
...~ DINA ~...
Tahun lalu, sewaktu Muda Praja melaksanakan Upacara Pembaretan di Puncak Gunung Manglayang, beberapa orang yang kebagian tugas jaga barak/wisma, tidak bisa mengikuti kegiatan dimaksud, temasuk aku.
Maka tahun ini adalah suatu kewajiban bagi ku untuk mengikuti kegiatan ini bersama dengan beberapa orang teman yang senasib sepenanggungan, tentu saja mengikuti kegiatannya bersama rombongan Muda Praja.
Sudah sejak sebulan yang lalu pemberitahuan terkait rencana kegiatan ini ku terima dari seorang Senior Putri yang aktif di kegiatan Wapamanggala, juga sudah aku konfirmasi keikutsertaan ku kepada panitia terkait dan juga ka’Han. Ka’Han berjanji akan menemani perjalanan rombongan kami, walau hubungan kami masih tetap dalam mode rahasia. Tapi dia sudah berjanji akan ada di sana, terutama di saat aku paling membutuhkannya.
Namun entah mengapa, pagi ini aku terlambat bangun (mungkin karena teman-teman satu petak A, se-wisma ku ini juga masih pada terlelap dalam dunia mimpi masing-masing. Hari Sabtu ini memang hari pesiar dan Madya Praja tidak diwajibkan mengikuti kegiatan Prosesi Pembaretan ini.
Ketika akhirnya aku sampai ke Posko Wapamanggala, ruangan telah sepi dengan sedikit sisa-sisa sampah, mungkin pembungkus perbekalan yang sudah dibawa. Aku pun bersiap kembali ke wisma, namun tiba-tiba sosok familir itu tampak bergegas berlari masuk ke ruangan Wapamanggala ini. Ka’Pras..
Kami sempat terdiam bertatapan beberapa lama, seperti tidak percaya akan kebetulan ini, aku yang hendak keluar dan dia yang baru saja masuk. Lalu suara seraknya berdehem “Hrgmm..” sesaat sebelum akhirnya berkata: “Eh Dina, sedang apa? Bukannya kamu seharusnya ikut rombongan C-1 yang berangkat sekitar 1 jam yang lalu? Apa ada yang tertinggal? Atau jangan-jangan kamu kesiangan bangun ya?”
Ku lihat sosoknya yang semampai pagi ini tampak gagah berbalut Pakaian Dinas Lapangan/PDL Hijau dan Baret Ungu-nya membingkai wajahnya yang segar, batinku menerawang: ‘If only...’ (terjemahan: kalau saja)
Lalu segera tersadar dan aku pun menjawab malu: “Eh iya ka’Pras.. maafkan saya..”
“Sebentar ya Dina, kita susul rombonganmu, saya hanya perlu mengambil sesuatu dulu.” Kata ka’Pras lagi dengan wajah penuh senyum dan kembali bergegas membuka laci sebuah meja, mengambil sebuah baret ungu yang tampak baru dan memasukkannya ke dalam kantong bawah celana PDL-nya.
Lalu ka’Pras berdiri di hadapanku, membalik badan ini, mengarahkannya ke pintu keluar dan mendorong punggung ini dengan kedua telapak tangannya besar yang terasa sedikit hangat. “Hayu kita jalan..” ajaknya dan ia menutup pintu posko di belakangnya.
Aku tidak sempat lagi berpikir, hanya mencoba mengikuti dari belakang langkah-langkah panjang-nya ke arah kaki Gunung Manglayang, mungkin mencoba menyusul rombongan yang sudah sekitar sejam yang lalu berangkat.
Kami berjalan dalam keheningan beberapa saat. Tampak ka’Pras tidak keberatan aku berjalan di belakangnya, namun sesekali kepalanya menoleh, seperti memastikan aku tetap mengikuti langkahnya tanpa masalah.
“Ngg.. anu ka’Pras, apa kita masih bisa menyusul mereka dan tidak akan terlambat mengikuti posesi nantinya?” tanyaku mulai meragu sambil melihat punggung tegapnya itu, mulai mempertanyakan kepantasan kebersamaan kami ini selama ± setengah jam ini.
Dengan santai ku dengar jawabannya: “Que sera sera, what ever will be, will be..” sambil mengendikkan bahunya dan menoleh kembali sekilas ke arah ku. (Terjemahan: apa yang akan terjadi, terjadilah)
“Apa justru tidak jadi masalah tersendiri kalau kita berduaan saja berjalan begini ka?” tanyaku lagi sambil melihat ke kiri dan kanan jalan setapak, yang telah kami jalani beberapa saat ini, mencoba memecah keheningan di antara kami. Masih belum ada tanda-tanda ekor rombongan yang kami coba susul.
Tiba-tiba ka’Pras berhenti dan tanpa sengaja tubuhku menabrak punggungnya yang tanpa sadar merengkuh pinggangnya supaya tidak jatuh ke arah belakang. Kedua tangan ka’Pras dengan sigap memegang tanganku, menautkan keduanya di pinggangnya yang terasa lebih ramping dari yang terlihat, sehingga tubuh kami menempel erat (dada ku tertaut erat di punggungnya).. bisa ku hirup aroma tubuhnya yang terasa semakin familiar dan walaupun sudah lumayan berkeringat lembab, tapi tetap menyegarkan.
Namun sesaat kemudian aku tersadar dan menarik diri, seraya berkata lirih: “Maaf ka..”, bergerak mundur, mencoba menjauhi tubuhnya yang berbalik dengan senyum terekah lebar. Tangan kiri-ku masih dalam genggamannya erat dan ka’Pras berkata: “Ngapusi kui hakmu. Kewajibanku mung etok-etok ora ngerti yen mbok apusi." (Terjemahan: Berbohong itu hakmu. Kewajibanku hanya pura-pura tidak tahu kalau kamu berbohong)
“Ngomong apa seh ka’Pras?” tanyaku tidak mengerti satu pun kata yang diucapkannya, namun sedikit-banyak tau kalau dia sedang mengolok-olok-ku dari cengiran bodohnya itu.
“Tolong jangan salahkan saya yang merasa kalau tubuh kita sangat cocok satu sama lain, ini sudah kedua kalinya loh Dina, masa kamu ga menyadarinya seh?” tanyanya sejurus kemudian membuat sekujur wajah dan leherku merasakan panas yang menyengat sangat.
“Maaf ka’Pras..” kataku menunduk, kembali mencoba menarik tanganku yang semakin erat masuk dalam genggamannya. Rasa bersalah seperti menampar pipiku keras. ‘Hallo Andi Dinameiriza, kamu sudah punya pacar loh, kog mau-maunya berdekatan bahkan bermesraan dengan laki-laki lain? Sudah jadi jalan* kah kau sekarang ini?’ batinku meradang diliputi rasa malu.
“Tolong jangan minta maaf Dina, kamu ga salah apa-apa.. perasaan kita ini pun bukan suatu kesalahan. Kalau memang harus ada yang dipersalahkan, salahkan saja saya yang kurang cepat menyatakan rasa dan akhirnya membiarkan seorang ka’Han memanfaatkan keteledoranku ini..” kata ka’Pras lagi semakin erat menarik tanganku dan menempelkannya ke dadanya yang terasa berdegub sangat keras.
“Maaf ka’Pras.. yang kita lakukan ini salah..” kataku tegas dan dengan kasar menarik tanganku yang akhirnya dilepaskan ka’Pras dengan sangat terpaksa. Wajahnya tidak lagi berhiaskan senyuman, namun tercetak jelas kekecewaan di situ.
“Maafkan saya sekali lagi ka.. sepertinya saya tidak bisa melanjutkan perjalanan kita ini. Silahkan ka’Pras melanjutkan sendiri ke Puncak Manglayang. Saya akan balik-kanan dan saya harap ka’Pras tidak perlu menemani saya. Saya perlu berpikir dan merenungkan kesalahan-kesalahan saya.. maafkan saya ka..” kataku mundur 2 langkah dan membalikkan badan untuk kemudian berjalan cepat kembali ke arah ksatrian.
Ada sebagian diri ini yang mengharapkan ka’Pras memaksakan kehendaknya untuk kami bersama melanjutkan perjalanan, namun rasa bersalah terlalu kental menguar dari diri ini. Sekuat tenaga ku tahan diri dari menoleh ke arahnya, sekedar mengecek apakah dia sudah lanjutkan perjalanannya atau masih memandangi kepergianku.
Tiba-tiba, sekitar 20 langkah kemudian, tubuhku direngkuh dalam dekapan eratnya dari belakang. Terasa hembusan nafasnya di sela-sela rambutku. Kedua tangannya erat memerangkap diri ini sesaat yang terasa panjang, lalu ka’Pras berkata perlahan: “Tolong jangan merasa bersalah.. karena cinta tidak pernah salah.. Jangan juga hilang harapan Dina tersayang, akan tiba waktunya nanti kita pasti bisa bersama tanpa rasa bersalah. Percayalah cintaku..” Tanpa ku sadari air mata ini menetes semakin deras, membasahi pipiku bahkan mengalir ke tangan ka’Pras.
...***...
...~ PRAS ~...
Setelah ku ucapkan kata-kata yang kurasa perlu didengar Dina, kekasih hatiku, aku pun mencium bagian belakang kepalanya yang harum shampo dan sedikit keringat. Lalu aku membalikkan badan dan berlari secepat yang bisa ku lakukan ke arah puncak Gunung Manglayang. Kesedihan yang Dina rasakan mungkin tidak akan sebesar kesedihan yang ku rasakan kini. Tanganku sempat merasakan tetesan air matanya tadi, ku cium dan hirup tetesan itu, tanpa sadar juga merasakan air mata juga sudah menggenangi mataku.
Bahagia sesaat bisa merasakan kedekatan dengannya, namun seperti zat adiktif lainnya, sangat menagih untuk terus bisa merasakannya lagi dan lagi. Rasa membutuhkannya semakin besar setiap waktu. Aku berlari untuk mengusir duka ini, mencoba menyiksa diri sampai di ujung nafas.
Kalau saja aku tidak pernah berjanji pada Ian untuk menyematkan baret ungu ini di kepalanya, tentu aku akan memilih untuk menemani Dina kembali ke ksatrian.
...***...
__ADS_1
Lirik lagu All of Me oleh John Legend terngiang terus sambil kaki ini tidak pernah berhenti melangkah:
...What would I do without your smart mouth?...
...(Apa yang akan saya lakukan tanpa mulut pintar mu?)...
...Drawing me in, and you kicking me out...
...(Mengaturku, dan kau mencampakanku)...
...You’ve got my head spinning, no kidding, I can’t pin you down...
...(Kau membuat kepalaku pusing, ga bercanda, ku tak bisa mengecewakanmu)...
...What’s going on in that beautiful mind...
...(Apa yang terjadi pada pemikiran indah itu?)...
...I’m on your magical mystery ride...
...(Aku dalam perjalanan misteri ajaibmu)...
...And I’m so dizzy, don’t know what hit me,...
...but I’ll be alright...
...(Dan aku sangat pusing, tak tahu apa yang menimpaku, namun aku ‘kan baik-baik saja)...
...My head’s under water, But I’m breathing fine...
...(Kepalaku di bawah air, Namun aku bisa bernafas)...
...You’re crazy and I’m out of my mind...
...(Kau gila dan aku kehilangan akal)...
...(Karena semua diriku,...
...mencintai semua yang ada pada dirimu)...
...Love your curves and all your edges,...
...All your perfect imperfections...
...(Mencintai lekuk tubuhmu dan semua sisimu, Semua ketidaksempurnaan sempurnamu)...
...Give your all to me, I’ll give my all to you...
...(Berikan semuanya padaku,...
...Kan kuberikan semua milikku kepadamu)...
...You’re my end and my beginning,...
...Even when I lose I’m winning...
...(Kamu awal dan akhirku, Bahkan saat kalah aku tetap merasa menang)...
...‘Cause I give you all of me,...
...And you give me all of you, ohoh...
...(Karena aku memberimu semua dariku,...
...& kau berikan semua dirimu kepadaku, ohoh)...
__ADS_1
...How many times do I have to tell you...
...(Berapa kali ku harus katakan padamu)...
...Even when you’re crying you’re beautiful too...
...(Bahkan saat kau menangis kau tetap cantic)...
...The world is beating you down,...
...I’m around through every mood...
...(Dunia sedang mengecewakanmu,...
...aku melewati semua suasana hati)...
...You’re my downfall, you’re my muse...
...(Kaulah air terjunku, kaulah inspirasiku)...
...My worst distraction, my rhythm and blues...
...(Gangguan terburukku, irama dan blues-ku)...
...I can’t stop singing, it’s ringing, in my head for you...
...(Saya tidak bisa berhenti bernyanyi, nadanya terus berdengung, di kepala ini untukmu)...
...Give me all of you...
...(Berikan semua padaku)...
...Cards on the table, we’re both showing hearts...
...(Kartu di meja, kita berdua menunjukkan hati AS)...
...Risking it all, though it’s hard...
...(Mempertaruhkan semuanya, meski sulit)...
...I give you all of me, And you give me all of you, ohoh...
...(Kuberikan semua padamu, Dan kau berikan aku semua, ohoh)...
...***...
Perjalanan membutuhkan waktu kurang dari 2 jam dari titik lokasi aku berpisah dengan Dina tadi. Jalur yang akan Dina lalui untuk kembali ke ksatrian tidak seterjal yang aku jalani, jadi aku sedikit tenang membiarkannya berjalan sendirian.
Sesaat sebelum sampai di puncaknya, aku berpapasan dengan ka’Han yang tampak sedang membantu memberikan minuman air mineral kepada para Muda Praja Putri yang kelihatan sangat kelelahan. Aku memberikan ppm dan menanyakan: “Selamat pagi ka’Han. Ada yang bisa saya bantu ka?”
“Apakah masih ada rombongan Putri Praja yang tertinggal di belakang de?” tanya ka’Han kemudian melihat ke arah belakang punggung-ku.
“Siap, tidak ada ka.. tadi saya merupakan personel pembersih jalur putri.” Jawabku cepat, pura-pura tidak memahami maksud pertanyaan ka’Han sebenarnya.
Lalu perhatianku sempat teralih ke seorang Muda Praja Putri di tengah rombongan yang didampingi ka’Han ini. Rambut kemerahan dan kulit putihnya terlihat kontras di antara teman-teman seangkatannya yang rata-rata terlihat sudah berkulit menggelap dan tampak lecek penuh peluh kelelahan. Bola matanya yang bulat, dibingkai wajah cantik-nya sekilas memandang tepat ke arah mataku, dengan sikap berani dan tampak mengandung tanya.
Namun hati ini sama sekali tidak tergoyahkan, ‘Sudah penuh dengan sosok Dina bercokol manis di sana’ batinku tanpa penyesalan. Tapi melihatnya, paling enggak aku lumayan paham, kepada siapa sebenarnya ka’Han tampak penuh kesabaran menebarkan pesonanya di tempat ini.
“Izin ka’Han, saya mengecek rombongan yang putra dulu.” kataku beberapa saat kemudian.
Sampai di puncak Gunung Manglayang, aku melihat para Muda Praja sedang merayap dilanjutkan dengan jalan jongkok berantai yang melambangkan jiwa korsa untuk kemudian memasuki DP Upacara Pembaretan. Aku belum terlalu terlambat ternyata, walaupun tidak tepat waktu juga. Beberapa anggota Wapamanggala menyapaku hangat dan menanyakan jalur yang telah ku lalui.
Setelah berbincang beberapa saat, perhatian ku beralih ke barisan Muda Praja, satu persatu ku lihat dengan seksama, mencari sosok Ian yang berwajah oriental itu. Memang jalur yang harus ditempuh Muda Praja Putra dan Putri dibedakan. Yang putra harus mengikuti jalur yang lebih panjang dengan melewati puncak bayangan Gunung Manglayang. Puncak bayangan berada beberapa ratus meter di bawah puncak asli Gunung Manglayang. Perjalanan yang ditempuh pada jalur puncak bayangan sangat curam, sehingga pada beberapa titik perlu dipasang tali untuk membantu pendakian.
Akhirnya sosoknya terlihat, sedang memapah seorang temannya yang tampak dibalut kakinya, mungkin terkilir. Keduanya melipir ke arah tenaga medis dan sejurus kemudian Ian ku lihat memasuki daerah persiapan upacara, untuk mengikuti prosesi Pembaretan dan pandangannya tidak pernah beralih dari baret ungu yang ku genggam dan akan kusematkan sebentar lagi di kepalanya.
__ADS_1
...***...