HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 28 (bagian 4) Berjanji (H., I., D. & Pras)


__ADS_3

...~ PRAS ~...


Sudah berhari-hari tidak bertemu dengan kekasih hati, perasaan merindu ini semakin membuncah. Entah mengapa Dina seakan menghindari tempat-tempat yang biasanya kami bisa bertemu tanpa janjian. Bahkan Dina sempat beberapa kali menolak bertemu dan hanya membalas wa seadanya saja, tidak semenyenangkan biasanya.


Hasil konsultasi dengan beberapa teman yang lebih “pakar” dalam berpacaran sesama praja, ada 3 penyebab utama hal ini bisa terjadi dalam suatu hubungan, antara lain: yang pertama adalah kebosanan, tanda-tanda kalau suatu hubungan akan segera berakhir, yang kedua, bahwa ada kesalahan yang prinsipil yang telah dilakukan salah satu pihak yang mana harus diselesaikan dengan permintaan maaf yang tulus dari pihak yang bersalah dan yang ketiga adalah adanya hasrat terpendam yang coba ditutupi dari salah satu pihak terkait dengan hubungan tersebut.


Setelah aku renungkan, sepertinya hubungan aku dan Dina yang baru saja terjalin tidak mungkin semudah itu akan berakhir. Walau hati ini sempat juga meragu, karena hubungan Dina sebelumnya dengan Ka’Han juga relatif sangat singkat, bahkan dengan cepat Dina juga bisa menerima cintaku. Mau tidak mau, hati ini sedikit meragu.


Kalau soal kesalahan, sepertinya tidak ada yang hal aneh yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Terakhir kami bersama kami masih mesra dan bahkan Dina membiarkan bibirnya ku cium mesra di belakang rumah Ian. Kesempatan yang jarang bisa terjadi dan selalu terkenang setiap kali mata ini terpejam. Rasa bibir Dina seakan masih membekas abadi di bibirku ini, seperti candu. Atau mungkin ciuman itu yang membuat Dina marah kepadaku? Mungkin aku dinilai telah sedikit kurang ajar kepadanya? Entahlah.. karena perasaanku mengatakan kalau Dina juga menikmati kemesraan kami itu.


Terkait dengan hasrat terpendam yang coba ditutupi, seharusnya ini aku yang paling merasakannya. Sebagai laki-laki normal, aku selalu berusaha mengekang diri ini dari menyentuh dan memuaskan hasratku terhadap Dina. Aku ingin menghormatinya dengan sepenuh diri ini. Di sisi lain, seorang Dina yang pemalu dan selalu bersikap sopan rasa-rasanya tidak mungkin memiliki hasrat terpendam yang coba ditutupi.. iya kan?


Semakin dipikir, semakin pusing kepala ini. Mau memperjelas ke Dina juga sulit sekali karena keberadaannya yang entah bagaimana bisa menghilang dari peredaran mata ini.


...***...


Dan akhirnya kesempatan itu datang.


Setelah beberapa saat aku berdiri di depan Masjid Darul Ma’arif yang ada di dalam Ksatrian ini, sosok manis berlesung pipi yang sangat ku rindukan itu terlihat keluar bersama beberapa orang teman seangkatannya.


“Kenapa ya beberapa waktu ini susah sekali bertemu kamu ya Dina?” tanyaku menghadang langkahnya yang sepertinya bergegas akan masuk dalam barisan Madya di depan Masjid.


Aku merentangkan tangan sambil memandangi wajah halus Dina yang memerah dengan lesung pipi menggemaskannya. Dina sempat melihat ke arahku sekilas dan ke arah barisan teman-temannya yang mulai berjalan menjauh, namun ia segera menunduk kembali dengan wajah yang semakin memerah.


Setelah terdiam sesaat, ia berkata lirih: “Enggak kenapa-kenapa sepertinya Kak, hanya mungkin belum waktunya saja kita ketemu.”


“Nah sekarang kita sudah ketemu, apa boleh kita ngobrol dulu sebentar saja?” mohonku akhirnya. Sebenarnya penuh rasa rindu dan keinginan untuk mengecup pipi dan bibirnya yang semakin terlihat merona dan menggemaskan.


Dina kembali melihat ke wajahku sekilas dan memandang ke arah Balairung yang mulai temaram karena hari memang sudah lewat dari sore menjelang malam, lalu berkata lirih: “Hm.. boleh Kak, mungkin di situ saja?”


Aku pun mengangguk mengiyakan dan berjalan ke arah yang Dina tunjuk, namun setelah beberapa langkah sosoknya tidak juga menempatkan dirinya di sampingku, aku menoleh dan kembali melihat Dina memandangi tubuhku dan seakan terkaget melihat pandanganku, dia berjalan cepat mendahului ke arah Balairung.


Tanpa sadar, aku menggelengkan kepala tidak mengerti dengan sikap dan tindakannya, yang seakan sedang keperegok melakukan kesalahan yang aku tidak ketahui dan mengerti. Sambil menghalau pikiran-pikiran negatif, aku mempercepat langkah untuk bisa berjalan di sisinya.

__ADS_1


Kami pun akhirnya duduk di selasar Balairung membelakangi Masjid.


Sama-sama terdiam beberapa saat dan karena tidak bisa menahan diri aku akhirnya berkata dengan hati-hati: “Dina.. hubungan kita ini ga akan berjalan dengan baik kalau tidak ada keterbukaan diantara kita.” Wajah Dina ku perhatikan kembali memerah dan dalam hati aku kembali khawatir dengan reaksinya.


“Saya bukan pembaca pikiran dan kamu pun saya rasa juga demikian. Kalau memang ada kesalahan yang saya perbuat, tolong dikasih tau aja salah saya apa, supaya saya bisa memperbaikinya. Terus terang saya bingung dan tolong jangan biarkan saya semakin tenggelam dalam ketidak-mengertian ini!” selembut mungkin aku berkata khawatir akan menyinggung perasaannya yang halus dan sensitif itu.


“Dina, tolonglah katakan sesuatu..” pintaku lagi dengan nada yang semakin memelas.


“Maaf Ka’Pras.. Dina malu..” jawabnya perlahan sesaat kemudian.


Ada rasa marah yang melintas di diri ini. Tanpa sadar aku mengepalkan buku-buku jari yang sekilas dilihat Dina dengan tatapan khawatir. Lalu aku kembali memberanikan diri bertanya: “Kamu malu sama hubungan kita Dina? Atau malu jadi pasangan saya? Memang saya tidak sekeren Ka’Han atau sekaya Ian ataupun Ute, tapi...” kalimat yang akan kuucapkan terpotong dengan tangan Dina yang terjulur menutupi mulutku.


Dengan cepat Dina kembali menarik kedua tangannya dan berkata: “Saya malu ketemu Ka’Pras.. malu sama diri sendiri.. di malam pertemuan kita yang terakhir, saya mimpi aneh Kak..” pelan kalimat itu keluar dari mulutnya sambil kembali menunduk menyembunyikan wajah manis dengan lesung pipi yang menggemaskan miliknya.


“Mimpi aneh apa Din?” tanyaku tidak mengerti.


Dina hanya diam dan semakin menundukkan wajahnya malu sambil meremas mukena yang sempat tadi dijatuhkan tanpa sengaja ketika akan menutup mulutku.


“Ayolah cerita saja, kamu ga usah malu. Aku akan bisa mengerti selama kamu kasih pengertian Dina sayang..” bujukku lagi sambil menggenggam kedua tangannya dengan berani.


Tiba-tiba seberkas cahaya menerangi pikiranku dan tanpa bisa dicegah aku menarik tangannya ke arah ruangan samping Balairung yang sepi.


Setelah mengecek tidak ada mata yang memperhatikan kami, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya yang tidak lagi bisa mundur karena bagian belakang kepalanya sudah menempel ke tembok dan aku mencium bibirnya.


Tanpa dikomando, tangan kananku membelai rambutnya dan berhenti di belakang lehernya, tangan kiriku pun tidak mau kalah, bergerak ke pinggangnya yang langsing dan menariknya, membuat tubuh kami berdua semakin mendekat, melekat erat, bibir kami pun lengket dalam ciuman yang dalam. Aku ******* bibirnya dengan intensitas yang tidak terbendung, mencoba memuaskan dahaga yang tertahan sekian waktu ini.


“Seperti inikah mimpimu Dina?” tanyaku terengah, memperhatikan kedua kelopak mata Dina yang kini sudah terpejam rapat dan nafasnya yang juga tidak kalah cepat.


Dina hanya mengangguk lemah dan aku kembali menghirup aroma memabukkan dari lehernya yang kini jadi sasaran kecupanku.


Merasa terhalangi, tanganku berinisiatif membuka kancing atas PDH Dina, memperlihatkan dua bukit indah yang menyembul malu-malu tertutup pakaian dalamnya. Sebuah pemandangan yang rasa-rasanya tidak cukup jika hanya digambarkan sebagai sebuah keindahan yang hakiki. Bibirku tidak kuasa menahan tarikan dahsyat ke arah kedua bukit itu. Merasakan kehalusan dan kekenyalan tekstur ciptaan Tuhan yang memabukkan lebih dari zat adiktif manapun.


Tangan Dina yang awalnya berada di dadaku, seakan untuk mencoba menahan tekanan badanku, sudah bergeser ke pinggangku, menarik kemeja PDH-ku keluar dari celana dan meraba otot punggungku dengan malu-malu semakin turun ke bawah. Tanganku pun semakin liar mencoba membuka keseluruhan kancing PDH-nya dan kulit mulusnya semakin meremang akibat sentuhan-sentuhanku.

__ADS_1


Lalu suara derap langkah kaki itu menyadarkan kegilaan kami berdua.


Sepertinya ada rombongan Muda Praja yang akan berlatih malam ini menggunakan Balairung.


Kami sama-sama menjauh dan memperbaiki penampilan kami masing-masing. Dengan tergesa Dina mengancing kemeja PDH-nya dan aku pun memasukkan kembali bagian bawah kemeja ke dalam celana PDH-ku. Kami sama-sama memperhatikan kerapihan satu sama lain dengan penuh senyuman dan tanganku pun terjulur merapikan rambutnya yang sepertinya tanpa sadar sempat ku remas di tengah kegilaan kami.


Lalu kami berjalan ke luar dari ruangan samping berbarengan, kembali duduk di selasar samping, tempat kami duduk sebelumnya sambil menahan senyum bahagia kami. Tidak lupa kami mengangguk kepada beberapa adik yang melintas di depan kami dan memberikan PPM.


“Ka’Pras, sepertinya kita tidak boleh terlalu sering bertemu.” Ujar Dina mengagetkanku sesaat kemudian.


“Kenapa?” tanyaku spontan, kembali dikejutkan dengan cara berpikirnya.


“Karena ketertarikan fisik kita terlalu besar Kak. Saya ga mau kegilaan seperti tadi terjadi lagi di Ksatrian ini. Bagaimana kalau sampai ada yang lihat? Lebih parahnya kalau ada Pengasuh yang memeregoki kita? Kita bisa sama-sama dikeluarkan Kak..” jawab Dina dengan wajah khawatir namun tetap sumringah, semburat merah terlihat di atas lesung pipinya yang merekah indah.


Entah bagaimana, Dina semakin terlihat cantik setiap kali aku memandang wajahnya.


“Jadi kita harus sering-sering pesiar bareng dunks ya.. kalau kurang vitamin cium dari kamu, bisa tidak bahagia diri ini. Apalah gunanya hidup kalau tidak lagi bisa merasa bahagia?” kataku lagi dengan kerlingan mata, menggodanya.


“Ish apaan seh Ka'Pras inih.. Tapi beneran kita harus mulai berhemat Kak. Saya mau kita bisa bersama-sama saling mengunjungi keluarga kita di Cuti Kenaikan Tingkat atau Cuti Akhir Tahun. Saya ga mau hubungan kita ini hanya sebatas gerbang PKD Kak. Ka'Pras harus bertanggung jawab untuk semua yang sudah kita lakukan.” Dina kembali berujar dengan tegas namun sedikit malu-malu.


“Saya juga maunya begitu Dina. Tapi kan pesiar bareng ga harus boros juga. Kalau kita ga bisa bermesraan di Ksatrian, ya kita harus cari tempat di luar untuk melakukannya kan? Seperti di rumah Ian misalnya?” kataku tetap tidak mau lama-lama tidak ketemu dan bermesraan dengan Dina.


“Apaan seh Ka’Pras neh? Kog jadi laki-laki mesum sekarang ini? Yang dipikirin cuma bermesraannya ajah?” tanya Dina sambil mencubit pinggangku gemas.


“Nah, sekarang kamu yang harus bertanggung jawab Dina. Saya begini tuh gegara kamu dan saya kan mesumnya cuma sama kamu aja Dina, boleh dunks ya sayang?” tanyaku lagi menggodanya, merasa sangat bahagia memperhatikan wajahnya yang kembali bersemu merah, sampai sempat berharap waktu dapat terhenti di saat ini.


Namun hidup memang terus berjalan. Kita yang hidup ya harus terus menjalaninya dengan baik.


“Ngomong-ngomong soal berhemat, kalau Ka’Pras ada waktu lenggang, boleh tuh ikutan Dina ngajar privat anak-anak dosen, soalnya Dina juga mulai kewalahan karena semakin banyak yang bergabung. Suka ga kepegang dan kepantau perkembangannya semua pada akhirnya.” Dina kembali berkata, mungkin mencoba mengalihkan arah pembicaraan kami.


“Boleh juga tuh Dina, nanti kita janjian ya, ngajarnya harus bareng, soalnya saya ga mau kalau ga ada kamu di situ. Kamu itu penyemangat hidupku Dina. Jangan pernah berpikir untuk menjauh apalagi malu sama saya ya Dina!” tegasku kemudian.


Malam itu kami berpisah dengan senyum bahagia dan sepenggal janji untuk berhemat dan bekerja keras demi masa depan bersama.

__ADS_1


...***...


__ADS_2