
Febri dan mas Mirza membangun tenda untuk aku tidur seperti dua malam yang lalu, mereka berdua terlihat kompak jika dalam hal melindungi diriku, mereka sampai rela tidur diluar tenda dan menyuruh ku untuk tidur didalam tenda,mas Mirzalah yang mengusulkan ide ini, mengingat kami bertiga bukan muhrim dan untuk kebaikan bersama aku hanya bisa menyetujui semuanya.
Selesai makan malam,aku dan mas Mirza melaksanakan shalat maghrib dan isya yang kami satukan pada shalat maghrib (jamak taqdim) secara berjamaah didalam tenda, kecuali Febri, akhir-akhir ini setiap akan melaksanakan shalat dia selalu saja menghilang entah kemana.
Shalat pun selesai terlaksana, mas Mirza kemudian pamit untuk keluar dari tenda, membiarkan diriku beristirahat.
Aku sudah berusaha untuk tidur seperti biasanya (dua hari lalu), tapi entah kenapa pada malam ketiga ini sulit sekali untuk diriku memejamkan mata, malam ini aku tiba-tiba saja memikirkan kata-kata Andini pada malam terakhir aku berada dirumah lima hari yang lalu.
Malam itu, aku yang memang sudah lama tidak memiliki waktu bersama Andini tidur dengannya, namun kami sengaja tidak tidur, kami berdua saling menceritakan semua hal yang terjadi saat kami tidak bersama-sama atau bisa dikatakan curhat antara kakak dan adik, setelah saling bercerita panjang kali lebar tiba-tiba saja Andini menanyakan tentang kedekatan ku dengan Febri, aku pun menceritakan kepadanya tentang hubungan kami berdua yang hanya sebatas teman dan tidak lebih daripada itu,aku pikir Andini naksir kepada Febri,mengingat sebentar lagi umurnya akan beranjak tujuh belas tahun,pastinya Andini sedikit banyak juga telah mengerti hal-hal seperti jatuh cinta,aku pun langsung menanyakan rasa ingin tahunya itu apakah karena rasa cemburu atau adakah hal lainnya,andini pun mengatakan terus terang jika dirinya curiga bahwa Febri juga terlibat dalam semua hal yang terjadi.
__ADS_1
Andini pun kemudian menceritakan pada saat dirumah sakit dua bulan lalu saat Papa dirawat,andini melihat Febri berbicara dengan seseorang dibawah pohon didepan rumah sakit,andini saat itu ada dikantin rumah sakit yang terletak dilantai tiga sedang menunggu pesanan, dirinya melihat pemandangan dari atas ke bawah dan melihat hal tersebut, dan saat ku tanyakan siapa orang yang ditemuinya Andini malah mengatakan kalau orang lain itu adalah bos ku yang waktu itu pernah datang ke acara ulang tahunnya yang ke enam belas tahun lalu,ku tanyakan lagi apakah dirinya yakin dan Andini dengan tegas menyatakan keyakinannya bahwa orang lain itu adalah bos ku yang sedang berbicara dengan Febri,dan bos yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan yaitu pak Presdir (kakek).
"Aku harus mencaritahu",(batin ku)
Skip.
Pagi ini,aku yang gelisah sepanjang malam bangun terlebih dahulu daripada Febri dan mas Mirza
Saat ini mereka sedang tidak ada di luar tenda meski jam tangan ku masih menunjukkan pukul lima pagi,aku pun mencoba untuk memanggil mereka, namun, aku justru mendengar suara teriakan
__ADS_1
"Tolong..... tolong...."
Aku seperti mengenal suara teriakan tersebut,itu adalah suara Febri, tanpa pikir panjang aku langsung mendatangi asal suara,dan benar saja Febri sedang membutuhkan pertolongan, ketika aku sampai di hadapannya keadaan Febri sangat memprihatinkan,baju yang dikenakan olehnya terlihat sangat lusuh
bahkan ada beberapa bagian yang sobek,aku memapah Febri untuk kembali ke tenda,aku mempersilahkan Febri makan setelah sebelumnya Febri mengganti pakaian didalam tenda.
***To be continued***
Ingatttt ya
__ADS_1
Jangan lupa 👍👍👍