Hilang Secara Misteri

Hilang Secara Misteri
Hari Kelima [Mengembalikan Batu Ke Goa]


__ADS_3

Hari ini merupakan hari kelima kami bertiga berada didalam hutan larangan,


setelah kemarin mendapatkan petunjuk arah jalan pulang, kami bertiga memutuskan melanjutkan perjalanan besok (hari kelima), dan hari ini kami bertiga akan pergi kearah barat dimana goa itu berada, tadinya aku mengira kalau arah barat yang dimaksud itu tidak terlalu jauh, tapi ternyata aku salah,arah barat itu lumayan sangat jauh.


Sudah hampir enam jam perjalanan telah kami lewati, dan akhirnya kami menemukan goa itu,aku sangat senang sekali dan tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke dalam goa yang ternyata sangat aneh, aneh karena di dalamnya terang benderang,kanan kirinya terdapat banyak lampu obor serta hiasan bunga mawar orange dan juga tanah yang aku pijak saat ini dipenuhi oleh taburan bunga mawar merah,febri dan mas Mirza yang juga baru masuk merasakan adanya keanehan tersebut.


"Apa kamu yakin kalau ini goa-nya, arumi...??" tanya mas Mirza


"Saya juga bingung mas, apakah benar ini adalah goa-nya, biasanya Goa itu sangat gelap namun tidak dengan goa ini, goa-nya dihiasi sedemikian rupa seperti ingin menyambut kedatangan seseorang" jawabku asal


"Itu benar, cucuku,aku memang sengaja menghias goa ini untuk menyambut kedatangan mu" ucap kakek Razak yang keluar dari balik bebatuan masih dengan tubuh pak Presdir


"Kakek..." ucapku kaget

__ADS_1


"Kalian bertiga tidak perlu kaget,aku disini karena tempat ini aku yang menemukannya dulu" ucap kakek lagi


"Kenapa kakek belum meninggalkan tubuh itu..." tanyaku pada kakek


"Aku sangat menyukai tubuh ini,jadi belum saatnya aku menggantinya" jawab kakek


"Apa tujuan kakek ada disini juga" ucap mas Mirza tanpa basa-basi seperti diriku barusan


"Tidak akan pernah Arumi biarkan itu terjadi" ucapku sambil meletakkan batu itu kembali ke tempatnya yang dicegah oleh kakek


Febri yang melihat aku dihalangi oleh kakek Razak, segera meringkusnya dan memukuli kakek, kakek yang tidak menduga Febri akan senekat itu awalnya sempat limbung, namun kakek bisa berdiri lagi membalas pukulan Febri, hingga keduanya malah terlibat pertarungan sengit yang pada akhirnya dimenangkan oleh Febri, tanpa ampun Febri memukuli kakek dengan batu yang lumayan besar, membuat kakek Razak menghembuskan nafas terakhirnya.


Dengan terbunuhnya kakek Razak aku dapat meletakkan batu yang sejak tadi masih ada ditangan ku ke tempatnya semula, lalu kemudian kami bertiga keluar dari goa itu, kami bertiga menuju kearah Selatan sesuai dengan kesepakatan yang telah kami buat, meski sebenarnya Febri tidak setuju namun dirinya tetap mengikuti apa yang aku dan mas Mirza inginkan, mungkin kami berdua terdengar egois karena hanya mementingkan keputusan

__ADS_1


kami saja tanpa memikirkan keinginan Febri, tapi tentu saja aku tidak ingin mengambil resiko apapun karena arah yang Febri inginkan adalah arah ke dalam hutan rimba.


Skip.


Ternyata untuk keluar dari hutan larangan ini kami memakan waktu empat hari,dan tepat pada hari kesembilan kami bertiga berhasil keluar juga,aku sangat bersyukur karena Yang Maha Pencipta masih melindungi kami bertiga selama melakukan perjalanan hingga bisa pulang ke rumah dengan selamat sehat walafiat.


Mama,bude, dan juga Andini sangat senang dengan kepulangan kami bertiga, mereka terlihat antusias menyambut kedatangan kami,


tapi dibalik ini semua, aku seolah merasa masih ada yang kurang, tiba-tiba aku ingat pada botol yang masih ku simpan


"Aku rasa ini saatnya..." ucapku pelan


***To be continued***

__ADS_1


__ADS_2