HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 13 Wapamanggala (Ian dan Pras)


__ADS_3

...~ IAN ~...


Sehabis makan siang tadi, kami, para kader Polisi Praja memang sengaja dikumpulkan oleh senior-senior Polpra di lapangan Menza Bawah, terpisah dengan teman-teman kami sesama Muda Praja lainnya.


Setelah dibina fisik (dengan push-up gembira, yang tidak membuat kami bergembira sama sekali), sit-up tidak terhitung jumlahnya dan jungkir serta guling bergantian tadi, akhirnya kami dibariskan rapi lagi.


Ku lihat ka'Han berjalan santai, turun dari lapangan Menza atas ke arah kami. Ia pun berkata: "Ian, kamu itu terlalu lemah, kurang tegas dan sangat ga jaim buat jadi Polpra!"


Kata-kata yang diucapkan perlahan itu terdengar menggelegar di telinga ini. 'Sial bener, pasti ada hubungannya dengan senyum ku tadi ketika jaga pintu. Mungkin memang aku kurang kaku dan ga narsis buat jadi seorang Polpra seperti ka'Han..' batinku pasrah.


Kalimat ka'Han tadi mulai menarik banyak perhatian Polpra lainnya. Beberapa diantara mereka bahkan terang-terangan bergerak mendekati ku. Aku mulai menyiapkan diri untuk menerima pembinaan lebih (semacam pukulan 2½ kancing) 😨..


Lalu ka'Han mendekati posisi aku berbaris, yang membuat kerumunan sedikit terurai dan kembali berujar: "Kamu yakin masih mau meneruskan pengkaderan Polpra ini?"


Pertanyaan sederhana yang seharusnya mudah untuk dijawab, namun entah mengapa sulit sekali terlontar dari mulut ini, namun setelah beberapa saat terdiam dan semakin banyak mata yang memperhatikan kami, akhirnya aku menjawab: "Siap kak, saya menerima jika dianggap tidak lulus pengkaderan dan tidak layak jadi Polpra, tapi jika diminta untuk mengundurkan diri karena merasa diri tidak sanggup mengikuti pengkaderan, saya menolak.."


Bug.. tiba-tiba aku merasakan hentakan dan tekanan di dada ku ini, yang membuatku terhuyun sesaat ke belakang. "Sombong kamu.." seru si-pemukul, yang ternyata seorang Polpra dari Nindya Praja yang dari tadi berdiri di sampingku.


Ketika aku langsung menegakkan tubuh dan memandang ke depan, wajah ka'Han ku lihat menggelap. Entah karena jawabanku atau reaksi spontan si-pemukul.


"Ian, kamu ikut saya!" perintah ka'Han kemudian sambil membalikkan badannya dan berjalan kembali ke lapangan Menza atas.


"Siap kak.." jawabku cepat sambil mengikuti langkah panjang-nya.


Kepergianku tampak diiringi pandangan iri teman-teman sesama kader Polpra lainnya yang mulai menerima pembinaan fisik seperti yang baru saja ku alami. "Haish, sampai kapan tradisi ini akan terus berjalan.." batin ku kembali nelangsa..


Ka'Han ku lihat telah duduk menyandar di bawah auning tanaman bugenfile yang meneduhkan pinggiran lapangan Menza atas yang memang bisa dijadikan tempat duduk. Secara otomatis aku berdiri di hadapannya, mengambil sikap istirahat, berjarak sekitar 2 meter, posisi yang baik untuk menghindari tendangannya kalau-kalau dia berencana melakukannya.


"Kenapa kamu takut sama saya dek? Apa pernah saya nindak kamu langsung? Atau apa kamu pernah lihat saya main tangan atau kaki ke junior?" tanya ka'Han tampak geli campur tersinggung pada sikap jaga jarak yang ku lakukan.


"Siap kak." jawabku asal sambil mengambil sikap siap sesaat dan kembali dalam posisi istirahat di tempat, tidak mengiyakan ataupun mengatakan tidak pada pertanyaannya. Namun sepertinya ka'Han paham dengan ambiguitas jawabanku.


"Fankly speaking, baru kali ini saya dapet perintah dari seorang junior untuk jagain junior lainnya. Makanya saya ajak kamu ke sini, nunggu teman-teman kamu selesai dibina di bawah itu dan kamu bisa balik lagi ke rutinitas bareng mereka." kata ka'Han lagi.


"Siap ka.." jawabku lagi, mencoba mengucapkan terima kasih tanpa perlu mengatakannya.


Nah kan, tebakan ku ternyata benar. Sekilas sebelum dikumpulkan tadi, aku memang sempat melihat ka'Han berjalan bersama seorang Madya Putri yang senyumnya sangat manis dengan lesung pipi di kedua sisi wajahnya, senyum yang sempat menggoyahkan wajah kaku dan mengurai senyum ku ketika menjaga pintu Menza tadi.


Jadi ka'Han sudah memiliki tambatan hati. Ute bisa aga tenang sekarang, karena dalam beberapa kesempatan, ka'Han tampak melakukan pendekatan ke Ute, yang menunjukkan sikap sama sekali tidak tertarik.


"Kenapa kamu senyum dek?" tanya ka'Han sejurus kemudian.


"Siap kak, hanya rasa sayang yang bisa melembutkan tindakan kita." jawabku kembali tersenyum.


"Sejelas itu ya?" tanyanya lagi, dengan pandangan yang aga menerawang, lalu melanjutkan kalimatnya: "Tapi saya serius tadi waktu mengatakan kalau kamu itu terlalu lemah, kurang tegas dan sangat ga jaim buat jadi Polpra! Sebaiknya kamu pilih mengikuti pengkaderan lain. Seperti contohnya ikut Wapamanggala. Cocok itu sama kepribadianmu." katanya lagi.


'Apa itu Wapamanggala?' batinku.


"Oh itu ada Pras.. dia salah satu pengurus Wapamanggala sepertinya.. Pras, coba ke sini sebentar!" kata ka'Han tiba-tiba.


Di depan Menza ku lihat Nindya Praja bernama Pras menoleh dan segera bergerak mendekati kami. Aku otomatis melakukan ppm dan menyapa-nya "Selamat siang kak." Ka'Pras pun melakukan hal yang sama ke arah ka'Han dan menoleh kepadaku sambil tersenyum.


"Ada yang bisa saya bantu ka'Han?" tanyanya lugas.


"Ini Muda Praja, namanya Ian, sebenarnya masih kader Polpra, tapi saya rasa dia lebih cocok masuk Wapamanggala. Mungkin bisa kamu bina dan kaderkan neh Muda. Saya masih ada keperluan lain ya, silahkan kalian lanjut saja.." kata ka'Han dan menepuk bahu ku sekilas lalu berjalan menjauh.


"Jadi kamu sudah tau apa itu Wapamanggala?" tanya ka'Pras.


"Siap belum kak." jawab ku sambil mengambil posisi siap ketika menjawab.


"Aduh santai aja dek.. jangan terlalu tegang kalau sama kakak.. Hayu ikut saya, kita ke markas Wapamanggala!" ajaknya kemudian. Kami pun berjalan bersisian menuju ruangan-ruangan bawah Menza.


...***...



Kondisi ruang aga temaran kami dapati setelah membuka pintu kaca depan dengan stiker lambang Wapamanggala tertempel besar.

__ADS_1


Menilik pada sejarah berdirinya, Wapamanggala ternyata adalah organisasi independent di ksatrian ini, yang konsern pada bidang kegiatan pecinta alam sejak tahun 1998. Arti Wapamanggala itu sendiri adalah sebagai Wahana Praja Mengenal Masyarakat, Gunung, Alam dan Lingkungan.


"Untuk jadi anggota Wapamanggala, ga pake pengkaderan-pengkaderan segala dek.. Cara pelantikan juga cuma secara simbolis saja, di kaki Gunung Manglayang, ditandai dengan penyematan syal biru tua berlambang delapan arah mata angin sebagai tanda keanggotaan.


Salah satu komitmen mendasar kami, yang disosialisasikan sejak waktu pelantikan angkatan pertama, adalah dinyatakan bahwa dalam Wapamanggala, seluruh anggotanya terbebas dari belenggu senioritas, namun tetap dengan prinsip saling menghargai dan menghormati antar sesama anggota serta dilandasi oleh semangat kebersamaan dan persaudaraan." kata ka'Pras panjang x lebar.


Aku tidak mengatakan apa-apa selama penjelasannya, namun tetap mengangguk-angguk penuh semangat. 'Sepertinya memang aku lebih cocok bergabung dalam organisasi ini.' batinku.


...***...


...~ PRAS ~...


Walau sempat merasa pedih seakan hatiku sedang teriris sembilu, demi melihat gadis pujaan hati berjalan bersama ka'Han tadi memasuki sebuah ruangan di bawah Menza, tapi aku tidak bisa menahan diri ini untuk tidak mengikuti dan memantau pergerakan mereka.


Memang tidak berapa lama kemudian ka'Han keluar dan entah mengapa, aku refleks bersembunyi di balik sebuah pilar, menghindar dari area pandang ka'Han, yang berjalan kembali ke lapangan Menza, mungkin untuk memantau kegiatan pengkaderan Polpra.


Aku berjalan ke arah ruangan tempat ka'Han ku perkirakan meninggalkan Dina sendirian. Namun belum sampai ke arah pintu, Dina tampak bergegas keluar dari ruangan itu. Sayangnya jarak kami tidak terlalu dekat untuk dapat bertubrukan.


Wajah Dina tampak kaget dan memerah ketika berhadapan dengan ku, lalu seakan teringat dia melakukan ppm dan berkata: "Selamat siang kak."


"Selamat siang Dina. Dari kemana dan mau kemana kamu?" tanyaku sambil membalas ppm-nya.


"Siap kak, tidak dari mana-mana dan hendak kembali ke barak kak." jawabnya aga tergagap.


"Dina, bisa kita ngobrol santai sejenak?" tanyaku lagi.


Dina tampak terdiam dan kami kembali bertatapan beberapa saat. 'Andai waktu bisa berhenti saat ini' batinku, lalu teringat lagu Maroon 5 berjudul "Won't Go Home Without You" yang selama beberapa waktu ini sering mengiringi kehidupanku.


"Maaf kak.. saya tidak bisa.. maafkan saya.." Dina menjawab kemudian, terbata dan bergegas melangkah, seakan berlari, meninggalkanku sendiri, yang hanya bisa nelangsa menatap kepergiannya..


Entah untuk apa, kaki ku langkahkan ke arah menza dan beberapa saat berdiri menghadap tangga seribu ke arah lapangan plaza bawah.


...***...


Pertama kali aku mendengar lagu tersebut (terperangah dengan liriknya) tepat ketika pulang dari pesiar sore itu, terasa sangat pas menggambarkan kondisi hati ini pada saat itu dan setiap saat melihat kebersamaan mereka, seperti pada saat ini:


...And she left before I had the chance to say, Oh....


...The words that would mend,...


...The things that were broken...


...But now it's far too late; she's gone away.....


...Every night you cry yourself to sleep...


...Thinking: "Why does this happen to me? Why does every moment have to be so hard?"...


...Hard to believe that.. It's not over tonight,...


...Just give me one more chance to make it right...


...I may not make it through the night,...


...I won't go home without you.....


...The taste of her breath, I'll never get over...


...The noises that you made kept me awake.. Oh.....


...The weight of the things, that remained unspoken...


...Built up so much it crushed us everyday...


...Every night you cry yourself to sleep...


...Thinking: "Why does this happen to me?...

__ADS_1


...Why does every moment have to be so hard?"...


...Hard to believe… It's not over tonight,...


...Just give me one more chance to make it right...


...I may not make it through the night,...


...I won't go home without you.....


...(terjemahan:...


...Aku memintanya untuk tinggal,...


...Tapi dia tidak mau mendengarkan...


...Dan dia pergi sebelum aku sempat mengatakan, Oh.....


...Kata-kata yang akan memperbaiki.....


...Hal-hal yang rusak...


...Tapi sekarang sudah sangat terlambat;...


...dia sudah pergi.....


...Setiap malam Anda menangis sampai tertidur...


...Berpikir: "Mengapa ini terjadi pada saya? Mengapa setiap saat harus begitu sulit?"...


...Sulit dipercaya bahwa malam ini belum berakhir...


...Beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaikinya...


...Aku mungkin tidak bisa melewati malam ini,...


...Aku tidak akan pulang tanpamu...


...Rasa napasnya Aku tidak akan pernah bisa melupakan suara-suara yang kau buat membuatku tetap terjaga Oh.....


...Beratnya hal-hal yang tetap tak terucapkan...


...Membangun begitu banyak.....


...itu menghancurkan kita setiap hari...


...Setiap malam Anda menangis sampai tertidur...


...Berpikir: "Mengapa ini terjadi pada saya? Mengapa setiap saat harus begitu sulit?"...


...Sulit dipercaya bahwa malam ini belum berakhir...


...Beri aku satu kesempatan lagi...


...untuk memperbaikinya...


...Aku mungkin tidak bisa melewati malam ini, Aku tidak akan pulang tanpamu)...


...***...


Ketika ka'Han tadi menyapa dan mengarahkan seorang Ian untuk masuk dalam Wapamanggala, aku pun kembali diingatkan bahwa life must go on.. (terjemahan \= hidup harus terus berlangsung)


Harapan itu masih ada dan tidak akan dibiarkannya padam.. kalau orang bilang selama belum ada “janur kuning” (yang melambangkan pernikahan), untuk ku adalah selama belum ada “bendera kuning” (yang melambangkan kematian)..


Selama raga ini hidup, perjuangan akan terus ku lanjutkan..


...***...

__ADS_1


__ADS_2