
"Maksudnya...??" tanya bude Marni
"Gambarnya memang seperti perkiraan Papa dari awal" ucapku sembari menunjukkan hasil karya ku itu kepada mereka semua.
"Kamu memang pintar... sayang" ucap Mama kepadaku seraya mengikuti Papa melihat sketsa tersebut
Ternyata itu adalah sebuah sketsa gambar panjang yang lurus dan dibagian tengahnya seperti ada bulatan sebagaimana tebakan Papa tadi.
Flashback on
Author POV
Beberapa Saat Yang Lalu....
Arumi berpikir keras bagaimana caranya agar bisa melihat gambar itu,sampai akhirnya Arumi mendapatkan ide jitu,dia pun kemudian segera masuk kedalam kamarnya, arumi mengambil pensil dan papan ujian milik Andini yang kebetulan saat itu ada disana.
Arumi membutuhkannya sebagai alas untuk menggambar,arumi lantas langsung
keluar dan kembali berkumpul bersama dengan yang lainnya, dijepitnya kertas itu pada papan tersebut dan memulai aktivitas menggambarnya disana mengikuti tiap bentuk garis pudar disana.
Kini garis pudar yang buram itu telah berhasil dibuatnya menjadi sebuah gambar sketsa yang dapat terlihat jelas.
Flashback off
"Sekarang yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu gambar apa ini" ucap Papa
"Hmmm... bulatan ini sepertinya tidak asing,kayak ada tulisan-tulisannya gitu,tapi apa...??
__ADS_1
garis gambarannya tidak bisa di ikuti sama sekali" ucapku ketika berencana menggambarnya lagi
Ucapanku membuat semua orang semakin meneliti gambar bulatan ditengahnya,lama semua nya terdiam, tiba-tiba bude berteriak mengucapkan Istighfar.
"Astagfirullahal'azim" ucap bude Marni
"Bude kenapa bude" ucap Mama kaget
"I_tu...i_tu itu...anu itu..." ucap bude terputus-putus
"Itu apa bude..??" tanyaku bingung dengan ucapan bude itu
"Apakah kamu masih simpan itu...??" tanya bude Marni kepada Papa
"Itu apa bude...??" Papa balik bertanya
"Jam dinding itu..." ucap bude kemudian
ucapku sambil mengambil gambar itu dan memberikannya kepada Papa setelah sebelumnya aku menelaah ucapan bude Marni tadi
"Jam dinding tua milik almarhum ayahnya pakde Warsito, yang waktu itu sempat mau bude buang" ucap Mama tidak percaya
"Iya.., ma ini gambarnya" tambahku dan kemudian aku memberi angka-angka pada bulatan itu dan jadilah sebuah jam dinding tua yang ada di rumahku
"Bersyukurnya,saya karena sempat ingin membuangnya juga waktu itu,tapi istri saya mencegahnya, terima kasih, ma" ucap Papa terharu
"Sama-sama , pa" ucap Mama
__ADS_1
"Siapa yang pernah menyangka bahwa jam dinding tua itu akan berguna kelak, inilah salah satu bukti kekuasaan-Nya",
ucap bude Marni datar
"Kalau begitu kita harus mengambilnya dari rumah" ucapku
Kami semua bersyukur atas petunjuk yang tidak terduga itu, tidak lupa pula kami berterima kasih kepada Febri karena telah menemukan petunjuk itu, tapi meskipun demikian entah mengapa diriku masih saja bertanya-tanya
bagaimana Febri bisa menemukannya.
Kini hari mulai perlahan sore, kami semua baru saja melaksanakan shalat ashar berjamaah didalam rumah bude Marni dengan Papa sebagai imannya, tapi setelah selesai aku baru sadar bahwa sejak tadi Febri tidak ada sebagai salah satu makmum laki-laki.
"Itu artinya Papa sendiri laki-lakinya, tapi kemana perginya Febri" gumamku dalam hati
* * *xxxx* * *
Sementara itu didalam sebuah rumah seseorang sedang melakukan panggilan telepon...
📞 "Kau harus cepat mengambilnya, mengerti, karena hanya dengan begitu aku akan mencapai tujuanku dan
tidak ada yang boleh mencegah apa yang aku inginkan"
📞 "Aku paham,aku akan melakukan apapun yang kau inginkan"
📞 "Baik,aku tunggu"
📞 "Ok..."
__ADS_1
Hanya kata singkat itu yang mereka bicarakan.
***To be continued***....