
"Kira-kira Febri sedang apa...ya" gumamku seraya menuju kekamar karena mataku sudah mulai mengantuk
Tiba-tiba terdengar ada suara ketukan pintu dari luar,aku mendengarnya karena kebetulan kamarku berada dibagian paling depan bersebelahan dengan pintu masuk rumah, dalam diam aku hanya berdiri mendengarkan apakah itu benar suara ketukan pintu.
Jujur aku tiba-tiba merasa sangat takut untuk yang satu ini, apalagi jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, pikiranku sekarang malah bercabang, antara itu penjahat atau mungkin pak Presdir, sedangkan diriku hanya sendirian dirumah.
Suara ketukan semakin terdengar
tok...tok...tok......
aku mulai berjalan kearah pintu,aku memilih mengintip terlebih dahulu sebelum membukanya, dengan tubuh yang mulai keringat dingin,aku memberanikan diri untuk melihat dari balik tirai jendela kaca dengan bermodalkan lampu teras rumahku.
Tidak pernah terlintas dalam pikiranku kalau itu sebuah ketukan pintu dari seseorang yang baru saja kupikirkan, terlihat dia tengah berdiri didepan pintu saat ini,namun pintu masih belum berani untuk ku buka,lantaran aku
bingung bagaimana mungkin dia bisa berada disini dan sampai mengetahui alamat rumahku ini, lantas datang dalam keadaan sedang hujan deras,tapi sebelum pikiranku kembali bercabang lagi seperti tadi,mataku kini tertuju pada kedua kakinya, ternyata kaki tersebut sampai kelantai bukannya mengawang,aku tersenyum geli karena ulah mataku ini.
__ADS_1
Pintu pun kembali diketuk olehnya,aku kemudian memutar kunci dan pintu pun ku buka lebar,kini terlihat dengan jelas siapa orang itu.
Febri tengah melihat kearah ku dengan senyumannya yang mempesona,ku lihat dia tidak basah kuyup,terasa sedikit agak aneh apalagi aku tidak melihat adanya payung.
Ku tepis pikiran negatif itu lagi dan dia ku persilahkan masuk kedalam rumah,dan setelah berada didalam tidak tahu apakah mataku yang salah melihat karena mengantuk atau apa,
febri terlihat kedinginan karena basah kuyup,ini benar-benar diluar nalar yang aneh tapi nyata.
"Kamu basah kuyup...??" ucapku
"Maaf saya kira kamu..." belum sempat melanjutkan kata-kata Febri memotong Kalimatku
"Penjahat..??" ucapnya kemudian
"Iyaaa..." jawabku
__ADS_1
"Bukankah sudah pernah saya katakan sebelumnya, jika kamu memikirkan saya ,maka saya akan datang"
Ucapannya kini malah membuatku bingung, mengapa Febri tahu aku sedang memikirkan tentang dirinya,
dia mengatakan lagi kalau itu hanya tebakannya saja.
Tak ku gubris Perkataanya,karena hal tersebut memang benar adanya,aku kemudian pergi meninggalkan Febri, mengambil baju ganti dari kamar orang tuaku setelah sebelumnya aku mempersilahkan Febri untuk membersihkan diri dikamar tamu.
Aku mengetuk pintu untuk memberikan baju Papa kepadanya,dan ternyata Febri sedang dalam keadaan berte#####ng dada dengan handuk yang hanya dililitkan pada bagian bawah ketika dia membuka pintu kamarnya.
Aku menelan ludahku sendiri atas pemandangan itu, terlihat jelas bentuk tubuhnya yang kekar dengan dada bidang dan perutnya yang sixpack alias kotak-kotak ala roti sobek.
Lama terdiam dengan pemandangan tersebut aku langsung sadar,jika hal ini tidak baik,menodai mataku dengan melihat lekukan tubuhnya Febri disaat kami hanya berdua saja dirumah ini,tanpa pikir panjang aku memilih pergi meninggalkannya menuju dapur, merebus mie instan yang tersedia didalam kulkas, setelah selesai aku melihat Febri sedang berada diruang tengah,ku persilahkan dia makan dan tidak lupa aku membuatkan-nya teh hangat,febri pun langsung makan dengan lahapnya.
***To be continued***....
__ADS_1