
...~ DINA ~...
Pengalaman indah yang tidak akan terlupakan.
Di bioskop tadi Ka’Pras sempat menggenggam erat tangan kiriku. Kami berpegangan tangan sepanjang film namun ketika ada adegan berciuman di layar, Ka’Pras mendekatkan wajahnya dan memegang daguku lalu kami berciuman lembut. Lalu dia berkata: “Bolehkan kita berciuman setiap kali ada adegan berciuman di depan mata!” itu bukan pertanyaan tapi pernyataan, ia sedang menunjukkan kepemilikannya terhadapku, yang mana ku rasakan sebagai tindakan manis-nya.
‘Aduh bisa diabetes ini kalau terlalu sering merasakan kemanisan ini..’ batinku saat itu.
Ciuman Ka’Pras yang lembut dan menenangkan, sangat jauh berbeda dengan ciuman Ka’Han yang menggebu-gebu dan sedikit kasar. Tanpa sadar aku membandingkan cara kedua senior itu berciuman.
Tidak bisa ku pungkiri, aku lebih menyukai ciuman Ka’Pras. Terasa lebih cocok dan nyaman saja di bibirku. Membuatku ingin merasakan dan merindukannya setelah beberapa saat terurai. Menggiring keinginanku untuk merasakan lagi dan lagi.
‘Aish, apakah ciuman Ka’Pras mengandung zat adiktif?’ batinku gusar.
Saat memikirkan betapa nikmatnya rasa ciuman Ka’Pras, aku semakin yakin kalau aku tidak pernah benar-benar mencintai Ka’Han.
Ciuman Ka’Han tidak pernah membuat diriku begitu terhanyut seperti ketika Ka’Pras mencium lembut bibirku.
Saat ini, masih terbilang masa awal hubunganku dengan Ka’Pras, tapi secara naluriah aku tahu bahwa setiap sentuhan lembutnya di kulit ini terasa sangat luar biasa.
Lalu ketika tayangan film telah berakhir, secara alami kami bergandengan tangan keluar dari ruangan bioskop dan dengan sangat memalukan terciduk mata seorang Ian. Haish..
“Selamat sore Ka’Pras dan Ka’Dina..” sapa Ian sambil memberi PPM dan cengiran nakal.
Dengan terkejut aku melepas paksa gandengan tangan Ka’Pras untuk membalas salam Ian: “Selamat sore Ian, kamu mau nonton film?” tanyaku berbasa-basi.
“Enggak Kak, saya cuma mau nonton Kakak berdua lagi pacaran ajah..” jawaban Ian itu kembali membuat panas wajah ini.
“Pasti kamu sudah bertemu dengan Ka’Han dan Ute kan?” tanya Ka’Pras di sampingku, sepertinya untuk meredakan rasa malu yang ku rasakan. Ka’Pras bertanya sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Ka’Han dan Ute di arah belakang sosok Ian.
“Salut untuk Ka’Pras yang paling memahami saya..” ujar Ian melucu, sepertinya belum puas menggodaku dengan pertanyaan lanjutan: “Bagus Kak film yang Kakak tonton barusan? Atau ga sempet nonton karena sibuk bikin film sendiri?”
“Apaan seh Ian, berani ya ngeledekin seniornya?” ujarku dengan rasa malu dan panas yang bahkan sudah menjalar sampai ke telingaku.
“Wah sepertinya tebakan kedua saya yang benar ya?” goda Ian lagi, semakin mendekatkan dirinya ke arahku.
“Sudahlah Ian, ngerjain senior juga ada batasnya lah!” akhirnya Ka’Pras berujar dan merangkul bahuku yang tanpa sadar membuatku menyembunyikan wajahku yang terasa semakin panas ke lekuk bahu Ka’Pras.
“Ka’Dina kenapa?” lalu tiba-tiba aku mendengar suara Ute bertanya.
“Malu karena ke-gap lagi mesra-mesraan sama Ka’Pras..” jawab Ian enteng.
__ADS_1
“Hei junior.. Kamu kog seneng banged seh gangguin orang pacaran?” tanya Ka’Han menarik tangan Ute menjauh dari sosok Ian yang masih cengengesan.
Lalu Ian berujar: “Susah neh kalau pergaulan sudah bawa-bawa senior-junior.. kaga bakalan ada benernya buat junior.. berlaku 2 pasal kramat: Pertama...”
“Senior tidak pernah salah” ujar kami berlima.
Lalu Ian kembali berkata: “Dan pasal kedua..”
“Kalau senior salah, kembali ke pasal satu” ujar kami lagi bersamaan dan setelahnya kami tertawa bersama-sama tanpa sadar telah menarik perhatian orang-orang di sekitar kami berlima.
...***...
“Ian, kamu ga laper?” tanya Ute kepada Ian, beberapa saat setelah kami berjalan-jalan keluar-masuk toko dan mengelilingi Mall ini seperti tanpa tujuan jelas.
“Enggak, aku udah merasa kenyang melihat kemesraan kalian..” jawab Ian sengaja memandangi tanganku yang digenggam erat Ka’Pras dan sesaat kemudian melihat ke arah tangan Ute yang tergenggam erat di dalam tangan Ka’Han yang besar.
“Sirik cuma tanda tidak mampu loh Ian..” ujarku akhirnya sambil mencoba tidak terlihat malu karena terlalu menikmati kehangatan dalam genggaman tangan Ka’Pras.
“Ach.. akhirnya Kakak asuh-ku yang pemalu dan pendiam ini tertular juga oleh rasa tidak tahu malu-nya Ute dan Ka’Han.. hancurlah hatiku kini..” ujar Ian melodramatis dengan gaya melambai. Kocak juga gayanya dengan tubuh tegap dan seragam PDP necis itu, membuat kami semua kembali terbahak.
Namun kami akhirnya masuk ke sebuah restoran, karena tanpa kami sadari hari telah gelap di luar mall dan perut kami pun meminta asupan, lalu kami sepakat memesan makanan dan minuman di restoran tersebut.
Setelah memesan makanan dan minuman, kami sempat terdiam dan hanya berpandang-pandangan. Tiba-tiba, Ian melontarkan sebuah tebak-tebakan untuk memecahkan keheningan tersebut: “Aku dibeli untuk makanan. Tapi aku tidak pernah dimakan. Apakah aku?”
“Benar..” jawab Ian dan kembali bertanya: “Apa bahasa Cina-nya aneka macam sayur?”
“Cap Cay..” Ute berseru tidak kalah lantang, sepertinya takut kedahuluan aku.
“Betul.. lanjut ya! Apa bahasa Cinanya Nyepi?” tanya Ian lagi.
“Zun yi xen yap..” ujarku lantang mencoba melafalkan kata-kata ‘sunyi-senyap’ se-mandarin mungkin.
“Aish, ga seru neh kalau ngajak perempuan-perempuan cerdas berteka-teki. Jawabannya selalu benar. Kali ini untuk para senior putra saja ya tebakannya! Cewe-cewe, tahan jawaban kalian!” ujar Ian kemudian menambahkan: “Apa yang ada di ujung langit?”
“Laut kah?” jawab Ka’Pras beberapa saat setelah terdiam.
“Salah! Ka’Han mau menebak?” ujar Ian cepat.
“Pelangi mungkin?” tebak Ka’Han.
“Tet-tot.. salah juga.. cewe-cewe mau menebak?” pancing Ian kemudian dengan lebih percaya diri.
__ADS_1
“Gampang itu jawabannya..” ujarku meremehkan, lalu menambahkan: “Kalau saya bisa jawab dengan benar, bakal dikasih hadiah apa Ian?”
“Satu permintaan, Ka’Dina boleh minta apa saja yang bisa aku penuhi pasti akan aku kabulkan. Tapi hanya 1 kali menebak ya..” jawaban Ian membuatku berpikir kembali jawaban cerdas yang sudah ku siapkan sebelumnya.
“Okey, jawabannya adalah.. di ujung langit pasti ada ‘huruf t’..” jawabku akhirnya.
“Wah benar Ka’Dina.. kamu berhutang 1 permintaan dari Ka’Dina loh Ian, jangan sampai ingkar janji. Kami bertiga jadi saksi-nya loh..” ujar Ute membuatku tersenyum gembira.
Tiba-tiba Ka’Pras mendekatkan diri ke telingaku dan bertanya dengan berbisik: “Sebegitu senangnyakah mendapatkan 1 permintaan dari Ian?”
Aku hanya mendorong rusuk-nya dengan siku-ku dan berkata: “Apaan seh Ka’Pras?” sambil mencoba menetralisir rasa panas di wajahku.
...***...
Dalam perjalanan pulang, Ute duduk di depan bersama Ka’Han yang menyetir mobil.
Awalnya Ian sempat menawarkan diri untuk menyetir, mungkin ia merasa sungkan disetiri senior, namun kami tidak bisa memutuskan siapa yang akan duduk di depan menemani Ian. Maka akhirnya Ka’Han kembali menyetir mobil, tentu saja dengan syarat Ute duduk di sampingnya dan akan terus menggenggam tangannya.
Ka’Pras duduk di antara Ian dan aku, pada bangku belakang.
Tangan Ka’Pras terus merangkul bahuku dan Ian tampak sengaja membuang pandangannya selalu ke luar jendela. Mungkin ia jengah juga melihat kelakuan absurd kepemilikan yang ditunjukkan para seniornya.
Lalu akhirnya Ian mengeluarkan sebuah pertanyaan kembali: “Kapan keluarga Ka’Han dateng ke Jatinangor lagi Kak?”
“Kenapa kamu nanya begitu?” tanya Ka’Han curiga menatap sekilas mata Ian melalui spion.
“Loh kita kan sudah seperti keluarga asuh ini Kak. Aku adik asuhnya Ka’Dina. Ute adik asuh Ka’Pras dan sahabat terbaik-ku. Kalau Ute jadian sama Ka’Han dan Ka’Dina jadian sama Ka’Pras, kan artinya kita saudara ipar Ka’Han. Jadi kalau keluarga Ka’Han yang sungguhan dateng, ya harus diperkenalkan dengan keluarga asuh Kakak dunks!” panjang dan lebar Ian menjelaskan logikanya sendiri, mencoba mensugesti kami untuk berlogika yang sama dengan persepsinya.
“Kemungkinan 2 hari sebelum Pengukuhan Purna Praja.” akhirnya Ka’Han memberikan informasi itu dengan pandangan yang tetap curiga ke arah Ian.
“Ach baiklah, waktunya sudah tidak singkat lagi itu ya? Akan menginap di Wisma Katulistiwa lagikah mereka Ka’Han? Atau ada tempat lain? Kapan sebaiknya kita kumpul bersama lagi?” tanya Ian lagi dengan semangat yang tidak juga berkurang kadarnya.
“Saya masih mencari neh Ian, Wisma Katulistiwa sudah fully-book soalnya. Beberapa hotel di sekitar Ksatrian juga sudah saya tanya-tanya, katanya sudah di-book jauh-jauh hari oleh keluarga Purna Praja dan wisudawan kampus-kampus sekitar Ksatrian kita. Ternyata jadwal wisuda para mahasiswa itu juga hampir berbarengan waktunya dengan jadwal pengukuhan Purna Praja nantinya.” jawab Ka’Han hampir putus asa.
Tanpa sadar aku teringat akan rumah keluarga Ian dan bertanya tanpa bisa ditahan: “Apa rumah keluarga kalian bisa dipinjamkan untuk keluarga Ka’Han menginap Ian?”
“Ya tentu saja boleh dunks Kak.. tapi ga tau juga apa akan sesuai dengan selera keluarga Ka’Han ya? Atau sebaiknya kita ke rumah saja dulu supaya Ka’Han bisa lihat dan menilai kira-kira layak atau tidak tempatnya?” jawab Ian cepat, membuat kami semua menebak-nebak apakah memang ini arah pembicaraan Ian sesungguhnya. Mengajak kami semua menghabiskan sisa waktu pesiar ini di rumahnya.
“Baiklah, kita ke rumah keluarga Ian ya!” ujar Ka’Han akhirnya.
Aku dan Ka’Pras tanpa sadar bertatapan lama. Kami akan kembali ke tempat kami jadian.
__ADS_1
‘Oh indahnya hidup ini.’ hanya itu yang terlintas dalam pikiranku.
...***...