untuk jangan terlalu sensitif menanggapi setiap ekspresi orang kaya di sekitarnya..’ batinku nelangsa. Sekali lagi menyesali menerima ajakan mereka tadi.
“Ok Ka’ Dina.. Bagaimana kabar Kakak akhir-akhir ini dan apakah Ka’ Pras sudah melakukan pendekatan lebih lanjut ke Kakak?” segera setelah bayangan Ian berlalu, Ute duduk mendekat dan membuat pertanyaan blak-blakan tersebut, yang pastinya akan membuatku tersedak kaget kalau saja sedang dalam posisi minum atau makan.
“Apaan seh Ute ini? Kenapa jadi bawa-bawa Ka’ Pras?” tanyaku dengan pipi yang memanas, sungguh tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.
“Ayolah Ka’ Dina, jangan malu-malu.. Aura Ka’ Pras dan Ka’ Dina itu matching¹ banged loh.. makanya Kakak berdua itu sama-sama bisa jadi saudara asuh yang cocok buat Ute. Yang satu jadi Sista Soul² dan yang lainnya jadi Bro in law³..” kata Ute lagi sambil nyengir. (terjemahan \= ¹cocok, ²Saudara perempuan sejiwa, ³Saudara ipar laki-laki)
“Ute, kamu terlalu delusif deh.. ga ada apa-apa antara saya dan Ka’ Pras adik-ku.. jadi tolong jangan jadi mak-comblang antara kami ya!” tegasku.
__ADS_1
“Tapi Kak.. “Ute tampak akan mengatakan sesuatu untuk membantah namun terdiam ketika melihat pandangan tegasku yang mengatakan: ‘Cukup!’ tanpa kata.
‘Action do speak louder than words..’ batinku lagi. (terjemahan \= tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata)
Kami pun menikmati keheningan selama beberapa saat, sampai akhirnya Ian kembali datang bersama seorang perempuan paruh baya yang membawa nampan berisi minuman dan meletakkannya di meja bersama dengan beberapa toples panganan, termasuk yang dibawa Ian di pangkuannya.
“Terima kasih bu..” kataku.
“Jangan panggil bu Non, ga biasa saya.. panggil Mbok Yem saja..” jawab perempuan paruh baya tadi dan melanjutkan dengan polos: “Apa ada yang bisa saya siapkan lagi Non? Kalau Den Ian ini sukanya masakan kampung, makanya tadi Mbok Yem sudah nyiapin sayur asem, sambel terasi, perkedel kentang dan perkedel jagung, ikan asin sama sambel teri pake pete, tapi kalau ada yang Nona-nona berdua ini suka untuk makan siang nanti, pasti akan saya siapkan.”
“Mbok Yem sudah lama ya mengasuh Ian?” tanya Ute kembali riang, seperti menemukan mainan baru.
“Iya Non.. sejak Den Ian baru lahir, saya yang dari awal pakein popok di pantat-nya yang putih. Dari bayi saya harus sering-sering ngecek popok-nya, soalnya biar sudah basah juga, dia mah ga bakal nangis, tapi kalau keseringan lembab kan jadi ruam pantatnya. Kasian, jadi harus sering-sering saya cek popoknya. Den Ian ini ga rewel, ga suka nangis dan ngerengek. Padahal anak bontot, tapi ga manja..” kata-katanya terhenti ketika Ian memotong: “Oke Mbok Yem, terima kasih informasinya.. udah cukup ya sepertinya.. nanti masakannya gosong loh kalau kelamaan ditinggal..”
Aku dan Ute saling lihat-lihatan dan tersenyum senang, bisa melihat ketenangan seorang Ian bisa terusik oleh kepolosan pengasuhnya.
“Di belakang ada yang ngebantuin Mbok Yem kan? Ga bakal dibiarin gosong deh itu masakan.. Ntar dulu deh baliknya, cerita-cerita dulu tentang Ian waktu kecil ya Mbok!” kataku menahan tangan Mbok Yem yang akan balik kanan.
“Boleh Non, tapi cerita dulu dong, Nona-nona berdua ini siapanya Ian?” senyum Mbok Yem merekah bangga.
“Mbok Yem, ini Ka’ Dina, kakak asuh saya di sekolah.. kalau yang ini Ute, saudara asuh saya Mbok..” jawab Ian menunjuk kepadaku dan Ute bergantian.
“Wah, kirain salah satunya ada yang pacarnya Den Ian.. Nona berdua ini cantik-cantik banget soalnya, kenapa ya pada enggak mau sama Ian? Ian ini orang yang paling baik yang pernah Mbok kenal loh Non.. biar punya orang tua yang kaya raya tapi ga pernah sombong, selalu terbeban buat bantuin orang lain yang lagi kesusahan. Pernah tuh ada pelayan baru yang dimaki-maki sama Nǎinai, karena memecahkan guci antik yang katanya dari China. Den Ian ini langsung nangis dengan suara keras, raungannya mengalahkan suara makian Nǎinai dan bilang ga akan berhenti nangis sampai Nǎinai maafin pelayan tersebut. Akhirnya Nǎinai ngalah, karena muka Den Ian sudah merah keunguan dan Nǎinai khawatir Den Ian jadi sakit karenanya. Pernah juga waktu itu...” panjang dan lebar Mbok Yem terus bercerita tentang masa kecil Ian dan kami berdua menikmatinya, seperti sedang mendengarkan kisah-kisah tentang dongeng masa kecil, sampai tidak sadar kalau Ian sudah keluar dari ruangan. (terjemahan \= sebutan Nenek di sisi ayah dalam bahasa Mandarin)
...***...
...~ UTE ~...
“Halah, Mbok ya udah ngomong panjang banget ya.. udah hampir lewat jam makan siang neh.. Mbok ke belakang dulu ya Non.. kalo sempet nanti kita ngobrol-ngobrol lagi..” dengan aura coklat lembut keibuan, Mbok Yem berpamitan dan berlalu.
Aku tidak bisa menahan diri untuk kembali berusaha mendekatkan Ka’ Dina dengan Ka’ Pras. Tadi kata-kata-ku sempat terhenti oleh aura Ka’ Dina yang tiba-tiba berpijar merah keunguan, tanda awal kemurkaan. Hal itu dipertegas dengan tatapan tajamnya yang seperti memberi peringatan bahwa aku sudah mendekati batas toleransi-nya.
‘Tapi kalau aku ga boleh bertanya mengenai Ka’ Pras, mungkin aku bisa membahas tentang hubunganku dengan Ka’ Han, yang mungkin akan membuatnya cemburu atau ingin menjalin hubungan lagi dengan seseorang lain, seperti Ka’ Pras.’ batinku mencoba merangkai kalimat pembukaan yang tepat.
“Ka’ Dina.. boleh aku curhat tentang Ka’ Han?” akhirnya keluar juga kata-kata itu setelah sekian lama kami terdiam.
Aura Ka’ Dina seketika menjadi aga menggelap, dengan semburat warna ungu mendominasi, ‘Masih aga terang, jadi masih aman’ batinku kembali berujar dalam diam.
“Boleh saya artikan kediaman Ka’ Dina sebagai persetujuan?” tanyaku lagi.
“Yah, kalau Ute mau cerita, ya cerita saja, tapi saya ga jamin akan dapat membantu apa-apa ya dek.. Kan kamu tau sendiri, hubungan kami tidak berhasil.” jawab Ka’ Dina akhirnya dengan semburat aura yang semakin terang, mengindikasikan bahwa rasa persaudaraan diantara kami telah kembali, mengalahkan perasaan sedih-nya.
“Jadi Kak, saya belum merasa bisa menerima perasaan cinta Ka’ Han, karena masih ada rasa bersalah yang menggantung. Saya belum merasa plong kalau Ka’ Dina juga belum menemukan pendamping. Saya merasa bersalah ketika bersuka apalagi sampai bercinta dengan seseorang yang pernah memadu kasih dengan Ka’ Dina. Kakak kan sudah seperti Kakak kandung yang tidak pernah Ute miliki. Sejujurnya saya juga suka sama Ka’ Han, dia mulai banyak perubahan dan sepertinya bisa menerima Ute apa adanya Kak, tapi ga bisa plong hati ini menjalin suatu hubungan, kalau Ka’ Dina belum saya lihat bahagia.. Makanya saya sering maksain Kakak dan Ka’ Pras, selain bahwa saya lihat aura kalian berdua yang sangat cocok, mohon maaf kalau saya egois dan mau bahagia jika saya sudah teryakinkan Ka’ Dina juga bahagia..” kataku dengan akting yang semeyakinkan mungkin. Membalik keadaan untuk memaksanya jadian sama Ka' Pras dan merasa bahagia.
Dengan aura yang semakin melembut, Ka’ Dina akhirnya berkata: “Ute, jangan pernah gantungkan kebahagiaanmu pada seseorang di luar dirimu sendiri. Kalau kamu mau merasa bahagia, ya sebaiknya kebahagiaan itu berasal dari dalam dirimu sendiri. Karena kebahagiaan itu ga akan bisa terwujud dan sifatnya hanya sesaat saja kalau berasal dari luar dirimu. Saya bisa saja bikin status pura-pura pacaran dengan Ka’ Pras demi kamu bisa merasa bahagia dengan Ka’ Han, tapi mau sampai kapan kepura-puraan itu berlangsung? Apakah saya dan Ka’ Pras akan dapat bahagia nantinya kalau dasar hubungan kami adalah kebohongan? Jadi, kalau kamu memang menganggap saya sebagai Kakak yang tidak pernah kamu miliki sebelumnya, saya sangat menyarankan kamu tanya hatimu sendiri, apakah kamu akan merasa lebih berbahagia bersama Ka’ Han? Apakah keberadaannya bisa menyempurnakan kebahagiaanmu dan dia? Itu saja yang utama.. Oke dear?”
Tanpa sadar aku menitikkan air mata. Kata-kata Ka’ Dina seakan membuka mata-ku. Kalau aku dan Ka’ Han harus mempertimbangkan lagi dasar hubungan kami dan apakah kepura-puraan itu perlu terus berlanjut.
Ka’ Dina semakin mendekatkan dirinya kepadaku dan rangkulannya terasa menghangatkan hati ini.
Tiba-tiba kami mendengar lantunan Lagu The Beatles - Let It Be:
...When I find myself in times of trouble...
...Mother Mary comes to me...
...(Bunda maria datang padaku)...
...Speaking words of wisdom, let it be...
...(berbicara kata-kata bijak,...
...biarkanlah hal itu terjadi)...
...And in my hour of darkness...
...(dan pada saat-saat penuh kegelapan)...
...She is standing right in front of me...
...(dia berdiri tepat di depanku)...
...Speaking words of wisdom, let it be...
...(berbicara kata-kata bijak,...
...biarkanlah hal itu terjadi)...
...Let it be, let it be...
...Let it be, let it be...
...(biarkanlah hal itu terjadi 4x)...
...Whisper words of wisdom, let it be...
...(membisikan kata-kata bijak,...
...biarkanlah hal itu terjadi)...
...And when the broken hearted people...
...(dan ketika orang-orang patah hati)...
...Living in the world agree,...
...(hidup dalam dunia yang setuju saja)...
...There will be an answer, let it be...
__ADS_1
...(akan ada sebuah jawaban,...
...biarkanlah hal itu terjadi)...
...For though they may be parted there is...
...(meski mereka mungkin akan terpisah di sana)...
...Still a chance that they will see...
...(masih ada sebuah kesempatan...
...saat mereka akan melihat)...
...There will be an answer, let it be...
...(akan ada sebuah jawaban,...
...biarkanlah hal itu terjadi)...
...Let it be, let it be...
...Let it be, let it be...
...(biarkanlah hal itu terjadi 4x)...
...Yeah, There will be an answer, let it be...
...(yeah, aka ada sebuah jawaban,...
...biarkanlah hal itu terjadi)...
...Let it be, let it be....
...Let it be, let it be....
...Whisper words of wisdom, let it be....
...Let it be, let it be....
...Let it be, let it be....
...There will be an answer, let it be....
...(instrumental break)...
...Let it be, let it be....
...Let it be, let it be....
...There will be an answer, let it be....
...And when the night is cloudy,...
...(dan ketika malam berawan,)...
...There is still a light that shines on me...
...(masih ada sebuah cahaya yang menyinariku)...
...Shine until tomorrow, let it be...
...(bersinar sampai besok, biarkanlah hal itu terjadi)...
...I wake up to the sound of music...
...(ketika aku terbangun karena suara musik)...
...Mother Mary comes to me...
...(bunda Maria datang padaku)...
...Speaking words of wisdom, let it be....
...(berbicara kata-kata bijak,...
...biarkanlah hal itu terjadi)...
...Let it be, let it be....
...Let it be, let it be....
...There will be no sorrow, let it be....
...(biarkanlah hal itu terjadi 4x)...
...Biarkanlah tidak ada dukacita,...
...biarkanlah hal itu terjadi)...
...Let it be, let it be....
...Let it be, let it be....
...Whisper words of wisdom, let it be....
...(membisikkan kata-kata bijak,...
...biarkanlah hal itu terjadi)...
__ADS_1
...hoooo' hoooo'...
...***...