HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 12 Persahabatan (Ian & Ute)


__ADS_3

...~ IAN ~...


Persahabatan kami ku rasakan dimulai ketika sapaan awalnya terdengar, "Hai si-muka sedih..." dan dilanjutkan dengan kesamaan-kesamaan lain yang kami rasakan, seperti: rasa tidak nyaman bersama keluarga sendiri, keinginan untuk membuktikan diri yang tinggi, rasa benci pada keadaan yang membelenggu, keinginan untuk sesekali lari dari tatapan memuja semu kebanyakan orang, rasa rendah diri walau hidup penuh kelebihan dan keinginan untuk diterima apa adanya bukan ada apanya..


Kami sama-sama memulai kehidupan di ksatrian ini bersama. Kami masih sama-sama Muda Praja, ditempatkan dalam satu kelas yang sama. Kami mempunyai banyak kesamaan dan hal-hal itu seakan meniadakan perbedaan kami.


Ute adalah teman pertama ku. Dengan sapaan uniknya di awal perjumpaan itu, mengingatkan ku bahwa hidup, walau terus berjalan dan mengalami perubahan, dengan sekelumit kenangan akan masa lalu, tidak akan memudarkan tekad ku untuk berjuang demi kebaikan.


Idealisme itu tetap akan ku pegang teguh.


...***...


"Bro.. bengong ajah?" celotehan Ute kembali membuyarkan lamunanku.


"Jangan panggil bro ah, seperti laki-laki saling nyapa ajah.." jawabku memperhatikan tingkahnya yang tidak biasa.


"Percaya ga Ian, gue lagi jatuh cinta neh.." katanya dengan pandangan menerawang sambil menangkupkan kedua tangannya di wajahnya yang cantik itu.


"Oh ya? Siapa laki-laki yang kurang beruntung itu?" tanyaku lagi.


"Hei, kog kurang beruntung seh?" katanya sambil mencubit sisi lenganku. 'Aduh sakit juga cubitannya' batinku sambil mengusap-usap bekas cubitannya mencoba menghilangkan rasa sakitnya.


"Bagaimana tidak? Dia akan jadi laki-laki yang disirikin ratusan bahkan ribuan laki-laki lainnya.. kalau dia seangkatan kita, bakal habis dikerjain senior, kalau dia senior, bakal didoain jelek bahkan mungkin disantet angkatan kita yang ga rela kamu jadian.." jawabku lugas sempat membungkam protesnya.


"Ish enggak begitu juga kale.. enggak gitu juga kan Ian?" katanya mulai meragu.


"Enggaklah.. saya cuma bercanda saja.. tentu saja dia laki-laki yang beruntung, bisa menaklukan hati gadis pujaan se-angkatan kita.." jawabku mencoba menenangkan mood-nya yang kurasakan tiba-tiba merosot drastis.


Ute memang gadis moody, yang walaupun sangat cerdas, tapi juga relatif mudah terpengaruh pendapat orang-orang kepercayaannya yang cuma segelintir. Sejauh ini, hampir 6 bulan kebersamaan kami di ksatrian lembah Manglayang ini, Ute hanya mengakui teman sebelah bed-nya dan aku sebagai teman-teman dekatnya. Yang lainnya hanya masuk kategori 'kenalan' saja.


Banyak rekan bahkan senior yang mencoba mendekati Ute, bahkan beberapa melaluiku. Termasuk ka’Han beberapa waktu lalu itu. Namun semua dapat dengan mudah ditolaknya. Yang mengherankan adalah tidak pernah ada yang merasa sakit hati apalagi dendam kepadanya.


Ute selalu punya cara cerdas meyakinkan orang lain kalau rasa tertarik yang mereka rasakan itu semu dan akan pudar seiring waktu. Intinya, Ute bisa memanfaatkan keberadaan sang waktu untuk menyelesaikan segalanya, bahkan demi menolak cinta laki-laki yang cukup punya mental menyatakan rasa sukanya secara langsung.


"Ian.. ini serius neh!" sepenggal kalimat Ute ini kembali membuyarkan lamunanku.


"Iyah, jadi masalahnya apa?" jawabku agak tidak paham maksud tujuannya menyampaikan hal itu.


"Ih loe itu dengerin gue apa enggak seh? Untuk seorang sahabat, loe itu kurang perhatian banged seh? Gue bilang, gue lagi jatuh cinta.." kata Ute mulai sedikit menaikkan nada suaranya.


"Iyah sahabatku yang cantik.. masalahnya dimana? Kamu jatuh cinta, trus kenapa?" tanyaku lagi, mencoba memahami jalan pikiran si-cantik cerdas ini.


Tiba-tiba matanya membulat jahil dan berkata: "Gue jatuh cinta sama elo, kog ga sentitif banged seh loe Ian.." kedua tangannya kembali ditangkupkan mewadahi wajah cantiknya dan memandang ke arahku dengan mata berbinar-binar, kusadari penuh dengan akting, namun sempat menghentikan degub jantung ini sesaat.


"Ngaco aja!" kataku singkat sambil mengucek rambut cepaknya dan membuat poninya acak-acakan menutupi kilatan mata itu. "Sahabat sendiri kog diisengin?" kataku lagi.

__ADS_1


"Memang ga mungkin yah gue suka dan akhirnya jatuh cinta sama loe?" tanyanya sambil merapikan rambutnya, tampak tidak keberatan tanganku telah merusak sedikit penampilannya.


“Saya sedang tertawa dan mencoba bersimpati neh.. A loyal friend laughs at your jokes when they’re not so good, and sympathizes with your problems when they’re not so bad.” jawabku kalem, mengutip pendapat seorang pebisnis terkenal, Arnold H. Glasgow. (terjemahan: seorang teman setia akan tertawa pada leluconmu yang tidak lucu dan bersimpati pada masalahmu walau tidak terlalu berat).


"Elo itu bener-bener laki-laki yang kebal godaan ya? Atau jangan-jangan beneran ya tebakan cewek-cewek selama ini, kalau loe tuh hombreng?" sergahnya berakting gusar kali ini.


"Yah, terserah aja yang mau nilai orang lain apa.. cuma inget ajah, kalau ukuran yang kamu pakai untuk menilai orang lain itu, akan dipakaikan juga untuk menilai dirimu sendiri.." jawabku panjang lebar sambil mengeluarkan buku yang akan segera dipakai pada pembelajaran berikutnya. Mata kuliah Sosiologi.


"Males ach kalau 'bakat opa-opa'-mu mulai keluar" katanya lagi sambil bergerak males-malesan kembali ke bangkunya. Dan memang beberapa menit kemudian bel tanda masuk jam perkuliahan berikutnya bergema dan dosen pun masuk ke kelas kami.



Pembahasan mengenai tingkatan kebutuhan manusia, yang tentu saja berbeda-beda pada setiap individunya. Tanpa sadar pandangan ku menyasar posisi duduk Ute dan ternyata dia pun sudah melihat ke arahku sambil menunjukkan 3 jarinya.. kami memang masih dalam tahap ketiga ini, sama-sama masih membutuhkan rasa dibutuhkan, dicintai, diinginkan, dibutuhkan.. dan rasa itu kami rasakan bersama..


Sepertinya, kami sudah terlalu mengenal dan mengerti satu sama lain terlalu dalam.. Aih..


...***...


...~ UTE ~...


Persahabatan kami ini ku rasakan dimulai ketika kalimat itu terucap: "Apa? Loe juga ngerasa begitu? Kirain cuma gue aja yang punya rasa itu.."


Teringat aku pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Kala itu, di sebuah ruangan dalam gedung pelatihan, aku dan Ian (dalam 1 kelompok bersama 2 rekan lainnya) berdiskusi dalam kelas, membicarakan tentang keluarga dan pengaruh mereka buat kehidupan seorang individu.


Bertentangan dengan pendapat mayoritas, kami berdua merasa, keberadaan keluarga tidaklah terlalu esensial, karena pada dasarnya kepribadian seseorang sudah terbentuk sejak ia di dalam kandungan.


Masih jelas dalam ingatan ini, tentang salah satu ajaran Biksu tibet, terkait aura seseorang, aura itu sudah melekat dalam diri janin, memang perkembangannya akan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, tapi itu hanya memicu, sementara bibitnya tetap dari internal si-individu.


Faktor lingkungan yang persis sama pun tetap akan memberikan efek yang berbeda pada perkembangan 2 orang yang mengalaminya, bagaimana si-individu berkembang, ke arah mana dia condong, sangat dipengaruhi pada bibit yang ada padanya.


Jadi mau dibesarkan dalam lingkungan keluarga seperti apapun, kalau dia sudah ditakdirkan menjadi orang hebat, maka semesta alam akan mengarahkannya menjadi hebat, bahkan jika sehancur apapun keluarga yang membesarkannya.


Sempat terjadi perdebatan sengit, bahkan dengan pelatih pembina kami, yang mengeluarkan pendapat berbeda. Mereka bahkan sempat mengeluarkan pengandaian dalam film Joker, dimana dikisahkan kejahatan itu adalah buah dari kebaikan yang terhimpit masalah, bahwa semua orang pada dasarnya baik dan bisa menjadi jahat karena dibentuk oleh lingkungan.


Dengan tegas kami menolak pendapat itu, karena tidak semua kejahatan buah dari kebaikan yang terhimpit masalah.


Kejahatan memang sudah ada berdampingan dengan kebaikan ketika diciptakan. Kejahatan adalah ketiadaan kebaikan.


Seperti malam yang selalu mendampingi siang, gelap yang datang setelah terang menghilang.


Setiap orang diciptakan dengan bibit kebaikan dan kejahatan dalam hatinya masing-masing.


Akan lebih subur tumbuh benih yang satu atau yang lainnya (baik atau jahat), sangat bergantung pada pilihan-pilihan yang dibuat si-individu dan nilai-nilai yang dia anggap penting sebagai prinsip hidupnya, bukan semata karena faktor lingkungan.


Perdebatan itu akhirnya diakhiri dengan sepakat untuk tidak sepaham dalam pernyataan.. agree to disagree.. setiap orang bebas berpendapat dan pada akhirnya yang mendukung kami ternyata cukup banyak, walau awalnya hanya kami berdua yang berpendapat demikian. (terjemahan: setuju untuk sama-sama tidak sepaham)

__ADS_1


Dalam beberapa kesempatan, aku coba mengetes kecerdasan dan kebaikan hati seorang Ian dengan aura biru gelap berpendar kehijauan terang sesekali.


Dan dia selalu lulus dengan nilai yang sangat memuaskan bahkan dengan pujian.


Jadi walaupun auranya suka berwarna gelap, tapi kebaikan hatinya selalu dapat memancar dan dirasakan oleh sekitarnya. Banyak hal sudah ku pelajari darinya.


Dan sepertinya, kami sama-sama paham kalau kami sepemahaman dalam memaknai hidup ini.


Pun ketika kami hanya bisa duduk terdiam bersama.


Apa yang dikatakan seorang David Tyson, produser dan penulis musik rock asal Kanada: 'True friendship comes when the silence between two people is comfortable.' (terjemahan \= keberadaan teman sejati dapat dirasakan ketika keterdiaman diantara 2 orang terasa nyaman).


Ketika itulah aku menyadari keberadaan Ian membuatku nyaman. Ian adalah sahabat terdekatku. Teman yang bersamanya aku bisa berbagi bukan hanya masa kini, namun juga masa lalu dan mungkin juga masa yang akan datang..


“A friend is someone who understands your past, believes in your future,


and accepts you just the way you are.”


(terjemahan \= teman adalah seseorang yang memahami masa lalu mu,


percaya pada masa depan mu dan bisa menerima mu apa adanya)


Dalam beberapa kesempatan, aku sempat menyinggung tentang kekurangan diri ini kepada Ian. Seperti kondisi orangtua ku yang sudah berpisah dan kenyataan bahwa aku adalah anak produk broken home.


Yang paling berkesan adalah tanggapannya ketika aku mengungkapkan penyakit prosopagnosia* yang ku derita. (*ketidakmampuan mengenali wajah seseorang) Ian hanya terdiam beberapa waktu lamanya ketika itu, dengan aura yang semakin menggelap.


Lalu seketika kilasan hijau auranya memancar kuat dan ia berkata lugas, "Apa yang bisa saya bantu untuk memperingan masalah yang mungkin ditimbulkannya?"


Ian tidak merubah cara pandangnya terhadapku, tidak lantas merendahkan atau memandang hina nasib buruk ku ini, tidak juga mengutuki kenyataan dan mempertanyakan kenapa hal tersebut menimpaku dengan rasa kasihan.


Ian tidak menghakimi dan membuatku merasa berkekurangan, ia hanya menyatakan diri 'siap ada disana' dan bersedia melakukan apapun ketika ku butuhkan.


Dengan mata berkaca-kaca karena terharu, aku hanya bisa berkata, "Jadilah sahabatku!".


...***...


Persahabatan kami sudah terjalin sekitar 5 bulan sekarang ini, hampir 1 semester bersama.


Tapi sepertinya sudah seumur hidup ini mengenalnya.


Walau sesekali aku sulit menemukan sosok wajahnya di tengah barisan ataupun kerumunan orang, namun postur dan pembawaan dirinya yang berkharisma, dapat dengan mudah ku kenali, terlebih kekuatan aura biru gelap-nya yang menonjol dari aura teman-teman lainnya.


Tidak pernah ada debar rasa ingin memiliki dan dimiliki yang ku rasakan terhadapnya dan walaupun kedekatan kami seringkali diartikan salah oleh beberapa teman, namun yang menyadari kami hanya bersahabat juga tidak sedikit. Seperti beberapa teman putri yang mendekatiku supaya bisa lebih dekat dengan Ian, atau mereka yang menitipkan bingkisan cinta kepadaku melalui Ian.


Mungkin dalam hati mereka hanya tidak mau terima saja kalau ada sesuatu yang spesial diantara kami. Padahal persahabat kami adalah hal yang paling spesial yang kurasakan seumur hidupku ini.

__ADS_1


...***...


__ADS_2