HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 26 (Bagian 2) Mistis Vs Logika (D., Ute & P.)


__ADS_3

...~ UTE ~...


Sosok Ka’Dina yang tegar namun baik hati ku tinggalkan dengan aura biru kehijauan dengan sedikit semburat ungu. Mungkin ia sedang merasa terjebak dan memang tujuan-ku kembali berhasil ku lakukan.


“Misi berhasil bos, kita double-date Sabtu pagi lusa!” pesan singkat itu ku kirimkan ke 2 nomor sekaligus (Ka’Han dan Ka’Pras), yang satu pacar pura-pura-ku dan yang satunya lagi Kakak Asuh-ku. Dua orang laki-laki yang ku anggap penting pendapat dan kebahagiaannya, selain Ian, sahabat sejati-ku, tentu saja.


Ting, pesan masuk dari Ka’Pras sesaat kemudian muncul, setelah ku cek ternyata dia hanya memberikan jempol. Ide untuk double date ini memang bukan murni dari diriku. Sewaktu Ka’Pas sempat mampir ke Jepra itu, kami berdua sempat berbincang terkait bagaimana Ka’Pras akhirnya bisa meyakinkan Ka’Dina untuk menerima perasaannya. Aura Ka’Pras penuh dengan cinta kala itu, namun ia juga sedih karena Ka’Dina belum mau diajak jalan bareng, dengan alasan tidak mau hubungan mereka terkesan diburu-buru dan ingin berjalan apa adanya saja.


Namun sampai aku selesai merapikan konsistori gereja dan duduk di sofa untuk beristirahat, pesanku untuk Ka’Han masih belum dibalas, bahkan masih centang 1 yang artinya belum lagi dibaca. Akhirnya aku memutuskan untuk bergabung bersama teman-teman satu angkatanku menunggu ibadah Kamis malam ini dimulai.


Memang beberapa waktu belakangan ini Ka’Han tampak sibuk mengerjakan Laporan Akhir-nya, semacam Skripsi untuk dipertahankan dalam Sidang Yudisium kelulusan-nya nanti. Tapi aku tetap merasa aga terabaikan dan ditinggalkan sendiri dalam memperjuangkan kebahagiaan Ka’Pras dan Ka’Dina. Bahkan tanpa sadar, aku sering berpikir kalau sebenarnya Ka’Han ini mungkin belum sepenuhnya move-on dari Ka’Dina. Mungkin aku hanya dijadikan pelarian dan pelampiasan-nya semata. Tanpa sadar pikiranku menerawang dan ternyata ibadah malam sudah berakhir.


Kami sama-sama berjalan kembali ke wisma kami ketika sebuah suara bariton itu menghentikan barisan kami. “De, Muda Praja Ute ke belakang pasukan!”


Seperti biasa aku memisahkan diri dari barisan dan menghampiri Ka’Han. Auranya aga menggelap dan dia tampak menyembunyikan kesusahan hatinya dengan cengiran lebar di wajahnya yang konon jarang tersenyum itu.


Penyakit prosopagnosia-ku (ketidakmampuan mengidentifikasi wajah seseorang), sepertinya sudah mulai berkurang, dengan semakin banyaknya mimik wajah yang mudah ku kenali. Mungkin benar terapi mengatasi phobia, kita harus semakin berinteraksi dengan ketakutan kita tersebut. Aku merasa kalau semakin banyak wajah yang kutemui setiap hari, semakin aku melatih kemampuanku mengidentifikasi seseorang dan menghadapi kekhawatiranku tidak mengenali orang lain, maka semakin terpicu juga keinginanku untuk semakin cepat mengetahui jati dirinya dan pengenalanku juga hanya tergantung waktu saja.


Seperti dengan Ka’Han yang suaranya tadi sudah langsung menggetarkan jantungku untuk berdegub sedikit lebih cepat daripada biasanya. Ketika aku menolehkan kepala melihat kepada sosoknya, maka tidak terlalu sulit lagi bagiku mengenalinya walau dia dikelilingi beberapa sosok lain. Aura pink pekat yang menguar menggambarkan rasa rindu yang dirasakannya, terpancar tegas membedakan dengan sekelilingnya yang rerata beraura coklat kehijauan dengan semburat orange. Tanpa sadar aku pun menatap matanya, membalas cengirannya dan memberikan PPM: “Selamat malam Kak..”


“Selamat malam juga adik cantik..”


“Wow Han, seleramu memang yang paling TOP deh..”


“Adik, kamu cantik sekali, kenapa Kakak baru lihat ya?”


“Ach Han, paling bisa tebar pesona kamu ini ya?”


“Pica bunga kau Han..”


“Hambur madu sudah Kakak Han ya?”


Beberapa ledekan dari sesama senior yang tidak begitu ku kenal namun menguarkan aura orange muda usil, tidak bisa memudarkan senyumku, pun ketika Ka’Han mendorong mereka menjauh dari kami yang masih berdiri tegak berhadapan.


Namun ada kalimat ledekan yang sempat berbisik di telingaku yang bernuansa ungu gelap seperti peringatan bahaya dan akhirnya membungkam senyum ini: “Adik cantik, hati-hati eh, Han itu masih perjaka loh!”


Kini kami memang hanya tinggal berdua, masih berdiri berhadapan di jalanan depan Gereja kami yang bangunannya bersebelahan. Aku penganut Katolik dan Ka’Han yang baru selesai beribadah di Gereja Protestan-nya. Walau kami sama-sama pengikut Kristus, namun tata cara ibadah kami sedikit aga berbeda dan karenanya pihak lembaga membangun 2 bangunan Gereja untuk mengakomodir kegiatan peribadatan kami ini.


“Apa kabar ‘te?” tanya Ka’Han akhirnya membuka percakapan. Dia mengarahkan kami untuk berjalan bersisian dengan sangat perlahan, seakan tidak ingin jalan ini ada akhirnya.


“Baik Kak. Kabar Ka’Han bagaimana?” tanyaku kaku. Masih sedkit bertanya-tanya dengan maksud ledekan keperjakaan Ka’Han tadi.


“’Kog kamu jadi kaku begini seh ‘te? Kemana kejahilan dan sikap ga sopan tapi mempesona kamu dulu? Apa sekarang kamu sudah beneran jadi titisan sang Ratu Agung jadi harus jaim?” tanya Ka’Han menguarkan semburat orange yang jahil walau hanya sesaat, karena kembali tertutup aura pink pekat-nya.


“Hm.. mungkin saya mulai ketularan Ka’Han ya?” jawabku asal mencoba melucu.

__ADS_1


“Wah bagus dunks, artinya saya memberikan dampak buat kamu. Jadi, bisa diambil kesimpulan, walau pacar bohongan, saya bisa mempengaruhi kamu juga ya?” Ka’Han menjawab dengan tatapan mata tajam, tanpa aura kejahilan, yang kemungkinan besar menunjukkan kalau dia tidak sedang bercanda atau asal ngomong. Yang tentu saja kembali membungkam mulutku ini.


Kami berjalan dalam diam untuk sesaat. Lalu aku mendengar bunyi “Ting” dan membuka HP yang ternyata masuk wa dari Ka’Han, isinya hanya 2 kata: “Aku kangen!”


Tidak mampu menahan diri untuk menoleh ke arahnya, tiba-tiba tanganku terasa ditarik masuk dalam genggamannya dan kami berhadapan dengan posisi hampir rapat yang sangat meresahkan.


Matanya tajam menatap ke wajahku yang terasa aga memanas.


Aura pink yang menguar dari tubuhnya seakan membakar tubuhku dan tiba-tiba Ka’Han mendekatkan wajahnya seperti akan menciumku, namun kesadaran segera membuyarkan kediaman kami.


Aku menarik tanganku dan memaksa tubuhku menjauhi tubuh besarnya yang mengintimidasi dengan kehangatan.


“Kita masih di jalan Kak, bagaimana kalau ada yang melihat?” ujarku akhirnya sambil berjalan agak lebih cepat di depannya.


“Jadi kalau kita tidak sedang di jalan dan tidak ada yang melihat, boleh ya bermesraan?” tanya Ka’Han dengan aura jahil yang terasa di balik punggungku, mungkin untuk menutupi aura kekecewaannya yang tetap terasa. Ka’Han berjalan aga lebih lambat dan memposisikan dirinya di belakangku kini.


“Keisengan dan kepura-puraan mah bukan kemesraan Kak!” ujarku mengingatkan status kami yang masih pacar pura-pura, sambil menoleh sekilas ke arahnya, yang ketika mendengar dan mencerna jawaban ku itu langsung berhenti berjalan dan kembali mencoba menarik tanganku namun ku tepis.


“Kalau kamu bersedia, kita bisa hilangkan status pura-pura-nya jadi beneran loh ‘te.” ujar Ka’Han berdiri tegak seakan menunjukkan kesungguhan hatinya. Aura pink pekat itu mulai dilingkupi dengan aura merah menyala yang sesungguhnya aga menakutkan diperhatikan, seakan aku telah melakukan kesalahan yang dapat membuatnya meledak sewaktu-waktu.


“Gombal!” jawabku kemudian sambil menambahkan: “Izin Kak saya duluan ya, sudah mau jam apel malam neh..” dan berjalan bergegas tanpa menoleh lagi ke belakang, meninggalkan sosoknya yang mungkin kesal dengan sikap kurang ajar-ku. Keringat dingin mengucur deras ketika aku sampai di halaman wisma dan apel malam memang akan segera dimulai.


...***...


Malamnya, entah mengapa aku sulit untuk melelapkan diri. Perasaan ini baru saja aku alami, merasa senang dan sedih pada waktu bersamaan. Merasa penuh harapan namun juga diliputi kecemasan yang berlebihan. ‘Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Haish, aku dalam masalah besar ini..’ batinku terus bercakap sendiri.


“AAAAAAAA...”


Bergegas aku membuka pintu untuk keluar dan melihat apa yang terjadi. Seorang temanku yang sedang jaga serambi tampak tergeletak pingsan, tertelungkup seperti baru saja terjatuh dari bangku yang mungkin dia pergunakan untuk duduk ketika berjaga.


(Jaga Serambi adalah tugas berjaga di pintu luar dan digilir setiap jam, dilakukan oleh masing-masing 2 orang setiap jam-nya, kegiatan jaga serambi ini dilakukan mulai dari 00.00-05.00 WIB, jadi setiap malam ada 5 tim yang berjaga serambi -red)


Aku segera mendekatinya dan memeriksa kondisi tubuhnya, wajahnya terlihat pucat dengan aura putih kebiruan, benar dalam keadaan tidak sadarkan diri, namun sepertinya hanya karena rasa kaget atau terkejut yang berlebihan, masih ada helanaan nafas dan dengan perlahan aku memposisikannya menjadi rebahan.


Tidak berapa lama kemudian teman-teman yang lain juga berhamburan keluar diikuti seorang teman yang seharusnya berjaga bersama temanku yang pingsan ini. Ternyata ia habis ke toilet dan terpaksa meninggalkan temannya sendiri.


Seorang teman yang lain membawa minyak kayu putih dan menyodorkannya ke arah hidung teman kami yang pingsan dan yang lainnya mencoba membuka sepatu PDL yang dikenakannya untuk kemudian memijat bagian kaki teman kami tersebut. Perlahan, kesadaran kembali ke tubuhnya dan ia pun segera terduduk, melihat ke arah jalanan depan wisma kami, seakan memastikan dia tidak sedang salah lihat. Lalu ketika seorang teman menyodorkan segelas air putih, tanpa ragu ia meminumnya habis.


Ketika kondisinya telah aga tenang, ia kembali melihat ke arah jalanan dan berujar kalau sesaat yang lalu ia mendengar semacam gemerincing lonceng kecil dari arah jalan dan ketika mencari sumber suara ia melihat sesosok mahluk putih berjalan perlahan melintasi jalanan depan wisma kami dan ia pun berteriak lalu tidak sadarkan diri.


Untuk menjelaskan asal mula terkait area Ksatrian ini, mari kita baca sedikit pembahasannya di wikipedia ya, supaya lebih paham mengapa ada gambaran-gambaran mistik bisa terbentuk.


...***...


...Pada masa penjajahan, Jatinangor merupakan kawasan perkebunan teh dan pohon karet yang dikuasai oleh perusahaan swasta milik Belanda, Maatschappij tot Exploitatie der Baud-Landen yang berdiri tahun 1841, dengan luas saat itu mencapai 962 hektar, membentang dari tanah, yang saat ini merupakan kawasan Ksatrian hingga Gunung Manglayang....

__ADS_1


...Perusahaan tersebut dimiliki oleh seorang pria berkebangsaan Jerman, bernama Willem Abraham Baud (1816–1879) atau lebih terkenal di masyarakat dengan sebutan Baron Baud. Untuk mengontrol perkebunannya yang luas, Baron Baud membangun sebuah menara. Menara ini dilengkapi dengan sebuah lonceng yang terletak di puncak menara dan tangga untuk sampai ke puncaknya. Menara ini kemudian dikenal sebagai Menara Loji....


...Menurut desas-desus yang beredar di masyarakat, di masa penjajahan rakyat Indonesia dipaksa untuk bekerja rodi, dimana banyak pekerja yang tidak diperhatikan keselamatannya. Karena begitu kerasnya sistem kerja rodi yang diterapkan oleh penjajah, korban jiwa pun berjatuhan....


...Dalam beberapa kesempatan, warga sekitar mengaku sering mendengar suara perempuan dan anak kecil di malam hari dan beberapa penampakan sosok putih juga sempat terlihat oleh beberapa orang yang tentu saja langsung lari ketakutan....


...Memasuki masa kemerdekaan Indonesia, tanah perkebunan karet Jatinangor tersebut dinasionalisasikan dan menjadi milik Pemerintah Daerah (Pemda) Sumedang. Sayangnya, Pemda tidak melakukan penjagaan yang baik terhadap situs menara tersebut. Pada tahun 1980, lonceng Menara Loji dicuri. Hingga kini, kasus pencurian ini belum terselesaikan....


...Pada tahun 1990, area perkebunan dialihfungsikan menjadi kawasan pendidikan dengan dibangunnya empat perguruan tinggi, yakni: Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Universitas Padjadjaran dan Universitas Winaya Mukti. Nama Jatinangor sebagai nama kecamatan baru dipakai sejak tahun 2000-an....


...Seiring dengan hadirnya kampus-kampus tersebut, Jatinangor juga mengalami perkembangan fisik dan sosial yang pesat. Sebagaimana halnya yang menimpa lahan pertanian lain di Pulau Jawa, banyak lahan pertanian di Jatinangor yang berubah fungsi menjadi rumah sewa untuk mahasiswa ataupun pusat perbelanjaan. ITB kemudian membangun kampusnya di kawasan ini pada tahun 2010....


...***...


Cerita tentang bunyi gemerincing lonceng dan sosok putih ini tentu saja membuat seisi wisma ketakutan (kecuali aku yang lebih dipengaruhi oleh rasa penasaran akan penjelasan logis yang pasti ada) dan akhirnya Kakak Pengasuh di wisma kami menghapuskan sementara kewajiban jaga serambi untuk malam itu.


Memang waktu juga telah menunjukkan pukul 03.45 WIB, yang artinya tinggal 1 regu lagi yang akan berjaga dari jam 04.00-05.00 WIB. Pukul 05.00 WIB kami sudah harus bergegas ke lapangan parade untuk mengikuti aerobic pagi dan binsik untuk keseluruhan Muda Praja.


Setelah kejadian itu, tidak ada lagi teman yang terlihat melanjutkan tidurnya. Mereka segera melakukan kesibukan masing-masing dalam diam atau kalaupun bercakap terlihat dalam bisik saja.


Ada yang terlihat menyeterika pakaian dinas (yang walaupun Ksatrian ini dilengkapi dengan fasilitas loundry, namun untuk menghindari teguran senior, kami seringkali menyeterika ulang pakaian dinas kami agar tidak membentuk rel di lipatan kain-nya, yang mana sering terjadi hasil dari loundry.


Beberapa teman yang lain tampak menyemir sepatu PDH-nya dan sebagian lainnya membraso pin dan kelengkapan yang akan disematkan di PDH.


(PDH \= pakaian dinas harian, sementara membraso \= melap dengan braso, untuk membuat pin dan kelengkapan lain yang terbuat dari kuningan terlihat lebih bersih dan kinclong)


Sementara itu aku pamit keluar dari wisma untuk mengecek kondisi jalanan dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semak dan rerumputan sampai aku periksa bermodalkan senter pada HP.


Dan akhirnya di dekat wisma pengasuh, tidak jauh dari jalanan depan wisma kami, aku menemukan 2 ekor anak kucing tengah terlelap pada sebuah rumah kecil sarang kucing. Si-induk kucing tidak tampak pada sarang tersebut, mungkin sedang mencari makan. Pada leher anak-anak kucing tersebut tersemat bandul bulat semacam lonceng yang akan terdengar bergemerincing ketika mereka bergerak.


Dengan hati-hati, aku mengangkat seekor anak kucing dan membawanya ke wisma untuk ditunjukkan kepada Kakak Pengasuh dan teman-temanku. Dengan anak kucing yang masih terlelap itu, aku mendekati temanku yang pingsan tadi dan memperdengarkan sekilas gemerincing lonceng di leher si-anak kucing, yang walau sempat terbangun namun setelah dielus-elus tertidur kembali.


Temanku itu tampak malu namun dengan jujur ia mengakui suara gemerincing yang sempat ia dengar sebelum melihat sosok putih dan akhirnya pingsan memang seperti itu.


Beberapa teman tampak penasaran juga dengan lokasi rumah kucing yang ku ceritakan dan mereka ikut bersamaku untuk mengembalikan anak kucing tersebut. Sesaat setelah aku meletakkan kembali anak kucing tersebut, kami mendengar suara gemerincing dari arah jalanan depan wisma, rupanya induk kucing, yang juga memakai kalung bandul lonceng, telah kembali dengan mulut yang tampak penuh.


Kami bergegas menjauhi rumah kucing tersebut dan berjalan kembali ke wisma. Sekonyong-konyong kami melihat sosok putih berjalan mendekat. Ternyata itu seorang dosen yang mengenakan pakain putih-putih bahkan di kepalanya juga tersemat semacam sorban berwarna putih, berjalan perlahan dari arah bawah ke perumahan dosen yang melintasi wisma kami.


“Selamat pagi pak!” seru kami bersamaan, yang disahuti oleh bapak dosen dengan anggukan dan pertanyaan setelah melihat sekilas jam di tangannya: “Ngapain kalian subuh begini sudah keluar wisma? Belum jadwalnya untuk olah raga pagi kan?”


“Izin pak, mohon info apakah tadi pagi bapak melintasi wisma kami ini dan tidak mendengar suara teriakan salah seorang teman kami?” tanyaku memberanikan diri.


“Oh iya, saya memang lewat sini tadi, mau ke Masjid.. sempet juga seh dengar suara emlengking seperti teriakan perempuan, tapi saya cuma istifar saja dan mempercepat langkah.. kenapa rupanya dek?” tanyanya semakin penasaran.


 “Itu pak, sepertinya teman kami melihat sekilas siluet bapak dan kaget sampai syok. Tapi sekarang sudah baik-baik saja kog pak. Maaf kalau mengganggu aktivitas bapak dan kalau boleh kami izin pak..” kataku lagi mengajak teman-temanku berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


Walau seharian ini rasa kantuk sering menghampiri ragaku yang kurang istirahat, namun aku terus berharap kejadian pagi ini tidak akan mempersulit temanku yang pingsan tadi dan sekaligus bersyukur misteri pagi ini sudah dapat terpecahkan dengan penjelasan logis. Dan tanpa ku sadari, hari Jumat yang relatif pendek ini bisa terlewati tanpa masalah berarti. Puji Tuhan.


...***...


__ADS_2