HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 18 Cuti.. (Han, Ian & Ute)


__ADS_3

...~ HAN ~...


Cuti akhir tahun, biasanya sangat ditunggu oleh semua Praja. Seperti kebanyakan pelajar lainnya, liburan adalah suatu masa yang dinanti dan akan dinikmati dengan sepenuh hati, setelah sekian lama berkutat dengan pelajaran, tugas dan ujian.


Tapi kali ini aku membencinya.


Sejak kembalinya kedua orang tua dan adik kesayanganku ke rumah kami di Sumatera bagian Utara, semangat hidup ini terasa ikut terbawa. Namun sama sekali tidak ada keinginan untuk segera bertemu mereka lagi. Maka dengan sejumlah alasan, aku mengabarkan kalau Cuti kali ini akan aku habiskan di Jakarta, kota metropolitan yang konon penuh hingar-bingar. Aku berharap, semangat hidup ini bisa kembali ku temukan di sana.


Beberapa waktu lalu, aku sempat merencanakan untuk menghabiskan cuti ini bersama Dina. Menemaninya pulang ke rumah orang tuanya di Sulawesi Selatan sana. Berdasarkan informasi beberapa orang, Dina sudah 2 kali cuti hanya di Ksatrian saja karena tidak punya biaya untuk pulang, maka berbekal tabungan dari uang saku yang rutin dikirim Among dan Inong, aku sudah sempat booking tiket pesawat untuk kami berdua, namun semuanya hanya tinggal kenangan.


Kami sudah 2 bulan lebih tidak lagi bertegur-sapa, bahkan ketika berpapasan sekalipun. Dina pun tampak menghindar sebisa mungkin dan aku telah kehilangan niat mendekatinya lagi.


Jatuh memang sakit, tidak terkecuali jatuh cinta. Kebersamaan kami beberapa waktu yang lalu hanya terasa sebagai mimpi indah yang cepat sekali berlalu tanpa jejak, selain luka dalam yang selalu terasa perih di hati ini, terlebih ketika melihat sosoknya yang juga terlihat semakin kurus dan aga tampak menyedihkan.


Rasa ingin menghibur dan mengatakan semua baik-baik saja, selalu terlintas dalam pikiran ini setiap kali sosoknya tertangkap mata. Namun selalu tertahan dengan ingatan akan kata-kata perpisahannya: “Sekali lagi aku mohon maaf Kak.. aku hanya melihat kita akan berakhir saling membenci jika hubungan ini diteruskan. Terlalu banyak penghalang dan perbedaan diantara kita Kak. Tolong jangan memaksakan kehendak dan mari kita berdamai dengan keadaan. Aku tidak akan menyalahkan siapapun dan ku harap Ka’Han juga tidak menyalahkan siapa-siapa. Aku bahagia sempat mengenal dan dikenal Ka’Han. Biar kita berpisah dalam kebahagiaan ini ya Kak..”


Aku tidak membencinya, aku tidak pernah ingin membencinya dan aku pun tidak ingin dia benci. Aku hanya membenci ketidakberdayaan ini dan rasa sakit yang ditimbulkannya. Dina layak diperjuangkan, namun rasa sayang dan hormat ku kepada orang tua juga tidak kalah besarnya. Aku tidak bisa memilih diantara keduanya. Maka aku memilih untuk menjauhi keduanya sementara ini. Aku butuh waktu untuk merenung dan mempertimbangkan segala sesuatunya secara lebih mendalam lagi. Aku butuh waktu sendiri.


...***...


Dan di sinilah aku terdampar, di lantai 2 sebuah Bar bergaya country di bilangan Jakarta Selatan. Setelah menenggak bersloki-sloki minuman yang membakar tenggorokan ini, kesadaranku mulai sedikit berkurang. Suara musik yang sebelumnya terdengar keras, tidak lagi terasa memekakkan telinga ini, malah tanpa sadar kepalaku ikut bergoyang mengikuti hentakan-hentakannya.


Suasana Bar yang remang-remang, mulai tampak sumpek dipenuhi pengunjung yang kebanyakan menghembuskan asap rokok masing-masing. Perihnya mata ini tidak dapat terhindarkan dan sekilas aku melihat bukan hanya diriku yang bermata merah di tempat ini dan semua tampak tidak peduli.. “Hidup individualisme..” sorak ku dalam hati.


Bar memang selalu bisa jadi tempat pelarian mereka yang berbeban berat, karena bisa meluapkan sakit hati tanpa mengganggu privasi. Pantas saja bisnis ini selalu booming dan menjamur di kota-kota besar.


“Tolong isi lagi!” perintahku untuk kesekian kalinya kepada si-bartender yang sibuk melayani permintaan pelanggan lainnya.


“Ka’Han?” sebuah suara membuyarkan lamunanku dan menarik sedikit kesadaranku untuk kembali napak di dunia nyata.


...***...


...~ IAN ~...


Setelah menjemput Ute di rumah tantenya tadi, kami sempet makan malam di Pelataran dan karena Ute belum kepingin pulang, aku membelokkan mobil ini ke sebuah bar yang dikelola oleh Koko tertuaku.


Melihat kondisi yang sangat sumpek di lantai pertama, kami memutuskan bergerak ke lantai 2. Menuju ke meja bar, tampak seorang yang familiar duduk sendirian di pojokan meja bar. Tanpa bisa dicegah aku menyapa untuk memastikan: “Ka’Han?”


“Woohoo Ian, my man, what’s up bro?” kata Ka’Han dengan wajah memerah (yang dapat dipastikan bukan karena blushing malu, tapi lebih ke kondisi mabuk, kalau mencium dari bau alkohol yang menguar dari mulut bahkan dari tubuhnya, entah sudah berapa liter minuman beralkohol yang dia konsumsi. (terjemahan: Ian, andalanku, apa kabar?)


“Hi Ka’Han, tumben neh? Sendirian aja Kak?” tanyaku lagi.


Aga kaget juga melihat seorang senior dengan image yang selalu dijaga, dalam kondisi separuh mabuk karena alkohol, terlebih bahwa ternyata dia sendirian, tanpa teman-teman yang biasanya selalu mendampinginya.


Lalu aku mendengar suara cempreng Ute berkata perlahan di telingaku: “Pemandangan langka neh Ian, untung tadi kita ga langsung pulang yak! Perlu foto-foto ga kita?” Aku dan Ute berpandangan geli dan duduk berdampingan, sama-sama paham kalau up-date medsos di tempat ini hanya akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam masalah kode etik.


“Wow, ada Ice Queen juga rupanya.. yah, kamu pantes nolak saya Ute, kalau pilihan lainnya sebaik Ian.. tapi kasihan adik saya neh, bakal patah hati dia, sama seperti abangnya ini.. oh nasib ya nasib..” cerocos kemudian Ka’Han ketika menyadari kehadiran Ute sambil kembali konsentrasi ke minumannya lagi.


Ute langsung berpaling ke arah Ka’Han dan berseru “What the fu*k!” (terjemahan: apa-apaan seh!)


Tidak bisa menahan diri untuk tetap diam, aku berpaling ke arah Ute dan bertanya: “Jadi bener ya kamu pernah nolak pernyataan cinta Ka’Han?” sambil menikmati semburat merah di pipi-nya yang entah bagaimana bisa bertambah cantik dalam keremangan ini.


“Omongan orang mabok mah jangan dianggap serius!” jawab Ute sambil menjentikkan jarinya memanggil Bartender mendekat.


“Justru kalau dari literasi yang pernah saya baca, perkataan orang mabuk lah yang paling bisa dipercaya, karena bersumber dari nurani terdalam yang mungkin tidak akan dikeluarkannya ketika sadar.. Jadi kapankah kejadiannya itu?” tanyaku lagi belum puas menggodanya.


“None of your bussines! Udah ach jangan dibahas lagi kalo ga mau digigit!” jawab Ute lagi masih dengan nada jutek dan lirikan setajam silet. (terjemahan: bukan urusanmu!)


“Wah the Ice Queen do bites..” kataku lagi sambil mengangkat kedua tangan (seakan menyerah) di depan dada dan tanpa sadar terkekeh geli. (terjemahan: Si-Ratu Es ternyata bisa menggigit)


“Kalian lagi ngetawain kesengsaraan saya ya?” tanya Ka’Han tiba-tiba. Kondisinya semakin terlihat tidak baik dari doyongan dadanya yang sudah hampir rebah di meja bar.


“Enggak lah Kak..” jawabku spontan sambil membantu memapah badannya yang besar untuk pindah ke sofa terdekat yang kebetulan baru saja ditinggalkan pengunjung sebelumnya, supaya dia tidak sampai jatuh dari bangku bar yang cukup tinggi.


Ute yang mengangkat minuman kami juga ikutan pindah duduk dan kami bertiga kini duduk berhadap-hadapan mengelilingi meja bundar kecil di tengah sofa yang kami duduki.


Kami bertiga hanya terduduk dalam diam sambil menikmati persembahan life music yang terdengar membahana dari lantai bawah. Terlihat dari foyer tempat kami duduk, band yang sedang bermain lumayan sering tampil di beberapa stasiun TV. Koko lumayan hebat juga mengatur bar ini, dari awal kami dateng semakin ramai saja jumlah pengunjung yang ada, mungkin semakin malam akan semakin ramai lagi.


“Ian, kamu harus jaga perempuanmu dengan baik. Kalau kalian dari latar belakang suku atau agama atau ekonomi yang berbeda, jangan pernah perkenalkan dia kepada keluargamu, bahkan jika keluargamu sangat baik selama ini padamu. Mereka ga akan cocok dan kamu hanya akan sengsara kalau disuruh memilih antara keluarga atau wanita-mu..” celoteh Ka’Han lagi memecah kediaman kami.


Ute menatap ke arah-ku dengan pandangan bertanya, namun otak-ku segera bekerja dan menghubung-hubungkan kejadian beberapa waktu yang lalu di Wisma Khatulistiwa. Lalu aku bertanya perlahan: “Apa orang tua Kakak menolak Ka’Dina?”


Ka’Han memandang sekilas ke arahku, lalu ia membungkuk, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan sesaat kemudian bahunya bergetar seperti sedang menangis sesegukan. ‘Benar-benar pemandangan yang langka.. sangat berbanding terbalik dengan kesan pertama yang ditunjukkan di awal perjumpaan kami..’ batinku lirih memandang Ute yang hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu juga harus melakukan atau berkata apa.


“Ute, sakitnya ini sekarang berkali-kali lipat dari rasa sakit yang ditimbulkan oleh penolakanmu dulu.. Oh Tuhan, kenapa bisa begini menyedihkan ya?” kata Ka’Han lagi sambil lekat memandangi Ute. Lalu ia menolehkan wajahnya yang masih basah oleh air mata ke arah ku dan berkata: “Kamu laki-laki beruntung Ian, jangan pernah berhenti memperjuangkan cinta-mu.. jangan tiru Kakakmu ini.. bahkan alkohol tidak bisa menghilangkan rasa perih-nya..” lagi-lagi Ka’Han menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan terdiam.


“Gue ke toilet dulu ya, sepertinya Ka’Han lagi butuh temen curhat ituh.. Oh iya, gue kenal Ka’Dina, dia orang baik.. nanti kita bahas kalau Ka’Han udah aga tenang.” sambil berdiri, Ute berbisik di telingaku dan ketika aku mengangguk Ute melangkahkan kakinya ke arah toilet diiringi tatapanku yang segera teralihkan mendengar suara parau Ka’Han.


“Ian, kenapa aku tidak boleh merasakan bahagia sedikit aga lebih lama? Kenapa aku harus menderita? Apa aku semenyedihkan dan semenyebalkan itu? Bahkan Ute aja ga tahan melihatku? Tolong kasih tau aku, bagaimana bisa menjadi sepertimu? Yang bukan hanya dikagumi banyak perempuan tapi juga bisa mendapatkan apapun yang kamu mau?” ceracau Ka’Han lebih lanjut.


“Siapa bilang saya bisa mendapatkan apapun yang saya mau Kak’? Sekedar informasi saja, Ute bukan pacar saya Kak, kami hanya berteman dekat, dia sahabat saya. Saya minta maaf harus mengatakan ini ke Kakak, tapi bisakah Kakak berhenti terus menerus mengasihani diri sendiri? Mungkin ini pertama kali buat Kakak, okey itu sedih dan menyakitkan, jadi menangis dan berdukalah, tapi setelahnya bangkit kembali. Saya kenal Ka’Dina, dia perempuan yang baik. Saya rasa dia juga bersedih karena berpisah dengan Ka’Han, jadi jangan tambah kesedihannya dengan tetap dalam mode menyedihkan. Hidup harus terus dijalani Kak, sampai akhirnya nanti Sang Khalik mengambil kembali apa yang sudah dititipkan kepada kita.” kataku keras dengan nada seperlahan mungkin, supaya Ka’Han dapat mendengar di tengah kerasnya suara band dan mencerna maksud dari kata-kataku.


...***...


Waktu baru saja melewati tengah malam. Suasana bar masih seramai sebelumnya dan kondisi Ka’Han sudah teramat sangat mengkhawatirkan. Kami pun berinisiatif untuk mengantarkannya pulang.


Ketika pelayan bar mengambilkan kursi roda untuk dipergunakan Ka’Han yang tampak sudah tidak sadarkan diri, Ute dengan sigap merogoh dompet Ka’Han di kantong belakang celana jeans-nya dan memang terselip sebuah kartu hitam seperti kunci hotel di dalam lipatannya. ‘Memang gadis cerdas..’ batinku.


Kami memerlukan bantuan petugas Vallet-parking untuk memindahkan sosok besar Ka’Han ke kursi tengah mobilku, setelah semua rapi dan memakai seat-belt masing-masing (Ute memilih duduk di depan, di sampingku), aku pun menjalankan mobil menuju hotel tempat Ka’Han menginap di Jakarta sesuai petunjuk GPS yang sebelumnya sudah ku masukkan.


Sepanjang perjalanan, kami tidak banyak bercakap. Ute tampak beberapa kali memeriksa HP-nya dan mengetikkan sesuatu. Mungkin memberikan kabar kepada tantenya bahwa ia akan terlambat pulang.


...***...

__ADS_1


...~ UTE ~...


‘Tante, mohon maaf sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini. Ute baik-baik saja dan masih bersama Ian. Tapi tadi kami bertemu seorang senior dan harus menemaninya malam ini karena kondisinya sedang kurang baik. Selamat malam dan selamat istirahat tante.’ Tulisku kepada Tante Sandra, yang adalah adik bungsu mama, yang sampai dengan saat ini masih memilih hidup single dan cenderung memanjakanku sebagai keponakan kesayangannya.


Cuti akhir tahun kali ini aku memang memilih untuk menghabiskannya di Jakarta dan tidak pulang ke Kalimantan Timur. Selain karena aku khawatir dengan rasa bosan akibat kesendirian di rumah, juga karena memang ada permintaan dari Tante Sandra. Mama dan Papa juga tampaknya tidak terlalu peduli dengan keputusanku, karena mungkin saja justru mengurangi kewajiban mereka untuk menghabiskan sebagian waktu mereka yang berharga dengan anak semata-wayang mereka ini.


Sepanjang perjalanan kami menuju hotel tempat Ka’Han menginap, Ian dan aku tidak banyak berbincang. Masing-masing kami tampak tenggelam dalam pikiran sendiri. Ian dengan aura biru kehijauannya yang semakin pekat warnanya, sementara Ka’Han yang terduduk tampak tidak sadarkan diri dengan aura orange berselimut ungu gelapnya.


Lobby hotel tampak lenggang selepas lewat tengah malam ini. Aku bergegas berjalan ke arah lobby untuk mengambil kursi roda (yang biasanya kalau di hotel-hotel besar selalu tersedia) dan tanpa ragu meminta bantuan seorang bellboy (beraura hijau gelap) untuk memindahkan tubuh besar Ka’Han ke kursi roda.


Sikapku yang percaya diri, sepertinya sanggup mengikis kecurigaan apapun yang sempat terbersit di benak si-resepsionis (terlihat sempat terurai aura orange gelap disusul warna pink sekilas tadi) dan bellboy tersebut, atau mungkin memang mereka sudah terbilang sering menghadapi pelanggan yang pulang dalam kondisi mabuk di tengah malam atau mungkin juga sekedar terlalu lelah untuk cukup peduli dengan permasalahan orang lain.


Ku lihat sekilas Ian mengambil slip tanda vallet-parking dan dengan sigap mendorong kursi roda Ka’Han ke arah lift terdekat. Aku kembali menggunakan kunci kamar dari dompet Ka’Han untuk mengarahkan pergerakan lift ke lantai yang dituju.


‘Untung saja Ka’Han menyelipkan kartu kamarnya dengan cover pembungkusnya, sehingga nama hotel dan no kamarnya dapat kami ketahui dengan tepat di tulisan di cover kunci kamar tersebut.. no 913..’ batinku menunggu lift yang bergerak perlahan sampai ke lantai 9.


Kamar yang kami masuki terasa sangat dingin, yang artinya Ka’Han tidak mencopot kunci kamar satunya lagi dari cantolan listrik kamarnya. TV juga masih menyala, menampilkan program masak-masak. Dengan berjibaku, kami memindahkan Ka’Han dari kursi roda dan merebahkannya di sebuah sisi satu-satunya tempat tidur di kamar ini.


“Bagaimana sekarang Ian?” tanyaku sambil duduk, menyender pada kepala tempat tidur dan tanpa sadar meluruskan kaki di pinggiran sisi tempat tidur. Tempat tidur king size hotel ini lumayan besar, dengan bed-cover putih yang terasa sangat lembut dan empuk di tubuhku.


“Aku akan mengantarmu pulang sebentar lagi, tapi tunggu dulu ya, aku perlu ke toilet sebentar..” jawab Ian singkat setelah mengotak-atik AC dan bergegas ke kamar mandi.


Aku meraih remot control TV dari nakas samping tempat tidur dan mencari saluran musik, sekilas memperhatikan aura Ka’Han yang mulai menggelap warna ungunya, berangsur-angsur ke arah warna biru donker yang semakin menggelap, yang artinya dia mulai merasa tenang dalam dunia mimpinya.. lalu aku mengambil bantal, menumpuknya di punggungku dan tanpa sadar memejamkan mata ketika alunan lagu Ed Sheeran berjudul Perfect terdengar perlahan seakan menina-bobokan ku:


...I found a love for me.....


...Darling just dive right in And follow my lead...


...(terjemahan: Kutemukan cinta untukku,...


...Sayang, selami saja dan ikuti jejakku)...


...Well I found a girl beautiful and sweet...


...(Kutemukan wanita, cantik dan manis)...


...I never knew you were the someone...


...waiting for me...


...(Oh, aku tak pernah tau kaulah seseorang yang telah menungguku)...


...‘Cause we were just kids when we fell in love...


...(Karena kita masih kecil saat jatuh cinta)...


...Not knowing what it was,...


...I will not give you up this time...


...But darling, just kiss me slow,...


...your heart is all I own...


...(Tapi sayang, cium aku perlahan, Hatimu satu-satunya yang kumiliki)...


...And in your eyes you’re holding mine...


...(Dan di matamu aku adalah milikmu)...


...Baby, I’m dancing in the dark...


...with you between my arms...


...(Sayang, aku berdansa dalam gelap...


...denganmu di antara kedua lenganku)...


...Barefoot on the grass,...


...listening to our favorite song...


...(Tanpa alas kaki di rumput,...


...mendengarkan lagu favorit kita)...


...When you said you looked a mess,...


...I whispered underneath my breath...


...(Saat kau bilang kau berantakan,...


...aku berbisik pelan)...


...But you heard it, darling, you look perfect tonight...


...(Tapi kau mendengarnya, Sayang, kau terlihat sempurna malam ini)...


...Well I found a woman,...


...stronger than anyone I know...


...(Telah kutemukan seorang wanita,...

__ADS_1


...yang lebih kuat dari siapa pun yang kukenal)...


...She shares my dreams,...


...I hope that someday I’ll share her home...


...(Dia berbagi mimpi dengan ku,...


...aku berharap suatu hari nanti aku akan berbagi rumah dengannya)...


...I found a love, to carry more than just my secrets...


...(Kutemukan cinta yang menjaga lebih dari sekedar rahasiaku)...


...To carry love, to carry children of our own...


...(Untuk menjaga cinta, menjaga anak kita sendiri)...


...We are still kids, but we’re so in love,...


...fighting against all odds...


...(Kita masih kecil tapi kita sangat mencintai, Berjuang menghadapi segala rintangan)...


...I know we’ll be alright this time...


...(Aku tahu kita akan baik-baik saja kali ini)...


...Darling, just hold my hand,...


...Be my girl, I’ll be your man...


...(Sayang, genggam saja tanganku, Jadilah gadisku, dan aku akan jadi priamu)...


...I see my future in your eyes...


...(Aku melihat masa depan di matamu)...


...Baby, I’m dancing in the dark,...


...with you between my arms...


...(Sayang, aku berdansa dalam gelap,...


...denganmu di antara kedua lenganku)...


...Barefoot on the grass,...


...listening to our favorite song...


...(Tanpa alas kaki di rumput,...


...mendengarkan lagu favorit kita)...


...When I saw you in that dress, looking so beautiful...


...(Ketika saya melihat Anda dalam gaun itu,...


...terlihat sangat cantik)...


...I don’t deserve this, darling,...


...you look perfect tonight...


...(Saya tidak pantas menerima ini, sayang, kamu terlihat sempurna malam ini)...


...Baby, I’m dancing in the dark,...


...with you between my arms...


...(Sayang, aku berdansa dalam gelap,...


...denganmu di antara kedua lenganku)...


...Barefoot on the grass,...


...listening to our favorite song...


...(Tanpa alas kaki di rumput,...


...mendengarkan lagu favorit kita)...


...I have faith in what I see.....


...Now I know I have met an angel in person...


...(Aku yakin dengan apa yang aku lihat...


...Sekarang aku tahu aku bertemu dengan malaikat tak bersayap)...


...And she looks perfect.. I don’t deserve this.....


...You look perfect tonight...

__ADS_1


...(Dan dia terlihat sempurna, Aku merasa tak pantas, Kau terlihat sempurna malam ini..)...


...***...


__ADS_2