HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 21 Pacar Pura² (Perspektif Han, Dina dan Pras)


__ADS_3

...~ HAN ~...


“Pras, bisa kita ketemu di depan Balairung?” ketik-ku di wa kepada Pras.


Ting. Tidak berapa lama kemudian masuk notifikasi balasan dari Pras: “Siap Kak, sekarang?”


“Sekitar setengah jam lagi kalau bisa. Saya masih di Wisma sekarang.” Ketik-ku lagi.


Ting. Balasan Pras masuk sesaat kemudian: “Baik Kak, sampai ketemu setengah jam lagi.”


...***...


“Selamat Siang Ka’ Han, maaf tadi saya sempat bertemu dengan Dosen XX dan beliau meminta tolong saya mengantarkan berkas ke Ruang Pengasuhan dulu, jadi mohon maaf kalau aga terlambat..” sapa Pras tanpa lupa memberikan PPM.


“Enggak apa-apa Pras, saya juga belum lama sampe-nya tadi.” jawabku sambil tetap berkonsentrasi pada laptop di pangkuanku.


“Siap Kak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Pras kemudian, bergerak mendekat dan duduk di selasaran depan Balairung, tepat di sampingku.


“Saya perlu nomenklatur jelas Dinas UMKM di daerah-mu dan kalau ada nama serta no telp contact-person yang bisa dihubungi kalau mau minta data atau keterangan lengkap terkait rencana penelitian saya. Aga ribet karna saya ganti judul LA di injury time begini, tapi saya juga sangat bersemangat karena berharap akan sangat bermanfaat buat banyak orang.” kataku kemudian, sesaat melihat kepadanya dan lanjut mengetik dengan penuh konsentrasi.


“Sebentar ya Kak, saya juga kurang hapal, aga panjang nomenklaturnya.” jawab Pras membuka hp-nya.


“Ini Kak, nomenklaturnya: Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Jepara, Kak.” kata Pras beberapa saat kemudian sambil menunjukkan hasil browsing di hp-nya. Dengan cepat aku mengetik nomenklatur tersebut di Bab III tentang Gambaran Umum Objek Penelitian di laptopku.


“Kalau terkait telp contact-person, saya hanya punya no telp mba YY, seorang staf yang sempat memberikan sedikit keterangan ketika saya berkunjung ke kantor tersebut. Tapi sebentar, mungkin saya bisa tanyakan ke beliau apakah boleh minta no telp pejabat terkait.” tambah Pras beberapa saat kemudian.


Kami pun akhirnya membahas dengan lebih serius isi Bab III LA-ku.


...***...


“Terima kasih Pras, can’t complete this without you..” beberapa saat kemudian aku memandang kembali kepada Pras sambil menutup laptop-ku. (terjemahan: tidak bisa menyelesaikan ini tanpa-mu)


“Sama-sama Kak. Kalau boleh nanti setelah LA Kakak jadi, saya minta file-nya ya Kak. Tahun depan akan saya jadikan dasar untuk penyusunan LA saya juga, tentunya dengan pembahasan yang lebih menyesuaikan perkembangan yang ada.” jawab Pras, tampak tidak terlalu bersemangat seperti biasanya. Setelah tadi serius mencoba menyelesaikan Bab III, aku baru memperhatikan Pras lagi.


“Ok, enough about work, what’s up with you Pras? How’s life treating you so far?” tanyaku mencoba mengorek sedikit permasalahannya. Pras yang aku kenal adalah anak orang yang terbuka dan relatif tidak sulit menceritakan seluk-beluk kehidupannya. (terjemahan: baiklah, cukup tentang tugas, ada apa dengan-mu Pras? Bagaimana kehidupan memperlakukanku selama ini?)


“Hm, entahlah Kak, seperti-nya aga kurang elok kalau saya curhat ke Kakak..” jawab Pras sambil menghela nafasnya semakin dalam.


“Oh, soal hati ya? Apakah dengan Madya Wanita Praja yang beberapa hari lalu sempat kamu temui di samping gedung Perpustakaan?” tanyaku sedikit kepo.


“Eh, Ka’ Han kog tau?” jawab Pras cengengesan dan tampak menggaruk bagian belakang kepalanya.


“Kalian kan bukan mahluk tak kasat mata Pras. Kemaren itu, saya sempat melihat kalian sedang bercengkrama di samping Perpustakaan. Sepertinya terlihat baik-baik saja waktu itu?” kataku tidak mengerti dengan masalah yang dihadapi Pras.


“Aish, bukan bercengkrama Kak.. saya hanya sempat melihat Dina sedang membaca di Perpustakaan dan saya segera balik ke Wisma untuk memberikan oleh-oleh cuti ke dia. Namun kami akhirnya berpapasan di samping Perpustakaan itu, mungkin Kakak melihat kami pada waktu itu.” kata Pras dengan wajah yang aga kemerahan, mungkin karena malu dan rasa bersalah.


“Ga perlu merasa bersalah Pras. Saya dan Dina sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang. Kalau kamu mau PDKT ke dia, ya sah-sah saja, kamu kan juga masih belum punya pasangan. Tidak ada yang salah dalam hal tersebut.” kataku kemudian, mencoba terlihat tegar dan sudah move-on.


“Siap Kak.. terima kasih.. tapi kalau boleh jujur, memang sudah lama saya menyukai Dina, mungkin sebelum Ka’ Han dan Dina jadian dulu. Tapi saya selalu merasa Dina menutup dirinya, seperti ada rahasia yang dia sembunyikan, seakan semua beban dunia ada di bahunya. Makanya saya sangat kaget dan juga sedih sewaktu kita ketemu di BIP itu. Saya tidak tau kapan Ka’ Han putus dengan Dina, tapi belakangan ini saya perhatikan Dina semakin kurus dan lebih tertutup dari yang dulu pernah saya kenal.” kata-kata Pras ini kembali menohok diri-ku.


“Yah, hubungan kami tidak sampai seumuran jagung Pras.. terlalu banyak penghalang di antara kami. Jujur, saya masih sangat menyayanginya.. Dina gadis yang baik dan penuh perhatian. Namun untuk menjamin keberhasilan suatu hubungan, tidak hanya cukup main perasaan. Ada banyak faktor lain yang turut mendukung atau bahkan menghalangi. But hey.. If it doesn’t work with us, doesn’t meant will not working with both of you too.. It’s hard for me to say this, but I think you two are well-matched each other..” kataku kemudian dengan kesadaran yang baru. (Tapi sudahlah, kalau memang tidak berhasil diantara kami, tidak berarti akan tidak berhasil juga dengan kalian berdua.. Aga sulit buat saya untuk mengatakan ini, namun menurut saya kalian berdua itu cocok satu sama lain..)


“Terima kasih Kak.. Perkataan Kakak ini sangat berarti buat saya.” kata Pras dengan raut penuh kelegaan.


“Sekarang tinggal meyakinkan Dina kalau kamu adalah laki-laki yang terbaik buat-nya kan?” tanyaku lagi mencoba memahami permasalahannya.


“Yah, itulah masalah utamanya sekarang Kak.. Dina terlihat lebih menutup diri dari sebelum-sebelumnya. Entah mungkin juga belum bisa move-on dari Ka’ Han atau ada trauma kah? Biasa kan perempuan memang lebih baperan daripada kita, laki-laki ini..” kata Pras, yang walau aga sedikit menyenangkan hati-ku (karena artinya Dina kemungkinan juga masih menyayangiku), namun di sisi lain juga merasa bersalah karena telah membuat orang yang ku sayangi tidak bahagia.


“Saya kurang paham deh kalau membahas isi hati Dina ya Pras.. alangkah lebih baiknya kalau itu kamu tanyakan langsung ke Dina. Namun perlu saya infokan, dulu waktu saya PDKT ke Dina juga, saya memerlukan segenap daya yang saya miliki, pake sedikit maksa ala senioritas malah. Hm.. seperti yang kita ketahui bersama, Dina adalah orang yang mandiri, tegar dan memang suka menaruh segala jenis masalah yang ada di dunia ini di pundak-nya. Dia orang baik yang selalu berupaya melakukan hal-hal baik. Bisa jadi beban memang untuk pasangannya, namun hei.. bukankah itu salah satu alasan kita tertarik pada sosok dan kepribadiannya?” kataku kemudian membeberkan pengakuan yang sebenarnya aga memalukan.


Namun memang berbicara dengan seorang Pras yang tulus dan berkepribadian terbuka, saya juga jadi bisa lebih jujur mengungkapkan apa yang kita alami dan pernah rasakan kepadanya. Kedua karakternya ini punya kecenderungan untuk menular.


“Iya Kak, bener banget. Saya harus lebih semangat lagi menyakinkannya!” kata Pras dengan tekad penuh.


“Inget aja Pras, Hard to get, hard to lose ya.. Semangat!” kataku lagi mencoba menyemangatinya. Pras tidak lagi ku lihat sebagai rival, tapi lebih kepada seorang saudara yang butuh disemangati. (terjemahan: sesuatu yang sulit di dapat, sulit juga dilepaskan)


...***...


Rasa bersalah telah membuat seorang Dina menderita tetap lengket dalam pikiranku beberapa hari ini. Entah bagaimana menghilangkannya, sama sekali tidak kepikiran solusinya. Sampai aku melihat sosok Ute yang mengenakan PDL (Pakaian Dinas Lapangan dan ban Lengan Jaga Wisma, yang artinya hari ini Ute sedang piket), berjalan seorang diri dari arah Posko memegang kotak paket.


“Wah ada yang lagi dapet kiriman paket neh? Sudah lewat pemeriksaan kah isi paket-nya Ute?” tanyaku iseng mengagetkannya dari balik pohon kelapa sawit di pinggir jalan.


“Haish, Ka’ Han.. kreatif dikit dunks kalau mau ngagetin orang!” seru Ute sesaat setelah melihat papan nama-ku. Lalu menambahkan dengan senyum separuh dan kedipan mata jahil: “Maaf Kak, ga bisa kasih PPM, lagi bawa paket neh..”


“Muda banyak alasan, kasih salam kan wajib walau tanpa PPM!” kataku lagi berpura-pura marah kepadanya.


“Siap, selamat sore Kak..” katanya kemudian sambil mengedikkan bahunya jenaka.


“Telat dek..” jawabku lagi dan menambahkan: “Ayo temanin saya dulu duduk di situ!” sambil menunjuk selasar lapangan Plaza Menza atas.


“Siap salah..” jawab Ute sambil mengikuti langkahku menuju tempat yang ku tunjuk.


“So whats up neh Kak?” tanya-nya sesaat kemudian. (terjemahan: jadi ada apa neh kak?)


“Paket dari siapa ‘te?” tanyaku melirik bungkusan besar di pangkuannya.


“Nyokap Kak, baru balik dari konfrensi di negara X dan bawa beberapa barang produk baru yang belum keluar di Indonesia. Katanya boleh kalau saya mau bagi-bagi ke temen-temen di Wisma. Eh mungkin Ka’ Han mau?” katanya menawarkan, sambil membuka kardus-nya dan memperlihatkan beberapa produk penyimpanan makanan/minuman bermerk TW yang kelihatan berwarna-warni, dengan harga yang pastinya tidak murah.


“Rainbow is the new trend nowdays..” katanya lagi, memilah barang yang mungkin dirasanya cocok akan diberikan kepadaku. (terjemahan: pelangi adalah warna yang lagi ngetrend akhir-akhir ini)


“Tempat minum saja kalau boleh ‘te..” kataku sejurus kemudian.


“Okey, ini ada yang bagus buat Ka’ Han, cocok sama warna aura Kakak” kata Ute menyerahkan tumbler berwarna biru keunguan.


“Terima kasih.. hm, memang kamu bisa tau aura seseorang? Bakal alami atau pernah belajar dimana gitu?” tanyaku penasaran. Menambah lagi rasa kagum-ku pada gadis cantik yang selalu ceria ini. Setiap kali bertemu, pasti ada saja hal-hal baru yang menakjubkan tentang-nya.


“Bisa dikit-dikit aja Kak, sempat belajar dari ahlinya dulu..” jawab Ute mencoba misterius, lalu kembali berujar: “Tapi serius deh Kak.. ada masalah apa ya? Kog Ka’ Han keliahatan lagi berbeban berat gitu?”


“Hm, kamu mau tau aja apa mau tau banget?” tanyaku jahil, membiarkannya mengganti topik pembicaraan dari pembahasan tentang penguasaan baca aura baru saja.


“Mau tau aja seh Kak, ga pake banget, jadi kalau Kakak ga mau cerita juga ga apa-apa..” jawabnya sambil kembali mengedikkan bahunya belaga cuek.


“Oh ok kalau begitu..” kataku kemudian melipat tangan dan tetap diam.


“Iya-iya.. mau tau banged deh.. hayu lah Kak’ cerita, ada apa.. jangan bikin adik-mu ini penasaran” Ute akhirnya memecahkan keheningan kami.


“Hm, kamu kenal Dina kan ‘te?” tanyaku kemudian.


“Oh masih tentang Ka’ Dina toh.. katanya sudah move-on, kog masih lengket di pikiran ya? Atau masih di hati?” tanya Ute semakin usil dan kurang ajar.


“Sudah move-on kog cantik, cuma kemaren sempet ngobrol sama Pras, yang lagi PDKT ke Dina, dia bilang kemungkinan Dina yang belum move-on dan semakin menutup diri serta tampak menderita banged. Saya jadi merasa sangat bersalah..” kataku akhirnya.


“Hm.. sebelum saya memberikan tanggapan, saya mau tanya dulu deh Kak. Yang minta putus duluan itu siapa ya? Kakak atau Ka’ Dina?” tanya Ute setelah kami kembali terdiam beberapa saat.


“Dina.. namun dengan alasan yang sangat logis dan akhirnya kami menyepakatinya bersama untuk berpisah saja..” kataku cepat.


“Sudah jelas kalau begitu Kak, itu bukan berati karena Ka’ Dina belum move-on, tetapi lebih karena rasa bersalah yang dipikulnya.. Beban rasa bersalah karena tidak bisa memperjuangkan suatu hubungan dan menjadi yang pertama mencetuskan berpisah itu berat loh Kak.. mungkin lebih berat dari rasa bersalah yang Ka’ Han rasakan saat ini. Maka bisa jadi, sebelum memastikan Ka’ Han baik-baik saja, Ka’ Dina pun akan menjaga jarak dari laki-laki lain, bahkan yang sebaik Ka’ Pras sekalipun.” penjelasan Ute cukup masuk di akal juga.


“Saya hanya ingin melihat mereka bahagia saja ‘te.. Saya kog merasa mereka berdua itu cocok satu sama lain, entah mengapa..” kataku setelah mencerna kata-kata Ute.


“Wah, ternyata saya bukan satu-satunya ya yang merasa Ka’ Dina dan Ka’ Pras itu cocok berpasangan? Kita bantuin aja mereka biar jadian Kak, bagaimana?” tanya Ute cepat.


“Bagaimana caranya?” tanyaku tak kalah cepat.


“Hm, saya seh punya ide yang aga nyeleneh neh, tapi Kakak jangan kegeeran ya.. ide ini murni berdasarkan niat ingin membantu, ga ada tendensi pribadi!” jawab Ute dengan mimik sungguh-sungguh yang membuatku ingin mencubit pipinya karena gemas, namun ku tahan kedua tanganku dengan mengepalkannya erat.


“Iya, ga ada kepentingan pribadi, cuma mau bantu aja.. Apa ide-nya?” tanyaku.


“Kakak pura-pura sudah jadian sama perempuan lain saja di depan Ka’ Dina. Tunjukin kalau Ka’ Han sudah move-on dan bahagia, berharap Ka’ Dina juga demikian.” jawab Ute aga di luar perkiraanku.


“Masalahnya sekarang, siapa yang mau jadi pacar pura-pura saya Ute? Kamu kalau mau menyelesaikan suatu masalah, ya tolong jangan dengan menciptakan masalah baru dunks.. Kan kasian pacar pura-pura saya itu nantinya.. Bakal ga selesai-selesai rasa bersalah saya ini pada akhirnya..” kataku menjelaskan.


“Iya juga ya Kak..” Ute berujar akhirnya sambil menundukkan kepalanya berpikir.


“Kecuali kalau pacar pura-pura saya itu kamu.. tapi saya juga kasihan seh sama kamu nantinya bakal ga bisa dideketin gebetan kamu lagi, kebayang lah saingannya seorang Han gitu loh..” selorohku garing.


“Ach, ga masalah Kak.. saya ga punya gebetan kog. Okeh, kita jadian pura-pura ya Kak.. mulai hari ini saja bagaimana?” tanya Ute kembali mengagetkanku.


“Serius kamu mau jadi pacar saya ‘te?” tanyaku masih tidak percaya.


“Kan ga beneran Kak, cuma pura-pura aja.. sekalian mengasah kemampuan akting saya deh..” jawab Ute enteng. Lalu dia meletakkan kardus paketnya, berdiri di hadapanku, menyodorkan tangan kanan-nya dan kembali berujar ketika tangan itu sudah masuk dalam genggaman-ku: “Hari ini, Ute resmi jadi pacar pura-pura Ka’ Han dan akan berakting dengan sepenuh kemampuan untuk menyakinkan Ka’ Dina kalau Ka’ Han sudah move-on dan bahagia bersama Ute.”


Tidak dapat ku tahan tawa bahagia ini keluar. Rasa takjub-ku terhadap seorang Ute kembali membuncah, sekali lagi kejutan menyenangkan dari sosoknya bisa ku rasakan. ‘Andai hubungan ini bukan pura-pura..’ batinku sesaat kemudian. Tiba-tiba teringat pada lagu berjudul Pretender, yang dipopulerkan oleh band asal jepang bernama HIGE DANdism atau yang lebih dikenal dengan nama Higedan, sebagai berikut:


...Kimi to no Love Story sore wa yosou doori...


...Iza hajimareba hitorishibai da...


...Zutto soba ni itatte...


...Kekkyoku tada no kankyaku da...


...(terjemahan: Kisah cinta denganmu seperti yang kuharapkan...

__ADS_1


...Tapi saat dimulai hanya pertunjukan satu orang...


...Meski aku selalu berada di sisimu...


...Pada akhirnya aku hanya sebagai penonton)...


*) Untuk lebih jelas dan kelanjutannya lagu ini bisa ditanya ke mbah google ya guys..


...***...


...~ DINA ~...


Ting. Masuk pesan wa di hp jadul-ku, ternyata dari Ute. Aku pun melipir ke bangku teras mall ini dan membuka pesannya.


Ute : “Ka’ Dina, hari ini keluar pesiar kah?’


Dina : “Iyah neh dek, cuma buat beli ATK aja, kemaren ibu Dosen Z nitip buat anak-anak-nya, katanya ATK pilihan saya bikin yang make semangat dan cocok buat keluarganya.”


Ute : “Ka’ Dina pesiar kemana? Maksudnya beli ATK-nya dimana?”


Dina : “Di BIP dek. Baru juga nyampe tadi. Kamu lagi pesiar juga? Mau ketemuan? Kemaren itu kan kamu sempet ngajakin pesiar bareng.”


Ute : “Beneran Kak boleh ketemuan? Tapi aku lagi sama seseorang neh.. ga apa-apa? Ga akan ngeganggu pesiar Kakak?”


Dina : “Someone special kah? Widih ga cerita-cerita neh kalau udah punya cemceman.. Kakak seh ga bakal keganggu lah, paling-paling kemesraan kalian yang bakal keganggu karena ada Kakak jadi obat nyamuk.. wkwkwkwk...”


Ute : “Bener ya Kak kita bisa ketemuan. Penting banget neh soalnya Kak. Kita ketemuan di *ramedia BIP aja ya Kak, sekitar ½ jam lagi deh saya sampe.”


Dina : “Iyah, take your time dear, ga usah buru-buru, santai aja, Kakak juga ga kemana-mana inih. Abis beli ATK palingan langsung pulang juga.” (terjemahan: santai aja)


Ute : “Okey Kak, c u when I c u ya..!” (baca: see you when I see you. Terjemahan: sampai bertemu ketika aku melihatmu)


Dan percakapan virtual kami-pun berakhir. Aku melangkahkan kakiku ke toko buku *ramedia dan melihat-lihat alat tulis yang akan ku beli. Lalu setelah selesai memilih dan membayarnya, aku melangkahkan kaki ke deretan buku-buku komik dan novel. Melihat-lihat apakah ada yang sudah dalam posisi terbuka (barang contoh biasanya) untuk aku baca sambil mengisi waktu menunggu Ute dan temannya.


“Ka’ Dina.. selamat siang..” sapaan ceria seorang Ute menyapa punggungku.


Aku membalikkan badan dan melihat Ute memberikan PPM sambil nyengir kuda, memamerkan deretan giginya yang putih bersih.


“Selamat siang Ute.. ga usah terlalu formal deh, kita kan lagi di luar Ksatrian!” kataku sambil menarik tangannya yang masih dalam posisi menghormat.


“Mana pasanganmu? Katanya lagi pesiar bareng..” kataku lagi sambil melongokkan kepala mencari sosok pendamping Ute. Kepo juga sama sosok pria yang akhirnya bisa meluluh-lantakkan pertahanan gadis cantik ini nan cuek ini.


“Dia nunggu di resto M Kak.. tapi sebelum kita ketemu dia, saya mau minta tolong dulu sama Ka’ Dina untuk jangan marah dan jadi memusuhi Ute ya.. please..” jawab Ute sambil menangkupkan tangannya memohon.


“Apaan seh kamu ‘te? Kenapa juga saya harus marah apalagi sampe memusuhi-mu?” jawabku cepat, kembali menarik tangannya.


“Soalnya, laki-laki ini mulai penting di hati dan pikiran Ute Kak, tapi dia ga akan jadi siapa-siapa-nya Ute, bahkan teman sekalipun, kalau Kakak tidak menyetujuinya.” kata Ute lagi dengan ketegasan yang sedikit mengagetkanku.


“Loh, kog jadi tergantung saya? Kan yang merasa dan akan menjalani hubungannya kamu. Ya harus kamu dunks yang tanya hati-mu apakah dia layak buat jadi apa-apanya kamu..” kataku lagi.


“Untuk saat ini, pendapat Kakak akan jadi penentu kelanjutan hubungan kami. Pokoknya kalau Kakak bilang ga boleh sama dia, maka saya akan segera menolak-nya, tapi kalau Kakak bilang dicoba dulu dan lanjut saja, maka saya akan menerima pernyataannya dan mungkin hubungan kami akan berlanjut ke tahapan berikutnya.” kata Ute lagi manja.


“Hadeuh anak ini. Sekarang Kakak tanya dulu deh sama kamu, bagaimana perasaanmu kalau ada di sampingnya?” tanyaku lagi, mulai bertanya-tanya ada apa sebenarnya.


“Awalnya seh biasa saja Kak, tapi mulai ada debaran-debaran yang sulit dijelaskan dengan kata-kata aja seh lama-kelamaan..” jawab Ute dengan pandangan menerawang.


“Nah itu modal awal dalam memulai hubungan. Rasa tertarik, chemical-reaction itu namanya..” kataku sambil tersenyum geli melihat kepolosannya, lalu kembali bertanya: “Trus kamu sudah selidiki bagaimana orangnya? Ramah? Kasar? Kira-kira kamu bisa menerima kelebihan dan kekurangannya? Oh iya, kalau memang tujuannya untuk serius, sebaiknya kamu juga menyelidiki latar belakang keluarganya, asal suku dan yang paling penting agamanya dek.. karena kalau banyak ketidak-cocokannya, lebih baik seh ga usah dimulai hubungannya.. ntar sakit aja ujung-ujung-nya seperti Kakak dulu. Haish, jadi curcol neh.. Lain halnya, kalau kamu memang niatnya cuma buat iseng-iseng dan having fun aja, cari pengalaman..” (terjemahan: bersenang-senang)


“Oh begitu. Iya Kak, aku seh ga suka main-main dalam hal berhubungan. Kalau mau having fun ya cukup temenan aja.. Kalau Kakak ini beda Kak, dia juga niatnya ga main-main ngedeketin saya. Senior kita dia Kak, orangnya baik dan gagah. Belum pernah aku selidikin seh karakter asli-nya bagaimana, tapi dia punya banyak penggemar, yang artinya kemungkinan besar dia orang baik kan? Suku kami berbeda tapi seh kami sama-sama Kristen ya, walau aga berbeda juga seh, saya Katholik dan dia Protestan.. Hadeuh, jadi mendingan ga usah aja saya terima cinta-nya ya Kak?” tanya Ute dengan mimik wajah yang memelas dan tampak kecewa.


“Loh, kalau menolaknya membuat pikiran kamu sedih, ya terima saja lah.. itu artinya, tanpa kamu sadari, sosoknya sudah punya tempat di hati kamu..” kataku lagi memberikan tepukan di bahu-nya tanda menyemangati.


“Baiklah Kak.. sebelum aku memutuskan nantinya, kita ketemu orangnya dulu ya Kak.. Pokoknya sekali lagi saya tegaskan, pendapat Kakak yang akan menjadi penentu akhir mau dibawa kemana hubungan kami..” kata Ute lagi menggandeng tanganku masuk ke sebuah restoran berdekorasi mewah.


“Hi Dina..” sapaan Ka’ Han membuatku terpaku sesaat.


“Selamat siang Kak..” akhirnya kalimat itu bisa keluar dari mulutku dan dengan canggung mencoba menarik tangan kanan-ku yang masih dalam gandengan Ute, untuk memberikan PPM.


“Udah langsung duduk saja kalian, ga usah PPM segala..” kata Ka’ Han lagi.


Aku memberikan tatapan bertanya ke arah Ute yang dengan lincah (terlihat polos tanpa rasa bersalah) menarik tanganku untuk duduk di sampingnya, sementara dia sendiri duduk di hadapan Ka’ Han.


“Jadi ini Ka’ Han dan Ka’ Dina ga perlu diperkenalkan lagi kan ya?” tanya Ute menolehkan wajahnya ke arah-ku dan Ka’ Han. Lalu berbisik di telingaku: “Sekarang Kakak paham kan kenapa pendapat Kakak akan menjadi penentu?” Aku hanya memutar mataku.


“Apa kabar Dina?” tanya Ka’ Han beberapa saat kemudian.


“Baik Kak.. saya lihat kondisi Ka’ Han juga baik-baik saja ya?” kataku memaksakan diri.


Ka’ Han hanya tersenyum, lalu berujar: “Saya sudah pesan makanan dan minuman untuk kita bertiga, semoga pilihan saya cocok buat kalian ya..” sambil menjentikkan jarinya meminta waiters menyajikan hidangan pesanan-nya.


“Sudah keluar semua pesanannya ya pak? Untuk minum-nya apakah ada tambahan atau cukup hot lemon tea dalam pitcher ini pak?” tanya seorang pelayan pelayan memecah lamunanku.


“Saya mau Hot Americano saja, tapi nanti setelah makan ya. Ute dan Dina mau minum apa?” tanya Ka’ Han kepada kami berdua.


“Saya mau ice summer-brize kalau ada ya..” jawab Ute cepat, ketara sekali kalau mereka berdua sudah sering menikmati hidangan di sini, sementara aku masih perlu waktu membuka-buka menu untuk menentukan tambahan minuman.


Namun akhirnya buku menu itu aku tutup (karena ga kuat lihat daftar harga-harga yang tertera di situ) dan berkata dengan perlahan: “Saya cukup, tidak perlu ada tambahan..”


“Okeh.. boleh langsung makan neh ya Kakak-kakak?” tanya Ute jahil ke arah Ka’ Han dan aku.


Ka’ Han tersenyum ceria dan berkata: “Silahkan dinikmati.. selamat makan Ute dan Dina.”


“Bon appétit..” kata Ute lagi setelah berdoa sesaat. (terjemahan: selamat makan)


“Jadi menurut pendapat Ka’ Dina bagaimana neh?” tanya Ute tiba-tiba, membuatku terkejut dan sedikit menyemprotkan air minumku.


“Tunggu kita selesai makan lah Ute, baru ngobrol lagi. Kasihan Dina sampe terkaget-kaget ituh..” kata Ka’ Han mendekatkan kotak tissu ke arah ku.


“Abis ga kuat saya berada dalam keheningan Kak.. seperti lagi di kuburan ajah..” jawab Ute lagi membandel, lalu menambahkan dengan polos: “Tadi kami sempet ngebahas kelanjutan hubungan kita Kak, pokoknya saya serahkan ke Ka’ Dina yang memutuskan, apakah kita akan temenan aja atau bisa lebih dari temen..” kata Ute lagi, lebih mengagetkan dari kalimatnya yang sebelumnya.


Lalu aku merasa merinding sendiri ketika dipandangi oleh Ute dan Ka’ Han.


Aku mencoba menelan makanan yang baru separuh ku kunyak, supaya bisa menjawab: “Herm.. saya sudah sampaikan ke Ute tadi, kalau hubungan kalian berdua seharusnya tidak ada keterkaitannya dengan saya.. semua terserah Ute..” lalu aku menuangkan minuman ke gelaskku dan meminumnya.


“Iyah, Ka’ Dina dari tadi nolak-nolak dilibatkan. Entah mengapa.. padahal kan Ka’ Dina sudah seperti kakak Ute sendiri. Seperti pengganti orang tua, terkadang kita butuh pendapat orang lain yang kita percayai kalau ragu-ragu dalam membuat keputusan. Bener kan Ka’ Han?” tanya Ute dengan kepolosan yang tidak terbantahkan.


“Pendapat-mu tidak salah Ute, tapi mungkin Dina aga ragu karena saya dan Dina pernah punya cerita yang tidak berakhir bahagia. Wajar saja kalau Dina enggan berpendapat. Mungkin dia ga mau akhir hubungan kita nantinya mengalami hal yang sama.” kata-kata Ka’ Han yang disampaikan perlahan menusuk hatiku dalam diam.


“Tapi kan cerita Ka’ Han dan Ka’ Dina belum lagi berakhir.. Masih bisa ada sequel-nya, siapa tau nantinya akan jadian lagi?” kata Ute lagi sambil dengan tenang menyuapkan makanannya.


“Apaan seh Ute! Suka ngasal deh kalau ngomong..” kataku menjawil pinggangnya.


“Jadi saudara ipar maksudnya Kak.. kan Ka’ Dina saudari Ute satu-satunya, sementara kalau Ka’ Han nanti jadian sama Ute, kalian kan akan jadi ipar tuh..” kata Ute lagi menjelaskan sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Ka’ Han yang kembali memperlihatkan senyum senang menanggapi kejahilan Ute.


“Maksud Ute mungkin begini Dina.. dia mau kamu merestui hubungan kami. Dia ga mau ada unfinish busines di antara kita. Jadi masukan darimu penting buat dia melangkah.. Sejujurnya, saya juga menunggu pendapatmu.. dan saya secara pribadi akan iklas menerima, kalau menurut kamu, hubungan antara saya dan Ute sebaiknya cukup sebatas teman saja..” kata Ka’ Han sempat membuatku tercengang. (terjemahan: permasalahan yang tidak selesai)


Aku kembali menenggak lemon-tea-ku, untuk melegakan tenggorokan ini, sebelum akhirnya dapat berkata: “Baiklah, sepertinya kalian berdua sudah membuat kesepakatan sebelum masuk dalam percakapan ini. Sekali lagi saya mohon maaf untuk Ka’ Han.. hubungan kita memang tidak berjalan sesuai dengan harapan dan itu menurut saya bukan salah kita berdua, memang kondisinya demikian saja. Jadi kalau ditanya apakah saya merestui hubungan Ka’ Han dan Ute, jawaban saya adalah IYA.. saya rasa Ka’ Han dan Ute adalah pasangan yang cocok, dapat saling mengerti dan memahami satu sama lain. Mengkin kalian tidak menyadarinya, tapi kalian sering berkomunikasi tanpa kata-kata dan saya sungguh berharap hubungan kalian bisa langgeng penuh kebahagiaan.”


Keheningan kembali tercipta, untuk beberapa saat tidak ada yang bersuara. Kami kembali terhanyut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya ada pelayan yang menghampiri kami dan menanyakan apakah bisa menghidangkan desserts dan kopi pesanan Ka’ Han.


‘Akhirnya bisa tersampaikan juga maksud hati ini. Aku memang sungguh menghargai dan menghormati mereka berdua, jadi aku ingin mereka bisa bahagia, meski tanpa keberadaan-ku diantaranya.’ batinku kembali nelangsa. Sekuat tenaga ku tahan gemetar diri, sebagai akibat luapan kesedihan yang mendera.


“Baiklah, saya rasa keberadaan saya saat ini sudah tidak dibutuhkan lagi. Kalau boleh saya pamit duluan dan sebaiknya Ka’ Han dan Ute membicarakan dengan lebih mendalam lagi rencana hubungan ke depan-nya. Sekali lagi, selamat buat hubungannya.” kataku setelah bisa menenangkan diri dan merasa cukup tau diri, mencoba mengakhiri kekakuan suasana.


“Terima kasih ya Dina.. saya berharap kamu juga bisa segera mendapatkan pasangan yang sepadan dan terbaik untuk masa depan-mu..” jawab Ka’ Han.


“Terima kasih Ka’ Dina..” lirih Ute berkata sambil menggenggam tanganku erat sesaat sebelum akhirnya aku beranjak berdiri dan meninggalkan restoran dalam diam.


Sekilas aku dapat melihat kalau mereka tidak beranjak dan tangan keduanya tampak saling menggenggam erat di atas meja. Kemesraan manis yang tidak berusaha ditutupi keduanya. Sungguh membuat iri bagi mereka yang masih jomblo seperti diriku.


Kejadian ini kembali mengajarkan-ku, bahwa percintaan tidak memiliki tempat dalam hidup-ku saat ini. Aku membulatkan tekad untuk lebih berkonsentrasi pada pelajaran dan mengumpulkan duit untuk pengobatan Ayah saja. Yah, sebelum berangkat pesiar tadi, aku menerima info kalau Ayah-ku saat ini dalam kondisi perawatan di RSUD. Beliau kembali mengalami serangan stroke untuk yang kesekian kali.


...***...


...~ PRAS ~...


Aku semakin disibukkan dengan rencana pendirian koperasi di kampung halaman. Berkoordinasi dengan sejumlah teman yang masih aktif di karang taruna dan menyusun perencanaan secara detail dengan Ian dan juga Ka’ Han.


Pagi menjelang siang ini aku akan keluar pesiar, rencananya hanya untuk makan siang, namun ketika melihat sosok Dina masuk ke angkot biru itu, aku pun tidak bisa menahan diri untuk tidak mengikuti-nya. Menebak dari arah tujuannya, sepertinya Dina menuju BIP.


Benar saja, sesampainya di BIP, aku berjalan ke arah toko buku *ramedia (tempat yang ku duga akan dituju Dina) dan segera melihat 2 sosok yang familiar sedang berjalan bersama keluar dari toko buku tersebut. Sepertinya Ute akhirnya berhasil mengajak Dina pesiar bareng. Padahal sebelumnya, aku sempat mendapat kabar dari Ute, kalau permintaannya kepada Dina untuk pesiar bareng ditolak mentah-mentah dan karenanya Ute akhirnya berencana akan keluar dengan Ka’ Han.


Aku tidak bisa mengumpulkan keberanian untuk menghampiri keduanya, malah aku sebisa mungkin menghindar agar tidak sampai masuk dalam jarak pandang keduanya.


Mereka tampak ceria, membahas sesuatu dengan serius sebelum akhirnya masuk ke sebuah restoran mewah. Aku hanya duduk-duduk di seberang area restoran tersebut, mengamati pintu masuknya dengan seksama. Menunggu dengan sabar, berharap pada akhirnya Dina akan keluar dari restoran tersebut sendirian, sambil mendengarkan lantunan lagu yang mengalun lembut di pelataran mall ini. Kalau tidak salah itu Lagu ‘Permission to Dance’ milik BTS yang sedang digandrungi anak-anak muda jaman now. Sekilas mendengarkan lirik-nya memang pantes lagu-lagunya disukai.


...It’s the thought of being young, When your heart’s just like a drum...


...Beating louder with no way to guard it...


...(terjemahan: Pemikiran soal masa muda, Saat hatimu bagai drum...


...Berdetak lebih kencang, tak ada yang menjaganya)...

__ADS_1


...When it all seems like it’s wrong, Just sing along to Elton John...


...And to that feeling, we’re just getting started...


...(Saat semua hal terlihat keliru, Ikuti saja nyanyian Elton John...


...Dan perasaan itu, kita baru akan mulai)...


...When the nights get colder, And the rhythms got you falling behind...


...Just dream about that moment, When you look yourself right in the eye, eye, eye...


...Then you say...


...(Saat malam kian dingin, Dan kau tertinggal dalam ritme...


...Impikan saja momen itu, Saat kau menatap dirimu sendiri, tepat di bagian mata...


...Lalu katakan..)...


...I wanna dance, The music’s got me going...


...Ain’t nothing that can stop how we move yeah, Let’s break our plans...


...And live just like we’re golden, And roll in like we’re dancing fools...


...We don’t need to worry, ‘Cause when we fall we know how to land...


...Don’t need to talk the talk, just walk the walk tonight...


...‘Cause we don’t need permission to dance...


...(Aku ingin menari, Musiknya membuatku melakukannya...


...Tak ada yang bisa menghentikan gerakan kita, Batalkan saja rencana kita...


...Hidup layaknya dalam masa keemasan, Dan berguling bak si penari bodoh...


...Kita tak perlu khawatir, Karena saat terjatuh, kita tahu caranya mendarat...


...Tak perlu banyak bicara, malam ini lakukan saja apa yang telah dikatakan...


...Karena kita tak perlu izin untuk menari)...


...There’s always something...


...that’s standing in the way...


...But if you don’t let it faze ya,...


...You’ll know just how to break...


...(Akan selalu ada sesuatu yang merintangi...


...Namun bila kamu tak membiarkan itu mengganggumu...


...Kamu akan tahu caranya melewatinya)...


...Just keep the right vibe yeah,...


...‘Cause there’s no looking back...


...There ain’t no one to prove,...


...We don’t got this on lock yeah...


...(Pertahankan saja nuansa yang tepat, Tak ada leher yang menoleh ke belakang...


...Tak perlu membuktikannya pada seseorang, Kita tak terbelenggu)...


...The wait is over,...


...The time is now so let’s do it right...


...Yeah we’ll keep going,...


...And stay up until we see the sunrise...


...And we’ll say...


...(Masa penantian telah berakhir,...


...Sekaranglah saatnya, jadi mari lakukan dengan benar, Ya, kami akan terus maju...


...Dan tetap terjaga hingga melihat sinar mentari pagi, Dan kami akan berkata..)...


...I wanna dance, The music’s got me going...


...Ain’t nothing that can stop how we move yeah...


...Let’s break our plans,...


...And live just like we’re golden...


...And roll in like we’re dancing fools...


...We don’t need to worry,...


...‘Cause when we fall we know how to land...


...Don’t need to talk the talk,...


...just walk the walk tonight...


...‘Cause we don’t need permission to dance...


...(Aku ingin menari,...


...Musiknya membuatku melakukannya...


...Tak ada yang bisa menghentikan gerakan kita...


...Batalkan saja rencana kita,...


...Hidup layaknya dalam masa keemasan...


...Dan berguling bak si penari bodoh...


...Kita tak perlu khawatir, Karena saat terjatuh,...


...kita tahu caranya mendarat...


...Tak perlu banyak bicara,...


malam ini lakukan saja apa yang telah dikatakan


...Karena kita tak perlu izin untuk menari)...


...***...


Harapanku akhirnya terwujud. Sekitar satu setengah jam kemudian, Dina keluar dari restoran tersebut dengan wajah sedih dan langkah gontai. Entah apa yang telah dialaminya selama lebih dari satu jam terakhir, sehingga terlihat jelas perbedaan antara sebelum dan sesudahnya.


Aku kembali mengumpulkan keberanian untuk menghampirinya. Berakting kalau pertemuan kami memang tidak direncanakan dan hanya kebetulan saja.


“Hi Dina..” sapaku sambil mensejajari langkah lambat-nya.


“Oh selamat siang Ka’ Pras..” kata Dina setelah menoleh kepadaku.


“Lagi cari apa Dina di BIP sini?” tanyaku lagi.


“Tadi beli ATK saja Kak, sekarang mau balik ke Ksatrian.” jawab Dina singkat.


“Oh, kalau begitu, boleh kita jalan bareng? Saya juga sudah mau pulang kog ini.” kataku kemudian, mengabaikan perut yang mulai keroncongan ini, berharap dia tidak mengeluarkan suara keras yang hanya akan mempermalukanku.


Karena Dina hanya diam saja, aku pun berjalan di sampingnya.


Beberapa kali aku mencoba untuk membuka percakapan dengan Dina, namun kediaman-nya dan posisi wajahnya yang ditekuk terlalu dalam menghentikan kata-kata yang hendak ku keluarkan. Akhirnya aku pun hanya duduk terdiam. Mencoba menikmati kebersamaan kami, walau tubuh kami bersisian, menempel erat dari kaki sampai dengan lengan, namun dapat ku rasakan jiwa Dina tidak di sini.


Kami naik-turun angkot dalam diam dan ketika aku membayari ongkos angkot untuk kami berdua, Dina juga tidak mengatakan apa-apa, ia hanya tersenyum lemah, terlalu lelah untuk beradu argumen, seakan tenaganya sudah habis terkuras.


Akhirnya kami kembali di titik perpisahan kami terakhir, portal kawasan keputrian.


Dina menghentikan langkahnya dan memandang ke arah-ku sekilas, tersenyum lemah dan berkata: “Terima kasih Ka’ Pras, sampai di sini dulu ya, saya sepertinya kurang sehat.”

__ADS_1


“Iya Dina, selamat istirahat ya.. semoga segera sehat kembali.” kataku akhirnya, melepas kepergiannya. Kembali merasa nelangsa dan kehilangan selera makan walau perut sudah memberontak.


...***...


__ADS_2