
...~ HAN ~...
“Bagaimana ‘te?” tanyaku kepada Ute yang sedang konsentrasi pada HP-nya, bertukar pesan dengan Dina melalui wa.
“Okeh Kak, Ka’ Dina juga lagi pesiar, dia baru sampe BIP untuk beli ATK katanya dan saya janjian ketemu dia sekitar setengah jam lagi” jawab Ute ceria.
“Okeh, pakai sabuk pengaman-mu dek!” perintahku lagi sambil ebrsiap menjalankan mobil rentalan ini ke arah BIP.
“Siap senior.. semangat ngebut untuk berbuat baik..” jawab Ute penuh canda seperti biasanya sambil memasang sabuk pengaman dan mengepalkan tangan memberikan semangat.
Nyaman itulah yang ku rasakan bersamanya. Segala lelucon dan komentar Ute yang dulu pernah terasa aga kurang ajar, sekarang hanya mengandung kelucuan yang menceriakan hari. Bahkan terkadang jika sekilas aku teringat akan sekelumit kata-katanya, aku sering senyum-senyum sendiri, yang mana beberapa kali membuatku terpaksa menjelaskan dengan kebohongan ke orang-orang disekitar-ku, yang mungkin saja aga khawatir, namun kebanyakan lega, dengan perubahan sikap-ku ini.
“Jadi nanti Ka’ Han tungguin aja kita di restoran, Ka’ Han siapin diri buat ketemu Ka’ Dina ya! Jangan sampe grogi apalagi menunjukkan kesan ga yakin sama kata-kata Kakak. Biar saya dulu yang jemput Ka’ Dina di *ramedia, sekalian memberikan waktu untuk Ka’ Dina juga untuk tidak bisa menolak permintaan kita.. Haish, semoga akting saya cukup meyakinkan..” kata Ute beberapa saat kemudian.
“Semangat Ute..” kataku kemudian sambil mengepalkan tangan mencontoh gayanya.
“Hahaha.. ga terlalu lucu, tapi lumayan deh buat seorang Ka’ Han..” ujar Ute sarkartis.
“Hei!!!” seru-ku memasang tampang pura-pura ga terima dengan ejekannya.
“Maaf Kak, seperti yang Kakak tau selama ini, I’m just being honest as usual..” ujarnya lagi sambil mengedikkan bahu dan mengedipkan mata imut. (terjemahan: saya hanya terbiasa berkata jujur seperti biasanya)
“Ya kan ga harus selalu jujur menyakitkan hati begitu juga kale ‘te?” kataku lagi tetap tak mau kalah berargumen.
“Walau terasa aga menyakitkan Kak, namun kejujuran tetap yang terbaik!” Tiba-tiba dia terdiam, seperti baru mengingat sesuatu dan kembali berkata: “Hadeuh, baru sadar saya, kalau kita dalam perjalanan menuju kebohongan.. ga pantes banged menyerukan pernyataan tadi ya?” Ute kembali berujar sambil menepukkan tangannya ke keningnya dan sekilas terlihat wajahnya aga memerah karena malu.
‘Ampyun deh, makin imut aja kelakuan gadis cantik ini. Sepertinya asa dalam diri ini setiap hari semakin membesar, namun aku harus menyiapkan hati, kalau-kalau pada akhirnya kenyataan tidak akan sesuai dengan harapan..’ batin-ku lirih.
“Saya mencium aroma penyesalan neh, apa kita mau mengurungkan rencana pura-pura pacaran di depan Dina neh dek?” tanyaku dengan penuh harapan Ute akan mengatakan tidak dan tetap bertekad untuk melanjutkan rencana kami.
“Hm.. sepertinya tetap lanjut saja Kak, niat kita kan untuk kebaikan.. menurut Ka’ Han bagaimana?” jawab Ute dengan pertanyaan lanjutan setelah beberapa saat terdiam.
“Saya seh ngikut sama keputusan-mu saja. Abdi mah kumaha sae na wae..” kataku kemudian menirukan istilah yang sering diucapkan warga Sunda sekitar Ksatrian ketika dimintai pendapatnya. (terjemahan: saya seh bagaimana baiknya saja)
“Ka’ Han ngerasa ga seh kalau karakter Kakak tuh sudah banyak berubah?” tanya Ute lagi sambil menolehkan wajahnya untuk mengamati wajah-ku dengan seksama.
“Maksudnya? Perubahan seperti apa ya dek?” tanyaku pura-pura tidak mengerti arah pembicaraannya. Padahal yang mengatakan hal tersebut sudah beberapa orang dan mau tidak mau, aku pun mulai menelaah diri sendiri dan menyadari, karakterku sekarang lebih toleran dan mulai bisa menerima situasi dan kondisi apa adanya.
“Ka’ Han tuh ga sekaku dulu, di awal-awal kita kenalan. Kalau dulu kan Ka’ Han itu seperti kanebo kering, kaku abiz..” jawab Ute enteng.
“Hei!!” sergah-ku kembali pura-pura marah.
Namun kami tertawa bersama tidak berapa lama kemudian. Sama-sama mentertawakan perkembangan hubungan kami, yang sama sekali melenceng dari perkiraan.
“Sejak saya diperbolehkan menyerap cairan keceriaan dan kebijaksanaan yang keluar dari seorang Ute, saja mulai bisa menjadi lebih toleran dan menerima apapun apa adanya.. terima kasih ya ‘te..” kataku memecahkan keheningan paska luapan tawa tadi.
Tidak terasa mobil yang ku kemudikan memasuki area parkir dan kami pun berjalan bersama memasuki mall. Lalu kami berpisah di pintu depan restoran, aku memperhatikan sosok Ute yang berjalan menjauh sampai masuk ke toko buku *ramedia tersebut. Lalu aku pun masuk ke restoran dan disambut waiter yang setelah memberikan salam dan menanyakan jumlah pengunjung, lalu mengarahkanku ke meja terbaik. Aku pun memesan sejumlah menu makanan dan berpesan untuk dapat dihidangkan segera setelah teman-temanku hadir nanti.
Lalu aku mengambil posisi duduk menghadap ke pintu masuk, agar Ute dan Dina tidak kesulitan menemukan meja kami ini.
...***...
Tidak lama kemudian, kedua sosok langsing berseragam PDP (Pakaian Dinas Pesiar) itu pun masuk dalam jangkauan mataku dan tanpa sadar aku melambaikan tangan dan berdiri menyambut kedatangan mereka.
“Hi Dina..” sapa-ku seakan membuat Dina tampak terpaku sesaat.
“Selamat siang Kak..” akhirnya Dina menjawab dengan canggung, mencoba menarik tangan kanan-nya yang terlihat dalam gandengan Ute, mungkin untuk memberikan PPM.
“Udah langsung duduk saja kalian, ga usah PPM segala..” kata-ku lagi.
Aku memberikan tatapan bertanya ke arah Ute yang dengan lincah (terlihat polos tanpa rasa bersalah) menarik tangan Dina untuk duduk di sampingnya, sementara dia sendiri duduk di hadapan-ku.
“Jadi ini Ka’ Han dan Ka’ Dina ga perlu diperkenalkan lagi kan ya?” tanya Ute menolehkan wajahnya ke arah-ku dan Dina bergantian. Lalu tampak berbisik di telinga Dina, yang tampak kemudian memutar mata-nya.
“Apa kabar Dina?” tanya-ku beberapa saat kemudian.
“Baik Kak.. saya lihat kondisi Ka’ Han juga baik-baik saja ya?” kata Dina perlahan dengan gaya khas-nya yang perlahan namun tegas, kembali memperlihatkan lesung pipinya yang manis.
Aku pun tersenyum, mencoba menenangkan debaran hati ini, lalu berujar: “Saya sudah pesan makanan dan minuman untuk kita bertiga, semoga pilihan saya cocok buat kalian ya..” sambil menjentikkan jari, aku meminta waiters menyajikan hidangan pesanan tadi.
Tak berapa lama kemudian, beberapa jenis makanan (ikan, cumi, udang, bebek, sayur kering dan sop berkuah) tampak disajikan di meja kami.
“Sudah keluar semua pesanannya ya pak? Untuk minum-nya apakah ada tambahan atau cukup hot lemon tea dalam pitcher ini pak?” tanya seorang pelayan pelayan beberapa sat kemudian.
“Saya mau Hot Americano saja, tapi nanti setelah makan ya. Ute dan Dina mau minum apa?” tanya-ku kepada mereka berdua.
“Saya mau ice summer-brize kalau ada ya..” jawab Ute cepat, sementara Dina sepertinya masih perlu waktu untuk menentukan tambahan minuman dengan membuka buku menu.
Namun akhirnya buku menu itu dia tutup dan berkata: “Saya cukup, tidak perlu ada tambahan..”
“Okeh.. boleh langsung makan neh ya Kakak-kakak?” tanya Ute jahil ke arah Dina dan aku.
Aku kembali tersenyum ceria dengan keimutan Ute dan lalu berkata: “Silahkan dinikmati.. selamat makan Ute dan Dina.”
“Bon appétit..” kata Ute lagi setelah berdoa sesaat. (terjemahan: selamat makan)
“Jadi menurut pendapat Ka’ Dina bagaimana neh?” tanya Ute tiba-tiba, ku perhatikan sempat membuat Dina terkejut dan sedikit menyemprotkan air minum-nya.
“Tunggu kita selesai makan lah Ute, baru ngobrol lagi. Kasihan Dina sampe terkaget-kaget ituh..” kata-ku kemudian dan mendorong kotak tissu ke arah Dina.
“Abis ga kuat saya berada dalam keheningan Kak.. seperti lagi di kuburan ajah..” jawab Ute lagi membandel, lalu menambahkan dengan polos: “Tadi kami sempet ngebahas kelanjutan hubungan kita Kak, pokoknya saya serahkan ke Ka’ Dina yang memutuskan, apakah kita akan temenan aja atau bisa lebih dari temen..” kata Ute lagi, yang membuat Dina tampak lebih terkejut dari sebelumnya.
Aku kembali mengarahkan konsentrasikku penuh ke Dina yang terlihat mencoba menelan makanannya, lalu menjawab: “Herm.. saya sudah sampaikan ke Ute tadi, kalau hubungan kalian berdua seharusnya tidak ada keterkaitannya dengan saya.. semua terserah Ute..” lalu Dina menuangkan minuman ke gelas-nya dan meminumnya.
“Iyah, Ka’ Dina dari tadi nolak-nolak dilibatkan. Entah mengapa.. padahal kan Ka’ Dina sudah seperti kakak Ute sendiri. Seperti pengganti orang tua, terkadang kita butuh pendapat orang lain yang kita percayai kalau ragu-ragu dalam membuat keputusan. Bener kan Ka’ Han?” tanya Ute lebih lanjut dengan polosnya.
“Pendapat-mu tidak salah Ute, tapi mungkin Dina aga ragu karena saya dan Dina pernah punya cerita yang tidak berakhir bahagia. Wajar saja kalau Dina enggan berpendapat. Mungkin dia ga mau akhir hubungan kita nantinya mengalami hal yang sama.” kata-ku perlahan.
“Tapi kan cerita Ka’ Han dan Ka’ Dina belum lagi berakhir.. Masih bisa ada sequel-nya, siapa tau nantinya akan jadian lagi?” kata Ute lagi sambil dengan tenang menyuapkan makanannya.
__ADS_1
“Apaan seh Ute! Suka ngasal deh kalau ngomong..” kata Dina terlihat diucapkan sambil menjawil pinggang Ute.
“Jadi saudara ipar maksudnya Kak.. kan Ka’ Dina saudari Ute satu-satunya, sementara kalau Ka’ Han nanti jadian sama Ute, kalian kan akan jadi ipar tuh..” kata Ute lagi menjelaskan sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku, yang lagi-lagi hanya bisa tersenyum senang menanggapi kejahilan Ute.
“Maksud Ute mungkin begini Dina.. dia mau kamu merestui hubungan kami. Dia ga mau ada unfinish busines di antara kita. Jadi masukan darimu penting buat dia melangkah.. Sejujurnya, saya juga menunggu pendapatmu.. dan saya secara pribadi akan iklas menerima, kalau menurut kamu, hubungan antara saya dan Ute sebaiknya cukup sebatas teman saja..” kata-ku lagi. (terjemahan: permasalahan yang tidak selesai)
Dina terlihat kembali menenggak lemon-tea-nya, sebelum akhirnya berkata: “Baiklah, sepertinya kalian berdua sudah membuat kesepakatan sebelum masuk dalam percakapan ini. Sekali lagi saya mohon maaf untuk Ka’ Han.. hubungan kita memang tidak berjalan sesuai dengan harapan dan itu menurut saya bukan salah kita berdua, memang kondisinya demikian saja. Jadi kalau ditanya apakah saya merestui hubungan Ka’ Han dan Ute, jawaban saya adalah IYA.. saya rasa Ka’ Han dan Ute adalah pasangan yang cocok, dapat saling mengerti dan memahami satu sama lain. Mengkin kalian tidak menyadarinya, tapi kalian sering berkomunikasi tanpa kata-kata dan saya sungguh berharap hubungan kalian bisa langgeng penuh kebahagiaan.”
Keheningan kembali tercipta, untuk beberapa saat tidak ada yang bersuara. Kami kembali terhanyut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya ada pelayan yang menghampiri kami dan menanyakan apakah bisa menghidangkan desserts dan kopi pesanan-ku.
“Baiklah, saya rasa keberadaan saya saat ini sudah tidak dibutuhkan lagi. Kalau boleh saya pamit duluan dan sebaiknya Ka’ Han dan Ute membicarakan dengan lebih mendalam lagi rencana hubungan ke depan-nya. Sekali lagi, selamat buat hubungannya.” kata Dina beberapa saat kemudian dengan nada sedih.
“Terima kasih ya Dina.. saya berharap kamu juga bisa segera mendapatkan pasangan yang sepadan dan terbaik untuk masa depan-mu..” jawab-ku akhirnya.
“Terima kasih Ka’ Dina..” lirih Ute juga ku dengar berkata sambil menggenggam tangan Dina erat untuk sesaat, sebelum akhirnya Dina beranjak berdiri dan meninggalkan restoran dalam diam.
Aku tidak tahan juga melihat tangan Ute yang tergeletak di atas meja dan menggenggamnya mencoba menghibur dan menguatkan Ute, memberikan semangat. Terasa nyaman ketika tangan kami bergenggaman erat. Telapak tangan Ute yang putih, terasa halus ketika ku belai dengan ibu jari-ku, lalu hal paling aneh pun terjadi.
Aku menyadari diriku menginginkan Ute. Menginginkannya jadi milik-ku seutuhnya.
Amat sangat menginginkannya. Bahkan jika itu hanya remahan semata, seperti menggenggam tangannya sekilas, duduk di sebelahnya, mendengarkan tawanya, mungkin nanti melihat rona merah pipinya atau mencium keharuman tubuhnya..
Aku tidak tahu pasti mengapa hal tersebut aga mengejutkanku. Tentu saja aku menginginkan Ute. Aku adalah pria batak berdarah panas, layaknya laki-laki normal manapun, yang tidak akan sanggup menghabiskan sejumlah waktu di dekat seorang perempuan secantik dan semenarik Ute tanpa menginginkannya.
Tetapi saat ini, duduk berhadapan sambil menggenggam tangan Ute, rasa ingin memiliki itu menjadi sangat mendesak.
...***...
...~ UTE ~...
Aura Ka’ Dina semakin menggelap penuh kedukaan, ketika akhirnya ku dengar suaranya memecahkan keheningan yang sesaat sempat tercipta: “Baiklah, saya rasa keberadaan saya saat ini sudah tidak dibutuhkan lagi. Kalau boleh saya pamit duluan dan sebaiknya Ka’ Han dan Ute membicarakan dengan lebih mendalam lagi rencana hubungan ke depan-nya. Sekali lagi, selamat buat hubungannya.”
“Terima kasih ya Dina.. saya berharap kamu juga bisa segera mendapatkan pasangan yang sepadan dan terbaik untuk masa depan-mu..” jawab Ka’ Han lebih lanjut dengan aura yang juga menggelap.
Semenjak belajar membaca aura, aku memang sudah memahami kalau aura gelap itu menular. Ketika kita menghadiri pemakaman seseorang, maka aura gelap itu mendominasi. Apalagi ketika melihat aura duka keluarga yang ditinggalkan, bahkan sampai dengan anak bayi atau balita (yang auranya relatif masih sangat murni, biasanya berwarna putih ataupun pink muda transparan), ketika mereka turut hadir di tempat duka itu, aura mereka pun bisa terkontaminasi. Itulah mungkin sebabnya, sangat tidak direkomendasikan membawa anak kecil ke rumah duka.
Tanpa bisa ku tahan, tanganku menggenggam tangan Ka’ Dina erat walau hanya untuk sesaat terasa dingin dan berkata: “Terima kasih Ka’ Dina..” sebelum akhirnya Ka’ Dina beranjak berdiri dan meninggalkan restoran dalam diam dengan aura yang masih penuh kegelapan.
Aura-ku yang sesaat ikut menggelap bersama aura Ka’ Dina, tiba-tiba terasa aga terang, seperti asap yang tertiup angin segar, lalu pandanganku terpaku pada genggaman tangan Ka’ Han, dengan aura pink-nya yang samar, seakan mencoba menghibur dan menguatkan-ku. Terasa nyaman ketika tangan kami bergenggaman erat, pun ketika tangan Ka’ Han mulai membelai tanganku dengan ibu jari-nya.
‘Oh Tuhan, ada apa ini?’ batinku menerawang. Perasaan ini belum pernah ku rasakan sebelumnya, rasa disayang dan diperhatikan dengan sangat, rasa penuh ketulusan. Kenyamanan hidup yang sepertinya belum pernah ku rasakan, jauh lebih indah terasa di hati ini, jika dibandingkan dengan kemewahan hidup yang selama ini biasa ku nikmati sendirian.
Entah berapa lama tangan kami saling bertautan, namun ketika alunan musik instrumental berjudul “Perfect” dari Ed Sheeran yang sangat aku sukai liriknya berhenti, aku pun menarik tangan-ku yang ku sadari merubah aura yang terpancar dari Ka’ Han, dari pink lembut menjadi ungu muda.
“Bukankah sebaiknya kita ikuti Ka’ Dina ya Kak?” tanyaku akhirnya. Dan kembali berujar ketika pandangan Ka’ Han seperti bertanya ‘Mengapa’: “Kakak ga khawatir kalau Ka’ Dina, yang lagi galau itu, kenapa-kenapa di jalan?”
“Galau? Memangnya kamu tau Dina lagi galau dek” tanya-nya dengan senyum geli yang sepertinya tidak bisa ditahan Ka’ Han.
“Please deh Kak, sensitif dikit jadi laki-laki bisa kan? Ka’ Dina itu, yang notabene pernah merasa menjadi bagian terpenting dalam hidup Kakak, baru saja menerima kabar kalau posisi dirinya itu sudah tergantikan, sementara dia sendiri belum punya siapa-siapa untuk menggantikan posisi Kakak di hatinya, logis banged kan kalau dia merasa galau..” kataku sedikit kesal.
“Dina yang saya kenal itu orang yang rasional dan selalu bisa membawa dan menjaga dirinya dengan sangat baik. Sepertinya ga akan lah dia macem-macem.” Kata Ka’ Han lebih lanjut setelah tampak berpikir atau mengingat sesaat.
“Okey.. okey..” jawab Ka’ Han kemudian, menjentikkan jarinya memanggil pelayan untuk menyerahkan bill makan siang kami ini.
“Hayu lah Kak, nanti keburu kehilangan jejak Ka’ Dina kita..” kataku lagi di depan meja kasir dan Ka’ Han hanya tersenyum menanggapi, mengetik pin di mesin ekspedisi dan menerima resi bersama kartunya.
Tanpa sadar aku pun menarik tangan Ka’ Han sambil mencari sosok Ka’ Dina yang beraura penuh kegelapan. Namun yang ku rasakan malah aura pink yang kembali menguar, dari seorang Ka’ Han yang mengikuti langkahku dengan kesabaran penuh.
Tidak butuh waktu lama, sosok Ka’ Dina tampak di ekor mata-ku, bergerak ke arah pintu keluar mall. Tapi dia tampak tidak sendiri dan aura Ka’ Dina, walau masih relatif gelap juga tidak segelap sebelumnya. Aura sosok di sampingnya sangat familiar buat-ku, terasa bikin adem. Ka’ Pras benar-benar ada di saat yang tepat.
“Nah Ute sayang-ku, kekhawatiran-mu ga terbukti kan?” terdengar suara Ka’ Han dekat sekali dari telingaku, sempat membuat-ku merinding, namun bukan dengan cara yang menyeramkan, namun tetap terasa menggelitik. Aku segera menarik tanganku dari genggamannya.
“Kamu kurang sehat ‘te? Kog wajahmu memerah?” tanya Ka’ Han lagi, dengan berani meletakkan telapak tangannya di dahi-ku seakan untuk mengukur suhu-nya. Lalu ketika ku tepis tangannya dengan wajah cemberut, aku mendengar gelak tawanya terurai lepas, seceria semburat aura pink-nya tadi.
“Kalau Ute tidak sedang demam, pipimu yang sekarang memerah ini apakah karena sedang merona ya? Ga nyangka saya, kalau seorang Ute yang tidak mengenal rasa takut, ternyata bisa juga tersipu..” kata Ka’ Han lagi dengan senyum menggoda yang entah bagaimana terlihat semakin melebar saja ukurannya.
“Enggak ach..” kataku singkat mengatupkan mulut rapat-rapat setelahnya.
“Iya seh,” bantah Ka’ Han lagi: “Pipi-mu memerah..”
“Kalau pipi saya memerah, itu pasti karena saya sedang bertanya-tanya mengapa seorang Wasana Praja yang punya banyak penggemar ini, bisa-bisanya menuruti semua permintaan saya yang hanya seorang Muda Praja..” kataku kemudian asal-asalan.
“Mulut dan sikap-mu terlalu cerdas untuk seorang junior.. bagaimana saya bisa mengabaikannya?” tanya Ka’ Han lagi, kini tanpa senyum.
“Maaf Kak..” ujarku kemudian secara buru-buru, sambil membatin: ‘Berasa udah kelewatan banged deh sama senior neh. Kadang kalau kelewat dimanja, suka ga sadar diri seh aku ini.. Ingat posisi-mu Ute.. kamu tuh cuma pacar boong-boongan aja.. Jangan lupa diri deh..’
“Hei, saya ngomong gitu sebagai pujian loh.. jarang-jarang ada junior yang berani menentang seniornya, walau itu demi kebaikan. Tolong jangan menahan diri hanya karena status senior-junior kita!” Ka’ Han tampak aga terkejut dengan reaksi-ku, lalu kami terdiam beberapa saat dan akhirnya Ka’ Han kembali berujar perlahan: “Menurut saya, sikapmu itu terasa agak..” Ka’ Han sempat terdiam sesaat, seperti sedang mencari kata yang tepat, lalu melanjutkan: “Menyegarkan.” dengan aura hijau muda segar yang menguar jelas.
Tak bisa menahan diri untuk kembali menggodanya, aku semakin mendekatkan posisi berdiri kami dan berkata: “Apakah Ka’ Han selalu mempesona seperti ini kepada semua orang atau hanya dengan saya ya?”
“Pasti hanya dengan-mu Ute..” Ka’ Han kini menyeringai dan melanjutkan kalimatnya: “Saya kan harus terus-menerus memastikan kalau kamu akan tetap berakting sebagai pacar tercinta-ku. Demi kebaikan Dina, kakak tersayang-mu, maka aku harus mengeluarkan sifat-sifat terbaik-ku..”
“Oh okey..” kataku sesaat kemudian, mungkin dengan pipi yang semakin memerah, karena panasnya bisa ku rasakan di pipi ini, seperti habis ditampar senior, tapi dengan cara yang menenangkan dan membuat nyaman, lalu menambahkan: “Terima kasih Kak..”
Ka’ Han kembali tergelak dalam tawa bahagianya dan kali ini aku ikut tersenyum.
“Jadi setelah memastikan Ka’ Dina-mu tersayang telah ada yang jaga, yang tak lain dan tak bukan Ka’ Pras-mu yang juga kamu sayangi, akan kemana lagi kita hari ini?” tanya Ka’ Han lagi setelah tawa-nya mereda.
“Pulang aja lah Kak, walau saya senang bisa menghibur dan menceriakan Kakak, tapi terasa males deh kalau jadi lelucon seseorang terus menerus..” kataku meneruskan gaya ngambek-ku yang tadi sempat berubah ceria.
“Maaf Ute cantik.. maaf banged, tapi janji saya ga akan mentertawakan-mu lagi.. jangan langsung pulang ya! Kita jalan-jalan saja dulu bagaimana? Pesiar kan masih lama.. masa mau langsung pulang?” dengan cepat Ka’ Han berkata sambil mengangkat kedua tangannya seakan menyerah dan sesaat kemudian menyatukan kedua telapak tangannya seperti memohon.
Aku hanya bisa tersenyum menanggapi permohonannya, sambil mendengarkan lagu yang mengalun lembut di pelataran mall ini, berjudul ‘Permission to Dance’ milik BTS: ‘Yeah, ‘Cause we don’t need permission to dance.’ batinku mengikuti lirik lagunya dan menikmati kenyamanan yang sudah tercipta di antara kami. (terjemahan: karena kita tidak perlu izin untuk ikut menari)
...***...
...~ PRAS ~...
Otak-ku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana cara agar dapat bisa lebih lagi mendekatkan diri ke seorang Dina yang semakin menjaga jarak dan menutup diri, selepas mengantar dirinya tadi.
__ADS_1
Sepertinya sosok dingin Dina semakin erat menyita perhatianku. Tak lagi penting apakah kami bisa ngobrol atau berdiam diri dengan pikiran masing-masing, aku hanya suka berada di sekitarnya, sesuatu tentang kehadiran Dina yang membuatku merasa damai.
Ingin rasanya terus menerus memandangi sosok itu dari belakang, namun langit seolah tiba-tiba terbuka lebar-lebar dan dalam kilau kilat yang berkelebat, sesaat aku melihat tolehan kepalanya dan seperti orang bodoh, hal itu membuat senyum-ku terurai lebar sambil membatin: ‘Masih ada harapan..’
Hanya dibutuhkan waktu sekitar 1 menit untuk membuat PDP (pakaian dinas pesiar) yang ku kenakan basah kuyup seluruhnya. Seharusnya aku berjalan menggigil dalam kedinginan menuju wisma-ku, suhu Jatinangor di waktu hujan relatif sangat tidak bersahabat bagi tubuh manusia, namun aku merasa penuh harapan sekarang.
‘Yah kalau memang cinta membodohkan, biarlah aku menikmati kebodohan ini..’ batinku kembali berkoar mendukung senyum bodoh yang tetap terpasang di wajahku walau berjalan di tengah hujan lebat ini.
Saat aku bersama Dina, walau dalam keheningan tanpa percakapan, aku selalu dapat merasakan sesuatu yang berbeda di dalam diriku, sensasi yang berdenyut dan bergetar, yang dalam kondisi normal seharusnya membuatku merasa ketakutan, karena ada perasaan sulit bernafas secara berkala.. namun gairah yang dominan terasa, semakin menguatkan tekadku untuk bisa memiliki perempuan bernama Dina ini.
Masih jelas dalam ingatanku, ketika Ka’ Han memproklamirkan Dina sebagai pacar-nya. Seolah bumi memang datar adanya dan sosok Dina menghilang, seakan terjatuh tepat di garis tepi-nya tanpa jejak sedikitpun. Rasa kecewa menguasai diriku untuk beberapa saat yang terasa menyiksa, beberapa kali ku paksakan diri untuk menyerah dan melupakannya.
Bukanlah ciri dari seorang laki-laki sejati bila masih menginginkan milik orang lain. Dan dalam beberapa hal memang aku sudah menyerah. Aku tidak lagi sesering dulu mengunjungi perpustakaan, demi untuk melihat keseriusannya ketika membaca di pojokan itu dan aku juga tidak lagi membanding-bandingan setiap Praja Perempuan yang berinteraksi dengan-ku dengan sosok seorang Dina. ‘Kalau Dina yang diperhadapkan pada situasi ini, pasti dia akan mengambil tindakan ini..’ sering batin-ku tanpa sadar berpikir demikian ketika ada seorang junior yang meminta saran atau pendapatku.
Namun, aku tetap tidak bisa mencegah diri ini untuk mencari-cari sosok Dina di tengah keramaian. Untuk beberapa saat kekecewaan itu memang terasa mengental, aku mungkin tidak lagi merasakan adanya desakan yang sama seperti sebelumnya, tetapi setiap kali berhadapan dengan segerombolan Madya Praja, aku mendapati diriku mengedarkan tatapan ini ke seluruh barisan-nya untuk mencari sosoknya dan ketika ia masuk dalam jangkauan mata-ku, tanpa sadar aku akan segera bergerak mendekat dan menajamkan pendengaranku agar dapat menangkap sedikit saja gema samar suaranya.
Dina mungkin sudah pernah menjadi milik Ka’ Han, namun ketika aku sudah bisa menerima kenyataan tersebut dan tidak seintens sebelumnya mengamati pergerakan Dina, tiba-tiba aku mendengar selentingan kabar bahwa mereka telah berpisah, tepatnya sesaat setelah pelaksanaan cuti akhir semester lalu.
Ka’ Han juga semakin tampak dekat dengan Ute (kabarnya mereka menghabiskan cuti yang lalu bersama di Jakarta) dan aku mendapati diri ini kembali berhadapan dengan seorang Dina dengan sosok yang dingin dan tertutup.
Maka aku tetap berharap dan berandai.. dan kembali mengamati dengan intens.
Sebagai anak yang walau hidup serba kekurangan secara materil, namun aku tumbuh dalam lingkup keluarga besar yang penuh dengan kasih sayang. Ayah dan Ibu adalah orang tua yang mendidik anak-anaknya untuk bangga kepada keluarga sendiri, bagaimana pun kondisi kami. Saling peduli adalah suatu hal yang secara alamiah selalu kami lakukan, seperti: bertukar kabar dengan intensitas yang relatif sering, memberikan tepukan di bahu untuk menyemangati, menghibur dan mendengarkan keluh kesah bahkan bertukar pelukan hangat. Kami juga dibiasakan untuk peka terhadap kebutuhan emosional orang lain. Tidak ada yang pernah dibiarkan sendiri dalam kesedihan.
Hal-hal ini tentu saja membangun karakter-ku. Aku percaya pada cinta sejati dan adalah sebuah kebodohan jika tidak memperjuangkannya ketika sudah menemukannya.
Cinta itu nyata.
Cinta bukanlah sekedar imajinasi para penyair yang mereka ciptakan dalam karya puisi untuk dijual agar dapat menghindari kelaparan.
Cinta mungkin tidak terlihat secara kasat mata, tidak termanifestasi nyata oleh indra penciuman, pendengaran, perasa maupun peraba manusia, namun dia ada dimana-mana. Namun tidak seperti udara yang dapat kita hirup bebas, cinta hanya menghampiri seseorang dalam kurun waktu tertentu dan biasanya tidak terduga kedatangannya. Jadi pada dasarnya, hanya soal waktu saja bagi setiap orang untuk dapat merasakan cinta.
Dan Dina-lah arti kata cinta buat-ku.
Aku pun tidak persis mengerti mengapa Dina, aku hanya yakin bahwa aku sudah menemukannya.. Dina adalah sesuatu yang begitu penting, bahkan sempat mengguncang duniaku dan dia telah mengubah hidupku.
Pada pertemuan pertama kami, hatiku langsung mengetahuinya.
Ketika sosoknya masuk dalam pandangan mata ini, aku membeku, tertegun. Udara seakan tidak mengalir sebagaimana seharusnya, seolah menghilang perlahan dan tidak bersisa. Aku hanya bisa berdiri memandanginya, merasa kosong dan menginginkannya.
Yang bisa ku pikirkan kala melihat lesung pipi di senyumnya yang samar namun lembut, hanya: ‘aku adalah miliknya’. Tidak ada lagi tempat bagi perempuan lain di hati ini. Gelora dan luapan perasaan yang membuncah dahsyat, untuk pertama kalinya ku rasakan. Berdiri hanya beberapa meter dari sosok-nya, aku merasa terengah, takjub dan entah bagaimana puas, karena bisa menemukannya. Belahan jiwa yang karenanya aku baru bisa merasa utuh.
...***...
Ketika aku melihat Dina dalam berbagai kesempatan yang tidak disengaja ataupun direncanakan sebelumnya, seperti berpapasan di pintu gedung Menza, atau di halaman gedung perpustakaan, di ruang Sekretariat WBP atau dimanapun, dada ini pasti akan tersentak, namun senyum pasti tidak dapat ku tahan untuk merekah tanpa ku sadari. Rasanya menyenangkan bisa berjumpa dengannya.
Sesaat, Dina akan menunjukkan sikap tidak tahu harus melakukan atau mengatakan apa-apa, terlihat jelas keraguannya, yang seiring waktu ku perhatikan aga berkurang intensitasnya.. lalu kemudian dia pasti akan tersenyum juga, mungkin karena tertular senyum-ku dan memberikan salam serta PPM, sebagaimana junior kepada senior, namun dengan sebongkah rasa akrab yang tidak bisa tidak kami rasakan.
Seperti sore ini di ruang pertemuan Wapa Manggala, yang sayangnya terpaksa ku hadiri terlambat karena sempat tertahan oleh keperluan seorang dosen, yang membutuhkan pertolonganku. Pertemuan telah berakhir karena hanya beberapa orang Praja yang tersisa di ruangan dan masing-masing sibuk dengan urusannya, tidak ada yang memperhatikan kehadiranku.
“Selamat sore Dina..” kataku memberikan salam sambil mendekati bagian belakang sosoknya yang sedang sibuk membereskan meja dari sisa-sisa panganan dan gelas kertas minuman yang mungkin disajikan kepada para peserta pertemuan.
Dina membalikkan badannya dan seperti biasa tampak ragu untuk bersikap sesaat dan akhirnya memperlihatkan sedikit senyum berlesung pipi miliknya serta berkata: “Selamat sore juga Ka’ Pras..” lalu menyodorkan segelas kopi dalam cangkir kertas kepada-ku.
“Untuk dibuang?” gumamku: “Atau untuk saya minum?”
Senyum Dina tampak menghangat, sehangat kopi di terasa suam-suam kuku di telapak tanganku.
“Terserah Kakak, walaupun saya harus memperingatkan Ka’ Pras, kalau kopinya sudah aga dingin dan sejujurnya terasa aga asam.” jawabnya.
“Dina sudah mencobanya kalau begitu ya?” tanyaku menggodanya. Dina menjawab dengan menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V, mengindikasikan ia sudah minum 2 gelas namun dengan sikap terpaksa.
Lalu kecanggungan itu seakan menguap.. lenyap tak bersisa.. aku merasakan sikap penerimaan dari seorang Dina yang bersahabat kembali dan seakan semua dapat berjalan lancar.
...***...
Di beberapa malam ketika mengikuti kegiatan rutin (namun tidak bersifat wajib) di Masjid Darul Ma’arif Jatinangor, seperti acara pengajian bersama setiap hari Ahad pagi, Selasa dan Kamis malam, yang tentu saja melibatkan sejumlah Praja Muslim, kami seringkali tidak sengaja bisa berjalan pulang berpapasan. Karena sama-sama menuju Wisma yang jaraknya tidak terlalu jauh, maka kami pun seringkali berjalan sama.
Suatu malam, kami sempat berbicang mengenai keluarga-ku yang besar dan unik.
Dina merasa aku terlalu percaya diri ketika ku katakan bahwa seluruh keluarga ku teramat sangat menyayangiku dan bahwa aku di mata adik-adik-ku adalah seorang teladan yang sangat mereka banggakan. Dan ku katakan, sambil bercanda, bahwa kepercayaan diri-ku tersebut adalah salah satu kualitas terbaik dari diri ini.
“Menurut siapa?” tanya-nya sambil memicingkan mata, tanpa ragu menunjukan sikap skeptis-nya.
“Yah, Dina bisa tanya sama Ibu saya!” jawabku mencoba merendah yang dibuat-buat.
Dina tiba-tiba tertawa dan karena menyadari banyak Praja lain yang menolehkan wajah ke arah kami yang masih di jalanan, ia pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mencoba meredakan rasa geli yang ia rasakan.
Lalu karena belum puas mendengar tawanya, aku pun menambahkan lagi: “Aga mengherankan kalau dipikir-pikir, ketika beberapa adik perempuan-ku merasakan.. yang sebaliknya.”
“Mungkin mereka pernah Ka’ Pras siksa tanpa sadar?” tanya Dina lagi dengan wajah penasaran.
“Saya menyiksa mereka bukan karena saya kejam atau karena saya menyukai-nya.” kataku mencoba membela diri, “Saya harus melakukannya karena hal tersebut perlu dilakukan!”
“Perlu untuk siapa?” tanya Dina lagi.
“Demi kebaikan seluruh dunia!” jawabku enteng dan cepat.
Lalu Dina kembali menolehkan wajah manisnya ke arah-ku dengan raut skeptis dan berkata: “Tidak mungkin mereka seburuk itu..”
“Kamu belum pernah bertemu mereka, jadi sulit menggambarkannya dengan gamblang supaya kamu bisa mengerti seperti apa mereka sesungguhnya. Namun sepertinya ibuku juga menyukai mereka, walaupun hal tersebut juga aga membingungkanku..” kataku lagi yang membuat tawa Dina kembali mengudara, suaranya sangat indah, kata yang subyektif memang, namun entah bagaimana terasa pas untuk menggambarkannya. Tawa Dina seakan berasal dari dalam hatinya, terasa hangat, penuh ketulusan, menular dan membuatku ketagihan.
Lalu tiba-tiba sikapnya kembali serius ketika berkata: “Ka’ Pras mungkin senang menyiksa adik-adik Ka’ Pras, namun saya berani mempertaruhkan seluruh tabungan saya, kalau Ka’ Pras pasti bersedia tanpa berpikir untuk mengorbankan hidup Ka’ Pras demi kebahagiaan mereka.”
Aku menghentikan langkah kaki ini, pura-pura berpikir aga lama seakan mempertimbangkan kebenaran dalam kalimatnya tersebut, lalu menjawab: “Memang ada berapa tabungan-mu?”
“Ka’ Pras menghindari mengkonfirmasi pernyataan-ku dengan cara yang sangat memalukan.. hahaha...” kembali tawanya mengisi kebutuhanku.
“Tentu saja saya akan melakukan apa saja untuk mengupayakan kebahagian mereka Dina.. Mereka adalah adik-adik saya, kepunyaan saya untuk disiksa dan dilindungi. Tidak ada yang boleh membuat mereka merasa menderita selain diri ini..” kini tawaku yang membahana, menyusul pernyataan nyeleneh itu dan kami pun kembali tertawa bersama.
__ADS_1
...***...