HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 8 Perpustakaan Jadi Saksi Bisu (Han & Dina)


__ADS_3

...~ HAN ~...


Siang ini cuaca lembah Manglayang lagi kurang bersahabat. Teriknya ga kuat banged. Banyak Praja yang tidak ada jadwal pembelajaran di kelas siang ini, memanfaatkannya dengan menjemur handuk atau perintilan pakaian yang tidak sempat dimasukkan ke laundry tadi pagi (seperti pakaian dalam, kaos kaki, sepatu olah raga dsb dll), karena dijamin akan kering dalam hitungan menit.


Panas terik begini enaknya memang rebahan di lantai wisma yang adem atau bagi kami Wasana Praja, mengunjungi perpustakaan atau warnet terdekat untuk ngadem di ruangan ber-AC sekalian mencari bahan untuk nyusun LA (Laporan Akhir).


Maka bersama beberapa rekan, kami melangkahkan kaki panjang kami ke gedung perpustakaan.


Memasuki ruangan sejuk ini, untuk beberapa saat pandangan kami sempat menjadi buram, akibat perbedaan suhu dan peredaman cahaya dalam gedung.


Terpampang jelas sebuah spanduk besar di pagar mezanin (teras di lantai 1½ bangunan perpus ini) bertuliskan :


"Kemarin adalah Pengalaman,


Hari ini adalah Kesempatan, dan


Esok hari adalah Tantangan..


Mari berkarya hari ini untuk memanfaatkan Kesempatan yang ada!"


'Bener banged tuh kalimat' batinku..


Hari ini memang kesempatanku untuk menambah pengetahuan yang semoga akan mempermudah ku nantinya dalam ujian komprehensif di akhir masa Wasana Praja ku ini.


Dari awal masuk sekolah kedinasan ini, aku memang sangat tertarik dengan topik kepemimpinan, karena pada dasarnya, kunci utama berhasil atau tidaknya suatu organisasi adalah pada kepemimpinan unsur pimpinannya.


Berpencar dengan teman-teman lainnya, ku langkahkan kaki ini ke rak buku terkait kepemimpinan pemerintahan.


Namun belum sampe ke rak buku yang akan ku tuju, pandangan ku terpana pada seorang gadis manis yang duduk di pojok ruangan dan tampak tekun membaca buku di hadapannya.


Kalau saja ini komik (dan bukan novel), mungkin akan ada sorotan cahaya dari atas kepalanya dan blink-blink kristal yang menyilauan terpancar dari seluruh tubuhnya.


Entah mengapa, eksistensinya yang seperti sengaja meminimalisir perhatian dari orang lain itu, justru yang membuat rasa tertarik ku muncul.


Mungkin ini yang disebut psikologi terbalik ya?


Ketika banyak perempuan cantik (baik dari 1 angkatan ataupun junior, yang mencoba membuatku tertarik, bahkan ada yang pernah memproklamirkan diri sebagai Han's bigest fans club) yang berlomba-lomba selalu mencoba menarik perhatianku, justru yang aku rasa perlu diperhatikan yang seperti ini.


Atau mungkin karena sudah terlalu banyak perempuan yang bergenit-genit ria di depan ku dan ketika berhadapan dengan yang cuek bahkan menghindar, malah jadi menarik perhatian dan pertanyaan di benak ku, dan aku merasa perlu mendekatinya lebih sering.


Dengan tujuan antara untuk mencari tahu mengapa dia berbeda dengan yang kebanyakan atau bahkan untuk mengubahnya supaya bisa masuk jadi bagian dalam jajaran penggemarku..


Setelah memperhatikan keseriusannya membaca beberapa lama, aku pun bergerak mendekatinya dan duduk di bangku seberangnya.


Secara intensif memperhatikan perubahan ekspresi wajah manisnya. Iya, namanya Dina, seorang Madya Praja berwajah sendu yang tertutup dan misterius. Pertemuan pertama kami di gerbang ksatrian sekitar 3 bulan yang lalu itu, sangat membekas.


Beberapa kali sengaja ku perhatikan barisan Madya Praja untuk mencari sosoknya, namun tidak pernah ku temui batang hidungnya yang mancung itu.


Pun ketika dalam beberapa waktu aku punya kesempatan mendampingi jajaran Komando (pejabat yang melekat di junior) mengambil apel Madya Praja, sosoknya tak pernah kelihatan, seakan pertemuan pertama kami itu hanya sebatas anganku semata.


...***...


Ku perhatikan beberapa kali senyumnya mengurai lesung pipit di kedua sisi pipi-nya. Mungkin buku yang ia baca adalah buku berjendre komedi. Kepingin juga rasanya menjadi buku tersebut, bisa mendapatkan anugrah senyum manisnya berulang kali.


Sekitar setengah jam kemudian, Dina mendongakkan wajahnya dan nampak sangat kaget demi melihat keberadaan ku dengan tatapan mata yang penuh senyum.


Buku ditangannya pun sampai tertutup karena refleks tangannya yang tadi menahan buku, diarahkan untuk menutup mulutnya ketika terkesiap.


Sekilas ku lirik buku bersampul warna-warna pelangi lembut itu dan terbaca judul bukunya 'Tujuh Musim Setahun by Clara Ng'.. hm.. jadi pengen ikutan baca deh.


"Selamat siang ka.. maafkan saya.." katanya perlahan dan setengah berbisik, ketika rasa terkejutnya sudah digantikan dengan rasa terganggu, terlihat dari mimik wajahnya yang sudah tanpa senyum sama sekali.


"Untuk apa?" tanyaku cepat.


Melihat tatapannya yang tidak mengerti akan pertanyaanku, ku layangkan lagi pertanyaan: "Kenapa minta maaf?"


Setelah ragu sesaat, dia pun menjawab: "Maaf, saya tidak tahu kakak ada di depan saya.."


"Apakah itu kesalahan?" tanyaku lagi.


"Siap, mungkin iya dan mungkin juga bukan.. terserah kakak saja.." katanya diplomatis sambil melihat sekeliling kami yang masih sepi dari pengunjung.


"Baiklah, karena kamu sudah bersalah, sini kasih KTA-mu!" kataku mencoba menggodanya sambil mengulurkan tangan.


"Siap ka.." walau tidak menyangka jawabanku demikian, Dina tampak sigap mengeluarkan KTA-nya dari saku dan menyerahkannya ke telapak tangan kanan ku yang terbuka menunggu.

__ADS_1


‘Andi Dinameiriza nama lengkapnya, dia lahir di pertengahan bulan desember, artinya dia berada di bawah naungan zodiak Sagitarius..’ pikiranku menerawang membaca tulisan-tulisan di KTA-nya.


‘Seharusnya dia gadis yang ceria, cinta petualangan dan kebebasan, tapi kenapa setiap kali bertemu, dia selalu menutup diri dan menjaga jarak?’ batinku kembali sambil terus memperhatikan KTA-nya.


"Izin ka, bisa saya minta KTA saya kembali?" katanya lagi mencoba memecahkan keheningan kami.


"Boleh, setelah kamu jalani hukuman dari saya.." kataku kemudian sambil mengantongi KTA-nya.


"Siap ka, hukumannya apa?" tanya Dina mulai nampak khawatir.


"Pesiar Sabtu ini kita jalan bareng ya.. nanti saya kasih tau hukumannya apa." jawabku kalem.


"Maaf ka, sabtu ini saya sudah ada janji dengan teman.." jawabannya sempat mengguncang kepercayaan diriku. Baru kali ini ada perempuan yang menolak ajakan ku untuk pesiar bareng.


"Teman atau pacar?" tanya ku dingin.


"Siap, teman ka, saya belum punya pacar" jawabnya cepat.


Entah mengapa hatiku kembali menghangat.


"Ok kalau begitu pesiar hari minggu ya!" tegasku membuat perintah, bukan lagi pertanyaan. Bagus juga seh sebenarnya, pesiar hari minggu kan lebih panjang waktunya.


"Maaf ka, sepertinya saya tidak bisa ka.. sudah sejak semester lalu, setiap minggu saya diminta ke rumah dosen Xx untuk mengajari anak dan beberapa teman anaknya belajar." katanya lagi.


"Kenapa?" tanyaku antara tidak percaya dan takjub. Benar-benar ini perempuan langka, bukan hanya sekali tapi sudah 2x dia menolak ajakan dariku yang pastinya diimpikan banyak perempuan lain.


"Bpk Xx dan ayah saya masih sepupuan kak, yang merekomendasikan sy masuk ke sekolah ini pun beliau, jadi untuk membalas budi baiknya, saya mengajari anaknya dan beberapa orang temannya setiap hari minggu." jawabnya panjang lebar, sesekali tanpa sadar memperlihatkan lesung pipinya, yang membuat tanganku gatal untuk menyentuh dan mengukur kedalamannya.


"Maksud saya, kenapa kamu bias-bisanya menolak kebaikan hati saya ini?" kataku mulai merasa kesal dan penasaran akan dirinya.


Setelah terdiam sesaat, mungkin bingung harus memberikan jawaban apa, akhirnya dia menjawab: "Maaf ka.." dan kembali menekuk wajahnya.


"Baik.. baik.. baik.. kalau begitu hari sabtu minggu depannya ya? Kamu belum ada janji apa-apa kan hari itu?" tanyaku kemudian mencoba menyabarkan hati ini.


"Siap belum ka.. akan saya usahakan ka.." jawabnya kemudian seperti terpaksa.


Yes, sorak ku dalam hati.


"Ok, kalau begitu sampai ketemu di apel pesiar kalian pada hari sabtu minggu depan ya.." kataku riang sambil akan beranjak dari tempat duduk.


Tiba-tiba hatiku kembali meradang dan berujar cepat "Kenapa? Kamu malu ketauan orang lain lagi jalan bareng sama saya?"


"Maaf ka.. saya mah siapa gitu? Bukan reputasi saya yang saya khawatirkan kak, tapi reputasi kakak.. apa nanti tanggapan fans club kakak, kalau tau kakak jalan bareng saya?" katanya terbata-bata, mungkin mencoba meredakan kegusaran hati ini.


Dan dia berhasil, karena kembali dengan tiba-tiba hati ini kembali berbunga-bunga sambil membatin: ‘dia mengkhawatirkan reputasi ku.. aish, manis banged ga seh neh perempuan?’


Heran juga meninjau keberadaannya yang terkesan acuh, namun tanpa usaha keras, bisa menjungkir-balikkan perasaanku, panas-dingin-gusar-adem..


"Ok, kita ketemuan di depan BIP saja jam 14.00 WIB tepat ya!" kataku akhirnya, berharap dia akan menepati janjinya dan tidak membiarkanku terlalu lama menunggu seperti kebanyakan perempuan yang suka ditunggu.


"Siap ka.." jawabnya kemudian sambil bangkit dari duduknya melanjutkan: "Kalau boleh saya izin kak, masih ada kelas sore saya.."


Yah akhirnya aku juga yang ditinggalkannya, setelah aku sempat mengangguk membalas ppm-nya.


Padahal tadi sempet berimaji aku yang beranjak pergi meninggalkannya memperhatikan kepergianku.. yang terjadi justru sebaliknya..


...***...


...~ DINA ~...


Siang ini cuaca lembah Manglayang lagi kurang bersahabat. Setelah makan siang tadi, aku terlalu malas untuk kembali ke wisma, karena siang menjelang sore nanti juga masih ada jadwal pembelajaran di kelas.


'Lumayan neh sejaman bisa baca buku di perpustakaan yang adem dan tenang. Jam segini biasanya sepi pengunjung neh perpus'.. batinku sambil bergerak menuju gedung perpustakaan.


Aku pun duduk tenang di pojokan ruangan (tempat favoritku untuk meminimalisir perhatian dari orang lain) dan masuk dalam dunia petualangan melalui buku novel yang sangat menarik ini, buku karangan Clara Ng berjudul 'Tujuh Musim Setahun'.


Setelah sekian lama menekuni buku tersebut (hampir separuh buku sudah ku baca), aku pun mengangkat wajah dan merasa sangat kaget demi melihat keberadaan seorang senior duduk di hadapanku yang entah sudah beberapa lama memperhatikanku dengan tatapan matanya yang penuh senyum.


Tak sengaja buku ditanganku tertutup karena refleks menutup mulutku yang sempat akan berteriak sangking kagetnya.


'Hadeuh, sampe halaman berapa tadi ya?' batinku kesal. Lalu menyadari sang senior, yang ternyata adalah ka'Han, masih menatapku intens, tampak sedikit geli menilik senyum simpul di bibirnya yang penuh.


'Hadeuh, kenapa jadi mikirin bibirnya ya?' batinku lagi.


"Selamat siang ka.. maafkan saya.." kata ku akhirnya dengan perlahan dan setengah berbisik, menyadari keberadaan kami di perpustakaan yang dilarang keras mengeluarkan suara keras.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanyanya cepat membuatku kebingungan dengan maksud pertanyaannya.


Melihat tatapanku yang tidak mengerti akan pertanyaannya, dia kembali bertanya: "Kenapa minta maaf?"


Setelah ragu sesaat, aku pun menjawab: "Maaf, saya tidak tahu kakak ada di depan saya.."


"Apakah itu kesalahan?" tanyanya lagi.


'Benar juga ya.. aku kan ga salah apa-apa, kenapa juga harus minta maaf? Sepertinya tadi hanya refleks junior kepada senior saja.. Peraturan dasar 2 pasal itu sudah mengakar dalam pikiran ini sepertinya.. Tapi apa aku harus minta maaf lagi karena telah salah minta maaf sebelumnya?' batinku aga bingung juga harus menjawab apa pada pertanyaan sederhananya.. dan akhirnya aku menemukan jawaban yang diplomatis: "Siap, mungkin iya dan mungkin juga bukan.. terserah kakak saja.."


"Baiklah, karena kamu sudah bersalah, sini kasih KTA-mu!" katanya kemudian, seakan mencoba menggoda ku sambil membuka telapak tangannya.


"Siap ka.." walau tidak menyangka tanggapannya demikian terhadap jawabanku tadi, aku pun dengam sigap mengeluarkan KTA ku dari saku-ku dan menyerahkannya ke telapak tangan kanan ka'Han yang masih terbuka.


Beberapa saat tampak ka'Han membaca dengan seksama sepotong informasi diri yang ada di KTA ku.


'Hadeuh, kenapa aku kasih tadi ya? Kan bisa saja aku bilang tertinggal di wisma atau kebohongan lainnya.. Bagaimana kalau nanti dia memberikannya kepada teman seangkatannya yang putri dan meminta mereka membina diriku.. hadeuh abis deh aku..' (entah sudah yang keberapa kali) aku kembali membatin dan menyesali tindakanku.


"Izin ka, bisa saya minta KTA saya kembali?" kata ku memecahkan keheningan kami, mencoba meminimalisir potensi masalah di kemudian hari.


"Boleh, setelah kamu jalani hukuman dari saya.." katanya kemudian sambil memasukkan KTA ku tersebut ke dalam kantong depan PDH-nya.


"Siap ka, hukumannya apa?" tanya ku mulai merasa khawatir.


"Pesiar Sabtu ini kita jalan bareng ya.. nanti saya kasih tau hukumannya apa." jawabnya kalem.


DDUUAAARRR... seperti ada bom meledak di kepala ku tiba-tiba. 'Ga salah neh ka'Han? Iseng banged seh dia ngerjain junior seperti ini? PHP banged deh.. untung aku anti sama yang begituan..' tiba-tiba jantung ku berdetak kencang tanpa terkendali.


"Maaf ka, sabtu ini saya sudah ada janji dengan teman.." jawab-ku akhirnya, teringat sabtu ini belum ada pemasukan yang bisa mendanai pesiar ku. Gaji les privat yang ku lakukan sejak semester lalu kepada beberapa anak dosen di komplek sekolah kedinasan ini juga baru hari minggu nanti aku terima.


"Teman atau pacar?" tanya ka'Han dingin. Mungkin dia belum terbiasa dengan penolakan, apalagi yang dilakukan perempuan biasa sepertiku.


"Siap, teman ka, saya belum punya pacar" jawab-ku jujur.. sepertinya terlalu jujur, namun memperhatikan raut wajah ka'Han yang kembali menghangat dengan senyum jahilnya, sepertinya itu jawaban yang dia mau dengar.


"Ok kalau begitu pesiar hari minggu ya!" kata ka’Han lagi.


'Itu bukan pertanyaan, tapi perintah' batinku, 'Senior oh senior, kenapa kalian suka sekali memaksakan kehendak?' batinku, lalu aku menjawab lagi: "Maaf ka, sepertinya saya tidak bisa ka.. sudah sejak semester lalu, setiap minggu saya diminta ke rumah dosen Xx untuk mengajari anak dan beberapa teman anaknya belajar bersama."


"Kenapa?" tanya-nya cepat, menunjukkan raut wajah antara tidak percaya dan heran.


"Bpk Xx dan ayah saya masih sepupuan kak, yang merekomendasikan sy masuk ke sekolah ini pun beliau, jadi untuk membalas budi baiknya, saya mengajari anaknya dan beberapa orang temannya setiap hari minggu." Jawab-ku panjang lebar, mencoba membuatnya mengerti tanpa perlu menyebutkan berapa upah yang kuterima dengan mengajar privat.


"Maksud saya, kenapa kamu bias-bisanya menolak kebaikan hati saya ini?" tanya-nya lebih lanjut, seakan mulai merasa kesal dan penasaran akan diri ku.


'Hallo.. is it me u're looking for?' batinku. (terjemahan: halo, apakah saya yang sedang kamu cari/perhatikan?)


Setelah terdiam sesaat, akhirnya aku menjawab: "Maaf ka.." dan kembali menunduk, pura-pura memperhatikan buku bacaanku tadi.


"Baik.. baik.. baik.. kalau begitu hari sabtu minggu depannya ya? Kamu belum ada janji apa-apa kan hari itu?" tanya-nya lagi.


"Siap belum ka.. akan saya usahakan ka.." jawab-ku akhirnya dengan terpaksa.


Raut wajah ka'Han kembali adem dengan senyumnya yang dikulum menggemaskan itu. Pantes deh dia sampai punya fans club segala.


"Ok, kalau begitu sampai ketemu di apel pesiar kalian pada sabtu minggu depan ya.." kata-nya kemudian dengan nada riang, terlihat akan beranjak dari tempat duduk.


Namun jawabanku kemudian tampak menghentikan gerakannya:


"Maaf ka, kalau boleh kita ketemu di luar ksatrian saja ka, saya khawatir akan ada gosip kalau kita terlihat keluar bareng." kata ku cepat, demi mengingat tanggapan orang-orang yang akan melihat kami berjalan bersama keluar ksatrian.


Raut wajah ka'Han kembali garang seakan sedang meradang.. lalu dia pun berkata: "Kenapa? Kamu malu ketauan orang lain lagi jalan bareng sama saya?" dengan gusar.


"Maaf ka.. saya mah siapa gitu? Bukan reputasi saya yang saya khawatirkan, tapi reputasi kakak.. apa nanti tanggapan fans club kakak kalau tau kakak jalan bareng saya?" kata ku terbata-bata menanggapi kemarahannya.


Sungguh mengherankan, sesaat kemudian wajah ka'Han kembali dipenuhi senyum. 'Ish, ga stabil banged seh perasaan ka'Han neh, bentar-bentar marah, bentar-bentar senyum-senyum jahil?' batinku mencoba memahami alur pikirnya.


"Ok, kita ketemuan di depan BIP saja jam 14.00 WIB tepat ya!" katanya akhirnya.


"Siap ka.." jawab-ku kemudian sambil bangkit dari duduk dan kembali berkata: "kalau boleh saya izin ka, masih ada kelas sore saya.."


Tanpa menunggu jawabnya, aku melakukan ppm dan berlalu ke admin perpus untuk meminjam buku yang belum lagi habis aku baca.


'Hm, semoga ga jadi masalah neh janjian kami ini' batinku sambil berjalan keluar dari perpus menuju kelas.


...***...

__ADS_1


__ADS_2