Hilang Secara Misteri

Hilang Secara Misteri
Janjiku


__ADS_3

"Mereka berdua bude, mereka melepaskan semua alat-alat yang ada ditubuh Papa serta menutupinya dengan kain putih, sehingga Papa pucat seperti itu" ucapku kepada bude Marni dan semua orang yang ada disana


"Kamu harus bisa menerima kenyataan Arumi, papa mu sudah tidak ada bersama kita" ucap Mama yang belum juga berhenti menangis


"Bohong...Mama bohong sama Rumi,iyaaa...kan" ucapku tidak percaya


"kak Rumi, mama lagi gak bohong kak"


ucap Andini yang menangis semakin kencang


"Hahaha...kalian lagi ngerjain Rumi ya, tadi Papa kan udah ngelewatin masak kritisnya, jadi harusnya Papa sudah sadar sekarang karena ini udah tiga jam lebih dari perkiraan waktu obat biusnya Papa habis, ma " ucapku lagi yang mulai menangis dengan kencang


Tanpa sadar aku menggoyang-goyangkan tubuh Papa yang sama sekali tidak bergerak,aku memohon padanya untuk membuka mata, memohon agar Papa bagun dan mengatakan kalau ini hanya sebuah candaan darinya.

__ADS_1


Aku menginginkan hal yang tidak biasa, yaitu Papa diberikan kesempatan kedua dan dihidupkan kembali,yang biasa disebut dengan mati suri,tapi tentu saja keajaiban itu tidak terjadi, sebab Papa masih tetap menutup matanya.


Sebenarnya tadi saat kain penutup itu ku buka,aku sudah tahu apa yang terjadi karena aku melihat kedua tangan Papa yang bersedekap,dan semua tindakan ku yang barusan terjadi itu adalah efek dari rasa syok dan rasa bersalah ku saja.


Ya, saat ini aku merasa bersalah, karena ikut menyetujui Papa yang pulang ke rumah sendirian, yang ternyata justru


secara tidak langsung menyetujuinya untuk kembali pulang ke rumah yang sebenarnya, yaitu akhirat untuk selama-lamanya, meninggalkan semua orang yang menyayangi Papa.


Tapi aku harus mencoba ikhlas dan tidak terus-menerus menyalahkan diriku sendiri.


Skip.


Setelah mengurus segala urusan administrasi pengambilan jenazah,kami membawa Papa pulang, tapi karena hari sudah semakin sore Papa tidak di makamkan hari ini, sehingga malam ini jenazah Papa akan bermalam di rumah.

__ADS_1


mas Mirza yang tadi berpamitan untuk pulang lebih dulu ke rumahku, kini telah merapikan sebagian ruangan, jenasah Papa di letakkan diruang tengah, sedang orang-orang yang datang untuk ta'ziah dan juga tahlilan di persilahkan untuk duduk diruang tamu yang lumayan lebih luas dan juga lebar.


Malam pun tiba,jam di handphone ku sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam semua orang yang telah ikut memberikan do'a kepada Papa telah pulang sejak pukul sepuluh malam tadi, hanya ada beberapa orang saja yang berjaga di luar rumahku termasuk Febri dan mas Mirza.


Sementara Andini sudah tidur ditemani oleh Mama di kamarnya sedangkan diriku tidur dengan temani bude Marni,dan kamar ku itu yang pintunya kebetulan menghadap kearah ruang tengah, terlihat bude sudah tertidur,dan aku pun mulai tertidur juga.


Tiba-tiba...


"Arumi..." seseorang terdengar memanggil namaku,aku pun mencari darimana asalnya, tapi tidak ada siapapun,


"Arumi..." terdengar lagi suara itu, asalnya kali ini dari arah luar,aku pun membuka pintu dan terlihat Papa yang tengah duduk diatas kasur tepat di ruang tengah


"Papa...." tanpa pikir panjang aku segera memeluknya yang kali ini terasa hangat.

__ADS_1


***To be continued***


__ADS_2