HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 28 (bagian 1) Keluarga (Han, I., D. & P.)


__ADS_3

...~ HAN ~...


“Apa? Kau punya pacar se-hot Ute itu, tapi belum kau rasain juga?” pertanyaan kaget seorang teman yang sedang ku ajak diskusi terkait Ute itu terlontar spontan.


Suaranya yang cempreng bergaung keras di seantero wisma dan sempat mengheningkan seluruh wisma dari ujung ke ujung. Saat ini kami sedang berdiri menghadap wastafel merapikan penampilan bagian atas kami. Mulut temanku itu bahkan masih berlumurkan busa odol karena ia berucap sambil menggosok giginya.


“Hei, suaramu kurang keras tuh, sepertinya yang ada di petak E belum mendengar pengumumanmu!” ujarku sarkartis menyebutkan bagian terjauh dari petak A wisma kami.


“Kami dengar kog Han, tapi tolong aga dipertegas artikulasi percakapan kalian, terkadang suka terbawa angin kejelasannya..” jawab seseorang dari ujung wisma disusul dengan derai tawa praja seisi wisma.


“Hebat.. ha-ha-ha.. thank you guys..” jawabku lagi dengan hawa panas yang kurasakan menjalari pipi ini, lalu aku duduk di kaki bed-ku dan kembali mengusap rambut cepak yang baru saja ku sisir rapi, menunduk, berusaha sebisa mungkin untuk tidak menghiraukan para pendengar yang penasaran.


“Sorry.. tapi seperti bukan seorang Han kalau ragu-ragu seperti ini. Kau kan BTL –batak tembak langsung- dalam arti yang sesungguhnya Han? Bukannya Vini-Vidi-Vici-nya Julius Kaisar masih jadi motto hidupmu?” tanya temanku ini lagi sambil duduk di kaki bed-nya sendiri dan mengeluarkan sepatu PDH-nya dari laci bed-nya.


“Veni-Vidi-Vici-nya Julius Caesar..” koreksiku pelan.


“Apa?” tanyanya tidak mengerti dan menambahkan: “Pokoknya, selama ini kau kan seorang penakluk seperti si-Kaisar Roma itu, sampai punya fans club segala.. kenapa sekarang jadi melempem seperti Jaka Tarub yang putus asa dan musti nyembunyiin selendang bidadari untuk bisa menikahinya?” pertanyaan temanku kembali bergaung sambil sekilas ia menciumi kaos kaki hitam yang entah sudah berapa kali ia pakai dari dalam sepatu dan tentu saja membuat perutku sedikit bergolak jijik.


Kalau bukan karena aku sudah mengenalnya selama 3 tahun lebih, mungkin saat ini juga aku sudah berlari ke toilet untuk muntah.


“Bukannya kami ga pernah bermesraan juga seh sebenarnya..” ralatku membela diri.


Tapi dipotong dengan: “Yah tapi lulus dari sebuah sekolah kedinasan tanpa pernah merasakan Wanita Praja barang secelup-dua-celup kan sepertinya membuatmu kurang berkontribusi terhadap tingkat kenakalan praja!” ujar temanku lagi dengan logika yang absurb dan untuk yang kesejuta kalinya aku berharap agar temanku itu bisa merasa malu mengucapkan kata-kata yang seperti tidak dipikirkan dulu itu.


“Dia masih Muda bro.. dan sepertinya belum pernah pacaran juga..” bisikku menahan ‘rasa malu’ yang semakin membakar pipi ini (kalau bisa bertambah panas lagi, pipiku pasti sudah meledak) sangat berbanding terbalik dengan temanku yang seringkali berlebihan dan tidak tahu arti kata tersebut.

__ADS_1


“Dan kau seharusnya bersikap sebagai senior yang baik yang memperkenalkannya pada dunia kenikmatan itu bro! Dia kan ga perlu tau kalau kau juga sebenarnya belum berpengalaman dalam kehidupan ****.” ujarnya lagi dengan lebih tidak tahu malu. Kini kami telah duduk berhadapan di belakang bed masing-masing dengan PDH lengkap.


“Hei.. kehidupan ****-ku baik-baik saja dan bukan untuk konsumsi orang-orang tidak berkepentingan yang mencuri dengar percakapan orang lain!” kataku akhirnya penuh emosi sambil menarik muts dari lipatan pangkat di bahu kiriku dan berjalan keluar wisma.


“Kau tau itu benar bro..” ujar temannya tadi ketika berhasil menyusulku. Lalu menambahkan: “Ketika kau lulus, kau akan meninggalkannya di Ksatrian ini, yang penuh dengan Praja berpostur ideal dan memiliki pengelihatan normal sehingga tahu perempuan cantik dan seksi seperti Ute-mu itu tidak bisa dibiarkan sendiri lama-lama. Bukan cuma senior atau teman seangkatannya yang akan mencoba rejekinya mendekati Ute, tapi bahkan juniornya. Oh belum lagi dosen muda atau pengasuh lajang yang akan berusaha juga.. Kau harus meninggalkan jejakmu pada dirinya bung.. jejak yang tidak akan dilupakannya dan semoga bisa membuatnya tetap setia.”


Untuk sesaat aku terdiam, namun kemudian menjawab: “Hei bro, Ute itu bukan betina jalanan yang mengibas-ngibaskan ekornya sambil menunggu pejantan terdekat yang tertarik untuk menghampirinya, memasukkan benda itu lalu pergi!”


Temanku itu tertawa terpingkal-pingkal mendengar analogi-ku dan mengangkat tangannya tanda menyerah sambil menjauh ketika melihat tampang marah yang ku keluarkan karena tawanya itu.


Namun kalimat-kalimat ‘asal’ yang diucapkan temanku itu memang mengandung peringatan rasional dan hal itu menghantui pikiranku sepanjang hari, bahkan masih terngiang keesokan paginya, ketika aku menjemput keluargaku (Among/Ayah, Inong/Ibu dan tentu saja adik semata-wayangku Hanna) di Bandara Halim Perdana Kusuma.


...***...


“Nanti kita nginep di mana bang?” tanya adikku sesaat setelah kami berempat (bersama Ayah/Among dan Ibuku/Inong) masuk ke dalam mobil.


“Ish abang ini lah, kalau udah tau, ngapain pula aku tanya lagi sama abang?” gerutu Hanna kemudian terdengar.


“Klean berdua ini ya, kalau jauh-jauhan pada kangen-kangenan macam udah lama kali ga ketemu, tapi giliran sudah ketemu, baru sebentar saja sudah kelahi klean!” ujar Among memarahi kami namun di dalam hatinya pasti merasa geli, terlihat dari senyumnya yang merekah duduk di sampingku. Lalu seperti teringat, ia menambahkan: “Tapi betul juga itu Han, belum ada kan kau sampaikan kita akan nginap dimana nanti?”


“Di rumah adik kelas-ku Among. Sudah habis dipesan orang dari jauh hari itu wisma Khatulistiwa dan hotel-hotel sekitar Ksatrian untuk waktu-waktu ini. Nah kebetulan, keluarga adik itu punya rumah di dekat Ksatrian dan dia menawarkan rumahnya itu untuk bisa ditinggali keluarga kita selama masih di Jatinangor.” jawabku santun.


“Hm, ga ngerepotin keluarganya nanti kita ‘mang?” terdengar suara Inong bertanya dari arah belakang.


“Keluarganya tinggal di Jakarta Inong. Cuma ada pangurupi di rumah orang itu sekarang ini. Adik itu kog yang nawarin dan sudah seizin keluarganya juga.” jawabku lagi. (pangurupi \= ART/asisten rumah tangga/pembantu dalam bahasa batak sehari-hari -red)

__ADS_1


“Siapa adik kelas abang ini rupanya? Baik kali dia nawar-nawarin rumah-nya ya? Pacar baru abang kah?” tanya Hanna lagi, terlihat mulai aga tertarik untuk kembali mengusili abangnya ini.


“Bukan punya pacar abang, tapi sahabatnya dek. Kau sudah kenal kog, tapi kalaupun sudah agak lupa ya nanti ku kenalkan lagi lah.” ujarku lagi.


“Cie yang sudah move on dan punya pacar baru..” goda adikku lagi sambil menowel pundak bagian belakangku.


Aku hanya tersenyum melirik ke arah spion, merasa bahagia.


Tiba-tiba suara Inong kembali terdengar: "Unang hosom roham tujolma nahasea, ala dang taboto aha na dikorbanhon lao mencapai hasonangon i." (terjemahan \= Jangan engkau iri dengan orang yang berhasil karena kita tidak tau apa yang telah dikorbankannya untuk mencapai kebahagiaan itu.)


‘Aku kembali terdiam dan teringat Dina dan Ute, juga Ian dan Pras.. ach, sebentar lagi keluarga asuhku itu akan segera bertemu dengan keluarga asli ini. Tidak sabar rasanya..’ batinku menerawang.


...***...



Tanpa terasa, 4 jam sudah berlalu dan hari telah aga temaran menjelang sore ketika kami sampai di rumah milik keluarga Ian yang masih megah berdiri.


Keempat orang yang memang sudah sangat dekat denganku akhir-akhir ini, ternyata memang telah menunggu di pekarangan rumah Ian, seperti yang mereka sampaikan di pagi hari tadi.


Sementara aku memarkirkan mobil di sisi kiri carport, mereka tampak kompak keluar dari pintu depan dan berdiri rapi di tangga terbawah rumah Ian. Lalu tanpa ragu menyambut orang tua dan adikku dengan senyuman hangat mereka.


“Among, Inong dan Hanna.. perkenalkan ini keluarga asuh kami. Ini Ute, haletku.. yang ini Ian dari Jakarta, tuan rumah kita, kalian sudah pernah ketemu di wisma katulistiwa dulu.. ini Pras dari Jepara dan ini Dina, yang sekarang sudah jadi pacar Pras.” ujarku sedikit mengagetkan mereka. Namun tanpa berkata apa-apa, mereka saling bersalaman dan Inong bahkan memeluk Dina erat, setelah ia memeluk Ute dengan tidak kalah eratnya. (Halet \= pacar)


Interaksi yang terjalin selanjutnya terasa natural dan seperti yang sudah seharusnya. Memang kalau segala sesuatu sudah pada tempatnya, maka hidup akan terasa lebih nyaman saja. ‘Terima kasih Tuhan’ batinku bernafas lega.

__ADS_1


...***...


__ADS_2