HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 7 Senior oh Senior.. (Han & Ian)


__ADS_3

...~ HAN ~...


Ini bulan kedua masa Wasana Praja ku..


Perkuliahan di kelas semakin intensif dilakukan, mengingat kami perlu mulai mempersiapkan diri untuk penyusunan Laporan Akhir/LA seperti apa nantinya.


Percakapan teman-teman juga sudah mulai berubah seiring peningkatan pangkat. Biasanya para Wasana Praja ini kalau berkumpul, akan membahas tema/topik yang akan dideskripsikan dalam LA-nya, literasi apa saja yang akan mendukung dan dapat dipergunakan sebagai acuan atau bahkan membicarakan dosen mana yang akan dipilih sebagai pembimbing.


Kami kalau berkumpul, bukan lagi membahas keganasan senior seperti waktu Muda Praja, ataupun seputaran pengkaderan seperti Madya Praja, atau bahkan mengenai kisah kasih asmara seperti waktu Nindya Praja.


Pagi ini, sambil menunggu bel masuk kelas, kami masih bersantai di portal depan komplek wisma sambil membahas pilihan tema LA kami masing-masing. Yang populer dipilih biasanya seputaran: Kepemimpinan dalam Pemerintahan, Pengelolaan Keuangan Daerah, Otonomi Daerah dan sebagainya.


Di kejauhan kami melihat ada sebarisan Muda Praja akan segera melewati jalanan di depan posisi kami berbincang.


Seperti yang sudah pernah disampaikan sebelumnya, salah satu peraturan yang hakiki, Muda Praja itu wajib (pake banged) berbaris kemana saja, termasuk ketika menuju dan dari kelas.


Kami pun mulai membenarkan posisi dan postur kami sambil memperhatikan dengan seksama barisan itu.


"SELAMAT PAGI KAK!" danton barisan tersebut berteriak lantang sambil barisan tetap berjalan. (danton \= komandan/pemimpin pleton/barisan)


Mata ku tak bisa mengacuhkan keganjilan pada si-danton dan aku pun berucap: "Hentiiiii graaaakk..."


Teman di samping ku juga ternyata menyadari hal yang aneh pada si-danton dan ia kemudian berkata dengan nyaring: "Woiiii.. Danton kalian pakai muts terbalik tuh... Masa pake kewiraannya di bagian belakang?? Kenapa tidak ada yang menegur atau mengingatkan???"


(muts \= penutup kepala seperti peci segitiga berwarna biru donker, kewiraan \= emblem seperti lambang korpri yang disematkan di samping kanan depan muts)


Kami mulai tertawa geli, melihat betapa pucat dan piasnya tampang para Muda Praja ini..


Heran juga melihat kurangnya kerapihan dan kepedulian di antara mereka. Padahal kan ini sudah 2 bulan mereka dalam masa basis, kenapa masih pada apatis ya?


Seorang teman ku yang lainnya juga tampak sudah berdiri di depan si-Danton lalu berujar: "Yak semua keluarkan KTA masing-masing, karena tidak ada yang tegur Danton.. Jadi ini masuk kategori kesalahan kolektif, ditanggung bersama.."


"Sehabis makan siang nanti, semua yang ada di barisan ini, menghadap ke wisma kami buat ambil KTA-nya ya!!" kata ku memperhatikan teman ku yang mengumpulkan KTA Muda Praja (KTA \= Kartu Tanda Anggota Praja).


"Siap"... jawab mereka serentak..


...***...


Sebelum makan siang bersama di Menza, aku mengawasi para kader Polpra melakukan pengecekan Muda Praja di Plaza Atas.. bukan hanya kelengkapan jumlah personel yang diperiksa, tapi juga kerapihan dan kelengkapan PUDD mereka (Peraturan Urusan Dinas Dalam).


Mulai dari muts, pakaian dinas dengan segala kelangkapan pangkat dan emblem-emblem-nya (yang terbuat dari kuningan memang harus setiap hari digosok dengan braso), ikat pinggang dan sepatu (yang harus sering-sering disemir hitam), bahkan pengecekan juga dilakukan terhadap kerapihan bahan pakaian dan lipatan yang tidak boleh lebih dari 1 garis (istilahnya kalau lebih dari 1 itu "ngerel").


Disiplin memang harus dipaksakan pada awalnya, tapi "ala bisa karena biasa" maka setelah terinternalisasi, disiplin akan menjadi kebiasaan dan pada akhirnya mengkristal dalam kehidupan sehari-hari..


(Polpra \= Polisi Praja, yang merupakan Praja pilihan, hasil pengkaderan dari akhir Muda Praja dan selama Madya Praja).


Setelahnya kami makan siang bersama di Menza... Lalu Muda Praja dibariskan lagi untuk pengecekan di Plaza Atas. Tapi entah mengapa, aku merasa aga malas mengawasi pelaksanaan pengecekan ini dan memilih untuk langsung kembali ke wisma saja, menunggu barisan Muda Praja yang KTA-nya sempat kami sita tadi pagi.


...***...


"Woiii laarriiii...... " teriak seorang temanku ketika barisan Muda itu tinggal berjarak sekitar 200m dari kami.. otomatis mereka pun berlari, walau tetap dalam barisan..


"Sekarang jalan jongkok..." teriak temanku yang lainnya lagi kepada wajah² pucat tersebut.


Sampai di depan wisma kami, mereka otomatis berbaris rapi satu sab.. ku perhatikan satu persatu wajah² 'memelas mohon dikasihani' yang mereka perlihatkan. Ada yang benar² ketakutan namun beberapa tampak hanya akting saja, mungkin sudah pernah mendapat nasehat/petuah dari para senior kontingennya masing-masing.


Aga lama aku memperhatikan Muda Praja bernama Ian.. kulit putih dan wajah orientalnya memang aga berbeda dengan teman-temannya yang sudah mulai menggelap akibat terlalu sering terpapar sinar matahari di kegiatan² yang wajib mereka ikutin. Walau kulitnya putih, tapi ia tidak tampak pucat dan ketakutan, bahkan aga menantang tatapannya.


"Kalian tau kesalahan kalian apa dek?" tanya ku kalem.


"Siap tauuuu.." mereka menjawab serentak.


"Oke, yang mau cara cepat silahkan maju selangkah" aku kembali berkata, menantang keberanian mereka, khususnya kepada Ian.


Spontan dia pun langsung maju 1 langkah..


'Weh, punya mental juga dia'.. batin ku.


Hanya dia sendiri yang maju.


"Hayu siapa lagi yang mau cara cepat.. jangan malu-malu.." kataku kembali menawarkan.


Ku perhatikan wajah Ian bertambah pias, menyadari tidak seorang pun temannya yang lain yang berani maju melangkah seperti dirinya..


Yang terjadi selanjutnya adalah, dia ditarik masuk ke dalam wisma oleh beberapa orang rekanku..


Sesungguhnya, aku kurang setuju dengan model pembinaan senior ke junior seperti ini, teringat betapa sakit dan tidak menyenangkannya pembinaan demi pembinaan yang pernah ku rasakan pada waktu Muda, Madya dan bahkan sewaktu Nindya.. terlebih sewaktu pengkaderan Polpra.


Kami yang berbadan tinggi dan besar ini memang merupakan santapan sedap bagi senior, katanya lebih empuk kalau dijadikan samsak..


Namun aku juga tidak kuasa membendung kebutuhan teman-teman untuk membalas dendam atau sekedar meneruskan tradisi pembinaan yang 'TERLALU MANIS UNTUK DIKENANG NAMUN TERLALU PAHIT UNTUK DIULANG' seperti ini.


Lagian kan 'What doesn't kill us basicly just makes us stronger right?' batinku.. (Yang tidak membuat kita kehilangan nyawa pada dasarnya sedang memperkuat kita kan ya? walaupun terkadang 'dasar'nya suka terlalu dalam sampai² tidak terlihat di permukaan).


Ketika akhirnya teman-teman ku keluar dari pintu petak A wisma kami (sekitar 15 menit saja mereka di dalam), disusul oleh Ian yang tampak kepayahan, aku menghentikan langkahnya. Ku perhatikan dengan seksama kondisinya.


"Kamu baik² saja dek?" tanya ku kemudian.

__ADS_1


"Siap.. baik ka" jawabnya meringis, mungkin menahan sakit di dada dan perutnya. Ia berkata sambil merapikan PDH dan memakai muts-nya kembali.


"Menghadap saya kalau ada keanehan yang kamu rasakan pada badanmu ya" kata ku lagi, tanpa menutupi keprihatinanku.


"Siap ka.." jawabnya singkat dan menerima KTA-nya dengan hikmad. Lalu dia melangkahkan kakinya sambil melakukan ppm ke para senior di sekitarnya.


Perhatian kami pun teralihkan ke junior-junior lain yang semakin pucat tampangnya.


Tampaknya wisma kami memang perlu dibersihkan dengan seksama neh dan kami baru saja mendapatkan bantuan tenaga beberapa Muda Praja.


"Yak silahkan singsingkan lengan baju kalian adik-adik.. ada wisma yang perlu kalian bersihkan." kata ku lantang sambil bertepuk tangan singkat.


...***...


...~ IAN ~...


Ini bulan kedua masa basis Muda Praja.


Kami sudah mulai perkuliahan di kelas-kelas yang ditunjuk (mengikuti pendalaman kewiraan, pengenalan sistem pengajaran, presentasi eskul dan lain-lain).


Aku bersama 79 orang Muda Praja lainnya yang ditempatkan di Wisma Jambi (40 orang di Wisma Jambi Bawah dan 40 orang selebihnya, termasuk diriku, di Wisma Jambi Atas). Sementara Muda Praja lainnya tinggal di wisma-wisma yang saling berdekatan dalam 1 komplek Muda Praja.


Seperti yang sudah pernah disampaikan sebelumnya, salah satu peraturan yang hakiki, Muda Praja itu wajib (pake banged) berbaris kemana saja, termasuk ketika menuju dan dari kelas.


Karena kami tinggal di wisma Jambi, sedangkan kelas kami berada di sekitar tangga seribu sisi sebelah utara, jadi kami harus turun ke bawah melewati komplek wisma Wasana Praja, lalu lapangan parade (dengan tentunya langkah tegap) di depan tulisan Abdi Praja (jalur wajib bagi Muda Praja pada saat ini), kemudian berbelok ke kiri melewati komplek perkuliahan Nindya Praja.


Beberapa senior yang terkenal sebagai 'macan ksatrian' (senior yang suka banged ngusilin juniornya) tampak sudah berpakaian rapi, sedang bersantai di portal komplek wisma mereka, mungkin menunggu jam masuk kelas (masih sekitar setengah jam lagi, maklumlah namanya juga Wasana Praja, senior dengan tingkatan tertinggi, jadi bebas² saja kalau mau masuk kelas last minute sebelum bel berbunyi)..


Beberapa yang sedang duduk² tampak mulai berdiri dan memperhatikan dengan seksama barisan kami.


Dan dengan sigap, barisan pun menjadi lebih rapi seketika, mencoba meminimalisir potensi teguran senior... semua yang ada di barisan kompak berdoa dalam hatinya masing-masing supaya bisa tetap lewat tanpa masalah.


"Selamat pagi kak!" danton kami berteriak lantang sambil barisan tetap berjalan. (Danton \= komandan/pemimpin pleton/barisan)


Namun ternyata eh ternyata...


"Hentiiiii graaaakk..." ucap seorang Wasana Praja.


Ah, sepertinya aku kenal itu senior. Bukankah dia yang pernah menegur kami ketika baru saja sampai di lembah Manglayang ini?


Hm, ka'Han kalau tidak salah namanya..


Seorang Wasana Praja lainnya di samping ka'Han berkata dengan nyaring: "Woiiii.. Danton kalian pakai muts terbalik tuh... Masa pake kewiraannya di bagian belakang?? Kenapa tidak ada yang menegur atau mengingatkan???" tampak beberapa Wasana Praja lain mulai tertawa geli, melihat betapa pucat dan piasnya tampang² kami, sambil bergerak perlahan mendekati barisan..


(muts \= penutup kepala seperti peci segitiga berwarna biru donker, kewiraan \= emblem seperti lambang korpri yang disematkan di samping kanan depan muts)


Heran deh, kog ya hari gini masih ada aja orang yang senang melihat orang lain susah dan mungkin juga merasa susah ketika melihat orang lain senang?


Hhaadeeuuhhh..


Satu barisan pun bergumam lirih...


'Gawat neh.. Danton tidur sambil berjalan yak?' batinku sedikit merasa bersalah karena memang biasanya aku yang sering jadi danton, tapi pagi tadi aku memang aga terlambat keluar dari wisma dan ketika sampai di barisan sudah ada seorang teman yang memimpin pasukan, aku pun hanya mengikuti saja.


Seorang senior lainnya yang sudah berdiri di depan si-Danton lalu berujar: "Yak semua keluarkan KTA masing-masing, karena tidak ada yang tegur Danton.. Jadi ini masuk kategori kesalahan kolektif, ditanggung bersama.."


"Sehabis makan siang nanti, semua yang ada di barisan ini, menghadap ke wisma kami buat ambil KTA-nya ya!!" sahut senior lainnya sambil memperhatikan temannya yang mengumpulkan KTA kami satu persatu (KTA \= Kartu Tanda Anggota Praja).


"Siap"... jawab kami serentak.. mencoba untuk pasrah walau tidak terlalu iklas.


Nasib ya nasib ya nasib... nambah binsik deh.. (binsik \= pembinaan fisik, biasanya berupa push-up, sit-up, jungkir, guling, merayap, kurvey/membersihkan suatu area dan sebagainya yang merupakan kewenangan seorang senior untuk dipilih sebagai hukuman, secara teori dianggap bagian dari pembinaan terhadap juniornya, tapi prakteknya seh lain lagi ya..)


...***...


Kuliah pun dilewati seperti biasanya... lebih dari separuh warga kelas sudah kehilangan semangat menjalani hari, membayangkan binsik apa yang akan kami jalani nanti di wisma senior...


"Hi.. si-wajah sedih, bengong aja? Diperhatiin cewe cantik seperti aku, kog bisa-bisanya ga berasa yah?" celotehan riang penuh gaya genit namun tetap berkelas dari seorang Ute membuyarkan lamunanku.


2 bulan dalam masa basis ini ternyata tidak merubah kepribadiannya yang ceria dan usil. Padahal rambut tebal kemerahannya yang tadinya panjang sepunggung, sudah dicepak abis oleh para senior dan di beberapa sisi malah tampak tidak rapi (entah karena yang motong kurang berpengalaman atau memang sengaja karena sirik melihat kecantikannya).


Tapi yah memang, gadis cantik walau dikurangi sedikit saja penopang kecantikannya, ga akan langsung melunturkan pesonanya.


Sejak pertemuan kami di awal memasuki ksatrian ini, kami memang sudah semakin dekat. Teman-teman banyak yang curiga ada sesuatu diantara kami, tapi sungguh hubungan kami masih hanya sebatas teman (ga tau juga kalau nanti-nanti ya..).


Kalaupun kami terlihat sering bersenda-gurau bersama, itu hanya kamuflase Ute untuk menghindari terjangan kegombalan Praja lainnya. Mohon dimaklumi, perbandingan Praja Pria dan Perempuan itu 5:1, jadi kebayang kan persaingan kami merebut perhatian para Praja Perempuan ini, belum lagi kalau dihitung para senior (Madya, Nindya dan Wasana) yang tidak kebagian praja perempuan di angkatannya masing-masing.


Praja Perempuan yang tampangnya biasa-biasa saja sudah jadi rebutan, apalagi yang kecantikannya TOP seperti seorang Ute.


"Tuh kan bengong lagi.." katanya kali ini sambil duduk di sebelahku. Hampir bersentuhan bahu kami.


"Cie..cie..cie.. baru juga 2 bulan, udah ada yang cinlok neh..",


"Ian hebat ei... bisa bikin Ute nyosor duluan..",


"Pake pelet apaan Ian? Mau dunks dibagi.. ", suara-suara sumbang penuh rasa iri tiba-tiba terdengar sahut-sahutan dan kami pun akhirnya jadi pusat perhatian sesaat.


Ute segera bangkit lagi dari duduknya dan memberikan tatapan setajam silet kepada gerombolan Praja yang bersuara tadi sambil berkata: "Sirik aja neh.. rese deh.." lalu tanpa menoleh kepadaku ia melambaikan tangan dan berujar lirih "Bye Ian.."

__ADS_1


Yah memang hanya sebatas itu hubungan kami. TTM (teman tapi lumayan mesra, mungkin ga mesra-mesra amat juga, secara kemanapun kami pergi atau dimanapun kami berada, selalu ada banyak mata yang memperhatikan).


Kami hanya sama-sama paham, kalau kami bukanlah tipe ideal masing-masing untuk dijadikan pasangan/pendamping (aku lebih suka perempuan yang lemah-lembut, sabar, sopan dan lain-lain dan sebagainya, sementara Ute sepertinya mengidolakan laki-laki yang berjiwa ksatria dan bisa mengarahkan dia menjadi lebih baik lagi.. jelas-jelas bukan diriku.. pasang pose tau diri), tapi so far, kami bisa saling memahami dan nyaman aja kalau lagi bersama.


...***...


Kegiatan selanjutnya (setelah kelas bubar) yang harus kami ikuti adalah pengecekan Muda Praja, dilakukan oleh senior Polpra di Plaza Atas, lokasi di depan gedung Menza.. (Polpra \= Polisi Praja, yang merupakan Praja pilihan, hasil pengkaderan dari Madya Praja). Lagi-lagi ku lihat ada ka'Han di sana. Dia memang seorang Polpra sejati, seneng banged negakin aturan dan mengkoreksi junior-juniornya.


Lanjut kami makan siang bersama di Menza... Pengecekan lagi di Plaza Atas.. Dan setelah itu selesai, waktunya pasukan bubar.. ada yang kembali ke kelas (karena masih ada jam pelajaran) atau ke laboratorium/kebun/peternakan untuk mengikuti pelatihan lapangan atau ada juga yang kembali ke wisma untuk belajar mandiri dan kalau bisa curi-curi istirahat (tidur siang).


Yang sudah pasti, semua bergerak masih dalam barisan kemanapun tempat yang kami tuju.


Barisan kami yang tadi pun berangkat ke barak senior yang dituju.. ternyata 'macan-macan ksatrian' itu telah siap sedia menunggu kami...


"Woiii laarriiii...... " teriak seorang senior sekitar 200m dari kami.. otomatis kami pun berlari, walau tetap dalam barisan..


"Sekarang jalan jongkok..." teriak yang seorang lagi, ketika jarak kami tinggal sekitar 50m dari gerombolan 'macan ksatrian' tersebut.


Sampai di depan wisma mereka, semua pun berbaris rapi di teras/halaman wisma..


Kalau ku hitung-hitung, jumlah senior yang tampak tertarik dengan keberadaan kami, hampir 2x lipat banyaknya dibanding dengan jumlah kami yang masih berbaris rapi satu sab, tentu saja masing-masing dengan wajah pucat pasi dan pandangan memelas seakan memohon belas kasihan.


"Kalian tau kesalahan kalian apa dek?" salah seorang senior bertanya kalem.


"Siap tauuuu.." kami menjawab serentak.


"Oke, yang mau cara cepat silahkan maju selangkah" ka'Han berkata menawarkan, dengan pandangan menghina setajam dinginnya es.


Spontan saya pun langsung maju 1 langkah.. (selain karena merasa tertantang dengan pandangan matanya, apa yang ku lakukan juga sesuai pesan salah satu senior kontingen, yang sudah Purna Praja, ketika melepas kepergian kami sekitar 2 bulan yang lalu..


Jika seorang senior menawarkan cara cepat atau lambat, pilih cara cepat, karena cara lambat biasanya benar-benar akan lambat rasanya dan sakitnya mah sama-sama aja dengan yang cara cepat..


Jika senior menawarkan tangan kiri atau kanan, pilih tangan kanan, karena biasanya dia kidal.. kalau tidak kidal biasanya ga bakal nawarin, langsung 'bug' ajah...


Ternyata yang maju 1 langkah hanya saya seorang diri...


Walau tampak aga terkejut dengan spontanitas ku, ka'Han pun kembali menawarkan beberapa kali lagi, "Hayu siapa lagi yang mau cara cepat.. jangan malu-malu.."


Namun, tidak seorang pun yang maju melangkah..


Dalam hati aku membatin "Habislah aku ini.."


Yang terjadi selanjutnya adalah, aku ditarik masuk wisma oleh beberapa orang Wasana Praja.. tak tampak ka'Han diantara mereka.. 2 orang Wasana memegang masing-masing tangan kanan dan kiri ku, mulai dari bahu sampai dengan pergelangan. Beberapa orang lainnya mendaratkan pukulan bertubi-tubi dengan cepat ke sekujur dada dan perut ini.


Setelah mereka puas dan mungkin juga kasihan melihat kondisi ku yang sudah kepayahan, aku pun dilepaskan.. lalu dipersilahkan balik ke wisma Jambi.


Ketika keluar dari pintu petak A wisma senior ini, ka'Han menghentikan langkahku. Ia tampak memperhatikan dengan seksama kondisiku.


"Kamu baik-baik saja dek?" tanyanya kemudian.


"Siap.. baik ka" jawabku meringis menahan sakit di dada (akibat pukulan 2½ kancing, tohokan yang dilayangkan persis diantara kancing kedua dan ketiga) sambil merapikan PDH dan memakai muts kembali.


"Menghadap saya kalau ada keanehan yang kamu rasakan pada badanmu ya" katanya lagi, tampak aga prihatin.


"Siap ka.." jawabku singkat dan melangkahkan kaki sendirian menuju wisma Jambi, sesaat setelah menerima KTA-ku.


...***...


Sore harinya, sambil mencoba bangun dari posisi rebahan, aku melihat ke jam dinding petak C. Sudah lewat jam 5 sore, mengapa teman-teman ku belum pada balik dari wisma Wasana tadi ya? Padahal sekitar jam 2an tadi aku sudah bisa merebahkan diri..


Pertanyaan yang ku ajukan di dalam benak ini terjawab sekitar 10 menit kemudian.


Teman-teman satu barisan ku tadi, yang jumlahnya hampir separuh barak itu pun pulang..


Tampak mereka masuk dengan penuh emosi.


Ada yang menendang pintu, ada yang menghempaskan diri ke bed dan ada juga yang membuat kegaduhan sendiri.. semua terlihat penuh dengan kegusaran/kemarahan..


"Kenapa lama sekali kalian pulang?" tanyaku pada teman sebelah bed ku.


"KAMI DISURUH KURVEY.. TAK LAMA SETELAH KAU PERGI.." jawabnya dengan nada dongkol. (Kurvey \= kegiatan bersih-bersih wisma dan lingkungan sekitar).


"Terus??" tanya ku lagi, masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya.


"SETELAH ITU (setelah lantai wisma mereka bersih dan mengkilap semua, bahkan sampai ke kamar mandi dan toilet juga) KAMI DIGULUNG.." (penggulungan \= istilah pemberian hukuman berupa push up, sit up, jungkir, guling, merayap dan sebagainya).!


"Habis itu??" tanyaku lagi.


"SETELAH ITU KAMI DIPUKULI... KALAU TAU AKAN BEGITU JUGA, DARI AWAL AKU PILIH CARA CEPAT SAJA MACAM KAU" katanya kasar, mungkin dampak dari penyesalannya yang teramat sangat mendalam.


Dalam hati aku mengucap syukur karena tadi pilih cara cepat.. ngucap syukurnya memang hanya ku lakukan dalam hati saja, khawatir menyinggung perasaan teman-temanku yang masih emosi menyimpan kedongkolan.


Mereka masih dalam suasana merasa Sial (sudah jatuh, tertimpa tangga dan ditertawaian tetangga lagi).


Baru 2 bulan kami hidup di lembah Manglayang ini, sudah banyak pengalaman arti kata KORSA, seperti: makan di Menza sama-sama, tidur di wisma rame-rame, selalu pake seragam yang sama, kemana-mana baris bareng-bareng dan lain-lain yang kami lalukan hampir selalu bersama-sama..


Siang sampai dengan sore ini, kembali kami mengalami pembelajarannya (walau aku hanya merasai sebagian kecilnya), Korsa dalam arti yang sesungguhnya.. digulung rame-rame..

__ADS_1


...***...


__ADS_2