HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)

HIDUP (Han, Ian, Dina, Ute & Pras)
Ep. 26 (Bagian 3) Double Date (D., U. & Pras)


__ADS_3

...~ PRAS ~...


Pagi yang kunanti akhirnya datang juga.


Bisa pesiar pertama kalinya bersama kekasih hati yang statusnya jelas sebagai pacarku.


Aku menunggunya di gerbang PKD depan. Ketika melihat sosok Dina di batas terluar pengelihatanku, aku seperti mengalami dejavu. Tubuh langsingnya berjalan perlahan sendirian dari arah koperasi. Mungkin dia sempat mampir ke perpustakaan dulu, tempat kesukaannya ketika perlu berkontemplasi alias menyendiri. Dina tersenyum manis memperlihatkan kedua lesung pipi yang menggemaskan itu. Lalu memberikan PPM dan salam: “Selamat pagi Kak..” ketika sudah di hadapanku.


“Duduk dulu Dina.. Kita sepertinya masih harus menunggu Ute, sepertinya sebentar lagi baru selesai apel pelepasan pesiarnya..” kataku menunjukkan sebuah bangku yang memang telah kupersiapkan untuk dia duduki jika kami harus menunggu.


“Iyah Kak, tadi setelah mengembalikan buku perpus, sekilas saya lihat Muda Praja memang masih diambil Apel oleh jajaran Komando di Plaza Bawah.” jawab Dina mengkonfirmasi tebakanku kalau Dina memang menyempatkan dirinya ke gedung favoritnya di seantero Ksatrian ini.


“Oh begitu, tadi saya juga sempet lihat sekilas Ka’Han sedang memarkirkan mobil rental-nya di parkir depan Ksatrian dan dia tampak dengan tenang menunggu di dalam mobil saat ini.” kataku menimpali informasinya tadi. Dina ku perhatikan tampak sedikit terkejut namun tetap memasang wajah datar seakan tidak peduli dan mengangguk seakan mendengar berita tentang cuaca yang baik-baik saja.


Percakapan kami memang terdengar hambar dan mungkin sedikit aga kaku, namun jika ada yang sempat memperhatikan cara pandang kami yang intens dan penuh kerinduan, pasti semua bisa menebak hubungan apa yang sedang kami jalin dan betapa besarnya kerinduan yang kami rasakan satu sama lain. Dengan Dina, rasa “klik” itu tepat adanya. Tidak ada rasa janggal atau mengganjal yang membuatnya perlu diganti. Kehadirannya di hidup ini terasa pas dan memang sudah seharusnya. Seperti udara yang dihirup atau air yang perlu diminum jika mau tetap hidup.


Kesederhanaan yang penuh dengan kesegaran, walau terkadang bisa terselimuti dengan kesedihan juga, tapi justru semakin membangkitkan jiwa kesatria dalam diri ini untuk melindungi dan membuatnya merasa senang kembali. Seakan aku rela untuk melakukan apapun agar bisa melihat senyum bahagianya itu merekah. Itu kesan mendalamku terhadap sosoknya yang seringkali menguasai mimpi malamku.


“Wow.. saya silau neh sama kemesraan kalian!” seruan suara bariton itu membuyarkan tatapan mata kami berdua yang sempat terkunci beberapa saat.


“Eh Ka’Han, selamat pagi..” ujarku dan Dina (yang terlihat berdiri karena terkejut) hampir bersamaan sambil memberikan PPM.


“Ini masih belum selesai juga apel-nya Muda?” tanya Ka’Han yang terlihat tidak sabar seakan mengabaikan salam dari kami dan memperhatikan jam tangan branded di pergelangan tangannya.


Semua yang dipergunakan Ka’Han memang terlihat mewah dan necis, semakin mempertegas kegagahan tubuh besarnya. Tapi aku tidak iri kepadanya, karena pujaan hatiku, yang sempat terbajak oleh Ka’Han, kini sudah ada dalam genggamanku, walau saat ini masih tangannya yang bisa ku genggam.


“Mungkin sebentar lagi Kak.. Btw, rencananya kita akan kemana hari ini Kak?” tanyaku kemudian mencoba mengalihkan kegusarannya dalam hal menunggu.

__ADS_1


“Saya seh terserah Ute aja. Saya ngikut kemanapun dia mau pergi. Kalau kalian punya keinginan apa?” jawab Ka’Han dengan pertanyaan berikutnya. Dengan lirikan sekilas dan anggukan santai, dia memerintahkan Dina untuk kembali duduk dan menjawab pertanyaannya tersebut.


Walau sempat terlihat memutar matanya, seperti tidak mengerti arah pembicaraan Ka’Han, Dina menurut untuk kembali duduk namun memposisikan diri lebih mendekat ke arah aku berdiri, yang membuatku tidak bisa menahan diri untuk tersenyum senang.


“Udah mulai bucin ya Kak?” tanya Dina tiba-tiba.


Wajah Ka’Han aga sedikit terkejut, namun dengan pipi yang aga memerah, dia memicingkan mata dan bertanya: “Kenapa Dina, mulai menyesal?”


“Sejujurnya iya Kak..” jawab Dina perlahan yang membuat Ka’Han dan aku terkejut. Aku mungkin akan tersedak jika sedang dalam posisi minum.


Namun beberapa detik kemudian Dina kembali berujar: “Menyesal kenapa kita harus memaksakan diri untuk jadian. Buang-buang waktu dan energi saja..” yang membuatku tertawa terbahak-bahak. Ku perhatikan Ka’Han pun tersenyum geli pada akhirnya.


“Hebat kamu Pras.. bisa mengeluarkan sisi kocak dari seorang Dina yang biasanya pakar membekukan seantero dunia.” ujar Ka’Han kemudian sambil menepuk bahuku.


“Ish, yang hebat siapa, yang dipuji siapa.. Ka’Han bersikap adil lah sesekali! Jangan sampai Ute juga merasakan penyesalan yang sama loh..” ujar Dina lagi yang sesaat membuat kami terdiam saling berpandangan, namun sesaat kemudian kami bertiga terbahak-bahak, emrasakan geli akibat ironi yang terkandung dalam lelucon Dina tadi.


“Widih senang banged ya Kakak-kakak ini, sampai lupa ada adik-nya yang tersiksa berdiri lama di apel pagi?” suara cempreng Ute dari kejauhan mengalihkan perhatian kami dan ketika sosoknya mendekat lalu memberikan PPM, kami melihat Dina menggandeng tangan Ute cepat dan mengarahkannya berjalan ke mobil rentalan Ka’Han. Ia tampak membisikkan sesuatu ke telinga Ute, namun aku tidak bisa mendengar isi bisikan tersebut, dalam hati berjanji untuk menanyakan ke Dina kalau ada kesempatan.


“Baik Ratu-ku, akan kemanakah kita hari ini?” tanya Ka’Han melirik Ute melalui kaca spion tengah.


“Ke arah BIP saja Kak.. saya sudah beli tiket yang jam 12 nanti, kalau sempet kita ngopi-ngopi cantik dulu di caffe baru ke bioskopnya ya!” kembali nada ngebossy junior terendah itu terdengar dan kami hanya mengikutinya.


Dari bangku depan ini, aku dan Ka’Han mencoba mendengarkan percakapan mereka yang banyak diselingi dengan cekikikan geli. Namun tetap tidak terdengar apa yang sedang mereka bahas, hanya sesekali Dina berujar “Apa?”, “Ya ampun..” atau “Masa seh?”, sampai akhirnya suara cempreng Ute kembali bertanya: “Ini musiknya mobil lagi di-mute ya Ka’Han? Ga bisa cari lagu enak kah Ka’Pras?”


Maka dengan perasaan sedikit mangkel (bukan karena diperintah oleh junior cantik, yang sudah kuanggap sebagai adik sendiri, tetapi karena kini benar-benar kehilangan kesempatan untuk mengetahui pembicaraan perempuan) aku menghidupkan radio mobil dan mencari frekuensi yang mengudarakan lagu-lagu pop.


Lagu Katy Perry berjudul Unconditionally mengalun beberapa saat kemudian. Ute dan Dina masih dengan bisikan dan cekikikan khas mereka, sementara aku dan Ka’Han tetap dalam diam menikmati dan mengaminkan lirik lagu tersebut yang seakan bisa menggambarkan rasa cinta kami pada kedua gadis yang duduk di bangku belakang kami. Cinta yang tanpa syarat dan berharap kekasih kami itu mau membuka hatinya untuk menerima kami apa adanya seperti kami yang telah menerima mereka apa adanya.

__ADS_1


***


Sesampainya kami di BIP, kami langsung ke Bioskop dan menukarkan tiket M-tix kami melalui konter yang tersedia. Karena masih ada waktu sekitar 1½ jam sebelum film yang akan kami tonton ditayangkan, kami pun memutuskan untuk mengikuti saran Ute untuk “ngopi-ngopi cantik” di caffe terdekat.


Ka’Han memaksa membayarkan semua tagihan kami dengan syarat Ute duduk di sebelahnya dan menghentikan pembicaraan perempuan dengan Dina dan mulai fokus pada pasangan masing-masing.


Ute tampak akan memprotes, tapi Dina terlihat mencubit pinggang Ute perlahan dan dengan raut terpaksa yang tidak bisa ia sembunyikan, Ute akhirnya menyetujui syarat tersebut.


Sesaat kemudian kami telah duduk di depan sebuah meja bundar kecil yang terlihat kepenuhan menampung minuman dan panganan pesanan kami. Ka’Han dengan kopi hitam panas dan Sumatra Chocolate Eclair-nya, Ute dengan Huzelnut-Cappucino dan New York Cheesecake-nya, Dina dengan Espresso Aficionado dan Blue Velvet roll Cake-nya dan aku dengan Hot-Latte dan Peanut Butter Panini yang sederhana.


Ute dan Ka’Han tampak duduk berdekatan, karena Ka’Han memang sempat menarik kursi yang Ute duduki untuk menempel dengan kursi yang dia duduki. Lalu tanpa canggung ia berbisik di telinga Ute, yang membuat semburat merah merebak di wajah cantiknya Ute, lalu dengan terampil tangan Ka’Han merangkul bahu Ute sambil sesekali membelai pangkal lengan atasnya, hampir tanpa sadar mempertontonkan kemesraan yang membuat iri setiap mata yang memandang, tidak terkecuali mataku.


Ku perhatikan Dina yang masih berjarak duduknya denganku. Kedua tangannya seseringkali berada di posisi tengah badannya atau sesekali terulur hanya untuk meraih minuman atau makanan yang ia pesan, membuatku aga canggung karena akan terkesan memaksakan diri kalau tiba-tiba meraih telapak tangannya.


“Jadi sebenarnya sudah berapa lama Ka’Han dan Ute jadian?” tanyaku akhirnya, menarik kembali perhatian keduanya untuk mengurangi sedkit saja kadar kemesraan itu.


“Hm.. kapan seh tepatnya kita jadian ‘te?” tanya Ka’Han lagi sambil memandangi Ute dengan pandangan intens khas-nya.


“Hm, kapan ya Ka’Han? Aku kog juga ga inget ya?” jawab Ute setelah terdiam sejenak berpikir, lalu tanpa canggung seperti akan menyuapkan sepotong Cheesecake-nya ke mulut Ka’Han namun ternyata melahap sendiri kue tersebut dan berujar: “Enak kan?” yang ditanggapi Ka’Han dengan senyum geli pasrah dan semburat merah rasa malu karena sempat membuka mulut untuk menerima suapan hoax dari Ute. Lalu dengan penuh kasih sayang membersihkan ujung bibir Ute yang sempat ternoda cream.


“Kalian ini aneh deh. Sama-sama ga tau kapan jadian tapi udah mesra-mesraan seakan dunia ini memang tercipta sebagai tempat kalian melabuhkan kasih asrama..” Dina akhirnya berujar dan aku tidak dapat menahan diri untuk mengoreksinya: “Kasih asmara barangkali maksud kamu Din?”


“Memang tadi saya bilang apa Kak?” kata Dina lucu langsung menatap tajam ke arahku.


“Kasih Asrama..” jawabku spontan tanpa berpikir.


“Kan tadi saya sedang berbicara tentang tempat berlabuh ya, pasti keterangan tempat kan? Yang merupakan tempat itu asmara atau asrama Kak?” tanya Dina lagi dengan lebih bersemangat.

__ADS_1


Kami berempat sempat terdiam, lalu sesaat kemudian kembali tertawa terbahak-bahak, menyadari bahwa yang dibahas ternyata bukan inti dari percakapan, tetapi bahasan kata sepele yang secara sengaja telah diplesetkan Dina.


...***...


__ADS_2