HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 26 (Bagian 1) Janjian (Dina, U. & P.)


__ADS_3

...~ DINA ~...


‘Ach.. masih belum percaya rasanya kini aku sudah menjadi pacar Ka’Pras, padahal baru beberapa waktu yang lalu aku putus dengan Ka’Han. Tidak pernah terbayang dibenak ini seorang Andi Dinameiriza memiliki kehidupan romansa yang begitu up&down seperti roller coaster, sesaat menanjak dengan dramatis dan sesaat kemudian menukik dan bergulung-gulung mengocok perut. Kisah kasih yang singkat dengan Ka’Han mengajarkanku untuk tidak mudah terbuai dengan harapan semu kebahagiaan.’ Bahkan dengan hubungan baru ini dengan Ka'Pras.


Tanpa sadar aku kembali teringat pada petuah Alm Ayah ketika suatu sore kami sekeluarga berkumpul untuk minum teh sore bersama di selasar teras atas rumah besar kami, yang walau tak ingin ku kenang namun masih jelas kuingat sangat megah dengan nuansa serba putih-nya, entah sudah jadi milik siapa rumah kenangan masa kecil kami itu.


Kalimat-kalimat bijak itu tak pernah lepas dari ingatanku: “Iyatopa upoadakko, appujio sio mumadeceng kalawing ati, apa' sininna decengnge enrengnge upe'e polemanengngi rideceng kalawing atie.” Sambil memperhatikan mimik wajah kami satu persatu dengan intens, Ayah kembali berujar: “Aja' sio mualai pompola to mapperumae riwatakkalemu, iyana ritu matae, daucculie, lilae inge'e. Tomapperuma maneng ritu riwatakkale. Iyasa muala pompola mattungka engkae riwatakkalemu, iyana ritu kalawing ati madecengnge. Aja' sio namasero muatepperi pangkau kenna tomaperrumae. Iyana ritu pakkitanna matae, parengkalinganna acculie, ada adanna lilae, paremmaunna inge'e. Gau'na kalawing ati madecengnge madecengngi riakkatenning, matanna kalawing atie de' nakaita-ita, lilana kalawing ati madecengnge de' nakapau pau, dacculinna kalawing ati madecengnge de' nakaengka engkalinga, inge'na kalawing ati madecengnge de' nakaemma emmau mainge' tongeng tongeng. Naengngerangngi sininna pura naengkalingae, naengngerangngi pura naitae pura napoadae.”


(terjemahan: Juga saya katakan, cintai dan berbaiksangkalah kepada sesamamu, sebab semua kebaikan dan kemujuran bersumber dari baik sangka/ketulusan hati. Janganlah hendaknya menjadikan penumpang dalam tubuhmu, yaitu: mata, telinga, lidah, hidung sebagai pimpinanmu. Jadikanlah pimpinan yang memang ada di dalam tubuhmu ialah ketulusan hati yang baik. Jangan terlalu mempercayai tingkah laku penumpang dalam tubuhmu, yaitu penglihatan mata, pendengaran telinga, perkataan lidah dan penciuman hidung. Perbuatan hati yang tulus baik dipegang, matanya hati yang tulus tidak sembarang melihat, lidahnya hati yang tulus tidak sembarang berkata, telinganya hati yang tulus tidak sembarang mendengar, hidungnya hati yang tulus tidak sembarang mencium. Mengingat semua yang pernah didengarnya, mengingat semua yang pernah dilihatnya, mengingat semua pernah dikatakannya.)


Sungguh kalimat-kalimat bijak yang beliau ucapkan. Sayangnya, teryata seorang dengan pemikiran sebijak itu pun bisa terkecoh janji manis seorang teman. Karena tidak lama sesudah acara minum teh itu, Ayah menerima kabar kalau ia telah ditipu partner bisnisnya dan perusahaan yang dirintisnya dari bukan apa-apa menjadi sebuah perusahaan yang besar harus gulung tikar atau menyetakan diri pailit karena kehabisan modal usaha dan semua aset mereka disita kurator untuk membayar kerugian para pemegang saham dan gaji/pesangon karyawan.


Pelajaran pahit yang mau tidak mau harus aku dan keluargaku alami.


Sejak saat itu dunia kami seperti dijungkir-balikkan. Ayah yang selalu jadi panutan pun akhirnya ambruk dan menyerah pada penderitaan dan pada akhirnya meninggalkan kami di dunia ini.


Hanya Ibu yang menjadi kekuatan dan teladan bagi kami anak-anaknya, 3 bersaudara. "Kalau Ibu bisa melaluinya, mengapa kami tidak?" Kalimat penguat itu yang membuat kami bisa bertahan walau terseok-seok.


Aku kembali teringat petuah Ibu ketika melepas kepergianku ke bumi Jatinangor ini: “Dina, jangan pernah lupa Limai uwangenna riallolongengi deceng: seuwani pakatunai alemu risilasannae, maduanna saroko maserisilasannae, matellunna makkareso patujue, maeppa'na moloie roppo roppo narawe', malimanna molae laleng namatike' nappa sanre' ri Allah SWT.” (terjemahan: Lima jenis sifat manusia yang akan menghasilkan kebaikan: pertama merendahkan diri dengan sepatutnya, kedua mencari kawan/sahabat sebaik-baiknya, ketiga berbuat/bekerja yang baik dan benar, keempat kembali atau mundurlah sejenak apabila menghadapi rintangan, kelima tetaplah waspada dalam perjalanan sambil berserah diri kepada Allah SWT.)


Aku memegang teguh nasihat Ibu ini, mencoba menghasilkan kebaikan semaksimal mungkin: tidak pernah menonjolkan diri dan selalu merendah, membatasi pergaulan walau akhirnya aku tidak banyak memiliki teman dekat, rajin belajar dan mengajar prifat untuk menghasilkan sedikit tambahan supaya bisa sedikit meringankan beban Ibu dan tentu saja aku juga meninggalkan hubungan yang aku rasa hanya akan merusak keluarga baik Ka’Han.


Entah mengapa dan bagaimana, dalam waktu yang terbilang singkat, sosok Ka’Pras bisa begitu meyakinkanku untuk memulai suatu hubungan baru dengannya yang begitu sederhana dan tulus. Sepertinya baru beberapa waktu yang lalu hubunganku dengan Ka'Han terjalin dan akhirnya kandas, namun kini aku sudah dalam sebuah hubungan yang baru lagi.


Tiba-tiba sebuah suara cempreng: “Selamat Siang Kak..” membuyarkan lamunanku dan membuatku tanpa sadar menjatuhkan buku yang selama ini ada dalam genggamanku dalam posisi terbuka seakan menunggu untuk dibaca.


“Izin menghadap Ka’Dina..” Ute masih bersuara lantang dari arah bawah tangga melihat ke arahku yang masih belum sadar sepenuhnya dari lamunan tentang roller coaster hidupku beberapa waktu belakangan ini.


“Hi adik cantik, sini naik.. ada apa seh ngagetin ajah..” jawabku akhirnya memberikan perintah kepadanya untuk menghampiri posisi duduk-ku di tangga wisma ini.

__ADS_1


Semingguan ini memang jadwal Praja di seluruh Ksatrian ini aga santai, karena kami semua baru saja pulang dari praktek lapangan dan diberikan waktu untuk menyusun laporan masing-masing. Rombongan Madya Praja, termasuk aku, baru 3 hari yang lalu kembali dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) kami di Garut, sementara Muda Praja, termasuk Ute dan Ian bahkan baru semalam kembali dari Jepara, kampung halaman Ka’Pras.


“Ka’Dina lagi kangen ya sama Ka’Pras?” tanya Ute centil sambil mendaratkan tubuh semampainya di sampingku.


“Kalau iya memangnya kenapa?” tanyaku menjawab pertanyaannya dengan berani.


“Ya ga apa-apa.. kan kangen sama pacar sendiri adalah hal yang wajar..” jawab Ute santai sambil mengedikkan bahunya cantik.


“Siapa memang yang pacaran?” tanyaku mencoba mengeles.


“Ka’Dina dan K’Pras lah.. tenang saja, kalau itu masih rahasia, saya bisa menjaga rahasia ini kog Kak, tentunya dengan sejumlah imbalan pastinya..” katanya lagi sambil bermain mata genit.


‘Haish, laki-laki mana yang ga akan terpincut dengan kecantikan dan gaya manis gadis ini, pantas saja banyak senior yang pengen isengin anak ini..’ batinku lirih, tidak bisa menahan rasa iri dengan kesempurnaan yang mungkin tanpa sadar dipertunjukkannya ini.


“Ini Kak.. oleh-oleh dari Ian dan saya..” kata-kata Ute membuyarkan kembali pikiran ngawur yang baru saja melintas di kepalaku.


“Ach kalian kog repot-repot seh? Terima kasih ya.. tapi seru ya pastinya pengalaman pertama kalian di lapangan?” tanyaku menerima box pemberiannya dan meletakkan di tangga belakang punggungku.


“Harus dibuka sekarang gitu? Kakak lebih seneng denger cerita pengalaman kamu jadi titisan sang Ratu Agung.. bagaimana ceritanya?” tanyaku lagi. Aku memang sempat bertemu Ian kemaren sore dan mendengar sedikit cerita terkait Ute yang disanjung-sanjung warga lokal dan dipercayai sebagai keturun atau titisan salah satu pahlawan nasional itu.


“Haish, ga ada yang istimewa seh Kak.. Ian pasti sudah cerita deh sama Ka’Dina neh.. masa harus aku ulang seh?” jawab Ute malas dan tampak menekukan wajahnya.


“Ya ampyun, kamu itu istimewa loh Ute, kog malah ga bersemangat seh?” tanyaku heran.


“Kita pesiar bareng yuks Kak..” tiba-tiba Ute berujar mengalihkan percakapan.


“Laporan PPL kamu sudah dibuat belom ‘te?” tanyaku kembali mengalihkan topik pembicaraan kami.


“Sudah dunks.. saya kan buatnya di sana, biar sesampainya di sini tinggal leha-leha.. Ayo lah Kak, kita pesiar bareng ya..” pintanya lagi dengan lebih bersemangat yang membuat aku semakin curiga ada udang dibalik bakwan.

__ADS_1


“Hem, bersama siapa ‘te? Bukannya kamu baru jadian sama Ka’Han ya? Harusnya kan lagi seneng-senengnya berduaan saja kan kalian?” tanyaku telak membuat wajahnya sedikit aga pias dan menambah kecurigaan ini.


“Bersama Ka’Pras dan Ka’Han.. kita double date bagaimana Kak?” tanyanya lagi.


“Oh jadi kalian beneran sudah jadian ya? Bener-bener jadian?” tanyaku lagi menyelidik.


“Ga tau ach Kak.. Ka’Han seh pengen jadi pacar Ute, tapi belom dijawab juga ngajak jalan melulu. Pas kami PPL juga beberapa kali nanyain alamat seperti mau dateng, tapi malah Ka’Pras yang sempet dateng. Ka’Han-nya malah kaga nongolin batang hidungnya sedikit juga, walau setiap malam telponan juga tapi kurang seru aja kesannya. Seperti laki-laki yang kurang perjuangan gitu deh..” akhirnya uneg-uneg Ute terluapkan juga membuatku tidak bisa menahan senyum geli akan kelakuan gemoy-nya, sok tidak butuh tapi kepingin terus diperhatikan.


“Trus kamu mau menghukumnya dengan pesiar bareng kami?” tanyaku lagi.


“Iyah, biar Ka’Han lihat bagaimana seharusnya memperlakukan perempuan dari cara Ka’Pras menyayangi Ka’Dina. Biar dia mencontoh sedikit aja..” jawab Ute lagi dengan wajah yang masih cemberut menggemaskan.


“Tapi Kakak kan mantannya pasangan kamu loh, ga akan canggung nantinya kita jalan bareng?” tanyaku lagi mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa jalan bareng itu adalah memang hal yang perlu dilakukan.


“Yah sekalian menguji kesungguhan hati Ka’Han kan Kak.. kalau ternyata dia belum move on dari Ka’Dina, ngapain saya nerima perasaannya? Kalau cuma sekilas pertemuan, ga akan kelihatan tuh perasaan sesungguhnya seorang Ka’Han, tapi kalau kita jalan seharian bareng, masa iya ga terasa kesungguhan hati-nya?” ujar Ute mencoba meyakinkanku lagi.


“Kamu sudah bilang sama Ka’Han dan Ka’Pras tentang ide gila-mu ini?” tanyaku lagi.


“Ka’Dina baper banget ya? Banyak pertanyaan..” jawab Ute kembali merajuk, namun segera menjawab dengan pertanyaan juga: “Saya seh belum nanya ke mereka Kak, tapi apa iya mereka berani menolak kalau kita minta?”


‘Hm, masuk di akal juga pemikiran Ute.. Ka’Han tentu saja tidak akan menolak permintaan pujaan hatinya, demikian juga Ka’Pras, justru dia akan merasa senang karena punya kesempatan menguji hati pasangan masing-masing.’ batinku lirih mempertimbangkan dengan serius apakah harus setuju dengan ide gila Ute atau tidak.


“Bagaimana Ka’Dina, okey ya?” tanya Ute lagi mendesak.


“Okeh lah cantik.. kita ketemu di depan gerbang PKD hari minggu pagi nanti ya?” jawabku lagi.


“Jangan hari Minggu Kak, kami kan harus gereja, hari Sabtu pagi saja, bagaimana? Kakak kan belum mulai ngajar privat karena anak sekolahan baru selesai UTS kan?” tawar Ute.


“Iyah Okey cantik.. udah kan seneng kamu keinginanmu tercapai?” tanyaku sambil mengucek rambut cepak kemerahannya yang tebal.

__ADS_1


“Siap Kakak, terima kasih dan izin saya pamit ya Kak, lupa belum mempersiapkan konsistori untuk ibadah malam nanti..” katanya sambil nyengir, beranjak dari duduknya dan setelah memberikan PPM bergegas meninggalkanku yang entah mengapa kembali merasa telah terjebak.


...***...


__ADS_2