
Papa membolak-balikan buku yang baru saja diambilnya dari tangan bude Marni, sementara bude Marni mulai mengistirahatkan tubuhnya, membasahi tenggorokannya dengan meminum air putih hangat yang baru saja diambilkan oleh Mama dari dalam rumah.
Namun tidak ada yang ditemukan Papa disana,aku dan Mama pun tidak tinggal diam,kami berdua mencoba ikut membantu mencari apakah ada sebuah petunjuk didalam buku itu, berharap ada yang terlewati oleh Papa yang merupakan salah satu petunjuk dimana keberadaan batu yang diambil oleh kakek Razak.
Aku dan Mama pun mulai melakukan hal yang sama seperti Papa, membolak-balikkan buku itu tapi kali ini,kami berdua sedikit lebih perlahan lagi dari Papa dalam melakukannya, satu persatu lembaran dari buku itu kami buka, tidak ada yang kami lewati, bahkan kami sampai mengulanginya dan pada akhirnya sama saja, hasilnya masih tetap nihil.
Sekarang Febri yang mencoba membantu mencarinya setelah buku itu diambilnya dari tanganku yang tampak terlihat kecewa,dan tiba-tiba saja Febri menunjukkan sebuah gambar yang ada didalam buku itu.
Kami semua sungguh sangat kaget dengan temuan Febri, bagaimana mungkin buku yang sudah dibolak-balik oleh tiga orang bisa seperti ditaklukkan hanya dengan tangan dari seorang Febri, padahal kami bertiga sama-sama telah melakukan pencarian dan tidak ada satupun lembaran buku yang
terlewatkan.
Kami semua memang tidak pernah menyangka hal aneh seperti itu akan terjadi,tapi Papa dan Mama tidak menghiraukan itu, mereka tentunya bisa sedikit lega dengan temuan Febri, meskipun aku tahu itu belumlah sepenuhnya karena nyawa ku dan Andini masih dalam keadaan terancam, kami semua pun sama-sama melihat gambar yang ditunjukkan oleh Febri barusan.
__ADS_1
"Ini kok bentuknya gak begitu jelas ya" ucap Mama
"Wajarlah ini kan buku yang sudah lama dan memiliki umur beberapa tahun lalu,pasti gambarnya seperti itu,tapi ini kok bentuknya kayak panjang lurus dan seperti ada bulatan gitu ditengah" jelas Papa agak panjang
"Kelihatannya kayak labirin ya.." tambah bude Marni yang juga melihatnya
"Hmmm...masa iya sih labirin,setahu saya gak ada labirin kan didesa ini"
"Bisa jadi itu ada didalam hutan" ucap bude lagi
"Tidak mungkin bude" ucap Papa
"Apa jangan-jangan ini gambar denah lokasi (peta)" ujar Febri kemudian
__ADS_1
Lama kami saling berargumentasi dengan petunjuk gambar buram itu,sama sekali kami semua tidak mendapatkan kelanjutan bentuk jelas gambarnya.
Semuanya sama sekali tidak pas untuk ukuran gambar tersebut,aku kemudian lantas merobek lembar kertas yang dimana terdapat gambar itu, awalnya semua orang bingung dan Papa seperti ingin marah dengan perbuatan ku, sebab Papa takut jika merobek kertas itu maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,tapi aku tahu apa yang harus dilakukan,jadi aku tidak begitu menggubris sikap Papa yang mulai ditenangkan oleh Mama.
Aku kemudian masuk kedalam rumah untuk mengambil sesuatu dikamar ku,
kemudiaan langsung kembali lagi ke halaman belakang rumah bude Marni tempat kami semua berkumpul saat ini.
Aku mencoba menelitinya gambar itu dengan seksama, kemampuan ku dalam mengambar, aku prioritaskan disana,aku mulai mengikuti tiap-tiap lekukan yang ada dalam gambar itu, sementara semua yang ada disana hanya diam terpaku melihat kejeniusan ku,dan setelah cukup rumit dengan lekukan yang tak beraturan itu,kini gambar tersebut telah menjadi sebuah sketsa yang lumayan rapi dan dapat terlihat dengan jelas.
"Ternyata Papa benar" ucapku kemudian
***To be continued***
__ADS_1