
Author POV
Arumi dan Mamanya langsung masuk kedalam rumah sakit tempat Papanya dirawat, rumah sakit ini letaknya tidak berapa jauh dari rumah Arumi, hanya beberapa kilometer saja dari rumahnya.
Tetangganya juga masih ada dirumah sakit menunggu Arumi dan Mamanya untuk datang.
Arumi dan Mamanya masuk ke ruang ICU dengan mengenakan pakaian khusus, terlihat Papa Arumi terbaring lemah karena baru saja selesai dioperasi oleh pihak rumah sakit,
yang sebelumnya telah meminta izin dari pihak keluarga.
Saat mereka tadi masih berada dijalan, pihak rumah sakit meminta nomer telepon Mamanya Arumi dari ibu Nina dan langsung menelepon untuk mendapatkan izin operasi, karena perjalanan masih sangat jauh sementara kondisi Papa semakin kritis,mama mengizinkan pihak rumah sakit untuk melakukan tindakan tersebut.
__ADS_1
Air mata Arumi yang sejak tadi tidak terjatuh demi untuk menyemangati Mamanya yang terus saja menangis sepanjang perjalanan kini sudah tidak dapat dibendung olehnya, arumi dan Mamanya menangis sejadi-jadinya disana, melihat kondisi Papanya yang masih tidak sadarkan diri,arumi sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Papanya.
Andini pun kini juga telah sampai disana, dengan diantarkan oleh seorang laki-laki,mama Arumi sedikit bingung melihat laki-laki yang tidak dikenal mengantarkan Andini,sebab Mamanya Arumi sangat mengenal guru agama Papa, karena pernah sempat diajak juga ke pondok pesantren miliknya waktu itu dan tidak pernah tahu tentang laki-laki yang mengantarkan Andini saat ini.
Tahu jika dirinya tidak dikenal laki-laki itu pun langsung mengatakan bahwa dirinya adalah anak dari teman sekaligus guru agama Papa Arumi yang usianya sekitar dua puluh delapan tahun,
lebih muda dari Papa yang memang ditugaskan untuk mengantarkan Andini oleh ayahnya sendiri yang berhalangan hadir.
"Maafin Arumi, pa, harusnya Arumi saja yang pergi, harusnya Arumi saja yang ada disini saat ini"
"Assalamualaikum,maaf kami sedikit terlambat, karena jalanannya tadi sedikit macet" ucap laki-laki itu kepada mereka semua
__ADS_1
"Walaikumsalam,tidak apa-apa yang paling penting kan selamat sampai tujuan" ucap Mamanya Arumi dengan raut wajah bingung melihat laki-laki tersebut masuk
"Perkenalkan nama saya Mirza,saya anak dari ustad Ramlan,maaf jika bukan beliau sendiri yang datang melainkan saya"
ucap Mirza kepada semuanya
"Tidak apa-apa,nak Mirza,maaf sebelumnya, tidak apa-apa kan ibu panggil anak" ucap Mama Arumi
"Tentu saja boleh, dengan senang hati, ngomong-ngomong bagaimana keadaan Papa", ucap Mirza yang membuat semuanya terkejut
Karena semuanya pada melongo dengan ucapan Mirza,dia pun mulai menjelaskan jika dirinya sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Papa Arumi sewaktu beliau belajar agama dengan ayah kandung Mirza sendiri yang merupakan pemilik pondok pesantren yang sekarang ini Andini dititipkan disana,mirza dan ayahnya lah yang telah membuka mata hati Papa waktu itu untuk lebih mengenal Allah SWT.
__ADS_1
Tapi dirinya tidak selalu ada di pondok pesantren, karena harus menyelesaikan kuliah S2-nya,jadi dirinya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tinggal di asrama yang memang disediakan oleh pihak kampus bagi mahasiswa yang rumahnya jauh agar lebih mudah dan tidak bolak-balik terlalu jauh dari rumah ke kampus,dan mungkin ketika dirinya sedang tidak ada dipondok pesantren saat itulah Mamanya Arumi datang untuk berkunjung, sehingga tidak bertemu dan mengenal Mirza.
Dan tidak lupa pula Mamanya Arumi mengucapkan terima kasih kepada Mirza yang telah bersedia mengantar Andini pulang.