HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 28 (bagian 3) Fantasi (H., I., Dina & P.)


__ADS_3

...~ DINA ~...


Aku merasakan desiran udara yang dingin namun menyesakkan di sekelilingku, desiran yang entah bagaimana seakan membelai kulitku yang telanjang namun telah ditutupi selimut sampai ke ujung teratas leher ini.


Aku dapat mendengar bisikan suara Ka’Pras yang membujuk lembut di bagian belakang tubuhku, merasakan lengannya yang kuat mendekap dan menarik tubuhku ke dadanya yang kokoh, sementara nafasnya yang hangat menggelitik telingaku. Ku rasakan tubuhnya pun sudah tidak ditutupi sehelai kain pun.


Aku sangat menikmati sentuhan telapak tangannya yang kuat dan lihai menjelajahi tubuh ini, memberikan rasa membutuhkan ketika rabaan itu seakan mencari dan mengeksplorasi titik sensitif di tubuh ini yang paling pribadi dan mudah terangsang.


Aku gemetar dalam pelukan tubuh Ka’Pras ketika kami akhirnya berhadapan. Rangkulan kedua tangan Ka’Pras terasa menenangkan, beraroma memabukkan di hidungku dan bahkan terasa lebih menyenangkan lagi sewaktu dikecap.


Pun ketika bibir Ka’Pras yang panas namun lembut itu menempel ke bibirku. Aku merasakan ciuman yang membuat lututku lemas dan tidak bertenaga.


Tanpa diperintah, lenganku merangkul leher dan bahu Ka’Pras yang bidang dan sekokoh batu karang.


Setiap jengkal tubuhku kini telah menempel secara intim ke tubuh Ka’Pras.


Cara Ka’Pras menggesek-gesekkan tubuhnya seakan dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran feminimku secara maksimal. Dan tentu saja aku menyadari keberadaan Ka’Pras dengan suatu cara yang belum pernah ku rasakan pada pria manapun selama ini. Bahkan ketika bersama dengan Ka’Han.


Lagi-lagi tanpa dikomando, lenganku bergerak sendiri, menyusuri otot-otot Ka’Pras yang seperti dipahat pada bagian depan tubuhnya. Suara desahannya terdengar ketika otot-otot itu seakan bergerak ke bawah tanganku.


Aku sempat berpikir, pada saat ini dan di tempat ini, bahwa kalaupun ini hanya sebatas mimpi, aku sungguh-sungguh tidak mau terbangun. Logika dan nalar sehatku seakan sedang tertidur lelap, memberikan kesadaran fisik menikmati waktunya sendiri.


Terlebih ketika Ka’Pras dengan halus memposisikan tubuhku di atas tubuhnya, lalu dengan terampil kedua tangannya terasa menjelajahi bagian belakang tubuhku sebelum akhirnya menangkup bokongku dan semakin menempelkan pinggulku ke pinggulnya yang menampung seonggok daging yang tidak kalah keras dengan dadanya.


Hawa dingin kembali menjalar di tengah kehangatan yang menguar, kini sampai terasa di tulang punggungku dan tubuh ini berdenyut di tempat-tempat yang belum pernah ku tahu dapat berdenyut.


Rasa nyeri yang mengiringinya terasa tajam dan menuntut, sesuatu yang belum pernah ku rasakan sebelumnya, membuatku ingin berteriak sekeras-kerasnya..


...***...


Mengerjap, aku tersentak sampai terduduk dan memperhatikan teman-temanku satu petak yang telah terlelap di peraduannya masing-masing.


‘Aku pasti telah berhalusinasi..’ batinku sambil kembali merebahkan diri dan kembali berusaha tidur. Namun jantungku masih berdebar-debar dengan tidak nyata.


‘Ini tidak mungkin nyata. Aku mungkin hanya terlalu lelah hari ini, atau mungkin tanpa sadar kepalaku telah terbentur sesuatu benda tumpul dan membuatku tidak sadarkan diri. Ya pasdi demikian!’ batinku tidak mengerti mengapa bisa berpikiran ‘jorok’.


Setelah beberapa saat tidak berhasil juga menghapuskan kebakaran kecil dalam tubuhku akibat gambaran pornoaksi yang ku khayalkan dilakukan seorang Ka’Pras dari benakku, aku pun beranjak ke tempat mengambil wudhu dan bergegas ke musholah wisma untuk bersholat tahajut atau salat malam (qiyamul lail) untuk memohon ampunanNya dalam doa iftitah dari riwayat Ibnu Abbas.


...“Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji,...

__ADS_1


...Engkau cahaya langit dan bumi...


...serta siapa saja yang ada di sana....


...Hanya milikMu segala puji,...


...Engkau yang mengatur langit dan bumi...


...serta siapa saja yang ada di sana....


...Hanya milikMu segala puji,...


...Engkau pencipta langit dan bumi...


...serta siapa saja yang ada di sana....


...Engkau Maha benar,...


...janji-Mu benar, firman-Mu benar,...


...pertemuan dengan-Mu benar....


...dan kiamat itu benar....


...Ya Allah, hanya kepada-Mu aku pasrah diri,...


...hanya kepada-Mu aku beriman,...


...hanya kepada-Mu aku bertawakkal,...


...hanya kepada-Mu aku bertaubat,...


...hanya dengan petunjuk-Mu aku berdebat,...


...hanya kepada-Mu aku memohon keputusan,...


...Karena itu,...


...ampunilah aku atas dosaku yang telah lewat dan yang akan datang,...

__ADS_1


...yang kulakukan sembunyi-sembunyi maupun yang kulakukan terang-terangan....


...Engkau yang paling awal dan yang paling akhir....


...Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.”...


...(HR Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad)...


...***...


Ketika kembali ke tempat tidurku, pikiranku telah tenang dan kesunyian kembali melingkupi telingaku dan entah mengapa dadaku kembali terasa nyaman dan tentram.


Kembali meletakkan tubuhku di bed dalam posisi duduk dan membuka sebuah buku untuk dibaca, aku lagi-lagi terhanyut dalam pikiran..


Hampir 2 tahun ini aku menjalani rutinitas yang relatif membosankan. Menjalani serangkaian kegiatan binsik (bimbingan fisik) yang seakan tidak ada habis-habisnya dari subuh sampai jauh malam, mengikuti perkuliahan serta pelatihan keterampilan yang melelahkan, kembali ke wisma dengan bersusah-payah untuk membersihkan diri, membaca buku lalu pergi tidur.


Semua orang dapat melihat kalau selama ini hidupku adalah suatu siklus singkat yang membosankan dan monoton. Namun semuanya berubah setelah kehadiran Ka’Han dan yang kemudian disusul degan Ka’Pras tidak berapa lama kemudian.


Seakan Tuhan memang sengaja memperkenalkannya terlebih dahulu kepada “sosok yang salah” supaya ketika aku akhirnya dipertemukan dengan “sosok yang tepat”, aku dapat mengucap syukur kepada Tuhan.


Tapi kalau dipikir lagi, Ka’Han bukanlah seorang bajingan yang tidak berperasaan dan egois. Sebaliknya, Ka’Han merupakan laki-laki baik yang sensitif terhadap perasaanku. Di masa-masa singkat hubungan kami, aku merasa diperlakukan seperti orang yang paling penting dalam hidupnya. Dan itu bukan sesuatu yang bisa dibuat-buat atau direkayasa.


Namun melihat kemesraan yang ditunjukkan Ka’Han ketika bersama Ute, aku kembali bersyukur tidak sampai sedalam itu merasakan kedekatan dengan seorang Ka’Han. Walau terlihat natural untuk Ka’Han dan Ute, namun kalau aku pasti akan sering menggunakan kantong plastik hitam atau paper bag coklat untuk menutupi kepalaku karena rasa malu dan jengah yang ku rasakan jika diperlakukan seperti itu.


Kalau diingat-ingat lagi, kuantitas rasa bahagia dan sedih yang kurasakan ketika bersama Ka’Han relatif berimbang. Rasa senang karena disayang lawan jenis sehebat Ka’Han dan diperlakukan spesial memanglah indah, namun ketika mengingat bahwa ada keluarga yang tidak merestui dan hubungan tersebut tidak memiliki harapan di masa depan, aku tidak memungkiri seringnya mata dan batin ini menangis. Padahal bukankah tidak ada perempuan yang pantas menangisi suatu hubungan percintaan? Apalagi kalau sedang bersama seseorang yang sudah mengatakan dan menunjukkan rasa sayangnya.


Sangat berbeda dengan sikap dan gaya kemesraan yang ditunjukkan oleh Ka’Pras.


Tidak butuh waktu yang lama buatku menganggap segalanya tentang Ka’Han tidak lagi penting. Tidak sepenting keberadaan Ka’Pras.


Dan begitu aku mengecap hubungan harmonis yang timbal-balik itu dengan Ka’Pras, aku merasa terbebas dari belenggu rasa bersalah dan kesedihan yang sempat ku rasakan ketika bersama Ka’Han.


Yah ini adalah sebuah kemajuan yang baik untuk perkembangan jiwaku. Paling tidak itulah yang sedang ku coba percayai.


Selama berpacaran singkat dengan seorang Ka’Han, tidak pernah sekalipun aku berfantasi liar seperti yang baru saja ku alami. Entah setan mana yang sempat menghampiriku dan membuat pikiran kotor itu sempat bercokol dengan nyamannya.


"Ach, hidup akan semakin menarik sepertinya.. Karena kini sudah ditambah bumbu kebahagiaan berpasangan.. Semoga saja.." batinku lirih sambil mulai menguap.


...***...

__ADS_1


__ADS_2