HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 9 Penolakan (Han & Ute)


__ADS_3

...~ HAN ~...


Setelah Wasana Praja ini, aku baru merasa ada yang kurang dalam hidupku ini.. Padahal kalau mau dipikir-pikir, semua kebutuhan dan apa yang ingin dimiliki seorang laki-laki muda, sudah ada padaku.


Wajah yang ganteng, otak cerdas, tubuh tinggi besar yang atletis dan kantong tebal (berkat kiriman amang/bapak-nya yang lagi bagus-bagusnya panen sawit, karet, durian dan manggis di kampungnya sana).. Hidup Narsisme.. ;p


Namun baru-baru ini aku merasa sebentuk rasa kekurangan itu menuntut pemenuhan, apalagi ketika melihat betapa bahagianya teman-temannya yang pulang dari pesiar bersama kekasih hati mereka masing-masing.


Dia pun ingin merasakannya, bukan karena rasa iri atau cemburu pada kebahagiaan teman-temannya itu, tapi lebih kepada perasaan kekosongan dan kesepian yang mulai menggerogoti hatinya.


Kalau saja aku seorang yang sombong dan suka yang gampangan, aku akan dapat dengan mudah memanfaatkan fans club-ku untuk menggilir perempuan-perempuan member-nya untuk pergi pesiar denganku.


Namun hal itu terasa tidak menyenangkan hati ini.


Semenjak awal fans club itu terbentuk pun aku sudah menolaknya, aku merasa bukan selebriti yang perlu dukungan fans untuk tetap dapat exis.. makanya, setiap fans club-ku itu bikin acara dan mengundang kehadiranku, sebisa mungkin aku menolak dan membuat seribu satu alasan untuk tidak hadir.


Aku butuh untuk merasakan apa itu jatuh cinta dalam arti yang sesungguhnya.


Aku pun berdoa pada Tuhan untuk membiarkanku merasakan hal itu.


Merasakan debar-debar itu.. Mencicipi keinginan tak terbendung untuk jadi laki-laki sejati, melindungi dan menyayangi seorang perempuan yang membutuhkanku.. menjadi seorang budak cinta bertampang kesatria.. mumpung aku masih di dalam lingkungan ksatrian..


Doa-ku segera terjawab, walau dengan 2 pilihan yang sama-sama menarik dan membingungkan. Aku dipertemukan dengan 2 perempuan yang dapat menggetarkan dan menghangatkan hati ini.. entah mengapa dan bagaimana, jantungku ini berasa berdegub lebih cepat hanya dengan memikirkan sosok keduanya.


Aku merasa Dina dan Ute menarik perhatianku dan merupakan jawaban doa-doaku. Aku percaya Tuhan tidak pernah iseng, maka ketika aku meminta maka pasti akan diberikanNya.. walau terkadang dengan beberapa pilihan tentu saja.


Sebelum memilih, aku harus mengenal keduanya secara pribadi terlebih dahulu. Apakah Dina yang misterius dan penuh tantangan ataukah Ute yang ceria dan manja?


Pucuk dicinta ulam tiba. Aku sudah sempat membuat janji temu dengan Dina yang pendiam, sekarang aku akan mencoba mendekati Ute yang tampak blak-blakan. Mungkin sebaiknya tidak melalui orang lain, tapi dengan pendekatan langsung? Hm...


...***...


Siang itu, aku sedang berjalan sendiri dari Posko Menza untuk kembali ke wisma, aku melihat barisan Muda Praja bergerak ke arah atas, ‘mungkin sehabis pelajaran di kelas mereka melanjutkan pelatihan di gedung pelatihan lahan di atas.’ batinku sambil menghentikan langkah, memperhatikan dengan lebih seksama barisan tersebut.


Sekali lirik saja, salah satu sosok yang sempat mencuri perhatianku beberapa waktu belakangan ini sudah terlihat dengan jelas, baris di posisi paling depan, diapit 2 orang muda praja lainnya.


"Selamat siang ka.." danton, yang tak lain adalah Ian, menyapa sambil memberikan ppm ketika barisannya mendekati lokasiku berdiri.


"Siang de.. Tolong hentikan pasukanmu" jawab-ku cepat setelah membalas ppm dengan anggukan singkat.


"Henti grak!" Ian pun memberikan aba-aba kepada pasukan yang dipimpinnya.


"Danton ke belakang pasukan, pasukan diistirahatkan" perintah ku sambil berjalan aga menjauhi bagian belakang barisan tersebut.


"Siap ka.. istirahat di tempat grak!" jawab Ian sigap dan segera berlari mensejajari langkah Han.


"Kamu baik-baik saja kan de'?" tanya-ku kemudian ketika kami sudah berhadapan.


"Siap ka, baik ka.. terima kasih.." jawab Ian aga terkejut dengan pertanyaan sederhana yang ku lontarkan tersebut. Mungkin ia merasa tidak biasa dengan perhatianku, seorang senior yang terkenal tegas dan acuh pada para juniornya.


"Baguslah.. kalian mau kemana ini?" aku kembali bertanya.


"Siap ka, sekarang jam pelatihan lahan kelas kami. Ini sedang menuju ke lab pelatihan lahan di atas". jawabnya lagi, sambil terlihat menebak apa sebenarnya maksud-ku menghentikan gerak pasukannya.


Setelah terdiam terlihat ragu sejenak, akhirnya aku berkata: "Silahkan dilanjutkan perjalanan kalian. Tolong yang namanya Ute keluar dari barisan dan menghadap saya."


"Maaf ka, ini sudah mepet waktu pelatihannya, saya khawatir nanti akan terlambat" jawab Ian seakan menyadari apa maksudku sebenarnya, teman-nya Ute..


'Sial, muda ini cerdas juga' batinku agak dongkol.

__ADS_1


"Iya, kalian silahkan saja lanjut jalan, cukup Ute saja yang tinggal di tempat." Tanpa ragu ku perlihatkan rasa kesal karena Ian tampak terlihat mulai berani menawar perintah dan menghalangi keinginanku.


"Siap ka, tapi tolong jangan lama-lama menahan Ute, bisa bahaya kalau dia telat masuk kelas, pelatih kami hari ini pak Bidin" akhirnya Ian sadar diri sebagai junior, namun tergolong berani karena sempat-sempatnya mengingatkan ku akan betapa terkenal killer-nya pelatih mereka hari ini.


Ian pun segera kembali ke pasukannya setelah memberikan ppm.


"Siap grak.. Muda Praja Ute silahkan keluar dari barisan. Lencang depan grak!" Ian memberikan aba-aba.


Setelah Ute keluar pasukan dengan wajah bingung dan muda praja di belakang Ute maju ke posisi Ute tadinya, demikian juga dengan personel di belakangnya, pasukan tampak sudah rapi kembali, Ian pun memberikan aba-aba: "Tegak grak.. Maju jalan."


Pasukan pun berjalan kembali meninggalkan Ute yang masih belum mengerti kenapa ia dikeluarkan dari barisan.


"Selamat siang de Ute" sapa ku dari belakang tubuh Ute yang tampak sempat kaget dan bingung.


Tergagap Ute menjawab: "Selamat siang ka.." dengan wajah masih kebingungan.


'Mungkin dia ga menyangka ada Wasana Praja segagah aku tersenyum kepadanya' batin ku lagi, kembali sedikit narsis.


"Maaf ka, saya harus segera ikut ke pelatihan lahan, izin bergabung dengan barisan kelas kami lagi!" Ute kembali berujar.


'Sial, kenapa gadis-gadis cantik selalu jual mahal?' aku kembali membatin dalam diam, lalu seketika tersadar "Ehm, berjalanlah bersama saya, akan saya antar kamu ke atas.."


"Siap ka" jawab Ute kemudian sambil melirik papan namanya.


"Masa kamu ga kenal saya dek?" dengan perasaan sedikit kecewa kalimat itu tanpa sadar terlontar.


"Siap ka'Han, saya memang lanang-celup, lama nangkep cepet lupa.. hehehe.." jawab Ute tanpa rasa bersalah, sambil menutup mulutnya menahan tawa.


"Masalah besar ya di meja menza?" tanyaku lagi, merasa sedikit terhibur dengan lelucon Ute dan entah mengapa merasa senang hanya karena mendengar namaku keluar dari bibir mungil itu.


"Masalah yang sangat besar ka.. membuat saya jadi junior panggilan bergilir ke wisma senior" kata Ute lagi.


"Apa rasa sedih akan menghilangkan akar masalahnya?" jawab Ute sambil melirik berani ke arahku, kali ini tampak perubahan raut wajah cantik itu, dari senyum menjadi sedih campur penasaran.


Ku pandangi wajah cantiknya sekian lama, kamipun sempat berpandangan sejenak.. bola mata itu indah.. namun Ute tampak tidak terganggu dan malah kembali mengalihkan pandangan ke depan, barisan teman-teman sekelasnya mulai aga jauh jaraknya dari kami. Kami memang berjalan aga perlahan jika dibanding derap langkah barisan itu.


Setelah kami terdiam beberapa saat, aku kembali berujar: "Siapa saja senior yang sering ngisengin kamu?" kebutuhanku untuk melindungi mulai terusik.


"Senior-senior yang tidak bisa melihat juniornya tidak merasa tertekan.. hampir semuanya ka.." jawab Ute setelah tampak terdiam berfikir beberapa saat.


"Apakah ada yang bisa saya bantu dek?" tanyaku dengan pandangan tetap terarah ke depan. Sekilas aku melihat wajah cantik itu memandangi wajahku.


"Ada ka.." katanya lirih.


Menoleh, aku kembali bertanya: "Apa?"


"Dengan membiarkan saya tetap dalam barisan.." katanya sambil tersenyum lebar.. lalu melanjutkan: "Sudah terbayang akan berapa banyak pertanyaan dan panggilan yang akan saya terima dengan hanya berjalan bersebelahan dengan ka'Han seperti ini"


'Sungguh ironi, dia mengatakan potensi permasalahan itu dengan wajah tetap penuh senyum, seakan semua hanya lelucon baginya' batin ku kelu namun semakin merasa tertarik.


"Kamu bisa menemui saya kapanpun kamu merasa butuh pertolongan atau perlindungan. Saya jamin akan melindungimu sekuat yang saya bisa." kataku tanpa sadar.


Ute tampak terdiam dan menghentikan langkahnya.


Ketika aku berbalik ke arahnya terdiam, dia kembali tersenyum simpul dan melangkahkan kakinya lagi, lalu berkata: "Ka'Han senior yang baik, tetaplah demikian ya, kalau bisa ke semua junior ka, jangan hanya ke saya saja, supaya tidak ada kesalah-pahaman.."


Glek, ludah ini tak sengaja tertelan seiring degub jantungku yang semakin kuat detakannya.. 'Senyum itu terasa manis sekali (lebih manis dari tes manis buatan omak), setersinggung apapun aku dengan kalimat sindirannya itu, tak bisa lah lama-lama kesal dengan pemilik senyum itu' batinku lagi.


Ku tarik tangannya ketika ia berjalan di sampingku, kami berhadap-hadapan, lalu aku berkata dengan sepenuh hati: "Supaya tidak ada kesalah-pahaman, saya memang tertarik kepadamu, rasa ingin melindungi ini tidak saya rasakan ke junior lain, hanya ke kamu.. apakah itu salah?"

__ADS_1


Kami terdiam sambil bertatapan beberapa saat lamanya.


"Maaf ka, saya tidak merasakan hal yang sama" jawab Ute lirih, tampak jengah sambil menarik tangannya dan menundukkan kepalanya, tak ada lagi senyum di wajah cantik itu.


"Apakah kamu sudah punya pacar?" tanyaku kaku, tersinggung dan tidak bisa menahan rasa pahit penolakan ini.


"Apakah memiliki seorang pacar itu artinya perasaan sejiwa dengan lawan jenis? Rasa nyaman dan ingin selalu bersama? Senang, suka dan sayang kepadanya? Iyah ka, saya sudah memilikinya" jawab Ute tampak tak berperasaan.


"Siapa dia? Praja juga kah? Apa dia lebih baik dari saya? Apa dia bisa melindungimu?" kataku dengan geram, emosiku memuncak tanpa bisa ditahan.


Sambil mendongakkan kembali kepalanya, Ute menjawab tegas: "Iya ka, kalau tidak ga mungkin saya memilihnya kan?"


Wajah ini terasa semakin keras menegang dan diselimuti duka dan amarah. Namun mata Ute tetap berani menantang mataku yang panas membara.


"Kalau boleh saya mau menyusul barisan teman-teman saya kak.." katanya lagi sambil sedikit menundukkan kepala, tampak aga menyesal, mungkin melihat wajahku yang semakin menggelap, mungkin dia mulai merasa takut kepadaku.


Aku merasakan seakan ada gelegar petir yang dahsyat berselimut awan hitam tebal di tengah cuaca cerah cenderung terik ini. Kecewa, marah, sedih, malu, kecewa lagi dan marah lagi yang mendekati murka bergantian mencengkram dada ini, seakan hendak meledakkannya.


"Pergilah.." kataku akhirnya, memandangi sesaat sosok Ute yang memberikan ppm dan langsung berlari tanpa menunggu balasan ppm dariku, ia terlihat menghampiri pasukan teman-temannya yang sudah jauh jaraknya dari kami, masuk ke dalam barisan di bagian belakang yang kosong.


Aku melihat sekelilingku.. tidak tampak siapapun, namun kenapa rasa malu yang sangat besar terasa menyelimuti diri ini. Rasa percaya diri yang ku miliki serasa terhempas ke lubang terdalam bumi, hilang tak berbekas.. apa ini rasa tertolak itu? Sakit..


Jatuh Cinta.. doaku kembali terjawab, aku merasakan jatuh dalam rasa cinta dengan arti yang sesungguhnya.. jatuh mana pernah enak.. yang ada sakit.. yah, sakitnya di sini, di bagian dada ini..


Pembelajaran berharga untuk-ku, untuk seorang Han..


Agar dapat lebih hati-hati lagi dalam membuat permintaan kepada Tuhan, be very carefull with what u wish 4.. couse it just may happen.. (terjemahan: berhati-hatilah dnegan harapanmu, karena itu mungkin saja terwujud)


...***...


...~ UTE ~...


'Aish.. masalah apa lagi neh bakalan aku hadapi, tiba-tiba ajah seorang senior nembak aku di tengah jalan begini? Hadeuh bakal tambah runyam neh hidupku di ksatrian ini..' batin ku sambil berlari menjauhi si sumber masalah.


Di kejauhan tampak teman-teman sekelasku sudah hampir sampai di halaman gedung pelatihan lahan. Aku langsung menyelipkan diri di posisi belakang yang kosong dan sesaat kemudian Ian, sang danton kelas hari ini, tampak menghentikan pasukan dan membubarkan pasukan untuk masuk ke gedung pelatihan.


Di tengah-tengah kesulitannya mengingat wajah-wajah orang lain (bahkan wajah sendiri aja suka lupa kalo ga sering-sering ngaca), entah mengapa Ute selalu bisa mengenali sosok Ian dan mengenali aura yang tepancar darinya, aura biru gelap hijauan.


Sejak pertemuan pertama mereka di gerbang PKD, wajah sedih itu selalu mudah dikenali, apalagi setelah ternyata kami sekelas. Tiada satu hari pun berlalu tanpa kebersamaan kami. Ian sudah menjadi pelindung dan pelipur laraku.


Kesulitan hidup di ksatrian ini aga sedikit berkurang bebannya ketika bisa berbincang dengannya. Entah mengapa..


Banyak yang menuduh kami adalah pasangan, padahal tidak pernah ada komitmen apa-apa antara kami. Ute hanya merasa Ian bisa mengerti dirinya dan menerima apa adanya.. bukan sebagai sekedar teman ataupun pacar, tapi lebih sebagai sahabat sejiwa.. tidak pernah ada ketertarikan fisik diantara kami, tapi somehow kami bisa saling melengkapi.. nyaman ajah bisa bersama Ian..


"Hi.. ada masalah apa tadi itu?" tanya Ian demi melihat ku menghampirinya.


"Biasalah, fans kesiangan" jawabku mencoba mengentengkan masalah, mencoba tidak melibatkan Ian dalam permasalahan ini. Sudah cukup banyak sepertinya kekerasan yang dia tanggung kalau mendengar cerita teman-teman sekelasnya.


"Jangan kasih harapan kalau ga suka, sakit hati ga ada yang menghasilkan kebaikan.." Ian menjawab lugas dan sempat terdiam demi melihat cemberut di wajahku, bukan kata-katanya yang membuatku cemberut, tapi aura yang tepancar itu, sedikit keunguan, seperti meragukanku menyelesaikan masalah sendiri.


"Maaf ya Mr. Danton, saya itu ga pernah kasih harapan apa-apa ke siapapun, kan tadi situ yang ngeluarin saya dari barisan, bukannya tanggung jawab malah nyalah-nyalahin korban!" kataku dengan tampang yang semakin cemberut dan melipat tangan sambil melangkahkan kaki memasuki gedung pelatihan lahan. Jadwalnya seh hari ini kami akan belajar cara membuat kecap manis.


"Hei maaf tuan putri, jangan ngambek ya.. nanti saya beliin coklat deh.. damai ya.." kata Ian lagi sambil menunjukkan jari kelingkingnya tanda ingin berdamai, menguarkan lagi aura khasnya biru kehijauan yang adem dan menenangkan.


"Okey, dimaafkan dengan coklat yang gede banged ukurannya.." kataku kalem dengan senyum merekah dan menautkan jari kelingkingku dengan jarinya demi untuk menyegel perjanjian serah-terima coklat itu dengan jempol kami.


Beli coklat sebesar apa pun, bahkan sampai beli pabrik-pabriknya sekalian juga sebenernya bukan masalah buatku, 2 buah kartu kredit unlimited yang diberikan oleh mama dan papa, masih tersimpan dengan baik di saku dompet ini. Buku rekening tabungan-ku juga tidak akan pernah habis walau sering dibelanjakan, yah secara materi aku memang tidak pernah berkekurangan.. tapi perhatian-perhatian kecil seorang Ian, yang mampu menceriakan hari, kenapa tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin kan?


'Ian memang sobat terbaikku' batinku lagi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2